• March 2010
    M T W T F S S
    « Feb    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  

:¦ Lian Hearn - Klan Otori ¦:

Lian Hearn - Klan Otori I - Chapter 04

DAUN bambu memutih dan buah maple memamerkan kulitnya yang mirip kimono dari kain brokat. Junko datang membawa beberapa pakaian usang milik Lady Noguchi untuk Kaede. Dengan hati-hati dia membentangkan pakaian-pakaian itu, lalu dia jahit lagi untuk menyembunyikan bagian yang lusuh ke bagian dalam pakaian. Seiring hari-hari yang makin dingin, Kaede bersyukur karena ia tak lagi tinggal di kastil. Tak harus berlari melintasi taman dan naik turun tangga saat hujan salju turun. Tugasnya pun makin ringan. Ia Menjalani hari-harinya bersama pelayan Noguchi, mengikuti kegiatan menjahit dan ketrampilan rumah tangga lainnya, serta membuat puisi. Ia juga belajar menulis. Namun semua itu tak membuat Kaede bahagia.

Lady Noguchi selalu saja mencari-cari kesalahannya, Kaede dihina karena kidal dan diejek karena terlalu tinggi atau karena terlalu kurus. Lady Noguchi selalu menyatakan kekagetannya atas ketidaktahuan Kaede dalam banyak hal, tanpa pernah mengakui bahwa semua itu karena ulahnya.

Saat hanya berdua, Junko selalu memuji Kaede: kulitnya yang putih, lengan dan kakinya yang lembut, dan rambutnya yang tebal. Kini Kaede bisa bercermin kapan saja dia mau untuk mengagumi kecantikannya sendiri. Ia tahu kalau laki-laki menatapnya dengan pandangan bergairah, juga di rumah Lord Noguchi ini. Itulah mengapa Kaede takut pada semua laki-laki.

Sejak ia hendak diperkosa oleh penjaga, ia kini merinding bila berdekatan dengan laki-laki. Ide mengenai pernikahan akan membuat ia gemetar. Setiap ada tamu, ia cemas kalau-kalau orang itu adalah calon suaminya. Ketika ia harus menyambut kedatangan tamu sambil menyajikan teh atau sake, jantungnya berdebar dan tangannya gemetar sehingga Lady Noguchi menganggap Kaede terlalu ceroboh dan, harus dikurung di tempat tinggal pelayan. Kaede semakin bosan dan gelisah. Ia sering bertengkar dengan anak Lady Noguchi, menghardik para pelayan karena hal yang sepele, bahkan sering memarahi Junko.

“Dia harus segera dinikahkan,” itulah saran Lady Noguchi, dan pernikahan yang selama ini Kaede takutkan segera diatur. Ia akan dinikahkan dengan pengawal Lord Noguchi. Hadiah pertunangan telah diberikan, dan Kaede baru bertemu calon suaminya ketika dipertemukan oleh Lord Noguchi. Orang itu sudah tua, orang itu tiga kali lebih tua, sudah dua kali menikah, dan secara fisik amat menjijikkan. Kaede sadar kalau orang itu tak pantas untuknya. Pernikahan ini hanya untuk menghina dirinya dan keluarganya. Ia hendak dibuang seperti sampah. Kaede menangis dan tidak mau makan selama berhari-hari.

Suatu malam, seminggu sebelum pesta pernikahan, ada orang datang membawa pesan. Kemudian Lady Noguchi memanggil Kaede dengan marah.

“Kau memang membawa sial, Lady Shirakawa. Kau pasti dikutuk. Calon suamimu mati.”

Orang itu mati saat merayakan akhir masa dudanya. Dia mabuk-mabukan bersama teman-temannya ketika mendadak dia mati karena terlalu banyak minum sake.

Kaede merasa lega, meskipun kematian kedua ini dianggap sebagai kesalahannya.

Dua orang telah mati ketika menginginkan dirinya, dan rumor pun mulai menyebar.

Siapa pun yang menginginkan dirinya pasti akan mati.

Kaede berharap rumor itu akan menjauhkan keinginan orang untuk menikahinya. Namun pada suatu malam, menjelang akhir bulan ketiga, saat pohon mulai ditumbuhi daun-daun baru yang cemerlang, Junko berbisik pada Kaede, “Salah seorang anggota klan Otori akan menjadi suamimu, Lady.”

Ketika itu mereka sedang menyulam, dan Kaede langsung kehilangan irama jahitan sehingga jarinya tertusuk jarum. Junko langsung menyingkirkan kain sutra yang sedang disulam sebelum terkena tetesan darah.

“Siapa dia?” tanya Kaede sambil menghisap jarinya yang berdarah, darahnya terasa asin.

“Aku tidak tahu pasti. Lord Iida yang memutuskan karena pemimpin Tohan itu ingin merekatkan hubungan dengan klan Otori. Dengan begitu, mereka akan dapat menguasai seluruh Wilayah Tengah.”

“Berapa umurnya?” Kaede terus bertanya.

“Belum jelas, Lady. Tapi, umur bukanlah hal yang penting untuk menjadi suami.”

Kaede melanjutkan sulamannya: bangau putih dan kura-kura biru dengan latar belakang merah jambusebuah kimono pengantin. “Semoga kimono ini tidak pernah selesai!”

“Bergembiralah, Lady. Kau akan segera pergi dari sini. Klan Otori tinggal di Hagi, di pesisir pantai. Sangat cocok untukmu.”

“Pernikahan membuatku takut,” ucap Kaede.

“Semua orang takut kalau belum tahu! Tapi semua wanita menikmatinya; kau akan tahu nanti,” Junko tertawa kecil.

Kaede teringat kekuatan dan gairah penjaga itu, dan reaksi dirinya. Tangannya, yang biasanya menyulam dengan cekatan dan tangkas, kini melambat. Junko menegurnya dengan lembut, dan sepanjang hari itu, dia melayani Kaede dengan penuh kasih sayang.

Beberapa hari kemudian Kaede dipanggil Lord Noguchi. Ia masuk ke ruang pertemuan dengan ragu bercampur takut. Tapi ia kaget ketika melihat ayahnya duduk di tempat kehormatan, di samping Lord Noguchi.

Saat membungkuk, ia melihat wajah bahagia ayahnya, dan Kaede bangga karena ayahnya kini melihat ia dalam posisi yang lebih terhormat. Ia bersumpah tak akan pernah melakukan sesuatu yang akan membuat ayahnya bersedih atau dihina. Ketika Kaede disuruh duduk, ia berusaha memperhatikan ayahnya. Rambutnya semakin tipis dan lebih banyak uban, lebih banyak kerutan di wajahnya. Kaede tidak sabar menanti kabar tentang ibu dan adik-adik pcrempuannya. Ia berharap akan diberi waktu untuk bicara berdua saja dengan ayahnya.

“Lady Shirakawa,” ujar Lord Noguchi memulai pembicaraan. “Kami telah menerima lamaran atas namamu, dan ayahmu datang untuk memberi restu.”

Kaede kembali membungkuk dan berkata dengan pelan, “Lord Noguchi.”

“Ini merupakan kehormatan besar untukmu. Pernikahan ini akan mempererat persekutuan antara Tohan dengan Otori, dan juga menggabungkan tiga keluarga. Lord Iida akan hadir di pernikahanmu: dia bahkan ingin pernikahan ini dirayakan di Inuyama. Karena ibumu sekarang kurang sehat, maka kerabatmu, Lady Maruyama, yang akan menemanimu ke Tsuwano. Calon suamimu adalah Otori Shigeru, keponakan dari pemimpin Otori. Dia dan pengawalnya akan bertemu denganmu di Tsuwano. Tidak perlu persiapan lain. Semua sudah sangat memuaskan.”

Kaede menatap ke ayahnya saat mendengar kalau ibunya sedang kurang sehat. Ia hampir tidak mendengar kelanjutan perkataan Lord Noguchi. Ia sadar bahwa semuanya telah diatur: beberapa kimono selama perjalanan dan untuk pesta pernikahan, juga orang yang akan menemaninya. Sudah pasti Lord Noguchi telah menyiapkan semua ini dengan matang.

Lord Noguchi melontarkan lelucon tentang kematian penjaga sehingga wajah Kaede merona merah. Ayahnya menunduk.

Aku senang Lord Noguchi kehilangan anak buahnya, pikir Kaede marah. Semoga dia kehilangan ratusan lainnya.

Ayahnya pulang keesokan harinya. Kesehatan ibunya yang kurang sehat membuat ayahnya tak bisa berlama-lama. Lord Noguchi yang sedang gembira memberinya kesempatan untuk berdua saja dengan puterinya. Kaede mengajak ayahnya ke suatu ruangan kecil yang menghadap ke taman. Udara yang hangat dipenuhi dengan keharuman musim semi. Seekor burung sedang berkicau di ranting pohon pinus. Junko menyeduh teh untuk mereka. Sopan santun dan perhatian Junko meringankan kesedihan ayahnya.

“Aku senang kau telah mempunyai teman, Kaede,” ujar ayahnya pelan.

“Bagaimana kabar ibu?” tanya Kaede cemas.

“Kuharap dia segera sehat. Aku takut musim hujan ini akan membuat kondisinya semakin lemah. Namun, pernikahan ini membuatnya bersemangat. Klan Otori sangat termashyur, dan Lord Shigeru adalah orang baik. Reputasinya bagus. Dia sangat disukai dan dihormati. Calon suami yang sangat kami harapkan untukmu bahkan lebih dari harapan kami.”

“Aku juga senang,” ujar Kaede, berbohong demi menyenangkan ayahnya.

Lord Shirakawa menatap pohon sakura di taman yang mulai berbunga, setiap pohon seakan melamunkan keindahannya sendiri. “Kaede, tentang penjaga yang mati…,”

“Itu bukan salahku,” jawab Kaede cepat. “Kapten Arai yang melakukan itu untuk melindungiku. Penjaga itu yang salah.”

Ayahnya menarik napas panjang. “Kabarnya kau berbahaya bagi laki-laki sesuatu yang harus Lord Otori waspadai. Tapi tak ada yang boleh mencegah terjadinya pernikahan ini. Mengertikah kau, Kaede? Jika batal karena ulahmu maka kita semua akan mati.”

Kaede membungkuk dalam, dadanya terasa sesak. Kini ayahnya nampak seperti orang asing.

“Selama ini kau telah dibebani untuk menjaga keselamatan keluarga kita. Ibu dan adikmu sangat rindu kepadamu. Bila bisa memilih, aku berharap agar keadannya berbeda. Andai aku langsung bergabung dengan Iida dalam perang Yaegahara, tanpa menunggu siapa yang akan menang… Tapi semua itu telah berlalu. Lord Noguchi telah memutuskan bahwa kau akan dibiarkan hidup asalkan pernikahan ini berjalan lancar. Aku tahu kau tak akan mengecewakan kami.”

“Ayah,” kata Kaede bersamaan dengan masuknya hembusan angin dari taman, bunga putih dan merah jambu yang gugur menutupi taman sehingga menyerupai tumpukan salju.

Lord Shirakawa pulang keesokan harinya. Kaede menatap kepergian ayahnya yang menunggang kuda diikuti beberapa pengawal yang telah mengabdi sejak ia belum lahir, dan ia masih ingat nama-nama mereka: sahabat dekat ayahnya yang bernama Shoji, dan yang muda bernama Amano, umurnya hanya terpaut beberapa tahun dari Kaede. Saat rombongan itu melewati gerbang kastil, kaki kuda merusak bunga sakura yang terhampar di jalan berbatu. Kaede berlari ke puncak menara untuk mengiringi kepergian ayahnya. Akhirnya, anjing-anjing berhenti menggonggong, dan rombongan ayahnya tidak nampak lagi.

Kelak, bila bertemu dengan ayahnya lagi, ia tentu telah menikah dan pulang dalam suasana yang formal.

Kaede kembali ke rumah sambil menahan air mata di pelupuk matanya. Ia tetap tidak bergairah meskipun ia mendengar ada orang yang sedang bercakap-cakap dengan Junko. Jenis percakapan yang sangat dihindari oleh Kaede, terlebih lagi saat mendengar tawa genit dan suara nyaring gadis itu. Ia bisa membayangkan gadis itu, kecil dengan pipi bulat seperti boneka, langkah kaki yang pendek seperti burung, serta kepala yang selalu bergoyang dan mengangguk-angguk.

Saat ia bergegas ke kamar, Junko dan gadis itu sedang menyelesaikan gaun pengantinnya. Keluarga Noguchi sepertinya tidak mau membuang-buang waktu untuk segera menyingkirkan dirinya. Beberapa keranjang bambu dan kotak kayu dari pohon paulownia telah disiapkan. Semua ini membuat Kaede semakin kesal.

“Kenapa dia ada di sini?” tanya Kaede jengkel. Gadis itu lalu menyembah secara berlebihan.

“Ini Shizuka,” kata Junko. “Dialah yang akan menemani Lady Kaede ke Inuyama.”

“Tidak,” balas Kaede. “Kaulah yang akan menemaniku.”

“Lady, mustahil aku boleh ikut. Lady Noguchi tidak akan mengijinkan.”

“Kalau begitu, minta dia mengirim orang lain.”

Shizuka, dalam keadaan menyembah, mengeluarkan suara tersedu-sedan. Kaede, yang merasa yakin kalau orang ini hanya berpura-pura, tetap tidak bergeming.

“Mungkin kau sedang kesal, Lady. Berita tentang pernikahanmu, dan kepergian ayahmu…” Junko berusahia menentramkan Kaede. “Dia gadis yang baik, cantik dan cerdas. Duduk tegak Shizuka, Lady Shirakawa ingin melihatmu.”

Gadis itu lalu duduk, tapi matanya tidak menatap ke Kaede. Dari matanya yang menunduk, tampak air matanya berlinang. Dia sesenggukan. “Lady, kumohon jangan mengusirku. Aku akan lakukan apa pun untukmu. Aku berjanji, tak akan ada orang yang dapat menjagamu lebih baik dariku, aku akan memayungimu di saat hujan, aku akan menghangatkan kakimu dengan tubuhku saat kau kedinginan.” Air matanya mengering dan dia tersenyum kembali.

“Kau tak mengatakan kalau Lady Shirakawa cantik sekali,” kata gadis itu pada Junko. “Tak heran laki-laki rela mati untuknya!”

“Jangan katakan itu!” bentak Kaede. Ia mendekat ke pintu dengan marah. Dua orang yang bertugas mengurus taman sedang membersihkan lumut di kolam. “Aku lelah mendengar kata-kata itu.”

“Akan selalu ada orang yang mengatakan itu,” Junko mengingatkan. “Kata-kata itu sudah menjadi bagian dari hidupmu.”

“Aku akan senang sekali bila laki-laki rela mati demi aku,” ujar Shizuka sambil tertawa. “Tapi mereka begitu mudah jatuh cinta lalu bosan kepadaku, sama seperti perasaanku pada mereka!”

Shizuka menggeser tubuhnya dengan menggunakan lututnya ke kotak kayu dan mulai melipat gaun sambil bersenandung lirih. Suaranya jernih dan jelas. Dia me lantunkan balada sepasang kekasih di desa kecil di tepi hutan pinus. Kaede yakin gadis itu sedang mengenang masa kanak-kanaknya. Ini membuat Kaede sadar bahwa masa kecilnya telah berlalu, ia akan menikahi orang yang belum dikenalnya, dan ia tak akan sempat mengenal arti cinta. Penduduk desa mungkin boleh jatuh cinta, tapi tidak bagi orang seperti dirinya, cinta tidak masuk dalam hitungan.

Kaede melintasi ruangan dan, berlutut di sisi Shizuka, merebut pakaiannya dengan kasar. “Jika kau ingin melakukannya, lakukan dengan benar!”

“Ya, Lady,” Shizuka mengumpulkan kimono yang ada di sekitarnya sambil menyembah. “Terima kasih Lady, kau tak akan menyesal telah menerimaku!”

Ketika kembali duduk, Shizuka berkata lirih, “Orang mcegatakan Lord Arai sangat memperhatikan Lady Shimkawa. Mereka mengatakan Lord Arai telah menjaga kehormatan Lady.”

“Kau mengenal Arai?” tanya Kaede tajam.

“Kami dari kota yang sama, Lady. Dari Kumamoto.”

Junko tersenyum lebar. “Aku akan tenang bila Shizuka yang menjagamu.”

Sejak saat itu Shizuka telah menjadi bagian dari hidup Kaede, sikapnya yang menyebalkan dan menyenangkan datang silih berganti. Dia gemar menyebar gosip, menghilang ke dapur, istal, kastil, dan kemudian datang dengan membawa cerita baru. Semua orang senang kepadanya dan dia juga tidak takut pada laki-laki. Sejauh yang bisa Kaede lihat, justru laki-laki yang takut padanya, takut akan kata-katanya yang pedas dan lidahnya yang tajam. Walaupun tampak sembrono, dia mengurus Kaede dengan telaten. Saat Kaede sakit, dia memijati kepala Kaede, membawa salep yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan, memberi lilin lebah di kulitnya agar lebih lembut, mencabut alis Kaede agar lebih berbentuk. Lambat-laun Kaede mulai bergantung dan mempercayainya. Shizuka bisa membuat Kaede tertawa, dan untuk pertama kalinya Kaede mulai berhubungan dengan dunia luar setelah sekian lama terkucil.

Kaede mulai mengetahui hubungan antar klan yang tidak berjalan mulus, dan banyaknya dendam yang tersisa setelah perang Yaegahara, usaha Iida untuk bersekutu dengan Otori dan Seishuu, orang-orang sedang berebut posisi dan siap-siap untuk berperang. Ia mendengar tentang pembantaian yang Iida lakukan terhadap kaum Hidden dan memaksa sekutunya untuk melakukan hal serupa.

Kaede belum pernah mendengar tentang kaum Hidden, dan ia mengira Shizuka hanya mengada-ada. Sampai pada suatu malam Shizuka berbisik bahwa ada laki-laki dan perempuan yang ditemukan di desa terpencil, dan dibawa ke Noguchi dalam sebuah kandang besar. Mereka digantung di dinding kastil hingga mati kelaparan dan kehausan. Burung gagak akan mematuki mereka meskipun mereka masih hidup.

“Mengapa? Kejahatan apa yang mereka lakukan?” tanya Kaede.

“Mereka percaya adanya suatu tuhan yang rahasia, yang dapat melihat segalanya dan manusia tak bisa melawan atau menghindar. Mereka merasa lebih baik mati daripada mengingkari tuhannya.”

Kaede gemetar. “Mengapa Lord Iida membenci mereka?”

Shizuka melihat ke kanan-kiri, meskipun dia tahu tidak ada orang lain di ruangan ini. “Menurut mereka, tuhan mereka akan menghukum Iida setelah mati.”

“Tapi, Iida orang yang paling berkuasa di Tiga Wilayah. Dia bisa melakukan apa pun yang dia suka. Mereka tak mungkin bisa menghakiminya.” Membayangkan bahwa penduduk desa bisa menghukum pemimpin klan nampak menggelikan bagi Kaede.

“Kaum Hidden yakin kalau tuhan mereka memandang semua orang sejajar. Tak ada gelar bangsawan di mata tuhan, yang ada hanyalah orang yang percaya dan yang tidak percaya padanya.”

Kaede mengerutkan dahi. Tidak heran Iida ingin membantai mereka. Ia ingin bertanya lebih banyak, tapi Shizuka mengubah pembicaraan.

“Lady Maruyama akan datang hari ini. Kita akan segera berpergian.”

“Senang sekali bisa pergi dari tempat kematian ini,” kata Kaede.

“Kematian di mana-mana.” Shizuka mengambil sisir, dan dengan satu tarikan panjang, dia menyisir rambut Kaede. “Lady Maruyama adalah kerabatmu. Kau pernah bertemu dengannya semasa kecil?”

“Seandainya pernah bertemu, aku pasti sudah lupa. Aku hanya tahu bahwa dia adalah sepupu ibuku. Kau pernah bertemu dengannya?”

“Aku pernah melihatnya,” kata Shizuka sambil tertawa. “Orang sepertiku tidak mungkin bisa bertemu bicara langsung dengan orang-orang seperti dia!”

“Ceritakan tentang dirinya,” kata Kaede.

“Seperti yang kau tahu, dia menguasai wilayah yang luas di barat daya. Suami dan putranya tewas, sedangkan putrinya, sang pewaris tahta, kini menjadi tawanan di Inuyama. Semua orang tahu Lady Maruyama tidak mendukung Tohan, meskipun suaminya orang Tohan. Putri tirinya menikah dengan sepupu Iida. Beredar rumor setelah kematian suaminya, keluarga pihak suami meracuni putranya. Pertama, Iida menawarkan adiknya untuk menjadi suami Lady Maruyama, namun ditolak. Kini, menurut kabar, Iida sendiri yang berniat menikahi Lady Maruyama.”

