Aug
Pilihan Problem Solving Seperti Mengoperasikan DVD
by meirina_mignon:hellokitty.co.idMasalah. Siapa sih yang nggak punya masalah? Pasti semua orang punya masalah. Kalo ada orang ngaku ngga punya masalah, itu mungkin maksudnya “BELUM” kena masalah (tapi PASTI someday kena :P), atau “ADA” masalah, tapi disembunyikan. Well, nggak semua masalah memang bisa dicerita-ceritain. Bahkan ada juga masalah yang bahkan KELIHATAN ADA pun ngga boleh. Hmmm….
Tiap kali aku kena masalah, biasanya aku lari ke dunia maya (entah itu tiba-tiba mesra sama labtop atau dengan DVD player &TV). Intinya, my first intuition is…forget that problem by running away for a while.
Kalo kena masalah yang bikin marah-marah, aku paling suka nonton Happy Tree Friends. Soalnya kalo lagi marah, dopamin untuk melihat orang yang bikin marah menderita teraktivasi. Intinya,..pengen liat orang yang bikin marah itu menderita. Akakakakakaakakakakak (evil laugh). Tapi kan takut juga tuh kalo ketauan mutilasi orang dipenjara. Jadinya,…nonton happy tree friends deh. ^ 0 ^

Sekarang kalo orang yang bikin marah adalah orang yang justru dekat dengan kita, kayak keluarga atau teman dekat. Jeng…. biasanya, ini akan jadi momok yang bikin aku kurus dan mati lebih cepet. Masalahnya stress yang aku rasakan berlipat-lipat daripada aku marah sama orang yang nggak terlalu deket. Stress karena, aku kecewa, tapi juga sedih dan bertanya-tanya, “Kenapa justru kamu yang bikin aku kayak gini?”. Marah, sebel, pengen ngamuk, tapi ada juga perasaan sayang, jadi nggak bisa mengaktivasi dopamin untuk melihat dia menderita. Kalo dopamin yang mestinya teraktivasi ditekan paksa oleh perasaan “terikat”, seperti perasaan sayang atau menghormati, akhirnya…..jadi gila sendiri. Sistem tubuh error jadi cepet sakit dll. >.<


Kalo udah lagi mencapai terbakar angkara murka sama orang yang posisinya dianggep deket, pasti bawaannya inget-inget kebaikan mereka. Saking banyaknya kebaikan mereka, BEGONYA aku malah jadi gampang memaafkan sebesar apapun kesalahan mereka. Malah kadang, walaupun aku yang marah, jadi aku yang ngejar si pendosa itu duluan untuk menyelesaikan masalah supaya hubungan kita kembali baik lagi. Dan itu dikarenakan, ketakutan aku akan rusaknya hubungan aku dan orang yang aku deket jauh lebih besa daripada perasaan dendamku. -_____- Padahal oknumnya belum tentu takut hubungan aku dan dia rusak. Bahkan belum tentu dia sadar apalagi peduli kalo aku terluka. Berasa tolol. Kadang aku merasa ngga cocok dengan sifatku yang lemah, nggak tegas, dan penakut kayak gini.

Sekarang aku sedang dalam fase “lari” untuk “melupakan” masalah. Sekaligus mengembalikan mood untuk berpikir mencari solusi. Cara aku lari adalah dengan nonton DVD.Kalau aku sudah menulis blog ini, berarti aku sudah “lari” mencapai garis finish. Aku sudah harus kembali ke dunia nyata untuk menghadapi semua.

Well kalo aku pikir-pikir tipe masalah banyak, begitu juga tipe pemecah masalah yang ada.
Sama aja kayak DVD player. Banyak tombolnya.
Masalah itu kayak melihat adegan yang tidak disukai di film yang kita tonton. Misalnya aja pas aku nonton The Killers, aku paling males nonton adegan Ashton Kutcher mesra-mesraan. Satu alasan : JIJIK. Kayak pesut nyosor…-____- One word to describe : ANIMALIA.


Nah, anggap aja nonton adegan yang kita ngga suka pas lagi nonton DVD itu kayak lagi ketemu masalah. Then…what will U do??
Apakah kamu akan menekan tombol POWER, which means kamu mematikan seluruh film yang ada?? (aka Suicide??)
Well…..aku bilang jangan. Karena walaupun kamu sedang menonton adegan film yang kamu ga suka, ngga berarti juga semua adegan film yang ada itu jelek. Kalo aku menyentuh tombol POWER, aku pasti menyesal, karena aku nggak bisa melihat adegan yang aku suka Ashton Kutcher tembak-tembakkan sama tetangga-tetangganya di rumahnya sendiri. Itu kocak banget. Dan tau nggak? Adegan tembak2an yang seru itu jauh lebih lama durasinya daripada adegan nista yang aku benci itu. Sayang banget kalo aku ngga menonton semua film itu, bahkan melewatkan adegan yang aku suka (yang bahkan berdurasi jauh lebih lama), hanya karena adegan jijay selama beberapa menit.
Atau mungkin kamu PAUSE untuk kamu tinggal-tinggal dulu?
Well, PAUSE won`t help. Aku juga ngga suka tipe penyelesaian kayak gini. Kalo pun kamu pause, kamu hanya memenuhi request perasaan takut kamu untuk ngeliat adegan yang kamu ngga suka itu berlanjut jadi adegan yang lebih ngga kamu suka lagi. Tapi saat kamu Pause, di layar pun masih terpampang adegan nista itu.Arti harafiahnya, masalahnya tetap ada.
Contoh penyelesaian masalah metode pause ini adalah nangis-nangis, banting barang, diem aja bengong gag mikir, pokoknya segala sesuatu yang cuma berguna untuk memenuhi kebutuhan kamu untuk melampiaskan emosi semata. Cukup baik untuk membebaskan perasaan, tapi tetep USELESS dan buang-buang waktu untuk menyelesaikan masalah.