“Lord Iida kan sudah beristri dan punya anak laki-laki,” sela Kaede.

“Anak Lady Iida selalu mati sejak bayi, dan kesehatan istrinya memburuk. Dia bisa meninggal kapan saja.”

Mungkin saja Iida yang akan membunuhnya, pikir Kaede, tapi tidak berani ia ucapkan.

“Lagi pula,” lanjut Shizuka, “Lady Maruyama tak mau menikahi Iida, begitulah kabarnya, dan dia juga tidak membiarkan putrinya menikahi Iida.”

“Dia yang memilih calon suaminya? Sepertinya dia sangat berkuasa.”

“Klan Maruyama merupakan satu-satunya klan yang pemimpinnya berasal dari garis keturunan perempuan,” Shizuka menjelaskan. “Itulah yang membuat dia lebih berkuasa dibandingkan wanita lain. Dia juga memiliki kekuatan yang mirip sihir. Dia mampu menyihir orang-orang agar keinginannya tercapai.”

“Kau percaya hal seperti itu?”

“Bagaimana dia bisa bertahan hingga sekarang? Keluarga mendiang suaminya, Lord Iida, berusaha menghancurkannya, tapi dia selamat, meskipun putranya mati dan putrinya ditawan.”

Kaede menaruh simpati padanya. “Kenapa selalu wanita yang menjadi korban? Kenapa mereka tidak memiliki kebebasan seperti yang laki-laki miliki?”

“Begitulah dunia ini,” balas Shizuka. “Laki-laki lebih kuat dan tidak menyimpan kelembutan maupun belas kasihan. Perempuan jatuh cinta pada mereka, namun mereka tidak membalas cintanya.”

“Aku tidak mau jatuh cinta,” kata Kaede.

“Sebaiknya jangan,” Shizuka sepakat, lalu tertawa. Dia menyiapkan kasur dan mereka berbaring. Kaede masih membayangkan sosok Lady Maruyama yang memiliki kekuasaan layaknya laki-laki, yang kehilangan putra dan juga putrinya. Ia memikirkan putri sang Lady, gadis yang kini menjadi tawanan Iida di Inuyama, dan Kaede merasa iba padanya.

Lady Noguchi telah mendekorasi kamar untuk menerima sang tamu dengan gaya daerah setempat, kasa pintu dan jendela telah dilukis pemandangan gunung dan pohon pinus. Kaede tak menyukai lukisan itu karena nampak terlalu berlebihan dan memberi kesan pamer, kecuali sebuah lukisan yang ada di sisi paling kiri. Lukisan dua sekor burung bangau yang sangat hidup. Mata bangau itu terang, dan kepalanya agak dimiringkan. Burung itu seakan sedang mendengarkan percakapan di ruangan ini dengan riang, lebih riang dibandingkan sebagian besar wanita yang duduk di depan Lady Noguchi.

Di sebelah kanan Lady Noguchi nampak duduk sang Lady Maruyama. Lady Noguchi memberi isyarat pada Kaede untuk mendekat. Kaede membungkuk dan mendengar mereka bercakap-cakap di atas kepalanya.

“Tentu saja kami sedih kehilangan Lady Kaede. Dia telah kami anggap sebagai anak sendiri. Dan kami pun agak sungkan untuk membebanimu, Lady Maruyama. Kami hanya meminta agar Kaede diijinkan menemanimu sampai di Tsuwano. Di sana, Lord Otori yang akan menyambutnya.”

“Lady Shirakawa akan menikahi keluarga Otori?” Kaede menyukai nada berat namun lembut Lady Maruyama. Kaede mengangkat kepala, dan sekilas ia melihat tangan Lady Maruyama yang mungil saling menggenggam di atas pangkuannya.

“Ya, dengan Lord Otori Shigeru,” suara Lady Noguchi terdengar berdengung.

“Ini merupakan kehormatan besar. Lord Iida yang menghendaki perjodohan ini.”

Kaede melihat kedua tangan Lady Maruyama terkepal erat sehingga tangannya terlihat sangat pucat. Setelah lama diam, terlalu lama hingga hampir melewati batas kesopanan. Lady Maruyama berkata, “Lord Otori Shigeru? Lady Shirakawa sungguh beruntung.”

“Lady pernah bertemu dengannya? Aku belum pernah memiliki kesempatan yang menyenangkan itu.”

“Aku hanya tahu sedikit tentang Lord Otori,” balas Lady Maruyama.

“Duduklah, Lady Shirakawa. Aku ingin melihat wajahmu.”

Kaede mengangkat kepala.

“Kau begitu muda!” seru Lady Maruyama.

“Usiaku lima belas tahun, Lady.”

“Hanya sedikit lebih tua dari putriku.” Suara Lady Maruyama terdengar lirih.

Kaede memberanikan diri untuk melihat mata hitam yang bentuknya sempurna itu. Pupil matanya membesar seakan-akan kaget, wajahnya lebih putih dari bedak. Kemudian, Lady Maruyama nampak dapat mengendalikan diri. Senyuman muncul di bibirnya, walaupun matanya tak menunjukkan hal yang sama.

Apakah aku telah melakukan kesalahan? Pikir Kaede dengan bingung. Secara naluri ia tertarik pada wanita ini. Ia yakin bahwa Shizuka benar. Orang akan melakukan apa pun juga demi Lady Maruyama. Walaupun kecantikannya telah memudar, namun entah bagaimana garis kerutan di sekitar mata dan mulutnya justru menegaskan karakter dan kekuatan. Ekspresi dingin di wajah Lady Maruyama membuat luka yang mendalam pada diri Kaede.

Dia tidak menyukaiku, pikir Kaede dengan sangat kecewa.

                                                                                                                                    
Copyright © 2009 niwaexia@hellokitty.co.id
All rights reserved.

:¦ Lian Hearn - Klan Otori ¦:

Lian Hearn - Klan Otori I - Chapter 03

SETIAP sore selalu ada burung bangau yang datang ke taman, mengapung bak hantu kelabu di kolam, melipat tubuhnya dengan cara yang menakjubkan, dan berdiri di Icolam yang sedalam paha, tenang tidak bergerak layaknya patung Jizo. Di kolam itu ada banyak ikan mas merah keemasan yang sering diberi makan oleh Lord Otori, walaupun ikan itu nampak terlalu gemuk untuk selalu diberi makan. Bangau itu diam tidak bergerak selama beberapa saat hingga ikan-ikan lupa kehadirannya dan berani bergerak.

Lalu sang bangau menyambar ikan itu dengan cepat, lebih cepat dari, gerakan mata, kemudian terbang membawa ikan yang masih menggelepar di paruhnya. Kepakan sayapnya yang pertama terdengar sekencang suara kipas, dan kemudian bangau itu terbang dengan hening, sehening saat dia datang.

Hari-hari masih terasa panas di musim gugur yang melelahkan ini. Di satu sisi kau tidak sabar menanti semua ini berakhir, namun di sisi lain kau tidak ingin semua ini berlalu karena hawa panas yang menusuk ini adalah penghujung musim.

Sebulan sudah aku di rumah Lord Otori. Musim panen telah berlalu, banyak tumpukan jerami kering di sawah dan di sekitar rumah petani. Lili merah musim gugur mulai layu. Buah persimmon menguning, daunnya mulai rapuh berguguran, dan kulit chestnut terserak di jalan, memuntahkan isinya yang mengkilap. Bulan purnama musim gugur datang dan pergi. Chiyo meletakkan chestnut, jeruk, dan beras di kuil sebagai persembahan. Aku ingin tahu apakah ada orang yang melakukan hal serupa di desaku saat ini.

Pelayan mengumpulkan berbagai bunga hutan, dan diletakkan berdiri di buket yang berada di sisi luar antara dapur dan kamar mandi, baunya yang harum menutupi bau masakan, sampah, dan juga bau kotoran manusia.

Aku belum bisa bicara. Mungkin aku masih bersedih. Begitu pula di rumah Otori, semua orang bukan hanya berduka atas kematian adik Lord Otori, tapi juga atas kematian ibunya akibat penyakit yang terjadi di musim panas lalu. Chiyo yang menceritakan tentang keluarga ini padaku. Sebagai anak sulung, Shigeru turut membantu ayahnya dalam perang melawan Tohan di Yaegahara. Dan ketika kalah, salah satu syaratnya yaitu Shigeru tidak boleh mewarisi kepemimpinan klan dari ayahnya. Dan pamannya, Shoichi dan Masahiro, yang Iida tunjuk sebagai pemimpin klan.

“Iida Sadamu sangat membenci Lord Shigeru,” kata Chiyo. “Dia iri dan takut padanya.”

Shigeru juga dibenci kedua pamannya karena dia adalah pewaris sah klan Otori.

Saat ini Shigeru menarik diri dari kancah politik dan mengabdikan dirinya bagi tanah leluhurnya, mencoba berbagai metoda bercocok tanam. Dia menikah muda. Isterinya meninggal dua tahun kemudian pada saat melahirkan, dan sang bayi turut meninggal ersama ibunya.

Meskipun hidupnya penuh penderitaan, namun Lord Shigeru tidak pernah menunjukkannya. Aku tidak akan tahu jika tidak diceritakan Chiyo. Hampir setiap hari aku bersama Shigeru, mendampinginya berkeliling layaknya seekor anjing di sisi tuannya, kecuali saat aku belajar pada Ichiro.

Hari-hari berlalu dengan sangat menjemukan. Ichiro mengajariku baca-tulis, dan jika tidak bisa menulis dan membaca apa yang diajarkan, aku dimarahi. Dia juga tampak tidak menyetujui gagasan untuk menerimaku menjadi anggota klan.

Pemimpin Otori juga menentang gagasan itu dengan alasan: Lord Shigeru sebaiknya menikah lagi, karena dia masih muda, dan pengangkatan itu dirasa terlalu dini setelah kematian ibunya. Semua keberatan itu tampak tak ada habisnya. Kurasa Ichiro sependapat dengan para pemimpin Otori, dan bagiku, itu ada benarnya. Aku giat belajar agar Lord Shigeru tidak kecewa, meskipun aku tak yakin mampu belajar dengan keadaanku saat ini.

Hampir setiap sore Lord Shigeru mengajakku duduk di depan jendela, melihat ke taman. Tak banyak yang dia katakan, tapi dia selalu mengamatiku. Dia seperti menunggu sesuatu: menungguku bicara atau menungguku memberi suatu pertanda tapi aku tidak tahu apa itu. Hal ini membuatku gelisah, aku takut telah membuatnya kecewa, dan ini makin membuatku sulit belajar.

Suatu sore Ichiro datang ke ruang atas dan mengeluhkan tentang diriku. Tadi pagi dia begitu gusar hingga hampir saja memukulku. Aku sedang duduk di sudut ruangan dengan kesal, sambil mencoret-coret beberapa bentuk huruf yang dia ajarkan tadi pagi, aku berusaha dengan putus asa untuk mengingat berbagai bentuk huruf itu.

“Kau membuat kesalahan,” ujar Ichiro. “Tidak ada yang berprasangka buruk jika kau mau mengakui itu. Semua orang mengerti bahwa kau baru saja kehilangan adikmu. Kirim saja anak itu ke desanya dan lanjutkan lagi hidupmu.” Dan biarkan aku melanjutkan lagi hidupku. Itu kira-kira maksud Ichiro. Ia tidak pernah membiarkan aku lupa dengan pengorbanan yang telah dia lakukan saat berusaha mengajariku.

“Kau tak bisa menciptakan orang seperti Lord Takeshi,” tambahnya dengan nada yang lebih lembut. “Dia adalah hasil didikan dan pelatihan selama bertahun-tahun dan berasal dari keturunan yang terbaik untuk mempelajari semua itu.”

Aku cemas Ichiro berhasil memperoleh keinginannya. Lord Shigeru terikat pada Ichiro dan Chiyo dalam suatu hubungan tugas dan tanggung jawab, begitu pun sebaliknya. Meskipun Lord Shigeru berkuasa di rumah ini, namun Ichiro juga memiliki pengaruh dan dia tahu cara menggunakannya. Di sisi lain, kedua pamannya memiliki kuasa atas Lord Shigeru. Dia harus patuh pada perintah pemimpin klan. Tidak ada alasan untuk mempertahankan diriku.

“Lihat bangau itu, Ichiro,” kata Lord Shigeru. “Lihat kesabarannya. Bangau itu diam tidak bergerak untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Aku juga memiliki kesabaran yang sama, kesabaran yang tak kenal lelah.”

Bibir Ichiro terkatup rapat dengan raut muka masam seperti masamnya acar plum kesukaannya. Di saat vang sama, bangau itu menyambar mangsanya dan kemudian mengepakkan sayapnya, terbang.

Kelelawar mulai keluar dari tempat persembunyianiiva. Kuangkat kepala dan melihat dua ekor kelelawar wrbang saling menyambar di taman. Aku mendengar Ichiro sedang berkeluh-kesah dan Lord Shigeru menjawab dengan singkat, dengan sabar. Aku dengar percakapan itu dari ruangan lain. Kini aku mulai terbiasa dengan pendengaranku yang semakin tajam. Aku belajar menyaring suara yang tidak ingin kudengar. Aku tidak memberitahukan kalau aku bisa mendengar semua percakapan di rumah ini. Tak ada yang tahu kalau aku mampu mendengar apa yang mereka bicarakan.

Saat ini aku sedang mendengar bunyi air mendidih yang siap dituang ke bak mandi, gemerincing bunyi piring di dapur, desau pisau juru masak yang sedang memotong, langkah seorang gadis yang memakai kaus kaki di teras, ringkik kuda di istal, seekor kucing yang sedang memberi makan keempat anaknya yang tidak pernah kenyang, bunyi bakiak di jembatan kayu, suara anak-anak bernyanyi, dan bunyi lonceng dari kuil Tokoji dan Dalshoin. Aku mengenal seluruh bunyi-bunyian di rumah ini, siang maupun malam, dikala matahari bersinar maupun di saat hujan deras.

Malam ini aku merasa seperti ada sesuatu yang tak biasa. Sesuatu yang akan terjadi. Sesuatu yang aku pun seperti menantinya. Kenapa? Setiap malam sebelum tertidur aku selalu membayangkan pemandangan bukit, kepala yang hancur, dan orang berwajah serigala yang sedang memegang lengannya yang terpotong. Aku dapat melihat Iida Sadamu di tanah, dan mayat ayah tiriku dan Isao. Apakah aku sedang menunggu Iida dan orang berwajah serigala itu datang menangkapku? Ataukah aku sedang menunggu kesempatan untuk balas dendam?

Dari waktu ke waktu aku tetap berdoa dengan cara kaum Hidden, dan malam ini aku berdoa agar ditunjukkan jalan yang harus kutempuh. Aku tetap tak bisa tidur.

Udara terasa lembab dan separuh bulan bersembunyi di balik kumpulan awan tebal. Serangga malam sibuk bernyanyi tanpa pernah merasa lelah. Aku mendengar langkah cicak yang sedang memburu serangga. Ichiro dan Lord Shigeru sudah terlelap. Ichiro mendengkur. Aku tidak ingin meninggalkan rumah yang mulai aku cintai ini, tapi tampaknya aku hanya membawa masalah. Mungkin akan lebih baik bagi semua orang bila aku menghilang malam ini.

Jika aku pergi tanpa tujuan yang pasti—apa yang dapat kulakukan? aku mulai memikirkan cara menyelinap tanpa membangunkan penjaga dan tanpa membuat anjing menggonggong. Saat memikirkan ini, aku berusaha mendengar gonggongan anjing. Biasanya aku selalu mendengar gonggongan yang bersahut-sahutan, tapi aku belajar untuk mengabaikannya. Kali ini aku berusaha mendengar, tapi tetap saja tidak terdengar gonggongan. Aku berusaha mendengar suara penjaga: langkah kaki di bebatuan, dentingan besi, atau pun percakapan berbisik. Keadaan sangat sunyi. Suara yang biasanya selalu terdengar setiap malam kini tidak terdengar lagi.

Aku menjadi waspada. Kupasang telinga untuk mendengarkan riak air di taman. Arus sungai sangat tenang—hujan tak lagi turun sejak berganti bulan. Lalu terdengar bunyi yang pelan, seperti getaran, di mitara jendela dan tanah. Sejenak aku mengira ada gempa bumi, seperti yang sering terjadi di wilayah Tengah. Getaran halus itu terus terdengar. Ada yang memanjat sisi samping rumah ini. Naluriku mengatakan kalau aku harus berteriak, tapi akal sehatku langsung mengambil alih. Teriakan bukan hanya akan membangunkan seluruh penghuni rumah ini, si penyusup pun akan waspada. Aku bangkit dari alas tempat tidur dan merangkak pelan ke sisi Lord Shigeru. Aku sangat mengenal lantai rumah ini, aku tahu bagian mana yang akan berbunyi bila diinjak. Aku berlutut di sampingnya dan seakan-akan tidak pernah kehilangan suara, aku berbisik, “Lord Shigeru, ada orang di luar.”

Dia langsung terbangun, memandangku sejenak lalu meraih pedang dan belati yang tergeletak di sampingnya. Aku menunjuk ke arah jendela. Getaran kini mulai terasa lagi, terdengar seperti berat tubuh yang bergeser di sisi rumah. Lord Shigeru memberiku belati lalu dia mendekat ke dinding dengan perlahan. Dia tersenyum padaku sambil menunjuk, aku bergerak ke sisi lain jendela. Kami menunggu si penyusup masuk.

Selangkah demi selangkah orang itu memanjat dinding, tidak bersuara dan sangat perlahan, seakan-akan waktu di dunia ini hanyalah miliknya. Dia melangkah dengan penuh percaya diri seolah-olah tak akan ada orang yang tahu kehadirannya. Kami menunggu dengan sabar, seperti bermain petak-umpet. Hanya saja, akhir dari semua ini bukanlah suatu permainan.

Penyusup itu berhenti di jendela untuk mengeluarkan garotte[1]. Begitu dia meloncat masuk, Lord Shigeru langsung mencekiknya. Licin seperti belut, si penyusup berkelit ke belakang. Aku melompat ke arahnya, namun belum sempat aku tusuk dengan belati, kami bertiga jatuh ke taman, ribut seperti kucing sedang berkelahi.

Laki-laki itu terjatuh lebih dulu, melintang di parit, kepalanya membentur batu yang besar. Lord Shigeru mendarat di tanah dengan kaki, sedangkan aku terjatuh di semak-semak, belatiku terlempar. Saat aku sedang mencari-cari belati, si penyusup berteriak, berusaha berdiri, tapi dia tergelincir dan terjatuh ke sungai. Dia tenggelam; dia jatuh di bagian sungai yang dalam. Lord Shigeru menariknya; memukul wajahnya dan berteriak, “Siapa? Siapa yang menyuruhmu? Darimana asalmu?” Penyusup itu mengerang lagi, napasnya tersengal-sengal, parau seperti suara mendengkur.

“Ambil lampu,” perintah Lord Shigeru padaku. Aku mengira semua penghuni di rumah ini sudah terbangun, tapi karena perkelahian itu terjadi begitu cepat dan tenang, sehingga mereka semua masih tertidur. Aku berlari ke rumah pelayan.

“Chiyo,” panggilku. “Bawakan lampu, bangunkan semua laki-laki!”

“Siapa itu?” balasnya dengan suara mengantuk. Dia tidak mengenali suaraku.

“Ini aku, Takeo! Cepat bangun! Ada yang ingin membunuh Lord Shigeru!”

Kuambil lampu yang masih menyala dan membawanya ke taman. Penyusup itu tak sadarkan diri. Lord Shigeru berdiri sambil memandang ke arah orang itu. Aku mendekatkan lampu ke orang itu. Orang ini memakai pakaian hitam tanpa simbol atau tanda. Tinggi dan ukuran badannya sedang, rambutnya pendek. Tak ada ciri-ciri yang dapat menunjukkan identitasnya. Di belakang kami terdengar hiruk-pikuk orang yang terbangun, mereka menjerit saat melihat dua penjaga yang tewas akibat garrotte, juga tiga anjing yang mati diracun.

Ichiro keluar dalam keadaan pucat dan gemetar. “Siapa yang berani melakukan ini?” dia berkata. “Di rumahmu, di jantung kota Hagi? Ini adalah penghinaan bagi klan Otori!”

“Kecuali bila pemimpin klan Otori yang menyuruhnya,” balas Lord Shigeru pelan.

“Sepertinya ini perbuatan Iida,” kata Ichiro. Dia melihat belati yang ada dalam genggamanku dan langsung mengambilnya. Dia mengiris pakaian hitam dari leher sampai pinggang sehingga punggung laki-laki itu terlihat. Ada bekas luka goresan pedang yang melintang di bahunya, dan di punggungnya ada tato dengan pola gambar yang halus. Bersinar seperti ular di bawah cahaya lampu.

“Dia pembunuh bayaran,” kata Lord Shigeru, “dari kalangan Tribe. Pasti ada yang membayarnya.”

“Ini pasti perbuatan Iida! Dia pasti tahu kau telah mengambil bocah incarannya! Kini kau akan menyingkirkannya?”

“Jika bukan karena dia, orang ini pasti telah berhasil membunuhku,” balas Lord Shigeru. “Dia yang membangunkanku di saat yang tepat… Dia berbicara padaku!” teriaknya ketika sadar kalau aku sudah bisa bicara. “Dia yang berbisik padaku, membangunkan aku!”

Ichiro nampak tidak terkesan. “Sadarkah kau mungkin saja dia sasarannya, dan bukan dirimu?”

“Lord Otori,” kataku, suaraku parau karena telah berminggu-minggu tidak bicara. “Kehadiranku hanya membawa bencana. Biarkan aku pergi, perintahkan aku pcrgi.” Meskipun aku yang meminta, aku tahu dia tak akan melepaskanku. Aku telah menyelamatkannya, seperti juga dia menyelamatkanku, dan ikatan antara kami justru semakin kuat.

Ichiro mengangguk setuju, namun Chiyo berkata, “Maaf, Lord Shigeru. Aku tahu ini tak ada hubungannya denganku dan aku hanyalah seorang wanita tua yang bodoh. Tapi tidak benar Takeo hanya membawa bencana. Sebelum dia datang, kau selalu bersedih. Kini kau telah pulih. Anak ini membawa kegembiraan, harapan, dan juga bahaya. Siapa yang bisa meraih kebahagiaan tanpa ada pengorbanan?”

“Bagaimana mungkin aku tak menyadari itu?” balas Lord Shigeru. “Takdir telah menyatukan hidup kami berdua. Aku tak kuasa melawannya, Ichiro.”

“Semoga saja otak anak itu pulih seiring pulihnya suaranya,” jawab Ichiro tajam.

Si penyusup mati tanpa sempat siuman. Ternyata dia mempunyai sebutir racun di mulutnya dan tertelan saat terjatuh. Tak ada yang tahu identitasnya, meskipun banyak rumor yang berkembang. Penjaga yang tewas dikubur dengan upacara khidmat penuh duka, namun hanya aku yang berduka atas kematian anjing-anjing itu. Aku bertanya-tanya kesepakatan apa yang anjing-anjing itu buat, sumpah setia apa yang telah mereka janjikan sehingga terperangkap di antara perseteruan manusia sehingga menjadi korban. Anjing-anjing di sini tidak dilatih untuk menerima makanan hanya dari satu orang agar tidak bisa diracun. Ada beberapa penjaga yang memberi makan anjing-anjing itu. Lord Shigeru hidup sederhana dan hanya ada sedikit penjaga, meskipun banyak orang yang bersedia melayaninya dengan senang hati, dan jumlahnya cukup untuk menjadi satu pasukan, seandainya dia mau. Usaha pembunuhan itu tidak membuat Lord Shigeru gelisah atau tertekan. Dia bahkan terlihat gembira karena lolos dari kematian. Dia nampak “mengawang–awang” persis seperti saat dia bertemu Lady Maruyama. Dia senang karena suaraku pulih dan juga pendengaranku yang tajam.

Sikap Ichiro kepadaku mulai melunak. Apa pun alasannya, sejak peristiwa itu, belajar menjadi lebih mudah bagiku. Aku mulai mengingat dan memahami makna huruf. Aku bahkan mulai menikmatinya, semua mengalir seperti air. Aku tidak mengatakan pada Ichiro kalau aku senang menggambar.

Ichiro guru yang sangat hebat, terkenal karena keindahan tulisan tangannya dan kedalaman pelajarannya. Dia terlalu hebat untuk mengajariku. Aku bukan murid yang berbakat, namun kami berdua tahu kemampuanku meniru perilaku. Aku berperan sebagai murid dengan baik, sama baiknya seperti aku meniru cara dia melukis dengan gerakan bahu, bukan dengan pergelangan tangan. Lukisanku cukup memuaskan.

Hal yang sama terjadi saat Lord Shigeru mengajariku menggunakan pedang. Aku cukup kuat dan lincah, mungkin di atas rata-rata anak seusiaku, tapi aku telah kehilangan masa-masa belajar sewaktu kecil. Anak seorang ksatria telah diajari berpedang, memanah dan herkuda sejak kecil, namun aku sadar kalau aku tak akan dapat memperbaiki semua itu.

Menunggang kuda pun tak terasa sulit. Saat aku melihat Lord Shigeru dan laki-laki lain menunggang kuda, aku langsung tahu kalau itu hanyalah masalah keseimbangan. Aku menirukan apa yang kulihat dan kuda pun tampaknya tidak menolak. Aku juga sadar bahwa kuda adalah hewan yang pemalu dan mudah gugup. Aku harus bergaya seperti bangsawan, menyembunyikan perasaan dan berpura-pura tenang serta tahu pasti apa yang akan kulakukan sehingga kuda akan tenang dan senang saat ditunggangi.

Aku diberi seekor kuda berwarna abu-abu pucat dengan surai yang berwarna gelap. Kuda itu kuberi iiama Raku. Kami menjadi akrab. Aku tidak mengikuti pelajaran memanah, tapi ketika latihan pedang aku meniru gerakan Lord Shigeru, hasilnya tidak mengecewakan. Aku diberi sebilah pedang panjang yang kuselipkan dibaju baruku, sama seperti yang dimiliki anak seorang ksatria. Namun, selain pedang dan pakaian, aku sadar bahwa aku hanyalah seorang peniru ksatria.

Minggu demi minggu berlalu. Orang-orang mulai menerima keinginan Lord Shigeru untuk mengangkatku, dan sedikit demi sedikit sikap mereka mulai berubah. Mereka memanjakan, menggoda, serta mengomel sama banyaknya. Aku tak diijinkan keluar sendirian, meskipun ada waktu lengang di sela-sela waktu belajar dan berlatih. Tapi kegemaranku untuk menjelajah tak pernah mati, dan setiap ada kesempatan untuk menyelinap, aku akan menjelajahi kota Hagi. Aku suka sekali pergi ke pelabuhan, dari sana aku bisa melihat kastil di barat dan gunung berapi di timur sehingga teluk nampak seperti cangkir di dua tangan. Aku memandangi laut dan pulau-pulau yang melegenda terbentang di atas horison seraya merasa cemburu pada para pelaut dan nelayan yang kulihat.

Ada saru perahu yang selalu kuamati. Seorang anak seumur denganku bekerja di sana. Namanya Terada Fumio. Ayahnya berasal dari keluarga ksatria klas rendah yang lebih memilih untuk berdagang dan memancing daripada mati kelaparan. Chiyo mengenal keluarga itu, tidak heran dia dapat menceritakan tentang mereka. Aku sangat mengagumi Fumio. Dia bisa berenang dan mengenal laut serta sungai dalam berbagai kondisi, sedangkan aku belum bisa berenang. Saat pertama kali bertemu, Fumio hanya mengangguk, namun setelah beberapa minggu kami menjadi sahabat karib. Aku sering naik ke kapalnya, kami duduk sambil makan jeruk, lalu memuntahkan bijinya ke laut. Kami berbincang tentang berbagai hal yang biasa dibicarakan oleh anak seusiaku. Lambat-laun kami berbincang tentang pemimpin Otori; Terada membenci kesombongan dan ketamakan mereka. Penduduk menderita akibat tingginya pajak dan tempat berdagang yang dibatasi. Kami membahas masalah ini dengan suara perlahan di sisi perahu yang menjorok ke Iaut. Mata-mata ada di mana-mana, katanya.

Pada suatu sore, Ichiro dipanggil seorang saudagar untuk menyelesaikan perhitungan. Setelah menunggu beberapa saat, aku lalu menyelinap pergi karena yakin Ichiro belum akan pulang untuk waktu lama. Saat ini udara sejuk dan penuh bau jerami yang dibakar. Kabut yang menggantung di atas ladang yang terletak di antara sungai dan gunung berwarna emas keperakan. Tadi Fumio mengajariku berenang, tak heran rambutku basah dan tubuhku menggigil kedinginan. Aku membayangkan air panas dan aku ingin tahu apakah Chiyo akan memberiku sesuatu untuk dimakan sebelum waktu makan malam tiba, atau mungkin suasana hati Ichiro sedang buruk sehingga dia akan memukulku. Dari jalan, aku berusaha mendengar kejadian di rumah, seperti yang biasa kulakukan. Terdengar nada yang berbeda dari biasanya.

Aku seperti mendengar ada sesuatu yang lain, sesuatu yang memaksaku berhenti dan melihat dua kali ke sudut dinding sebelum masuk ke gerbang. Aku tidak menduga kalau ada orang di sana, namun sekilas aku melihat ada orang yang sedang berjongkok di atap.

Jaraknya hanya beberapa meter di seberang jalan. Aku yakin dia sedang memperhatikanku. Kemudian dia berdiri dengan perlahan seakan-akan menunggu aku mendekat.

Dia seperti kebanyakan orang, tidak tinggi tapi juga tidak pendek, bentuk tubuhnya biasa saja, rambutnya beruban, kulit mukanya pucat, dan penampilannya sulit diingat. Bahkan saat aku melihatnya lagi, penampilannya nampak seperti berubah. Ada yang luar biasa pada dirinya, tapi aku tak tahu apa itu.

Dia memakai pakaian lusuh yang berwarna abu-abu kebiru-biruan dan tidak membawa senjata. Dia tidak mirip pekerja atau pedagang atau seorang ksatria. Aku tak tahu status yang sesuai untuknya, namun instingku mengatakan bahwa dia sangat berbahaya.

Ada sesuatu pada orang itu yang membuatku tertarik. Aku tak akan lewat begitu saja tanpa menyadari kehadirannya. Aku jauh di seberang jalan, dan sedang mengira-ngira jarak ke gerbang, penjaga, dan anjing penjaga.

Dia mengangguk lalu tersenyum. “Selamat siang, tuan muda!” dia menyapa dengan suara rendah. “Kau benar bila tidak mempercayaiku. Menurut kabar, kau memang cerdas. Tapi aku tak akan menyakitimu, aku janji.” Kurasa ucapannya sama liciknya seperti penampilannya sehingga aku tidak menanggapi.

“Aku ingin berbicara denganmu,” ucapnya, “dan juga dengan Shigeru.”

Aku kaget mendengar dia menyebut nama Lord Shigeru seperti sahabat karibnya. “Apa yang hendak kau bicarakan?”

“Aku tak mau berbicara sambil berteriak,” balasnya sambil tertawa. “Ayo kita bicara di gerbang.”

“Kau jalan dari seberang sana, dan aku dari sini,” kataku sambil mengamati tangannya, berjaga jaga jika dia mengambil senjata rahasia. “Aku akan menyampaikan pada Lord Otori bahwa kau ingin menemuinya dan hiar dia yang memutuskan apakah dia mau bertemu denganmu atau tidak.”

Orang itu tersenyum sambil mengangkat bahu, lalu kami berjalan terpisah ke gerbang. Dia berjalan dengan santai seakan sedang jalan jalan sore, sedangkan aku gelisah seperti kucing yang sadar akan ada badai. Setelah sampai di gerbang dan para penjaga menyapa kami, orang itu terlihat lebih tua dan lebih lusuh. Dia tampak seperti orang tua yang lemah. Aku merasa malu karena tidak mempercayainya.

“Kau dalam masalah, Takeo,” kata seorang penjaga. “Ichiro mencarimu!”

“Hei, kek,” penjaga lainnya memanggil laki-laki tua itu. “Apa yang kau cari, semangkuk mie atau yang lain?”

Orang itu memang kelihatan seperti pengemis. Dia menunggu dengan gaya seperti pengemis, tak berkata apa-apa, hanya menunggu di gerbang.

“Di mana kau temukan dia, Takeo? Kau mudah sekali iba, itulah masalahmu!

Suruh dia pergi!”

“Aku telah berjanji untuk menyampaikan pesannya kepada Lord Otori, dan akan kulakukan itu,” balasku. “Tapi, awasi setiap gerakannya, dan jangan biarkan dia masuk.”

Aku melihat ke orang itu dan berkata, “Tunggu di sini,” dan terlihat seperti ada cahaya keluar dari dirinya. Dia seperti membiarkan aku melihat sisi dirinya yang dia sembunyikan dari para penjaga. Semula aku cemas membiarkan dia dengan penjaga, tapi aku ingat bahwa kedua penjaga itu membawa pedang. Mereka pasti bisa menghadapi seorang laki-laki tua.

Aku menerobos taman, melempar sandalku, kemudian menaiki anak tangga hanya dalam dua lompatan. Lord Shigeru sedang duduk di ruang atas sambil memandangi taman.

“Takeo,” katanya, “Aku sedang memikirkan untuk membangun sebuah ruang minum teh di taman.”

“Lord…” aku tidak melanjutkan perkataanku karena ada sesuatu yang bergerak di taman. Semula aku menduga itu bangau, berdiri tegak dan berwarna abu-abu.

Namun setelah aku perhatikan, ternyata yang berdiri itu adalah orang tua yang kutinggalkan di pintu gerbang.

“Ada apa?” tanya Lord Shigeru ketika melihat raut wajahku.

Aku takut akan adanya percobaan pembunuhan untuk yang kedua kalinya. “Ada orang di taman,” aku berteriak, “Awasi dia!” Lalu aku teringat pada kedua penjaga.

Aku berlari turun dan keluar rumah. Jantungku berdebar kencang ketika sampai di gerbang. Semua anjing baik-baik, mereka kegirangan saat melihatku, ekor mereka mengibas-ngibas senang. Aku berteriak, dan para penjaga datang dengan keheranan.

“Ada apa, Takeo?”

“Kalian biarkan dia masuk!” kataku dengan marah. “Orang itu kini ada di taman.”

“Tidak, dia masih ada sana.”

Mataku mengikuti arah yang mereka tunjuk dan aku merasa seperti orang bodoh. Aku benar-benar melihat dia duduk dengan sopan, sabar dan tidak berbahaya. Tapi saat aku melihat lagi, ternyata orang itu sudah tidak ada.

“Dasar bodoh!” kataku. “Bukankah sudah kubilang kalau dia berbahaya?

Bukankah sudah kubilang agar kalian tidak membiarkan dia masuk? Kalian memang bodoh, dan kalian sebut diri kalian Otori? Pulang saja dan jaga ayam, dan sudah pasti musang akan melahap semua ayam!”

Mereka terpana melihatku. Kurasa tak seorang pun di rumah ini pernah mendengar aku berbicara begitu panjang. Aku marah karena merasa bertanggung jawab atas keselamatan mereka. Tapi mereka harus patuh. Aku hanya bisa melindungi mereka bila mereka patuh.

“Beruntung kalian masih hidup!” lalu aku mencabut pedang dan berlari mencari orang itu.

Orang itu sudah tidak ada di taman. Saat aku ragu apakah tadi hanyalah halusinasi saat melihat dia di taman, aku mendengar orang berbincang di ruangan atas. Lord Shigeru menyebut namaku. Sepertinya dia tidak dalam bahaya—dia sedang tertawa. Ketika aku masuk dan membungkuk hormat, orang tua itu sedang duduk bersama Lord Shigeru sambil tertawa, seakan-akan mereka sahabat lama.

Orang asing itu tidak lagi terlihat tua. Dia hanya beberapa tahun lebih tua dari Lord Shigeru, dan kini dia tampak lebih terbuka dan hangat.

“Jadi, dia tidak mau jalan berdampingan denganmu, eh?” kata Lord Shigeru.

“Benar. Dan dia bahkan menyuruhku menunggu di luar.” Mereka tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk alas lantai dengan telapak tangan. “Oh ya,

Shigeru, kau seharusnya melatih penjaga dengan lebih baik. Takeo benar dengan memarahi mereka.”

“Dia selalu benar selama ini,” kata Lord Shigeru dengan nada bangga.

“Dia hanya satu dalam seribu—dia memang terlahir seperti itu, bukan melalui latihan. Dia pasti berasal dari Tribe. Duduk tegak Takeo, aku ingin melihatmu.”

Aku mengangkat kepala dari lantai dan duduk bertumpu pada kedua tumitku. Wajahku memerah karena merasa telah dipermainkan. Dia tidak bicara, dia hanya mengamatiku.

Lord Shigeru berkata padaku. “Dia adalah Muto Kenji, teman lamaku.”

“Lord Muto,” kataku sopan tapi dingin, berusaha tidak menunjukkan perasaanku.

“Jangan panggil aku Lord,” kata Kenji. “Aku bukan bangsawan, walaupun temanku banyak yang bangsawan.” Dia mendekat. “Perlihatkan tanganmu.”

Dia memegang tangan kanan dan tangan kiriku secara bergantian, melihat punggung tanganku lalu telapak tangan.

“Dia mirip Takeshi,” ujar Lord Shigeru.

“Uuuuh. Dia memang mirip wajah orang Otori.” Kenji mundur ke posisi duduknya yang semula dan menatap taman. Warna-warni di akhir musim gugur intilai luluh. Hanya pohon maple yang tetap berwarna mcrah berkilauan. “Aku turut berduka atas kematian keluargamu,” ucapnya.

“Aku ingin mati saat itu,” balas Lord Shigeru. “Tapi seiring dengan berjalannya waktu, aku menyadari keinginanku untuk tetap hidup. Aku tidak dilahirkan untuk berputus asa.”

“Ya, tentu saja,” Kenji menyetujui dengan nada bersahabat. Mereka memandang keluar dari jendela yang terbuka. Udara musim gugur terasa dingin, hembusan angin mengguncang pohon maple hingga daunnya berguguran dan jatuh ke parit. Warna daunnya berubah menjadi merah gelap di dalam air, sebelum terbawa arus ke sungai.

Ingin sekali aku mandi di air panas.

Kenji memecah kesunyian. “Bagaimana anak yang mirip Takeshi ini, walaupun sudah pasti berasal dari Tribe, bisa bersamamu, Shigeru?”

“Kau datang dari jauh hanya untuk menanyakan ini?” balas Shigeru sambil tersenyum tipis.

“Aku tidak keberatan mengatakan alasanku ingin tahu. Menurut kabar angin, ada seorang penyusup yang memanjat rumahmu. Akibatnya, salah seorang pembunuh yang paling berbahaya di Tiga Wilayah tewas.”

“Kami merahasiakan hal ini,” ujar Lord Shigeru.

“Kami merasa perlu untuk mengungkap rahasia ini. Apa yang Shintaro lakukan di rumahmu?”

“Dia hendak membunuhku,” balas Lord Shigeru. “Jadi, namanya Shintaro. Aku memang sudah curiga, tapi kami tidak memiliki bukti.” Setelah beberapa saat dia menambahkan. “Pasti ada yang ingin aku mati. Apakah dia suruhan Iida?”

“Shintaro memang pernah bekerja pada Tohan. Tapi kurasa Iida tidak akan membunuhmu secara diam-diam. Melihat perilakunya, Iida pasti lebih senang melihatmu mati di depan matanya. Siapa lagi yang menginginkan kematianmu?”

“Aku mencurigai satu atau dua orang,” jawab Lord Shigeru.

“Sulit dipercaya Shintaro sampai gagal melakukan tugasnya,” lanjut Kenji. “Kami harus tahu tentang anak yang menggagalkan Shintaro. Di mana kau bertemu dengannya?”

“Kabar angin apa yang kau dengar?” tantang Lord Shigeru sambil tersenyum.

“Menurut kabar yang bisa dipercaya: ia salah seorang kerabat jauh ibumu; menurut kabar yang sulit dipercaya, kau telah kehilangan akal sehat dan yakin bahwa dia penjelmaan Takeshi; kabar lain menyebut bahwa dia adalah anakmu dari seorang wanita petani di Timur.”

Lord Shigeru tertawa, “Umurku belum dua kali lipat dari usia anak ini. Dan itu artinya aku telah menjadi ayahnya ketika umurku dua belas tahun. Dia bukan anakku.”

“Tentu saja bukan, dan aku juga tidak percaya dia adalah kerabatmu atau penjelmaan Takeshi. Lagipula dia pasti dari Tribe. Di mana kau bertemu dengannya?”