Atau mungkin kamu pilih Rewind??
Well, Darling. Ini juga tidak memecahkan masalah. Rewind itu cuma membuat kamu teringat akan memori-memori indah, tapi tidak akan membuat kamu maju. Kalo ketemu adegan yang ngga kamu suka, terus rewind-rewind terus ke opening lagi, eaaaaaaa….kapan majunya??

Atau mungkin kamu pilih Reset??
Mengulang segalanya dari awal??? WOW! Kalau semuanya bisa di-reset aku juga mau mereset hidup aku saat ini. Aku ingin menyiapkan diri dengan lebih baik di masa lalu supaya siap menghadapi masalah yang aku hadapi sekarang. Tapi…kalo pun kamu reset,… film yang muter kan itu-itu aja, jadi tetep aja ada masalah yang kamu temuin juga. Tapi inget….kayak diDoraemon, perubahan di masa lalu menyebabkan perubahan di masa depan juga. Yang membuat kamu menjadi diri kamu yang sekarang adalah juga pengalaman-pengalaman idup kamu dengan orang-orang yang kamu temui. Kalau kamu seenaknya (kalo pun bisa) mereset hidup, kamu akan kehilangan diri kamu yang sekarang. Ya, kalo pas kamu reset kamu ngga dapet masalah yang ngga lebih berat, kalo ketemu masalah yang lebih nista??? sama aja kan? Terus reset lagi??? Kapan kelarnya?? Ini nggak mendidik juga dan nggak mungkin bisa diterapkan dalam setiap masalah. XP

Well, atau mungkin kamu akan melakukan Fast Forward??
Cepetin filmnya, lewatin adegan yang kamu sebel, dan voila, kamu sampai pada adegan yang kamu suka, lanjut nonton lagi. Ini jauh lebih asyik kan? Kamu tetep tau filmnya secara lengkap, kamu berhasil maju, dan kamu melewati masalah itu dengan cepat.
How to do fast forward?? Well, hurry up to stand up when you fall.

Haha. Jadi inget. Aku selalu dipuji guru TK-ku bukan karena aku jadi anak yang terpintar atau terkuat atau tercantik atau tersopan atau apa pun lah, tapi karena paling semangat dan cepat berdiri kalau lagi “jatuh”. Jatuh dalam banyak arti loh. Kalo pas olah raga jatuh, di masa anak cowok pun masih nangis pas jatuh, aku udah ngga nangis. (Hasil didikan orang tua, kalau jatuh ngga nangis, tapi cepet-cepet berdiri, dikasi permen Sugus XDDD). Kalo ada test menulis dan berhitung nilaiku nomor 2 terbelakang, aku datang ke guruku minta kelas tambahan dan minta latihan tambahan berlembar-lembar, sampai dia lembur ngga pulang, ngajarin aku. XDDD Kalo dia mau pulang, aku marahin. Pokoknya, aku nahan dia ngga boleh pulang sebelom aku bisa. XDD.Aku yang sekarang pasti malu banget ketemu aku di masa itu. Karena aku yang sekarang malah jadi lebih lemah dan goyah. But, I will try to be that “kid” again. XDDD
Pikiran fast forward adalah pemikiran CEPAT dan EFISIEN untuk memecahkan masalah. Bukan lari, menunggu, atau hanya pasrah. Untuk bisa berpikir begini, satu hal yang paling sulit dilewati adalah mengatasi emosi pribadi. Emosi kadang menutup pikiran. Apalagi kalo lagi menghadapi masalah berat. Pengendalian diri sangat dibutuhkan. Well satu-satunya jalan supaya bisa berpikir jernih adalah….berdoa. ^ 0 ^

Hmmmm….. sebenarnya terserah pada orang masing-masing mau jadi tipe pemecah masalah seperti apa. ^ 0 ^
Tapi coba liat deh. Film yang menarik itu justru yang masalahnya kompleks kan?? Kayak Inception misalnya?? Bikin penasaran, terus character development yang kebentuk dari tokoh utamanya bisa menginspirasi orang lain juga.
Well, karena itu….bersyukurlah kamu punya masalah dalam hidup kamu. Kalo dalam film, kamu adalah si tokoh utama cerita yang lagi mencapai klimaks. Kamu bisa aja berkembang dengan cepat menunjukkan character development yang menginspirasi penonton, bisa juga lari-lari terus dan bikin penonton bosen dengan kamu yang pengecut, atau bisa juga pasrah-pasrah aja sampe film kamu selesai dan membuat kamu jadi tokoh utama yang tidak berarti di mata penonton.

Kamu tokoh utamanya. Tuhan penulis ceritanya. Karena Dia adalah penulis yang baik, Dia sedang memberi kamu kesempatan memilih hidup kamu dalam cerita itu. Mundur? Diam? Atau Maju?
Terima kasih udah membaca.
Semoga bermanfaat.
GBU
Gabriella Meirina.^ 0 ^