Salah seorang pelayan, Haruka, datang menyalakan lampu, dan seekor serangga besar berwarna biru kehijauan telah melakukan kesalahan besar ketika masuk ke ruangan ini dan terbang ke arah sumber cahaya. Aku herdiri menangkapnya, lalu kulepaskan serangga itu di kegelapan malam, setelah itu aku menutup pintu sebhelum kembali duduk.

Lord Shigeru masih belum menjawab pertanyaan Kenji saat Haruka datang lagi membawa teh. Kenji tidak marah atau frustasi, dia bahkan mengagumi mangkuk teh buatan penduduk yang bercorak merah jambu. Dia minum teh tanpa berkata, tapi selalu mengamatiku.

Akhirnya dia bertanya padaku. “Jawab Takeo, waktu anak-anak, pernahkah kau tarik bekicot dari tempurungnya atau mencabut capit ketam?”

Aku tidak mengerti apa yang dia maksud. “Mungkin,” kataku sambil pura-pura minum, walaupun sebenarnya mangkukku sudah kosong.

“Pernahkah?”

“Tidak.”

“Mengapa?”

“Karena ibuku mengatakan itu perbuatan kejam.”

“Sudah kuduga.” Nada suaranya terdengar sedih seolah-olah dia kasihan padaku.

“Hati anak ini amat lembut, ada rasa enggan untuk berbuat kejam. Dia pasti dibesarkan di antara kaum Hidden.”

“Sejelas itukah?” tanya Lord Shigeru.

“Hanya bagiku.” Kenji lalu duduk bersila, matanya menyipit, dan tangannya di atas lutut. “Kini aku tahu siapa dia.”

Lord Shigeru menarik napas dalam-dalam, wajahnya berubah kaku dan waspada.

“Kalau begitu, sebaiknya kau katakan.”

“Dia memiliki semua ciri-ciri Kikuta: jari yang panjang, garis lurus yang melintang di telapak tangan, pendengaran yang tajam. Pendengaran yang tajam ini akan datang tiba-tiba di masa puber, terkadang diikuti dengan tidak bisa berbicara, umumnya sementara, tapi bisa juga selamanya….”

“Kau membual!” kataku, tak mampu menahan diri. Rasa takut menjalar di sekujur tubuhku. Aku tak tahu apa pun tentang Tribe, kecuali pembunuh di malam itu adalah salah satunya. Aku merasa kalau Muto Kenji telah membuka pintu kegelapan yang selama ini takut kumasuki.

Lord Shigeru menggelengkan kepala, “Biarkan dia bicara. Apa yang dia katakan sangatlah penting.”

Kenji mencondongkan tubuhnya ke arahku dan berkata, “Akan kuceritakan tentang ayahmu.”

Lord Shigeru berkata dengan acuh tak acuh, “Sebaiknya kau mengawali ceritamu tentang Tribe. Takeo tidak mengerti saat kau mengatakan bahwa dia adalah Kikuta.”

“Benarkah?” Kenji menaikkan alisnya. “Baiklah kalau begitu, mengingat dia dibesarkan oleh kaum Hidden, aku tidak heran. Aku akan mulai dari awal. Ada lima keluarga Tribe. Mereka telah ada sebelum munculnya para bangsawan dan klan.

Kisah ini berawal dari masa ketika sihir lebih kuat dari senjata, dan dewa-dewa inasih berjalan di bumi. Saat klan mulai bermunculan, dan orang-orang mulai membentuk ikatan berdasarkan kekuatan, Tribe tidak bergabung dengan salah satu klan. Guna melestarikan anugrah yang mereka miliki, mereka memilih untuk menjadi pengelana, pedagang, pemain drama, pemain sirkus, dan juga pemain sulap.”

“Awalnya mereka menjadi salah satu dari semua itu,” potong Lord Shigeru.

“Tapi, banyak juga yang menjadi pedagang, kaya dan memiliki pengaruh yang kuat.”

Lalu dia berkata kepadaku, “Kenji memiliki usaha yang sangat berhasil dalam bidang produksi kacang kedelai dan usaha peminjaman uang.”

“Waktu berubah,” kata Kenji. “Dari waktu ke waktu, kami mulai melayani dari satu klan ke klan lainnya dan bergabung menjadi bagiannya, atau juga bekerja untuk klan yang telah menjadi sahabat kami, seperti Lord Otori Shigeru. Tapi kami tetap memelihara bakat yang sudah ada sejak jaman dulu. Hingga kini kami tak pernah melupakannya.”

“Kau bisa berada di dua tempat di waktu yang bersamaan,” kataku. “Para penjaga melihatmu di luar, sementara aku melihatmu di taman.”

Kenji membungkuk. “Kami dapat memisahkan diri dan meninggalkan tubuh. Kami bisa menghilang dari pandangan dan bergerak lebih cepat dari yang bisa diikuti mata. Penglihatan dan pendengaran yang tajam adalah sifat kami yang lain. Tribe mengasah kemampuan ini dengan latihan yang keras. Dan seandainya kemampuan itu berguna di wilayah yang sedang berperang, kami akan dibayar mahal. Bahkan, sebagian besar anggota Tribe pernah menjadi mata-mata atau pembunuh.”

Darahku serasa mengering. Aku teringat bagaimana aku seperti terbelah dua di bawah pedang Iida. Dan pendengaranku yang makin kuat, aku bisa mendengar semua bunyi dan suara yang berasal dari rumah, taman dan juga dari kota.

“Kikuta Isamu, yang aku yakini adalah ayahmu, termasuk salah satunya. Ibu dan ayah Isamu adalah sepupu sehingga dia menggabungkan anugrah paling kuat yang dimiliki Kikuta. Saat berumur tiga puluh tahun, dia menjadi pembunuh yang paling sempurna. Tak ada yang tahu berapa banyak yang telah dia bunuh; sebagian besar korbannya nampak seperti mati alami. Orang tidak tahu banyak tentang dirinya. Dia ahli membuat racun dari ramuan dari tumbuhan gunung yang dapat membunuh tanpa ada jejak.”

“Saat dia ke wilayah Timur—kau tahu daerah yang kumaksud—untuk mencari ramuan racun, dia menginap di desa milik kaum Hidden. Orang desa itu mengatakan tentang tuhan mereka, larangan untuk membunuh, dan tentang pembalasan di hari akhir—kau tahu itu semua, tak perlu kuceritakan lagi. Di tempat terpencil yang jauh dari pertempuran antar klan itu, Isamu merasa muak dengan hidup yang dia jalani. Mungkin dia menyesal. Mungkin juga karena kematian telah memanggilnya. Lalu, dia menarik diri dari Tribe dan bergabung dengan kaum Hidden.”

“Itukah alasannya sehingga dia dibunuh?” tanya Lord Shigeru dengan nada murung.

“Dia telah melanggar aturan Tribe, dan mereka tak senang ditinggalkan dengan cara seperti itu, apalagi orang itu memiliki kemampuan yang begitu hebat. Kemampuan yang sangat langka. Tapi, sejujurnya, aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Bahkan aku tak tahu kalau dia punya anak. Takeo, atau siapa pun nama aslinya, pasti terlahir setelah ayahnya mati.”

“Siapa yang membunuhnya?” tanyaku, mulutku teras kering.

“Tak ada yang tahu! Banyak orang yang ingin dia mati. Tentu saja tak akan ada yang bisa mendekatinya, seandainya dia tidak bersumpah untuk tidak membunuh lagi.”

Suasana menjadi hening. Selain lingkaran cahaya dari lampu, ruangan ini gelap gulita. Aku tidak bisa nielihat wajah mereka berdua, meskipun aku yakin Kenji bisa melihatku.

“Apakah ibumu tidak pernah bercerita tentang ayahmu?” Akhirnya dia bertanya.

Aku menggeleng. Banyak hal yang tidak diceritakan kaum Hidden, banyak pula rahasia yang mereka rahasiakan satu sama lain. Mereka tidak akan membongkar rahasia walaupun disiksa. Jika kau tidak tahu rahasia saudaramu, kau tak akan bisa berkhianat.

Kenji tertawa. “Akuilah, Shigeru. Kau pasti tak tahu siapa yang kau bawa ke rumah ini. Bahkan Tribe tidak tahu keberadaannya—seorang anak dengan bakat Kikuta yang tersembunyi!”

Lord Shigeru tidak menjawab. Dia mencondongkan badannya ke lampu, bisa kulihat senyumnya, gembira dan tulus. Kurasa ada sesuatu yang berlawanan antara kedua orang ini; Lord Shigeru nampak sangat terbuka, sedangkan Kenji nampak licik dan penuh tipu daya.

“Aku perlu tahu semua kejadian ini. Aku tidak berbohong, Shigeru. Aku memang ingin tahu.” kata Kenji memaksa.

Aku mendengar Chiyo bergumam di tangga. Lord Shigeru berkata, “Ayo kita mandi dan makan dulu. Nanti kita lanjutkan lagi.”

Dia tidak ingin lagi aku di rumahnya setelah tahu aku anak seorang pembunuh.Itulah yang pertama kali terlintas di benakku saat aku berendam di bak yang berisi air panas, setelah Lord Shigeru dan Kenji mandi. Aku mendengar suara mereka di lantai atas sedang minum sake sambil mengenang masa lalu. Aku memikirkan ayahku, orang yang belum pernah kukenal. Aku sedih karena dia tidak bisa lari dari latar belakangnya. Dia telah bertekad untuk tidak membunuh, tapi pembunuhan yang tidak membiarkan dia lepas. Kematian memburunya hingga jauh di Mino. Pada tempat yang sama, bertahun-tahun kemudian, Iida membantai kaum Hidden. Aku menatap jari-jariku yang panjang. Untuk apa jari-jariku ini diciptakan?

Apakah untuk membunuh? Apa pun yang kuwarisi dari ayahku, tetap saja aku anak ibuku juga. Diriku adalah jalinan dua darah yang berbeda, dan keduanya saling memanggil dari dalam darah, otot, dan tulangku. Aku teringat akan kemarahanku pada penjaga. Aku bertingkah layaknya tuan mereka. Apakah ini darah yang ketiga di dalam diriku, dan akankah Lord Shigeru mengusirku setelah dia tahu diriku yang sebenarnya?

Semua pikiran itu terasa begitu menyakitkan, terlalu sulit untuk diluruskan. Chiyo memanggilku untuk segera makan. Air tempatku berendam sudah tidak panas lagi dan aku pun merasa lapar.

Ichiro telah bergabung dengan Lord Shigeru dan Kenji, dan makanan telah disiapkan. Mereka sedang membicarakan hal-hal sepele saat aku masuk: tentang cuaca, penataan taman, kemampuan belajarku yang lemah dan juga tentang kelakuanku yang buruk. Ichiro masih kesal karena aku menghilang sore itu. Makanan yang disajikan jauh lebih enak dari biasanya, tapi hanya Ichiro yang menikmatinya. Kenji makan dengan rakus, sedangkan Lord Shigeru hampir tidak menyentuh makanannya. Rasa lapar dan mual datang silih berganti, aku takut tapi juga tak sabar menantikan saat-saat makan berakhir. Ichiro makan sangat banyak dan pelan hingga aku berpikir dia tak akan pernah selesai makan. Dua kali aku mengira dia akan berhenti makan, tapi ternyata dia masih menambah “sesuap nasi” lagi. Akhirnya, dia mengelus-elus perutnya dan bersendawa. Dia hendak melanjutkan obrolan tentang taman, tapi Lord Shigeru memberi isyarat untuk diam. Setelah mengeluarkan beberapa komentar dan lelucon tentang diriku, dia pun diam. Haruka dan Chiyo datang membereskan tempat makan. Langkah kaki dan suara mereka terdengar menjauh ke dapur. Kenji duduk di depanku, tangannya terulur dengan telapak tangan terbuka ke arah Lord Shigeru.

“Bagaimana?” dia bertanya.

Ingin rasanya aku pergi bersama kedua pelayan itu. Aku tak ingin duduk di sini sementara mereka menentukan nasibku. Karena kuyakin itu yang akan terjadi. Kenji pasti akan berusaha meyakinkan bahwa aku adalah bagian dari Tribe. Dan Lord Shigeru tentu akan melepasku pergi.

“Aku tidak tahu mengapa informasiku ini begitu penting bagimu, Kenji,” kata Lord Shigeru. “Aku senang kau belum mengetahuinya. Bila aku katakan, kuharap hal ini tidak menyebar. Bahkan di rumah ini tak ada yang tahu selain Ichiro dan Chiyo.”

“Kau benar ketika mengatakan aku tidak tahu siapa yang aku bawa. Semua ini hanya kebetulan. Waktu itu hari menjelang senja, aku tersesat dan mencari tempat menginap, yang kemudian aku tahu bahwa nama desa itu adalah Mino. Telah berminggu-minggu aku berkelana setelah kematian Takeshi.”

“Kau hendak membalas dendam?” tanya Kenji.

“Kau sudah tahu permusuhanku dengan Iida—dan bagaimana tingkahnya setelah perang Yaegahara. Tapi aku tidak menduga akan bertemu Iida di tempat yang terpencil itu. Suatu kebetulan yang aneh kalau kami berdua, musuh bebuyutan, berada di tempat dan hari yang sama. Seandainya aku bertemu Iida di sana, aku pasti sudah membunuhnya. Tapi anak ini malah lari ke arahku.”

Dia menceritakan sekilas tentang pembantaian itu, peristiwa Iida terjatuh dari kuda, dan beberapa laki-laki mengejarku.

“Semua itu terjadi dalam sekejap. Mereka mengancamku. Mereka bersenjata. Tentu saja aku harus membela diri.”

“Mereka tahu siapa kau sebenarnya?”

“Tidak, kurasa. Aku memakai pakaian pengembara, tidak ada simbol apa pun. Saat itu cuaca gelap dan hujan.”

“Tapi, kau tahu kalau mereka orang Tohan?”

“Mereka mengatakan bahwa Iida mengejar anak itu. Satu alasan yang cukup bagiku untuk memberi perlindungan pada anak ini.”

Kenji berkata, berusaha mengganti topik pembicaraan. “Aku dengar Iida sedang membentuk persekutuan resmi dengan Otori.”

“Benar. Kedua pamanku ingin berdamai, walaupun kami tidak setuju.”

“Jika Iida tahu anak ini ditolong olehmu, maka persekutuan tak akan terjadi.”

“Kau tak perlu mengatakan apa yang aku sudah tahu,” sahut Lord Shigeru dengan nada kesal.

“Lord Otori,” kata Kenji dengan caranya yang sinis sambil membungkuk.

Semua terdiam. Kemudian Kenji menghela napas. “Baiklah, takdir yang memutuskan hidup kita akan seperti apa, tak peduli apa yang kita pikirkan atau kita rencanakan. Siapa pun yang mengirim Shintaro untuk melawanmu, akibatnya tetap sama. Dalam seminggu, Tribe akan tahu tentang Takeo. Aku harus mengatakan bahwa kami memiliki kepentingan atas anak ini dan kami tak akan melepaskannya.”

Aku berkata dengan lemah, “Aku telah diselamatkan Lord Otori dan aku tak akan meninggalkannya.”

Lord Shigeru menepuk-nepuk bahuku layaknya seorang ayah. “Aku tak akan pernah menyerahkan dia,” kata Lord Shigeru pada Kenji.

“Kami mengutamakan keselamatannya,” balas Kenji. “Selama dia aman, dia boleh tinggal di sini. Tapi, ada satu hal yang harus kau waspadai. Berapa orang Tohan yang kau bunuh di sana?”

“Satu,” jawab Lord Shigeru, “mungkin dua.”

“Satu,” Kenji meralat.

Alis mata Lord Shigeru terangkat, “Kau sudah tahu. Lalu kenapa kau tanya lagi?”

“Aku hanya ingin mengetahui yang sebenarnya dan seberapa banyak yang kau tahu.”

“Satu, dua—apakah itu penting?”

“Orang yang kehilangan lengannya masih hidup. Namanya Ando. Dia orang terdekat Iida.”

Aku langsung teringat wajah orang yang mirip serigala itu. Dia yang mengejarku hingga ke jalan setapak di gunung, dan aku tidak mampu menahan badanku yang menggigil ketakutan.

“Dia tidak tahu siapa kau sebenarnya, dan juga belum tahu di mana Takeo berada. Tapi dia sedang mencari. Dengan ijin Iida, dia telah bersumpah untuk membalas dendam.”

“Aku sudah tidak sabar menantinya,” jawab Lord Shigeru.

Kenji berdiri dan berjalan berkeliling ruangan. Kenji duduk, dia tersenyum, seakan-akan kami sedang bersenda-gurau dan berbincang tentang taman.

“Bagus,” katanya. “Karena kita sudah tahu bahaya yang dihadapi Takeo, maka aku akan ajari dia cara untuk melindungi diri.” Lalu dia melakukan sesuatu yang membuatku heran: dia membungkuk di hadapanku dan berkata, “Selama aku hidup, kau akan aman. Aku bersumpah.”

Kupikir dia sedang mengejek, tapi tidak terlihat kepura-puraan di wajahnya.

Selama beberapa saat, aku melihat raut muka yang jujur di wajahnya. Aku seperti melihat Jato dalam keadaan hidup. Lalu raut wajah itu menghilang, dan Kenji bergurau. “Tapi kau harus menuruti perintahku!”

Dia menyeringai padaku. “Kau pasti telah membuat Ichiro repot. Orang seusianya tak seharusnya direpotkan oleh pemula sepertimu. Aku yang akan mengajarimu. Aku yang akan menjadi gurumu.”

Dia mengibaskan kimono dan mengerutkan bibirnya, seketika dia berubah menjadi seseorang yang tua dan sopan, seperti saat aku meninggalkannya di luar gerbang sore itu. “Tentu saja bila Lord Otori mengijinkan.”

“Kurasa tak ada pilihan lain,” kata Lord Shigeru, dia lalu menuangkan sake lebih banyak lagi, sambil tersenyum tulus.

Mataku tak berkedip memandangi kedua orang itu secara bergantian. Sekali lagi, aku menangkap perbedaan yang mencolok di antara mereka. Tatapan mata Kenji nampak seperti menghina. Kini aku mulai mengenal Tribe, aku tahu kelemahan mereka adalah sombong. Mereka terlena oleh kemampuan mereka yang sangat menakjubkan, dan memandang rendah orang yang bukan dari golongannya. Wajah Kenji membuatku marah.

Tak lama kemudian pelayan datang membentangkan alas tidur lalu memadamkan lampu. Selama beberapa saat aku berbaring sambil mendengarkan suara-suara di malam hari. Semua kejadian dan cerita tadi mulai tersusun di benakku. Ingatanku terpecah, lalu bersatu, dan tersusun lagi seperti semula. Hidupku ini bukan milikku lagi. Kini aku rela mati demi Lord Shigeru. Tapi, bagaimana kalau dia tidak secara kebetulan datang ke arahku di gunung itu, seperti apa yang dia katakan…

Apakah memang hanya kebetulan? Semua orang, termasuk Kenji, menerima ceritanya: semua itu hanya terjadi dalam sekejap—ada anak yang berlari, orang-orang yang mengancam, pertarungan itu…

Aku berusaha menghilangkan semua kejadian itu di benakku. Namun aku justru teringat bahwa jalan setapak di depanku tidak ada apa-apa. Di sana hanya ada pohon raksasa, pohon cedar, dan ada yang muncul dari balik pohon, lalu meraihku—bukan secara kebetulan, tapi dengan sengaja. Aku memikirkan Lord Shigeru, ternyata hanya sedikit yang aku tahu tentang dia. Semua orang mengenalnya dari wajahnya yang impulsif, hangat, dan dermawan. Aku yakin dia memiliki semua sifat itu, tapi aku selalu memikirkan rahasia di balik semua itu. Aku tak akan menyerahkannya, itu yang dia katakan. Tapi, kenapa dia hendak mengadopsi orang Fribe, anak seorang pembunuh. Aku teringat bangau yang sabar menunggu sebelum menyambar mangsanya.

Aku tertidur setelah langit mulai terang dan ayam mulai berkokok.

Para penjaga senang sekali atas kemalanganku saat tahu kalau Muto Kenji diangkat menjadi guruku.

“Hati-hati dengan kakek itu, Takeo! Dia sangat berbahaya. Dia bisa menikammu dengan sikat!”

Tak ada habis-habisnya mereka menertawaiku. Aku belajar untuk tidak menanggapi. Jauh lebih baik mereka mengira aku idiot daripada mereka tahu identitas asli orang tua itu, kemudian menyebarkannya. Itu pelajaran pertama yang aku terima. Aku mulai membayangkan berapa banyak pelayan dan penjaga yang berwajah bodoh sebenarnya berasal dari Tribe dan sedang melakukan tugasnya dengan penuh tipu daya dan kelicikan.

Kenji mengawali pelajarannya dengan sejarah Tribe, sedangkan Ichiro masih mengajariku tentang sejarah klan. Para ksatria, kebalikan dari Tribe, berusaha mengumpulkan rasa kagum dan rasa hormat dari orang lain, mereka menghargai reputasinya dan akan berusaha menjaganya. Aku diajari sejarah, etika dan juga bahasa. Aku diharuskan mempelajari dokumen klan Otori, asal-usul Otori yang berasal dari keluarga Kaisar. Semua itu membuat kepalaku penuh dengan nama dan silsilah.

Siang berjalan semakin cepat, dan malam semakin dingin. Tidak lama lagi salju akan menutupi jalan dan pelabuhan, dan kota Hagi akan terisolasi hingga musim semi. Rumah ini mulai mengalunkan nyanyian yang berbeda, halus dan lembut. Ada sesuatu yang membuat semangat belajarku meningkat pesat. Menurut Kenji, itu adalah karakter Tribe karena telah bertahun-tahun tidak belajar. Aku mempelajari apa saja, mulai dari menulis huruf yang sulit sampai keinginan yang menggebu-gebu untuk berlatih pedang. Semua itu aku pelajari dengan senang hati, kecuali pelajaran dari Kenji yang aku terima dengan setengah hati. Walaupun pelajarannya tidaklah sulit—bisa aku terima secara alami—tapi ada perasaan untuk menolak, sesuatu dalam diriku menentang apa yang Kenji ajarkan.

“Anggap saja ini permainan,” Kenji selalu mengatakan kata-kata ini. “Lakukan seperti layaknya kau sedang bermain.” Tapi, permainan pedang adalah permainan yang bisa berakhir dengan kematian. Kenji benar saat menyimpulkan sifatku. Aku besar di kalangan orang yang melarang untuk membunuh, sehingga aku merasa enggan untuk membunuh.

Kenji sangat mengenali sifatku yang satu itu. Hal itu yang membuatnya tidak tenang. Dia dan Lord Shigeru barangkali membahas berbagai cara agar aku menjadi lebih tangguh.

“Dia memiliki semua bakat yang ada, kecuali yang satu itu,” kata Kenji dengan frustasi pada suatu ketika. “Kelemahan yang justru dapat membahayakan dirinya.”

“Kita tak akan tahu,” balas Lord Shigeru. “Saat keadaan memaksa, pedang bisa meloncat ke tangan, seakan menuruti kehendak pemiliknya.”

“Kau memang terlahir seperti itu, Shigeru, dan semua latihan yang kau dapat justru memperkuat hal itu. Kurasa Takeo akan ragu di saat seperti itu.”

“Uuuuh,” gerutu Lord Shigeru. Dia mendekat ke tungku arang, dan menarik rapat mantel yang dia pakai. Seharian salju turun. Butirannya menumpuk di taman, melapisi setiap pohon, dan setiap lentera seperti mengenakan tutup kepala putih yang tebal. Langit jernih dan embun beku membuat lapisan salju nampak berkelap-kelip. Setiap bernapas atau berbicara, kabut putih keluar dari mulut. Semua orang sudah terlelap, selain kami bertiga yang sedang mengelilingi perapian sambil menghangatkan tangan di atas secangkir sake panas. Ini membuatku berani bertanya, “Lord Otori sudah membunuh banyak orang?”

“Aku tidak menghitungnya,” jawab Lord Shigeru. “Selain di Yaegahara, mungkin tidak banyak. Aku belum pernah membunuh orang yang tidak bersenjata, atau membunuh hanya untuk bersenang-senang seperti yang orang-orang kejam itu lakukan. Lebih baik kau tetap seperti sekarang ini daripada menjadi kejam seperti orang-orang itu.”

Ingin aku bertanya, Apakah kau akan menggunakan pembunuh untuk membalas dendam? namun aku tidak berani. Aku memang tidak suka kekejaman dan enggan membunuh. Tapi, keinginan Lord Shigeru untuk balas dendam telah meresap ke dalam diriku sehingga terasa seperti menjadi keinginanku. Malam telah menjelang pagi saat aku membuka jendela dan memandang ke taman. Bulan yang pucat dan sebuah bintang bersanding mesra di langit, begitu rendah seolah-olah sedang mendengar rahasia orang yang sedang terlelap. Udara pun terasa dingin menusuk. Aku pasti bisa membunuh, pikirku. Aku pasti bisa membunuh Iida. Lalu, akan kubunuh dia. Aku akan pelajari caranya.

Beberapa hari kemudian aku mengejutkan Kenji dan juga diriku sendiri. Kemampuan Kenji yang bisa berada di dua tempat dalam waktu bersamaan biasanya masih bisa menipuku. Aku melihat ada orang yang berbusana kimono lusuh sedang duduk mengawasi. Aku sedang berlatih ketangkasan tangan dan salto, ketika suaranya memanggil dari sisi luar bangunan. Namun sekali ini aku seperti mendengar napasnya sehingga aku tahu bahwa yang duduk itu adalah Kenji yang asli sedangkan yang di luar bangunan bukan Kenji yang asli. Aku melompat ke arahnya, mencekik lehernya, dan merobohkan dia bahkan sebelum aku sempat berpikir, Apakah ini yang asli?

Dan tanganku bergerak dengan sendirinya ke urat nadi di lehernya yang bila ditekan bisa mengakibatkan kematian.

Aku berhasil melumpuhkan dia dalam sekejap. Aku menarik tanganku dari lehernya dan kami saling memandang.

“Ya,” katanya. “Begitulah caranya!”

Aku melihat jari jemariku yang panjang seolah-olah jari ini milik orang lain. Tanganku melakukan sesuatu tanpa kusadari. Saat berlatih menulis dengan Ichiro, aku membuat goresan, dan terciptalah lukisan burung. Burung itu seakan-akan hendak terbang menembus kertas. Aku juga pernah membuat beberapa goresan dan terlukis wajah orang yang belum pernah aku kenal. Ichiro memukul kepalaku karena melukis, tapi lukisanku itu membuatnya senang sehingga dia perlihatkan pada Lord Shigeru.

Lord Shigeru gembira, begitu pula Kenji.

“Itulah sifat Kikuta,” Kenji bangga, seolah-olah dia yang melukis. “Sangat berguna. Itu akan memberi dia suatu peran, suatu penyamaran yang sempurna. Dia adalah seorang seniman: dia bisa melukis dan tak akan ada yang menduga kalau dia memiliki pendengaran yang sangat tajam.”

Lord Shigeru lalu memintaku melukis lagi, “Coba lukis orang yang bersenjata,” perintahnya.

Wajah mirip serigala tampak seperti hendak menangkap alat lukisku. Lord Shigeru melihat lukisan itu, “Aku ingat orang ini,” gumamnya.

Begitulah, seorang ahli lukis telah lahir, dan seiring dengan berlalunya musim dingin, karakterku yang baru mulai berkembang. Setelah salju mencair, Tomasu yang sebelumnya sering menjelajahi gunung dan hanya tahu tentang hewan dan tumbuhan, kini telah menghilang untuk selamanya. Kini aku adalah Takeo yang pendiam, sopan, seniman dan agak kutu buku. Suatu penyamaran untuk menyembunyikan ketajaman mata dan pendengaran, dan hati yang penuh dendam. Aku tidak tahu apakah Takeo ini nyata ataukah hanya diciptakan demi memenuhi tujuan Tribe, dan klan Otori.

Catatan kaki:

[1] Garotte : Seutas kawat dengan gagang kayu di kedua ujungnya sebagai pegangan oleh pelaku eksekusi.

                                                                                                                                    
Copyright © 2009 niwaexia@hellokitty.co.id
All rights reserved.

:¦ Lian Hearn - Klan Otori ¦:

Lian Hearn - Klan Otori I - Chapter 02

DI tahun yang sama sewaktu Lord Otori menyelamatkan seorang anak laki-laki di Mino yang berganti nama menjadi Otori Takeo, terjadi beberapa peristiwa di kastil nun jauh di wilayah selatan. Kastil itu adalah pemberian Iida Sadamu kepada Noguchi karena turut membantunya.dalam perang Yaegahara. Setelah berhasil mengalahkan klan Otori, musuh utamanya, Iida lalu memaksa mereka untuk menerima beberapa syarat yang menguntungkan dirinya. Target Iida berikutnya adalah klan terbesar ketiga dari Tiga Negara, Seishuu, yang menguasai sebagian besar wilayah selatan dan barat. Tapi karena Seishuu memilih untuk bersekutu dengan Tohan, maka kedua klan berbagi tawanan. Anak gadis dari pemimpin klan Maruyama diberikan pada Tohan, sedangkan anak gadis pimpinan klan Shirakawa, kerabat dekat Maruyama, diberikan pada Seishuu.

Putri sulung Lord Shirakawa, Kaede, dibawa ke Kastil Noguchi sebagai tawanan saat masih gadis cilik, dan kini ia telah melewatkan setengah masa hidupnya—waktu yang cukup lama untuk menimbun rasa benci. Di malam hari, saat tidak bisa tidur, Kaede tidak berani membalikkan badan karena takut ada pelayan datang menamparnya. Ia selalu mengingat nama-nama gadis pelayan yang sering menamparnya. Ia menyimpan semua itu di kepalanya karena ia takut mereka tahu apa yang ia pikirkan sehingga mereka akan menamparnya. Ia tahu kalau banyak gadis yang tidak sabar lagi ingin menamparnya. Ia tahu itu karena mereka sering menampar dan memukulinya.

Kenangan masa kanak-kanak yang masih ia ingat hanyalah rumah yang telah ia tinggalkan sejak umur tujuh tahun. Sejak dibawa ayahnya ke kastil ini, ia tidak pernah lagi bertemu ibu atau adik perempuan lagi.

Tiga kali ayahnya datang menjenguk, dan itu pun hanya untuk melihat Kaede tinggal dengan pelayan, bukan dengan anak-anak Noguchi. Penghinaan pada ayahnya lengkap sudah: ayahnya, Lord Shirakawa, bahkan tidak bisa protes. Dan Kaede yang masih belia dapat melihat kemarahan di mata ayahnya. Pada dua kunjungan awal, Kaede diijinkan berbicara dengan ayahnya. Kenangan yang masih ia ingat saat itu adalah saat ayahnya memegang bahunya dan berkata dengan nada tertekan, “Andai saja kau laki-laki!” Pada kunjungan yang ketiga, mereka hanya bisa saling memandang, mereka tidak diijinkan berbincang. Sejak itu, ayahnya tidak pernah lagi datang dan Kaede pun tidak pernah mendengar kabar tentang rumahnya.

Ia memahami alasan ayahnya tidak datang lagi. Saat umurnya dua belas tahun, dengan membuka mata dan telinga serta bergaul dengan orang yang bersimpati padanya, akhirnya ia tahu kalau dia adalah tawanan, bidak dalam peperangan antar klan. Ia tak ada nilai bagi orang yang menguasai dirinya selain menjadi nilai tambah dalam tawar-menawar kekuasaan. Ayahnya seorang pemimpin klan yang menguasai wilayah Shirakawa yang strategis; ibunya adalah kerabat dekat klan Maruyama.

Karena tak mempunyai anak laki-laki, maka ayahnya akan mengangkat suami Kaede sebagai penggantinya. Dengan menguasai Kaede, berarti Noguchi telah mendapatkan kesetiaan, persekutuan dan tahta klan Shirakawa.

Kaede tidak memikirkan yang lain—rasa takut, kerinduan pada kampung halaman, atau rasa sepi—yang ada hanyalah rasa benci karena Noguchi tidak menghargai dirinya sebagai seorang tawanan. Sama seperti rasa bencinya pada para pelayan yang selalu mencelanya, dan rasa bencinya pada bau aneh dari ruang penjaga di dekat gerbang, atau ketika harus menaiki tangga yang curam sambil membawa sesuatu….

Dan, parahnya lagi, dia selalu membawa sesuatu: entah itu baskom berisi air dingin, ketel air panas, makanan bagi para penjaga yang rakus, atau barang lain yang malas mereka bawa. Dia membenci kastil ini, membenci batu-batu besar yang menyusun fondasi, dan ruang atas kastil yang gelap, di mana balok-balok yang malang–melintang seakan menggemakan keinginan untuk segera bebas dari tempat ini, kembali ke hutan tempat mereka berasal.

Kaede juga membenci para penjaga. Semakin ia beranjak dewasa, semakin sering penjaga melecehkaniiya. Gadis pelayan seumurnya berlomba-lomba mencari perhatian penjaga. Mereka memuji-muji dan bersikap manja kepada para penjaga, suara mereka dibuat manja dan berpura-pura lembut, bahkan kadang terlalu konyol. Semua itu mereka lakukan untuk memperoleh perlindungan. Ia tidak menyalahkan mereka—ia percaya bahwa semua wanita harus bisa menggunakan apa pun yang mereka miliki untuk melindungi diri dari peperangan yang telah menjadi bagian dari hidup ini—tapi ia tak mau melakukan hal seperti itu. Dia tidak bisa. Satu-satunya harapannya agar terbebas dari kastil ini yaitu menikahi orang dari klas yang setara. Jika kesempatan itu tidak juga datang, ia ingin mati saja.

Kaede sadar kalau ia tidak seharusnya memikul semua itu sendirian. Ia harus mendekati seseorang. WaIaupun tak mungkin untuk bicara pada Lord Noguchi, tapi ada kemungkinan ia bisa mendekati Lady Noguchi. Setelah memikirkannya lagi, ia yakin tidak akan diberi kesempatan bertemu dengan Lady Noguchi. Tidak ada tempat baginya untuk mengadu. Tak ada orang yang bisa melindunginya. Ia sendiri yang harus melindungi dirinya. Tapi para penjaga begitu kuat. Kaede memang termasuk tinggi untuk ukuran seorang gadis—terlalu tinggi, begitu kata pelayan dengan iri—dan ia juga tidak lemah, ia selalu bekerja keras. Tapi pernah ada seorang penjaga yang bercanda dan menariknya dengan kasar dan mendekapnya hanya dengan satu tangan, dan ia tak mampu melepaskan diri. Ia menggigil setiap teringat kejadian itu.

Semakin lama, semakin sulit ia menghindar dari perhatian para penjaga. Di akhir bulan kedelapan, saat umurnya lima belas tahun, terjadi hujan lebat disertai angin topan yang bertiup dari arah barat selama berhari-hari. Kaede membenci hujan. Baginya, hujan hanya akan membuat semuanya menjadi lembab dan berbau. Ia membenci hujan karena terpaksa berjalan dengan kimono basah yang melekat di badan sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas, dan ini membuat penjaga semakin menggodanya.

“Hei, Kaede, gadis kecil!” seorang penjaga berteriak saat dia berlari dari dapur menerobos hujan, melewati menara di gerbang kedua. “Jangan tergesa-gesa! Ada pesan untukmu! Tolong panggil Kapten Arai turun! Dia diminta untuk memeriksa seekor kuda baru.”

Seluruh kastil dibasahi air hujan. Dalam sekejap ia telah basah kuyup, dan sandalnya yang basah sempat membuat dia tergelincir dan tersandung saat melangkah di tangga batu. Namun ia tidak mengeluh karena Arai adalah satu-satunya orang yang tidak ia benci. Arai selalu sopan, tidak pernah mencela atau melecehkan dirinya. Kaede tahu bahwa tanah kekuasaan Arai berbatasan dengan wilayah ayahnya, tidak heran bila gaya bicara Arai beraksen wilayah Barat yang halus seperti dirinya.

“Hei, Kaede!” tegur penjaga lain saat melihat Kaede berlari ke menara utama.

“Kau selalu berlari! Berhentilah dan mari kita bicara!”

Ketika Kaede mengabaikan ajakan penjaga itu dan terus menaiki anak tangga, penjaga itu berteriak lagi, “Mereka mengatakan bahwa kau laki-laki! Kemarilah dan buktikan bahwa kau perempuan!”

“Bodoh!” gerutu Kaede, ia terpeleset saat melangkah ke anak tangga kedua.

Para penjaga di lantai atas sedang bermain judi dengan menggunakan sebilah belati. Arai langsung berlari dan menyapa dengan sopan begitu melihat Kaede datang.

“Lady Shirakawa.” Kapten Arai memiliki postur yang besar, berpenampilan menarik dan mata yang nampak cerdas. Kaede menyampaikan pesan kepadanya. Arai menngucapkan terima kasih dan menatap Kaede sejenak seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian dia berubah pikiran. Arai menuruni tangga dengan tergesa-gesa.

Kaede berdiri mematung, memandang ke luar jendcla. Hembusan angin dari gunung terasa dingin dan lembab. Pemandangan di luar hampir tertutup kabut, namun ia masih dapat melihat rumah Lord Noguchi di bawah menara. Ia membayangkan dirinya tinggal di rumah itu, bukan berlarian kesana-kemari dalam hujan uniuk memanggil orang.

“Jika Lady Shirakawa hendak menunggu hujan reda, lebih baik bergabung bersama kami,” ajak seorang penjaga sambil menepuk punggungnya.

“Jangan sentuh aku!” seru Kaede marah.

Si penjaga tertawa. Kaede takut membayangkan suasana hati mereka yang jenuh dan tertekan, muak pada hujan karena hanya berjaga-jaga dan menunggu, dan tidak dapat melakukan apa-apa.

“Oh, kapten lupa membawa belatinya,” salah seorang penjaga berkata, “Kaede, cepat kejar dia.”

Kaede mengambil belati itu dengan tangan kiri, menimbang-nimbang berat serta ukurannya.

“Dia tampak berbahaya!” canda seorang penjaga. “Jangan sampai melukai dirimu, gadis kecil!”

Kaede segera menuruni tangga, namun Arai telah keluar dari menara. Ketika mendengar suara Arai di taman, ia hendak mengejarnya, tapi belum sempat ia keluar menara, penjaga yang tadi menegurnya keluar dari pos jaga. Kaede berhenti, ia sembunyikan belati di belakang punggungnya. Penjaga itu berdiri tepat di depannya, sangat dekat, dan membelakangi cahaya keabuabuan yang datang dari luar menara. “Ayolah Kaede, tunjukkan bahwa kau bukan lakilaki!”

Dengan kasar, penjaga itu meraih tangan kanan Kaede dan menariknya sambil menekan satu kakinya di antara kedua kaki Kaede, memaksa paha Kaede agar terbuka. Tanpa pikir panjang Kaede menikam belati yang ada di tangan kirinya ke leher orang itu.

Seketika itu juga si penjaga berteriak lalu melepaskan Kaede, kedua tangan penjaga itu memegang lehernya dan menatap Kaede dengan mata terbelalak. Penjaga itu tidak terluka parah, tapi darah mengucur dcngan deras. Kaede tidak mempercayai apa yang ia perbuat. Aku pasti mati, pikirnya. Seiring dengan teriakan minta tolong si penjaga, Arai datang. Sekilas Arai mengamati situasi, merebut belati dari tangan Kaede, dan langsung menggorok leher si penjaga. Penjaga itu pun jatuh dengan terseguk.

Arai menarik Kaede ke luar, dan di bawah guyuran air hujan dia berbisik, “Penjaga itu hendak memperkosa dirimu. Aku datang dan membunuhnya. Begitulah kejadiannya, bila kau tak ingin kita berdua mati.”

Kaede mengangguk. Ia telah menusuk seorang penjaga sedangkan Arai telah meninggalkan belatinya: dua peIanggaran yang tidak termaafkan. Kini Arai telah melenyapkan saksi. Bukannya takut atas kematian si penjaga, Kaede bahkan merasa gembira. Semoga mereka semua mati, pikirnya, klan Noguchi, Tohan, dan seluruh klan.

“Akan kukabarkan ini kepada pimpinannya, Lady Shirakawa,” ujar Arai.

“Seharusnya kau tidak dibiarkan tanpa perlindungan.” Lalu dia menambahkan, “Laki-laki terhormat tak akan melakukan hal itu.”

Arai berteriak ke atas menara untuk memanggil pengawal, lalu berkata pada Kaede, “Jangan lupa, aku telah menyelamatkan nyawamu.”

Kaede menatapnya lurus. “Jangan lupa juga, belati itu milikmu,” jawabnya.

Arai tersenyum kecut, “Kalau begitu, nasibku ada di tanganmu dan nasibmu ada di tanganku.”

“Bagaimana dengan mereka?” tanya Kaede ketika mendengar langkah kaki penjaga di tangga. “Mereka tahu aku yang membawa belati.”

“Mereka tak akan mengkhianatiku,” balasnya. “Aku bisa mempercayai mereka.”

â€Aku tak mempercayai siapa pun,” bisik Kaede.

“Kau harus percaya padaku,” ucapnya.

Keesokan hari, Kaede dikabari kalau dia akan dipindahkan ke kediaman Noguchi. Sambil membungkus semua barang miliknya dengan kain, ia mengusap-usap kain bergambar sungai putih dengan latar belakang matahari Seishuu, lambang keluarganya. Ia malu karena hanya mempunyai sedikit barang. Kejadian sehari sebelumnya masih terlintas di benaknya: belati di tangan kirinya, dekapan dan kematian si penjaga. Juga ucapan Arai: Seorang laki-laki terhormat tidak akan melakukan hal itu!

Tidak seharusnya Arai berkata seperti itu pada tuannya. Ia tak akan berani, tidak juga di depan Kaede, kecuali bila dia ada niat untuk memberontak. Mengapa Arai memperlakukan aku begitu baik? Apakah dia mencari dukungan dari klanku? Dia sudah terkenal dan berkuasa; Kaede curiga Arai memiliki ambisi yang lebih besar.

Arai mampu bertindak cepat dalam memanfaatkan setiap kesempatan.

Kaede mengatur semua barangnya dengan hati-hati agar barang sekecil apa pun tak akan menyulitkan saat dibawa.

Hari itu, semua gadis pelayan menghindar darinya, mereka berbicara bergerombol dan langsung diam saat ia lewat. Dua di antara gadis itu nampak seperti habis menangis; mungkin mereka kekasih penjaga yang mati itu. Tak seorang pun bersimpati padanya. Kemarahan gadis-gadis itu bahkan semakin menumbuhkan kebenciannya pada mereka. Sebagian dari mereka memiliki rumah; mereka bisa kembali ke orangtua dan keluarga, kapan saja mereka mau. Mereka bukan tawanan seperti dirinya. Lagipula, penjaga itu yang menarik ia dengan kasar, hendak memperkosa. Siapa pun yang mencintai orang seperti itu tentu orang idiot.

Seorang pelayan yang belum Kaede kenal datang mcnyapa dan membungkuk hormat lalu meminta Kaede mengikutinya. Kaede mengikuti pelayan itu menuruni anak tangga curam dari batu yang menghubungkan kastil dengan kediaman Lord Noguchi. Saat mereka melewati ruang tahanan di bawah gerbang raksasa, para penjaga memalingkan muka dengan marah. Kaede dan gadis itu berjalan ke taman yang mengelilingi rumah Noguchi.

Ia sering melihat taman ini dari kastil, namun inilah pertama kali ia ke sini sejak umurnya tujuh tahun. Sewaktu sampai di bagian belakang rumah, gadis itu menunjuk ke sebuah ruangan kecil.

“Tunggulah sebentar di sini, Lady.”

Setelah gadis itu pergi, Kaede berlutut di lantai. Ruangan ini tertata rapih, meskipun ukurannya tidak besar, dan pintu-pintunya yang terbuka menghadap ke taman. Hujan telah reda dan matahari bersinar cerah, butiran air di dedaunan memantulkan sinar berkilauan. Kaede memandangi lentera batu yang ada di tengah kolam. Kodok dan jangkrik bernyanyi riang. Kedamaian dan keheningan tempat ini mencairkan sesuatu yang telah mengendap keras di hatinya, dan mendadak Kaede ingin menangis.

Kaede berusaha menahan tangis dengan cara memunculkan rasa bencinya pada Noguchi. Ia menyelipkan kedua tangannya ke dalam lengan baju dan merasakan memar di lengannya. Ia semakin membenci keluarga Noguchi karena mereka tinggal di tempat yang indah ini, sedangkan ia, anak Lord Shirakawa, hanya tinggal bersama pelayan.

Pintu yang berada di belakangnya bergeser dan seorang wanita berlutut di pintu, “Lord Noguchi ingin bertemu Anda, Lady.”

“Bantulah aku untuk bersiap-siap,” ujar Kaede. Ia tidak mau bertemu Noguchi dengan penampilannya saat ini, rambut yang tidak tertata rapih, dan pakaian yang usang serta kotor.

Pelayan itu masuk dan Kaede berpaling melihatnya. Dia sudah tua, kulit tangannya pun berkeriput, namun wajahnya halus dan rambutnya hitam. Dia memperhatikan Kaede dengan kagum. Lalu, tanpa banyak bicara dia membuka bungkusan kain milik Kaede, mengeluarkan kimono ringan yang agak bersih dan sisir serta penjepit rambut.

“Mana baju lainnya?”

“Aku dibawa kemari saat umur tujuh tahun,” kata Kaede dengan marah. “Kau pikir aku kecil terus? Ibuku mcngirimkan pakaian yang lebih baik, namun aku dilarang menyimpannya!”

Wanita itu mendecak kagum. “Untung saja nona sangat cantik sehingga tidak perlu banyak polesan.”

“Apa maksudmu?” tanya Kaede karena ia belum pernah melihat wajahnya sendiri.

“Aku akan menyisiri rambutmu dan mencarikan alas kaki yang bersih. Aku Junko. Lady Noguchi mengirimku untuk melayanimu. Akan kusampaikan bahwa Anda tak memiliki pakaian yang pantas.”

Junko pergi dan kemudian datang bersama dua orang gadis yang membawa semangkuk air, kaus kaki hersih, dan kotak kayu kecil berukir. Junko membersihkan wajah, tangan dan kaki, lalu menyisir rambut Kaede yang panjang dan hitam. Mereka bergumam takjub.

“Ada apa?” tanya Kaede dengan gugup.

Junko membuka kotak kecil itu dan mengeluarkan cermin yang bulat. Di belakang cermin itu terukir motif bunga dan burung. Junko menggenggam cermin itu agar Kaede dapat bercermin. Kaede langsung terdiam saat melihat wajahnya.

Perhatian dan kekaguman para wanita itu membuat Kaede agak percaya diri, namun rasa percaya dirinya langsung hilang ketika dia mengikuti Junko ke ruangan utama rumah ini. Ia pernah melihat Lord Noguchi dari jauh, saat kunjungan ayahnya yang terakhir. Ia tidak pernah menyukai Lord Noguchi, dan kini ia cemas saat akan menemuinya.

Junko berlutut dan menggeser pintu lalu masuk sambil menyembah. Kaede melakukan hal yang sama. Alas lantai terasa dingin dan tercium bau rumput di musim panas.

Di dalam ruangan, Lord Noguchi sedang berbicara dengan sesecrang dan tidak memperhatikan kehadiran Kaede. Mereka sedang membahas soal pajak pertanian: tentang terlambatnya para petani membayar pajak. Tak lama lagi musim panen baru tiba, tapi petani belum membayar pajak panen yang sebelumnya. Orang yang diajak bicara kadang memberi komentar yang menenangkan Lord Noguchi dengan memberi alasan cuaca yang sering berubah, musim angin topan yang sebentar lagi tiba, pengabdian para petani, dan kesetiaan para penyewa tanah—dan Lord Noguchi akan menggerutu, kemudian diam beberapa saat, lalu mulai mengeluhkan hal yang sama lagi.

Akhirnya Lord Noguchi diam lagi. Salah seorang kepercayaannya mendehem sekali dua kali. Lord Noguchi memberi perintah dan orang itu pun mundur dengan berlutut ke pintu.

Lord Noguchi mendekati Kaede yang tak berani mengangkat kepalanya.

“Panggil Arai,” perintahnya. Sepertinya dia telah merencanakan semua ini.

Kini dia akan berbicara padaku, pikir Kaede, tapi ternyata Lord Noguchi hanya diam membisu. Kaede tetap diam tak bergerak. Setelah cukup lama menunggu, Kaede mendengar Arai yang masuk ke ruangan dan melihat Arai menyembah di sampingnya. Lord Noguchi juga tidak mengacuhkannya. Dia menepuk tangan dua kali dan beberapa orang segera masuk.Kaede merasa seakan-akan mereka hendak menginjak-injak dirinya saat melewati dirinya. Ketika memandang sekilas ke mereka dari samping, ia tahu kalau kedudukan mereka cukup penting. Ada yang memakai lambang Noguchi di kimononya, dan ada juga yang memakai lambang Tohan, gambar daun oak berhelai tiga. Ia yakin mereka akan dengan senang hati menginjak-injak dirinya, seakan-akan ia adalah kecoa. Kaede bersumpah tidak akan membiarkan orang-orang Tohan dan Noguchi melukai dirinya.

Orang-orang itu duduk di atas alas lantai.

“Lady Shirakawa,” akhirnya Lord Noguchi berkata. “Duduklah.”

Saat Kaede melakukan perintah Lord Noguchi, ia merasa semua laki-laki di ruangan itu menatapnya. Semua orang nampak tegang, ada sesuatu yang tidak ia pahami.

“Sepupu,” kata Lord Noguchi, ada nada keheranan dalam suaranya. “Kuharap kau baik-baik saja.”

“Terima kasih atas kepedulian Anda, aku baik-baik saja,” balas Kaede dalam kalimat sopan walaupun kata-kata yang diucapkan terasa seperti racun yang membakar lidahnya. Ia merasa rapuh di dalam ruangan ini, satu-satunya perempuan di antara laki-laki yang kuat dan kejam. Ia mencuri pandang ke Lord Noguchi dari bawah bulu mata. Bagi Kaede, wajah itu adalah wajah orang yang pemarah, lemah dan bodoh. Wajah yang penuh dengan kebencian.

“Ada kejadian yang tidak menyenangkan di pagi ini,” kata Lord Noguchi.

Kesunyian kian mencekam. “Arai telah menceritakan kejadiannya. Kini aku ingin mendengar langsung darimu.”

Kaede menyembah dengan gerakan lambat, pikirannya berpacu dengan cepat.

Saat ini ia yang menguasai nasib Arai. Dan Lord Noguchi tak lagi memanggilnya kapten, sebagai tanda penghormatan. Apakah dia mencurigai kesetiaan Arai? Apakah dia tahu kejadian yang sebenarnya? Jangan jangan ada pengawal yang berkhianat? Jika membelanya, apakah kami berdua justru akan masuk dalam jebakan? Arai adalah satu-satunya orang di kastil ini yang memperlakukan aku dengan baik, pikir Kaede. Aku tak akan mengkhianatinya. Lalu Kaede duduk dan berkata sambil menunduk, ia berkata dengan nada yang meyakinkan. “Aku ke ruang penjaga di kastil untuk menyampaikan pesan kepada Lord Arai. Lalu aku mengikuti dia turun; dia dibutuhkan di istal. Pengawal di gerbang menghalang-halangiku. Saat aku menjauh, dia menangkapku.” Kaede memperlihatkan memar di lengannya, bekas jari jari penjaga tampak merah keungu-unguan di kulitnya yang putih pucat. “Aku berteriak. Mendengar teriakanku, Lord Arai datang menolong.” Ia kembali membungkuk. â€Aku berhutang padanya dan juga pada Anda, tuanku, karena telah melindungku.” Ia menunggu dengan kepala di lantai.

“Uuuuh,” gerutu Lord Noguchi. Suasana menjadi hening. Beberapa serangga berdengung di sore yang panas ini. Keringat membasahi alis para laki-laki yang duduk diam tak bergerak. Kaede bahkan mampu mencium bau keringat mereka yang seperti bau binatang, dan ia merasakan keringat yang menetes di dadanya. Ia menyadari bahaya yang ia hadapi. Andai ada penjaga yang membuka rahasia soal belati yang tertinggal dan ada seorang gadis yang mengambil, menggenggam belati itu… Kaede langsung membuang pikiran itu jauh-jauh, takut ada yang bisa membaca pikirannya.

Akhirnya Lord Noguchi berkata seperti tidak terjadi apa-apa, bahkan terkesan setuju, “Bagaimana dengan kudanya, Kapten Arai?” Arai mengangkat kepala untuk bicara. Suaranya tenang. “Masih sangat muda dan berpenampilan menarik. Kuda itu berasal dari peternakan yang bagus dan mudah dijinakkan.”

Mendengar itu, semua orang gembira. Kaede merasa bahwa mereka sedang menertawai dirinya, dan darah berdesir di pipinya.

“Kau memiliki banyak keahlian, Kapten,” kata Lord Noguchi. “Sungguh menyesal bila kami harus kehilangan semua keahlianmu, tapi kurasa isteri dan anak-anakmu mungkin butuh perhatian untuk sementara, sekitar setahun atau dua tahun…”

“Lord Noguchi,” Arai membungkuk tanpa menunjukkan reaksi apa pun.

Bodoh sekali Lord Noguchi ini, pikir Kaede. Ingin aku yakinkan dia agar Arai tetap di sini, agar dapat kuawasi. Mengirim Arai ke sana hanya akan memberinya kesempatan untuk memberontak.

Arai mundur keluar, tanpa menoleh ke arah Kaede. Mungkin Noguchi berencana untuk membunuh Arai saat dia pulang, pikir Kaede dengan sedih. Aku tak akan bertemu dia lagi.

Suasana tegang agak mencair setelah Arai pergi. Lord Noguchi mendehem untuk menjernihkan tenggorokkannya. Para prajurit berganti posisi, menyamankan kaki dan punggung. Kaede merasakan mata mereka tetap menatapnya. Memar di tangannya dan kernatian penjaga telah membangkitkan gairah mereka. Mereka tidak ada bedanya dengan si penjaga yang mati.

Pintu di belakangnya terbuka, dan pelayan yang mengantarnya dari kastil ke kediaman Lord Noguchi datang membawa teh. Dia melayani semua orang dan ketika hendak keluar, Lord Noguchi membentaknya. Pelayan itu membungkuk dengan bingung, lalu menyiapkan secangkir teh untuk Kaede.

Kaede minum teh sambil menunduk, mulutnya terasa kering hingga sulit menelan. Arai telah diasingkan sebagai hukuman, bagaimana dengan dirinya? “Lady Shirakawa telah bertahun-tahun kau bersama kami. Kau adalah bagian dari rumah ini.”

“Kau telah berjasa padaku, tuanku,” balasnya.

“Tapi kurasa kesenangan yang terjadi antara kau dan keluarga ini tidak akan berlangsung lama. Aku telah kehilangan dua anak buahku karenamu. Aku tidak yakin bisa menahanmu lebih lama lagi!” Dia tertawa perlahan diikuti dengan tawa para laki-laki.

Dia akan mengirimku pulang! Harapan palsu mendebarkan hatinya.

“Kau sudah cukup umur untuk menikah. Semakin cepat semakin baik. Akan kukabarkan pada orangtuamu siapa calon suamimu. Kau akan tinggal bersama isteriku hingga hari pernikahanmu.”

Kaede membungkuk lagi, tapi ia sempat melihat tatapan antara Lord Noguchi dengan seorang laki-laki yang lebih tua. Pasti dengan orang itu, pikirnya, atau dengan laki-laki yang seperti orang itu: tua, tamak, dan keiam. Gagasan untuk menikah dengan siapa pun membuat Kaede takut. Bahkan membayangkan kalau ia akan diperlakukan lebih baik di rumah Noguchi tetap membuatnya tidak bersemangat.

Junko menemani Kaede kembali ke ruangan, lalu menuntunnya ke kamar mandi.

Hari mulai senja dan Kaede merasa letih. Junko memandikan, dan menggosok pimggung serta kaki Kaede dengan butiran beras.

“Aku akan mencuci rambutmu besok,” janji Junko. “Rambutmu terlalu panjang dan tebal bila dicuci malam ini. Sulit kering dalam waktu singkat, dan kau pun akan kedinginan.”

“Lebih baik aku mati kedinginan,” kata Kaede. “Itu yang terbaik untukku.”

“Jangan berkata seperti itu,” tegur Junko seraya membantu Kaede masuk ke bak mandi untuk berendam di air hangat. “Kau akan memiliki hidup yang indah. Kau sangat cantik! Kau akan menikah dan mempunyai banyak anak.”

Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Kaede dan berbisik, “Kapten Arai menyampaikan rasa terima kasih karena kau telah membelanya. Dia menyuruhku melindungimu.”

Apa yang bisa dilakukan wanita di dunia laki-laki ini? pikir Kaede. Perlindungan macam apa yang kami punya? Apakah ada yang dapat menjagaku?

Kaede teringat bayangan wajahnya di kaca dan tak sabar ingin melihatnya lagi.

                                                                                                                                    
Copyright © 2009 niwaexia@hellokitty.co.id
All rights reserved.

:¦ Lian Hearn - Klan Otori ¦:

Lian Hearn - Klan Otori I - Chapter 01

BAB I
Klan Otori

IBUKU selalu mengancam akan mencabik-cabik aku menjadi delapan bila aku menjatuhkan ember, atau aku pura-pura tidak mendengar panggilannya untuk segera pulang saat hari telah senja dan teriakan jangkrik kian meninggi. Suara ibuku yang berat dan galak bergema dibukit yang sunyi ini. “Ke mana saja anak celaka itu? Akan kucabik-cabik dia bila kembali.”

Tapi ketika aku tiba di rumah dengan badan kotor setelah meluncur dari bukit, atau memar karena berkelahi, atau luka di kepala karena terkena batu (bekas lukanya sebesar ibu jari dan berwarna keperakan) dia tidak mencabik-cabikku. Aku bahkan disambut dengan kehangatan api tungku dan juga keharuman sayur sop. Lalu, dia akan berusaha untuk memelukku, membersihkan wajahku atau merapikan rambutku, sedangkan aku selalu berusaha menghindar. Ibuku rajin dan kuat, dan juga masih muda: dia melahirkanku sebelum berumur tujuh belas tahun. Saat dia memelukku, nampak sekali kemiripan kulit kami, namun dalam hal lain, kami tidak mirip. Ibuku lebih tenang, sedangkan aku, menurut orang di desaku (di Mino yang terpencil ini belum ada cermin) lebih halus.

Dia selalu menang bergulat dan akhirnya aku pun pasrah dalam pelukannya. Lalu ibuku akan membisikkan kata-kata pemberkatan pada Sang Hidden. Sedangkan ayah tiriku hanya bersungut-sungut saat melihat aku dimanjakan. Kedua adik tiriku yang masih gadis kecil akan melompat kegirangan untuk berbagi pelukan dan juga pemberkatan.

Jadi, kurasa, semua itu hanya gaya bicara ibuku. Mino adalah tempat yang damai, letaknya yang terpencil membuat desaku ini tidak tersentuh oleh perang antar klan.

Tidak pernah terbayangkan kalau laki-laki dan perempuan di Mino akan dicabik-cabik menjadi delapan, atau kaki mereka terenggut dari sendinya lalu dilempar ke anjing lapar. Besar di lingkungan kaum Hidden membuatku tak pernah membayangkan orang dapat melakukan hal sekejam itu pada orang lain.

Ketika umurku beranjak lima belas tahun, ibuku mulai kehilangan saat-saat untuk bergulat denganku. Aku tumbuh enam inci setiap tahun, dan ketika aku berumur enam belas tahun, aku sudah lebih tinggi dari ayah tiriku. Dia lebih sering menggerutu, baginya aku seharusnya berhenti berkeliaran di gunung seperti monyet liar, dan segera menikah. Aku tidak keberatan untuk menikah dengan gadis didesaku, dan bekerja lebih keras selama musim panas agar aku mendapatkan kedudukan. Tapi aku sulit menahan godaan untuk pergi ke gunung. Suatu sore, aku menyelinap pergi melalui rimbunan bambu yang tinggi, berbatang licin dan berdaun hijau, lalu aku mulai menapaki jalan berbatu ke kuil dewa gunung, tempat penduduk desa meninggalkan sesajen berupa padi dan jeruk, tempat beberapa burung perkutut dan burung bul-bul bernyanyi riang, tempat aku memandang musang dan kijang sambil mendengarkan jeritan pilu burung elang di atas kepalaku.

Senja itu aku sedang berada di gunung, teparnya di tempat jamur tumbuh dengan subur. Aku penuhi kantongku dengan jamur putih kecil mirip kapas, dan jamur jingga gelap mirip kipas. Ibuku pasti senang kalau melihat jamur yang kubawa, walaupun ayah tiriku pasti marah. Seakan aku sudah dapat merasakan kelezatan jamur-jamur ini. Ketika berlari menerobos pohon bambu dan muncul di sawah, di mana bunga lili merah musim gugur bermekaran, aku mencium bau hangus.

Aku mendengar gonggongan anjing, seperti yang biasa mereka lakukan bila hari beranjak malam. Bau itu semakin kuat dan sangit. Ada beberapa pertanda yang membuat jantungku berdebar. Ada kebakaran.

Kebakaran sering terjadi di desaku karena hampir semua rumah terbuat dari kayu atau jerami. Tapi, kali ini tidak ada teriakan atau bunyi ember yang dialihkan dari tangan ke tangan, atau suara tangisan dan sumpah serapah. Jangkrik tetap bernyanyi dengan nyaring seperti biasa; kodok pun seakan memanggil dari sawah. Di kejauhan, aku mendengar gemuruh guntur yang bergema di gunung. Udara terasa padat dan lembab.

Keringat dingin menetes di keningku. Aku melompat saat melintasi selokan yang ada di ladang yang bertingkat-tingkat, lalu aku memandang ke bawah, ke arah rumah. Rumahku hilang.

Aku mendekat. Kobaran api menjalar dan menjilati balok kayu. Tidak ada tanda-tanda keberadaan ibu atau adikku. Aku berusaha memanggil, namun lidahku terasa kelu. Asap tebal yang menyelimuti tubuhku membuat penglihatanku menjadi kabur.

Seluruh desa terbakar, tapi ke mana penduduk desa pergi?

Kemudian aku mendengar jeritan.

Jeritan itu berasal dari kuil, tempat sebagian besar rumah berkumpul. Jeritan itu mirip lolongan anjing yang kesakitan, kecuali lolongan itu mampu menyuarakan bahasa manusia. Ketika sadar kalau itu adalah doa kaum Hidden, bulu kudukku berdiri. Dengan menyelinap bak hantu di antara rumah-rumah yang terbakar, aku berjalan ke asal suara.

Desaku kini menjadi sunyi senyap. Tak dapat kubayangkan ke mana penduduk desa pergi. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa mereka telah menyelamatkan diri: ibu telah membawa adik-adikku ke tempat yang aman. Tak lama lagi aku akan bertemu mereka, setelah mencari asal suara tadi. Namun, saat bergegas melewati jalan setapak ke jalan utama, aku melihat ada dua orang terbaring di tanah. Rintik hujan membasahi wajah mereka yang nampak kaget, seakan tidak mengerti mengapa mereka terbaring di bawah rintik hujan. Mereka tak akan bangun lagi, jadi bukan masalah bila pakaian mereka basah.

Salah seorang di antaranya adalah ayah tiriku.

Seketika dunia terasa berubah. Kabut merebak di mataku dan saat kutepis, semua nampak tidak nyata. Aku merasa seperti telah melintasi dunia lain, dunia yang berada di sisi dunia tempat kita tinggal, dunia yang hanya kita kunjungi di saat kita sedang bermimpi. Ayah tiriku memakai pakaiannya yang terbaik. Pakaian berwarna nila yang kini nampak lebih gelap karena basah air hujan dan darah. Aku sedih melihat pakaiannya rusak karena aku tahu dia bangga sekali memakai pakaian itu.

Aku langkahi mayat-mayat itu, melewati pintu kuil. Rintik hujan yang membasahi wajahku terasa sangat dingin. Jeritan tadi tiba-tiba berhenti.

Di dalam kuil aku melihat ada beberapa orang yang tidak aku kenal. Mereka seakan-akan sedang berpesta. Mereka memakai ikat kepala; pakaian luar dan perlengkapan perang mereka berkilauan terkena keringat dan air hujan. Mereka terengah-engah dan menggerutu, lalu tertawa lebar hingga terlihat gigi mereka yang putih, seakan membunuh adalah kerja keras layaknya membawa beras hasil panen.

Air mengalir dari pancuran tempat orang membasuh tangan dan mulut untuk menyucikan diri sebelum masuk ke kuil. Biasanya selalu ada orang yang membakar dupa di ketel besar. Sisa dupa masih tergeletak, meskipun baunya terhalang oleh pahitnya bau darah.

Ada seseorang yang terbaring dalam keadaan tercabik-cabik di atas batu yang basah. Aku masih bisa mengenali orang itu walaupun kepalanya telah remuk. Dia adalah Isao, pemimpin kaum Hidden. Mulutnya menganga, kaku dalam geliatan rasa sakit.

Para pembunuh menggantung pakaian luar mereka di tiang yang terpancang rapi di pilar. Dapat kulihat jelas lambang tiga daun oak. Simbol klan Tohan, klan yang beribukota di Inuyama. Aku teringat pada seorang pedagang yang datang ke desa kami pada akhir bulan ketujuh. Dia menginap di rumah kami. Waktu ibuku membaca doa sebelum makan, dia mengatakan. Apakah kalian tidak tahu bahwa Tohan sangat membenci orang Hidden, dan mereka berencana menyerang kalian?

Lord Iida telah bersumpah akan membasmi kalian,” bisiknya. Keesokan hari, kedua orangtuaku menyampaikan berita itu pada Isao, namun tak seorang pun percaya.

Desa kami jauh dari ibukota klan, dan kami tidak pernah terlibat dalam pertikaian antar klan. Kaum Hidden hidup saling tolong-menolong, melihat hal yang sama, bertindak serupa, kecuali saat berdoa. Lalu mengapa ada yang hendak mencelakai kami? Sungguh sulit untuk dipahami.

Dan masih saja aku belum memahaminya saat aku berdiri di sini, membeku didekat pancuran. Air mengalir dan mengalir, ingin rasanya kubasuh darah di wajah Isao dan menutup mulutnya, namun aku tak mampu bergerak. Aku sadar kalau orang-orang Tohan itu akan kembali. Pandangan mereka bisa membuat aku lemah, lalu mereka akan mencabik-cabik diriku. Mereka tidak memiliki belas kasihan.

Mereka telah dirasuki oleh kematian setelah mereka berani membunuh orang di dalam kuil.

Di kejauhan aku mendengar derap langkah kuda dengan jelas dan tajam. Aku masih seperti bermimpi saat kuda itu kian mendekat. Aku tahu siapa yang akan kulihat, dia ada di gerbang kuil. Aku belum pernah melihat orang itu, tapi ibuku selalu menyebut namanya bila hendak menakuti-nakuti kami: jangan berkeliaran digunung, jangan bermain di sungai, atau Iida akan menangkapmu! Aku langsung tahu kalau dia adalah Iida Sadamu, pemimpin klan Tohan.

Kuda itu menendang dan meringkik karena bau darah. Iida tetap duduk kaku di atas kuda seakan-akan dia terbuat dari besi. Dia memakai pakaian zirah hitam dari kepala hingga kaki, dan pelindung kepalanya berhiaskan tanduk rusa. Ada janggut hitam di bawah mulutnya yang terlihat sangat kejam. Matanya menyala, bagaikan sedang berburu rusa.

Pandangan kami bertemu. Sekilas saja aku tahu dua hal tentang dirinya: pertama, tak ada satu pun yang dapat membuat dia takut; kedua, dia gemar membunuh hanya untuk bersenang-senang. Saat ini dia sedang memandangku seakan aku tidak ada harapan lagi.

Dia menghunus pedang. Satu-satunya yang menolongku yaitu keengganan kudanya untuk melewati gerbang kuil. Kuda itu meringkik dan menendang. Iida lalu berteriak. Pengawalnya yang ada di dalam kuil berbalik dan melihat ke arahku, berteriak dalam aksen Tohan yang kasar. Kuraih batang dupa, tidak sadar kalau bara dupa itu membakar tanganku, lalu aku berlari melewati gerbang. Saat kuda Iida mendekat dengan ragu, aku langsung menikam kuda itu dengan batang dupa. Kuda itu menyepak ke arahku, kakinya yang besar menebas pipiku. Aku mendengar desis pedang di udara. Pengawal Tohan telah mengelilingiku. Di saat aku sudah tidak mungkin lagi lolos lagi, tiba-tiba aku merasa seakan tubuhku terpisah menjadi dua.

Pedang Iida menebas ke arahku, namun belum menyentuh tubuhku. Aku terjang kudanya. Kuda itu melenguh kesakitan. Iida, yang hilang keseimbangan karena tebasannya meleset, terjatuh dari kudanya.

Kejadian ini membuatku semakin takut dan panik. Aku telah menyebabkan pemimpin Tohan itu terjatuh dari kudanya. Tak ada siksaan maupun derita yang dapat memaaflcan perbuatanku itu. Seharusnya aku langsung menyembah dan memohon dia untuk membunuhku, tapi aku belum mau mati. Seperti ada yang mengatakan kalau dia yang akan mati lebih dulu.

Aku tak tahu tentang perang antar klan, tidak juga hukum dan permusuhan di antara mereka. Aku menghabiskan hidupku di antara kaum Hidden, tempat di mana kami diajarkan untuk saling memaafkan dan dilarang membunuh. Tapi dalam sekejap, Balas Dendam telah merasuk ke dalam hatiku.

Aku tendang orang yang ada di dekatku, di antara dua kakinya, lalu kugigit tangan orang yang memegang pergelangan tanganku, kemudian aku menerobos keluar dari kepungan dan berlari ke hutan.

Ada tiga orang yang mengejarku. Mereka tinggi besar dan larinya pun lebih kencang, tapi aku diunt ungkan karena lebih mengenal daerah ini, dan hari yang semakin gelap. Hujan lebat membuat jalan setapak ke hutan menjadi licin. Dua orang di antara mereka terus berteriak, menyumpah dan mengancamku dalam bahasa yang hanya bisa kutebak, sedangkan orang yang ketiga mengejar tanpa bersuara, dan dialah yang paling aku takuti. Dua orang itu bisa saja berbalik pulang dan melaporkan bahwa aku hilang di pegunungan, namun orang yang satu ini tak akan menyerah. Dia akan terus mengejar hingga berhasil membunuhku.

Sampai di jalan setapak yang mendaki, tidak jauh dari air terjun, kedua orang yang selalu berteriak larinya mulai pelan, sedangkan orang yang ketiga justru mengejar semakin cepat. Kami melewati kuil; seekor burung yang sedang mematuk biji-bijian langsung terbang tinggi dengan warna putih kehijauan di sayapnya karena kaget. Jalan yang kulewati agak menikung mengitari pohon cedar raksasa. Saat aku berlari melewati pohon itu sambil menangis, tiba-tiba ada orang yang muncul di depanku. Dia menghadang tepat di jalan setapak yang kulalui.

Aku tetap berlari ke arah orang itu. Dia menggerutu seolah-olah aku menghalangi jalannya, dan dia langsung menangkapku. Dia mengamati wajahku, dan aku melihat matanya bersinar: dia nampak kaget, seakan dia mengenaliku. Apa pun alasannya, dia memegangku semakin erat. Kini aku tak mungkin lagi lolos. Orang Tohan yang mengejarku berhenti, dan kedua temannya muncul dari belakang dengan terengah-engah.

“Maaf, tuan,” kata orang yang paling kutakuti, suaranya tegas. “Kau telah menangkap penjahat yang sedang kami kejar.”

Orang yang memegangku memutar diriku sehingga aku langsung berhadapan dengan para pengejarku. Ingin rasanya aku menangis, memohon kepadanya, tapi aku tahu itu tak berguna. Pakaian orang ini halus, tangannya pun lembut. Dia pasti seorang bangsawan, seperti Iida. Dia tidak akan menolongku. Aku diam, sambil mengingat-ingat doa yang pernah ibuku ajarkan, berdoa agar aku bisa menjadi burung.

“Apa yang penjahat ini lakukan?” tanya orang yang memegangku.

Orang yang berada di depanku berwajah panjang, mirip serigala. “Maaf, tuan,” dia berkata lagi, kesopanannya mulai berkurang. “Ini bukan urusanmu. Ini urusan Iida Sadamu dan klan Tohan,” lanjutnya.

“Uuuuh.” gerutu sang bangsawan. “Apa benar? Dan siapa kau yang berani menentukan apa yang menjadi urusanku atau bukan?”

“Serahkan saja dia!” laki-laki berwajah serigala itu berkata dengan geram, kesopanannya kini sudah benar-benar hilang.

Saat sang bangsawan melangkah maju, aku langsung sadar kalau dia tak akan menyerahkanku. Dengan gerakan lembut dia memutarku ke belakang punggungnya lalu melepasku. Dan untuk kedua kalinya, aku mendengar desis pedang petarung, seakan pedang adalah penyelamat. Si wajah serigala mencabut sebilah belati. Dua orang lainnya menggenggam tongkat. Sang bangsawan menggenggam pedang dengan kedua tangannya, mengelak dari pukulan tongkat, dan memenggal kepala salah seorang yang memegang tongkat. Lalu dengan secepat kilat dia dekati si wajah serigala dan menebas tangan kanan orang itu yang sedang memegang belati.

Semua itu terjadi dalam sekejap. Terjadi di saat remang-remang dan rintik hujan, meskipun kupejamkan mata, tetap saja dapat kulihat kejadian itu secara rinci.

Kepala yang telah terlepas dari badan itu menggelinding di lereng bukit dengan darah yang masih menyembur. Orang yang ketiga menjatuhkan tongkatnya, lalu lari sambil berteriak minta tolong. Si wajah serigala berlutut, berusaha menahan darah yang keluar dari sisa lengannya yang tertebas. Dia tidak mengerang atau pun bicara. Sang bangsawan membersihkan pedangnya, lalu dia masukkan ke dalam sarung yang melekat di sabuknya. “Mari,” katanya padaku.

Aku berdiri dalam keadaan gemetar, tak mampu bergerak. Orang ini muncul entah dari mana. Dia telah membunuh demi menolong diriku. Aku menyembah, berusaha mencari kata yang tepat untuk mengucapkan terima kasih padanya.

“Bangunlah” katanya. “”Tidak lama lagi mereka akan datang mengejar.”

“Aku tak bisa pergi,” aku berusaha bicara. “Aku harus mencari ibuku.”

“Jangan sekarang. Kita harus segera pergi!” Dia menarikku berdiri, dan menyuruhku bergegas. “Apa yang terjadi di bawah sana?”

“Mereka membakar desa dan membunuh…” Aku teringat ayah tiriku sehingga aku tidak mampu meneruskan ucapanku.

“Hidden?”

“Ya,” bisikku.

“Ini terjadi di mana-mana. Iida membantai kaum Hidden. Kurasa kau salah seorang dari mereka?”

“Ya.” Aku menggigil kedinginan. Meskipun saat ini musim panas dan air hujan terasa hangat, tapi belum pernah aku kedinginan seperti sekarang ini. “Bukan hanya itu alasan mereka mengejarku. Aku menyebabkan Lord Iida terjatuh dari kuda.”

Aku kagum saat melihat sang bangsawan tertawa. “Kejadian itu patut dilihat! Tapi juga menempatkan dirimu dalam bahaya. Penghinaan yang kau lakukan membuatnya ingin membunuhmu. Tapi kau aman bersamaku. Tak akan kubiarkan Iida mengambilmu.”

“Kau telah selamatkan aku,” ujarku. “Sejak saat ini, hidupku adalah milikmu.”

Entah mengapa, dia tertawa lagi. “Kita terpaksa melakukan perjalanan jauh dalam keadaan lapar dan pakaian yang basah. Kita harus keluar dari wilayah ini sebelum fajar, sebelum mereka datang mengejar.” Langkahnya begitu cepat sehingga aku terpaksa berlari sambil berharap kakiku tidak gemetar. Aku tak tahu siapa dia, namun aku ingin dia bangga dan tidak menyesal telah menyelamatkanku.

“Namaku Otori Shigeru,” dia berkata ketika jalan mulai menanjak. “Dari klan Otori di Hagi. Tapi, selama perjalanan ini aku tidak memakai nama itu, jadi jangan menyebut namaku.”

Hagi bagiku sama jauhnya seperti ke bulan, dan meskipun pernah mendengar tentang Otori, tapi aku tidak tahu apa-apa, selain mereka pernah dikalahkan Tohan dalam pertempuran dahsyat sepuluh tahun lalu di Yaegahara.

“Siapa namamu, nak?”

“Tomasu.”

“Nama yang umum di kalangan kaum Hidden. Sebaiknya kau ganti.” Dia tak berbicara apa pun selama beberapa lama, dan dalam gelap, dia berkata singkat. “Kau kuberi nama Takeo.”

Demikianlah, di antara air terjun dan puncak gunung, aku kehilangan namaku dan menjadi orang baru, dan menyatukan takdirku dengan Otori.

Fajar menghampiri kami yang kedinginan dan kelaparan ketika tiba di Hinode.

Desa ini terkenal dengan sumber air panasnya. Kini aku sudah jauh dari rumah, dan belum pernah aku sejauh ini. Aku pernah mendengar tentang Hinode dari cerita teman-temanku di desa: laki-lakinya sangat licik dan wanitanya panas seperti sumber air panas yang ada di desa ini. Namun aku belum pernah membuktikan kebenarannya. Di tempat ini hanya ada satu wanita yang kutemui, isteri penjaga penginapan yang menyediakan makan.

Aku malu pada penampilanku saat ini, dalam balutan pakaian usang yang penuh tambalan, sulit untuk mengatakan warna aslinya, kotor dan juga penuh noda darah.

Aku kaget ketika Lord Otori menyuruhku tidur sekamar dengannya. Aku mengira dia akan menyuruhku tidur di istal, tapi tampaknya dia tak ingin aku jauh darinya.

Dia menyuruh wanita di penginapan untuk mencucikan bajuku, dan mengantarku ketempat pemandian air panas untuk membersihkan diri. Sewaktu kembali ke kamar, dalam keadaan mengantuk karena pengaruh air panas dan juga karena kurang tidur, sarapan pagi telah tersedia. Lord Otori yang sedang makan memberi isyarat padaku untuk bergabung. Aku berlutut di lantai dan membaca doa sebelum makan.

“Jangan takukan itu lagi,” Lord Otori mengatakan dengan mulutnya yang penuh nasi dan acar. “Tak juga di saat kau sendiri. Kalau ingin tetap hidup, kau harus melupakan sebagian dari hidupmu. Itu semua telah berakhir.” Dia menelan kemudian mengambil makanan lainnya untuk dimasukkan ke mulutnya. “Ada banyak alasan yang lebih pantas untuk mati.”

Menurutku, orang yang beriman harus berdoa. Aku yakin orang-orang di desaku berdoa sebelum mati. Saat aku teringat tatapan mata mereka yang kosong dan juga kaget, aku langsung berhenti berdoa. Selera makanku pun langsung hilang.

“Makan,” kata Lord Otori ketus. â€Aku tidak mau menggendongmu sampai di Hagi.” Aku memaksakan diri untuk makan agar dia tidak membenciku. Setelah makan, dia menyuruhku mengatakan pada istri penjaga penginapan untuk membentangkan alas tidur kami. Aku merasa tidak nyaman ketika memberi perintah pada wanita itu, bukan saja karena aku merasa dia akan tertawa lalu bertanya apakah tanganku sudah tidak berfungsi lagi, tetapi juga karena ada sesuatu yang terjadi pada suaraku. Suaraku hilang, seakan-akan Iidahku terlalu lemah untuk mengungkapkan apa yang telah kulihat. Tapi, begitu pelayan itu mengerti maksudku, dia langsung membungkuk, seperti yang dia lakukan pada Lord Otori, dan langsung ke kamar untuk melakukan apa yang aku minta.

Lord Otori berbaring sambil memejamkan mata. Dia langsung tertidur.

Aku tidak bisa tidur. Pikiranku kacau, terguncang dan letih. Tanganku yang terbakar gemetar dan aku mendengar suara-suara yang ada di sekitarku dengan sangat jelas-aku dapat mendengar percakapan yang ada di dapur, setiap bunyi yang berasal dari kota. Berulangkali pikiranku kembali ke ibu dan adik-adik kecilku. Aku meyakinkan diriku bahwa aku tidak melihat mayat mereka, sehingga mungkin saja mereka selamat; mereka pasti selamat. Semua penduduk desa sayang kepada ibuku.

Dia tak akan dibunuh. Meskipun lahir di Hidden, ibuku bukan orang yang fanatik.

Dia selalu menyalakan dupa di kuil dan membawa persembahan bagi dewa gunung.

Tentu saja ibuku, yang memiliki raut wajah yang lebar dan tangan yang kasar serta kulit yang berwarna madu, masih hidup. Dia tidak mungkin terbaring dengan tatapan mata yang kosong dan terkejut, dan adik-adikku di sisinya!

Air mataku merebak. Aku membenamkan wajah ke kasur dan berusaha menghapus air mata. Aku tak kuasa menahan pundak yang bergetar atau napasku yang menderu karena menangis. Lalu aku merasa ada tangan di pundakku dan Lord Otori berkata perlahan, “Kematian datang tiba-tiba, dan hidup juga singkat. Tidak ada yang bisa mengubahnya, tidak dengan doa atau pun mantra. Anak-anak boleh menangis, tapi laki-laki tak akan menangis. Seorang laki-laki harus bisa menahan tangisnya.”

Suaranya tertahan saat mengucapkan kalimat yang terakhir. Lord Otori pun nampak sedih seperti diriku. Dia meneteskan air mata, meskipun wajahnya mengeras. Aku tahu siapa yang kutangisi, namun aku tidak berani bertanya siapa yang dia tangisi.

Aku pasti tertidur, karena aku bermimpi sedang di rumah, makan malam dengan memakai mangkuk kesayanganku. Di dalam sup yang sedang kumakan tampak ketam hitam, namun kemudian ketam itu melompat dan lari ke hutan. Aku mengejarnya, tapi sesudah itu aku tak tahu di mana aku berada. Aku berusaha berteriak “Aku tersesat!” namun ketam itu telah mencuri suaraku.

Aku terbangun dari tidur karena Lord Otori mengguncang pundakku.

“Bangunlah!”

Hujan telah reda. Sinar matahari menyadarkan aku bahwa hari telah siang.

Ruangan ini tampak tertutup dan lembab. Bau kecut keluar dari tikar jerami yang kami gunakan sebagai alas tidur.

“Aku tak ingin dikejar Iida dengan ratusan prajuritiiya hanya karena seorang bocah yang membuat dia terjatuh dari kuda,” gerutu Lord Otori, “Kita harus segera berangkat.”

Aku tidak berkata apa-apa. Pakaianku yang telah dicuci dan sudah kering tergeletak di lantai. Aku memakai pakaian itu tanpa bersuara.

“Meskipun kau berani pada Iida Sadamu, tapi kau takut bicara padaku…”

Aku tidak takut—aku hanya segan. Bagiku dia adalah malaikat atau roh hutan atau pahlawan dari masa lalu yang muncul dan membawaku ke dalam perlindungannya. Aku hampir tidak dapat menggambarkan penampilannya karena aku tidak berani menatapnya secara langsung. Ketika mencuri pandang, aku melihat wajahnya yang tenang—tidak keras, tapi kurang ekspresif. Umurnya mungkin tiga puluh tahun atau sedikit lebih muda, tidak terlalu tinggi, dan berbahu lebar.

Tangannya berkulit terang, hampir putih, dan dihiasi dengan jari yang kuat dan panjang, jari-jari itu seperti mengikuti lekukan gagang pedang.

Saat ini, jari-jari itu sedang mengangkat pedang dari atas tikar. Mengingat pedang itu telah menyentuh daging dan darah manusia, aku langsung merasa takut dan juga terpesona.

“Jato,” kata Lord Otori ketika melihat aku memperhatikan pedangnya. Dia tertawa dan memasukkan pedang itu ke sarungnya yang hitam lusuh. “Pedang ini memiliki busana perjalanan, seperti aku saat ini. Di tempatku, aku dan pedang ini memakai pakaian yang anggun!”

Jato, aku mengulangi nama pedang itu di dalam hati. Pedang ular yang telah mencabut nyawa orang demi menyelamatkan hidupku.

Kami melanjutkan perjalanan melewati sumber air panas Hinode yang berbau belerang, lalu kami mendaki gunung. Pemandangan sawah kini telah berganti dengan rumpun bambu, mirip yang ada di sekitar desaku; lalu nampak pohon chestnut, pohon maple, dan pohon cedar. Hutan ini terasa hangat, meskipun tidak tertembus sinar matahari karena sangat lebat. Dua kali aku melihat ular di jalan, yang satu ular hitam kecil yang berbisa, sedangkan ular yang kedua lebih besar dan berwarna seperti teh. Ular itu melingkar bak cincin, lalu melompat ke semak-semak seakan-akan tahu akan ditebas Jato jika tak segera menyingkir. Terdengar nyanyian jangkrik yang melengking, dan serangga min-min yang mengerang seakan kepalanya akan pecah.

Kami berjalan dengan cepat meskipun udara sangat panas. Terkadang Lord Otori mendahuluiku dan aku akan berusaha mendaki seolah-olah aku berjalan sendiri. Aku hanya bisa mendengar langkah kakinya di depan, dan aku berhasil menyusulnya di atas puncak. Dari puncak bukit ini kami dapat melihat hutan dan gunung yang terbentang.

Dia mengenal jalan di wilayah liar ini. Kami berjalan berhari-hari dan hanya tidur sebentar di malam hari, kadang menginap di rumah petani yang terpencil, ladang di gubuk kosong. Kami hanya berhenti ketika bertemu orang: seorang penebang pohon, dua gadis yang sedang mengumpulkan jamur dan langsung lari begitu melihat kami, serta seorang biarawan dalam perjalanan menuju kuil. Setelah beberapa hari melintasi punggung wilayah ini, masih ada beberapa lereng bukit yang harus didaki, meskipun lebih banyak jalan menurun. Laut mulai tampak jelas, awalnya hanya seperti kilauan, tapi kemudian terlihat seperti sutra. Pulau-pulau nampak seperti bukit yang tenggelam. Belum pernah aku melihat pemandangan seperti ini, dan tiada henti aku pandangi. Kadang laut itu nampak seperti tembok tinggi yang rubuh dan menutupi daratan.

Luka bakar di tanganku mulai sembuh dengan meninggalkan warna keperakan yang melintang di telapak tangan kananku.

Akhirnya kami berhenti di suatu tempat yang hanya pantas disebut kota kecil.

Letaknya di jalan utama atara Inuyama dan tepi pantai. Di kota ini ada banyak penginapan dan rumah makan. Kota ini masuk dalam wilayah Tohan sehingga lambang daun oak berhelai tiga ada di mana-mana. Ini membuatku takut keluar dari penginapan. Aku dapat merasakan kalau orang-orang di penginapan ini telah mengenal Lord Otori. Penghormatan mereka terkesan dalam, sesuatu kesetiaan lama yang harus dirahasiakan. Mereka memperlakukan aku dengan penuh kasih sayang, meskipun aku hanya diam. Sudah beberapa hari aku tidak bicara, tidak juga pada Lord Otori. Nampaknya hal ini tidak mengganggunya. Dia sangat pendiam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Kadang aku mencuri pandang padanya dan ternyata dia sedang melihatku dengan tatapan belas kasih. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi dia hanya bersungut-sungut, “Tidak apa-apa, banyak hal yang tidak dapat dihindari.”

Pelayan di sini senang bergosip dan aku sering mendengarnya. Mereka tertarik pada seorang wanita yang datang menginap sehari sebelumnya. Mungkin wanita itu ke Inuyama untuk menemui Lord Iida. Dia hanya ditemani beberapa pelayan, dan bukan suami, saudara atau ayahnya. Menurutnya, wanita itu berumur tiga puluh tahun, sangat cantik, baik dan juga sopan pada semua orang, tapi-dia mengembara sendiri! Sungguh misterius! Juril masak mengaku kalau dia tahu tentang wanita itu.

Menurutnya, wanita itu baru saja menjanda dan akan menemui anaknya di Inuyama, tapi kepala pelayan menganggap kalau si juru masak hanya membual. Menurut dia, wanita itu belum mempunyai anak, belum menikah. Penjaga kuda, dengan mulut penuh makanan menceritakan apa yang dia dengar dari pembawa tandu bahwa wanita itu mempunyai dua orang anak, anak laki-lakinya telah meninggal sedangkan anak gadisnya kini ditawan di Inuyama.

Para pelayan menarik napas panjang dan bergumam bahwa kekayaan dan status tinggi pun tidak mampu terhindar dari takdir, dan si penjaga kuda itu melanjutkan, “Beruntung sekali anak gadisnya masih hidup karena klan Maruyama dipimpin oleh wanita.”

Berita ini membuatku ingin tahu lebih banyak tentang Lady Maruyama, satu-satunya wilayah yang diatur oleh wanita, bukan laki-laki.

“Tidak heran dia berani mengembara sendiri,” kata si juru masak.

Terlena oleh keberhasilannya mengungkap tentang Lady Maruyama, si penjaga kuda melanjutkan, “Tapi Lord Iida menganggap itu sebagai suatu penghinaan. Dia berusaha mengambil alih wilayah Lady Maruyama, baik melalui kekuatan atau, seperti orang bilang, dengan menikahi wanita itu.”

Juru masak menjewer telinga orang itu, “Hati-hati kalau bicara! Mungkin saja ada yang mendengar!”

“Dulu kita adalah kaum Otori, dan kelak kita akan menjadi orang Otori,” sungut si penjaga kuda.

Kepala pelayan melihat aku berdiri di pintu, dan memberi tanda untuk masuk,

“Ke mana tujuanmu? Kau pasti telah menempuh perjalanan jauh!”

Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala. Seorang pelayan datang menyentuhku dan berkata, “Dia tidak mau bicara. Kau malu, ya?”

“Mengapa?” tanya si juru masak. “Apakah ada yang melempar kotoran ke mulutmu?”

Mereka mengolok-olokku, tapi tidak kasar, dan saat pelayan itu kembali, dia datang bersama seorang lakilaki vang aku duga sebagai salah seorang nelavan Lady Maruyama. Dia memakai jaket bersimbol puncak gunung yang dikelilingi lingkaran.

Dia berkata padaku dengan sopan, “Tuanku ingin bertemu denganmu!”

Aku ragu untuk menerima ajakannya. Tapi wajahnya nampak tulus dan aku juga ingin melihat wanita misterius itu sehingga aku memutuskan untuk ikut dengannya. Kami melewati koridor yang panjang, lalu taman yang di kelilingi tembok. Dia melangkah ke beranda dan berlutut di pintu. Dia berbicara singkat, lalu berbalik ke arahku dan memberi tanda agar aku segera masuk.

Seteiah memandangnya sekilas, aku berlutut dan menundukkan kepala hingga menyentuh lantai. Aku merasakan kehadiran seorang ratu. Rambutnya yang hitam lembut menyentuh lantai dalam satu sapuan panjang. Kulitnya seputih salju.

Kimononya berwarna krem gelap, gading, dan abu-abu lembut serta dihiasi bordir berwarna merah dan juga merah muda. Dia tenang seperti sungai di gunung, namun tiba-tiba bayangan tentang ketenangannya itu berubah menjadi seperti Jato, pedang ular dari baja yang tajam.

“Mereka mengatakan kau tidak bisa bicara,” dia berkata. Suaranya sebening dan sejelas air.

Aku merasa ada pandangan iba di matanya, dan darah berdesir di wajahku.

“Kau boleh bicara padaku,” lanjutnya. Dia meraih tanganku dan jarinya menggambarkan simbol Hidden di telapak tanganku. Apa yang dia lakukan membuatku tersentak, aku seperti tersengat jelatang. Aku tak mampu menarik tanganku.

“Ceritakan padaku apa yang telah kau lihat,” dia berkata, kelembutan suaranya tidak berkurang meskipun nada bicaranya memaksa. Ketika aku masih juga tidak menjawab, dia berkata, “Pasti karena ulah Iida Sadamu, kan?”

Tanpa sadar aku memandangnya. Dia tersenyum tanpa rasa senang.

“Dan kau orang Hidden,” tambahnya.

Lord Otori telah memperingatkanku untuk menyembunyikan jati diriku yang sebenarnya. Kupikir aku telah mengubur masa laluku bersama namaku, Tomasu.

Tapi di hadapan wanita ini, aku merasa tak kuasa menghindar. Hampir saja aku menganggukkan kepala, ketika aku mendengar langkah Lord Otori melintasi taman.

Aku mengenal langkah kakinya, dan aku tahu ada yang datang bersamanya, seorang wanita dan laki-laki yang tadi bicara padaku. Kemudian aku sadar bila memperhatikan, aku bisa mendengar semua suara di penginapan ini. Aku bisa mendengar penjaga kuda yang berdiri dan pergi dari dapur. Aku bisa mendengar gosip di antara pelayan dan aku bisa tahu siapa yang bicara hanya dari suaranya. Pendengaranku semakin tajam sejak aku tak bisa bersuara dan kini semua suara berdengung di telingaku. Semua bunyi dan suara membuat kepalaku sakit. Aku bertanya-tanya, apakah wanita di depanku ini adalah penyihir yang hendak menyihirku. Aku tak berani membohonginya, tapi aku tidak mampu bicara.

Aku tertolong oleh kedatangan seorang wanita, dia masuk ke dalam ruangan kemudian berlutut dan berbicara perlahan pada Lady Maruyama, “Tuannya sedang mencari anak itu.”

“Suruh dia masuk,” balas sang Lady, “Dan, Sachie, maukah kau menyiapkan jamuan minum teh?”

Lord Otori masuk, dia dan Lady Maruyama bertukar salam dengan membungkuk. Mereka berbicara dengan sopan layaknya orang asing, sang Lady tak menyebut namanya, tapi aku rasa mereka telah saling mengenal. “Pelayan mengatakan bahwa kau mengembara bersama seorang bocah,” katanya. “Aku ingin melihatnya.”

“Ya, aku membawanya dari Hagi. Hanya dia yang selamat. Aku tak akan menyerahkan dia pada Sadamu.” Lord Shigeru tampak seperti tidak ingin melanjutkan ucapannya lagi, tapi kemudian dia menambahkan, “Aku namakan dia Takeo.”

Lady Maruyama tersenyum—sekali ini dia benar-benar tersenyum. “Aku senang,” katanya, “Wajahnya memang mirip.”

“Benarkah? Aku sependapat denganmu.”

Sachie datang dengan membawa nampan, ketel teh, dan sebuah mangkuk.

Meskipun dalam keadaan membungkuk, aku dapat melihat Sachie meletakkan perlengkapan itu di atas karpet. Mangkuk itu memantulkan warna hijau hutan dan biru awan.

“Suatu saat kalian akan mengunjungi rumah teh milik nenekku di Maruyama,” ujar sang Lady. “Di sana kalian akan disambut dengan upacara jamuan teh yang layak. Tapi saat ini kami hanya dapat menyediakan seadanya.”

Bau manis kepahit-pahitan tercium saat sang Lady menuangkan air panas ke mangkuk. “Duduklah, Takeo,” katanya.

Setelah mengaduk teh hingga berbuih hijau, dia lalu berikan kepada Lord Otori yang menerima dengan dua tangan, memutarnya tiga kali lalu meminumnya. Setelah membersihkan bibir mangkuk dengan ibu jarinya, dia mengembalikan kepada Lady sambil membungkuk. Sang lady mengisi lagi mangkuk dan dia berikan kepadaku.

Aku meniru semua gerakan Lord Otori dengan hati-hati, mendekatkan mangkuk ke bibirku dan meminum cairan berbuih ini. Rasanya pahit, tapi dapat menjernihkan pikiran. Teh ini membuatku agak tenang. Belum pernah aku minum teh seperti ini di Mino, teh kami terbuat dari tumbuhan pegunungan. Kubersihkan mangkuknya, lalu kuberikan pada Lady Maruyama sambil memberi hormat dengan kaku. Aku takut Lord Otori sedang memperhatikan dan malu

karenanya, tapi saat melirik, aku melihat mata Lord Otori sedang terpaku pada sang Lady.

Lady Maruyama meminum tehnya. Kami duduk dalam keheningan. Seperti ada sesuatu yang sakral di ruangan ini, seolah-olah kami sedang melakukan ritual makan di Hidden. Aku merasa seperti berada di rumah bersama keluargaku, keluargaku yang dulu. Mataku terasa panas, tapi tak akan kubiarkan diriku menangis. Aku akan belajar untuk bertahan.

Masih terasa goresan jari-jari Lady Maruyama di telapak tanganku.

Penginapan ini lebih besar dan lebih mewah dari yang pernah kami singgahi, dan makanannya pun berbeda. Kami makan belut dengan saus pedas, dan ikan manis dari tambak, dan nasinya lebih putih dibandingkan nasi yang kami makan di Mino.

Sangat beruntung bila kami bisa makan nasi tiga kali sehari di desaku. Inilah untuk pertama kalinya aku minum sake. Lord Otori nampak bersemangat “mengawang-awang” itu istilah yang ibuku berikan—dan kesedihan telah lenyap dari wajahnya, sake ini juga telah menularkan sihirnya padaku.

Setelah selesai makan, dia menyuruhku tidur: dia masih hendak jalan jalan untuk menjernihkan pikiran. Pelayan datang menyiapkan kamar. Aku berbaring dan mendengar suara-suara di malam hari. Entah belut atau sake yang membuatku sulit tidur. Setiap ada suara dan bunyi di kejauhan, aku langsung terjaga. Aku mendengar anjing menggonggong di kota, pertama hanya seekor kemudian anjing yang lainnya ikut meramaikan. Setelah beberapa saat, aku mulai bisa membedakan setiap suara.

Aku memikirkan tentang anjing yang bisa tidur dengan telinga yang terus bergerak-gerak namun hanya bunyi tertentu yang akan membuatnya terjaga. Aku harus belajar seperti anjing atau aku tak akan bisa tidur lagi.

Aku terbangun ketika terdengar bunyi lonceng kuil tanda malam telah larut. Aku pergi ke kamar mandi. Bunyi air seniku terdengar seperti air terjun. Kutuangkan air dari wadah air ke telapak tanganku dan berdiri sebentar, mendengarkan.

Malam yang begitu tenang, bulan purnama di bulan kedelapan bercahaya lembut. Penginapan sunyi: semua orang telah tidur. Kodok sedang bernyanyi riang di Sungai dan sawah, dan sekali atau dua kali terdengar burung hantu bernyanyi. Ketika berjalan ke beranda aku mendengar suara Lord Otori. Sejenak aku mengira dia kekamar dan berbicara padaku, tapi kemudian ada suara yang membalasnya. Suara Lady Maruyama.

Tidak sepantasnya aku mendengarkan percakapan berbisik mereka yang tidak mungkin orang lain bisa dengar. Aku berjalan ke kamar, menggeser pintu agar tertutup, lalu aku berbaring sambil berharap bisa segera tidur. Tapi pembicaraan mereka tidak mampu kuhindari, dan setiap kata dapat kudengar dengan jelas.

Mereka berbincang tentang kisah-kasih mereka, tentang pertemuan mereka yang sebelumnya, dan juga rencana mereka di masa depan. Banyak perkataan tertahan dan singkat, dan banyak juga yang tidak aku mengerti. Aku menangkap bahwa Lady dalam perjalanan ke ibukota untuk mengunjungi anak gadisnya, dan dia takut dipaksa menerima lamaran Iida yang kesekian kalinya. Istri Iida sedang sakit dan diperkirakan tidak lama lagi akan meninggal. Satu-satunya anak laki-laki Iida, yang juga sakit, telah membuatnya kecewa.

“Kau tidak boleh menikah selain denganku,” bisik Lord Otori, dan Lady Maruyama membalas, “Hanya itu yang kuinginkan. Kau tahu itu.” Sang Lord pun bersumpah tak akan menikah atau tidur dengan wanita lain, selain dengan Lady Maruyama, dan dia menyebut beberapa strateginya, tapi dia tidak mengatakan secara terperinci. Aku mendengar dia menyebut namaku dan kurasa dia melibatkan diriku dalam rencananya. Aku tahu ada permusuhan antara Lord Otori dan Iida, semua kembali ke masa lalu saat terjadi pertempuran di Yaegahara.

“Kita akan mati di hari yang sama,” kata Lord Otori, “Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu.”

Kini bisikan mereka berubah menjadi suara gairah antara laki-laki dan wanita.

Aku menutup kedua telingaku dengan jari. Aku mengerti tentang gairah, tapi aku tak tahu apa pun tentang cinta. Aku bersumpah tak akan mengatakan apa yang kudengar. Akan kujaga rahasia ini layaknya seorang Hidden menjaga rahasia mereka.

Aku bersyukur tak bisa bicara.

Keesokan harinya aku tidak bertemu sang Lady lagi. Kami melanjutkan perjalanan tidak lama setelah matahari terbit. Pelayan penginapan membekali kami dengan teh, nasi, dan sop, salah seorang di antara mereka bahkan menyiapkan makanan sambil menguap, dia lalu meminta maaf kepadaku dan tertawa. Dia adalah wanita yang menyentuh lenganku kemarin, dan ketika kami hendak berangkat, dia menangis, “Selamat jalan, tuan muda! Selamat berkelana! Jangan lupakan kami!”

Ingin rasanya aku menginap semalam lagi. Lord Otori tertawa, menggodaku dan berkata kalau dia terpaksa harus melindungiku dari para wanita di Hagi. Meskipun tidak tidur semalaman, tetapi dia tetap bersemangat. Dia melangkah dengan penuh semangat. Saat diperjalanan, aku mengira kami akan melewati pos perbatasan di Yamagata, ternyata kami keluar dari kota, mcngikuti sungai yang lebih kecil dari sungai yang mengalir di sisi jalan utama. Sungai kecil itu mengalir deras dan kemudian menyempit di antara bebatuan. Sekali lagi kami mendaki gunung.

Kami dibekali cukup makanan untuk beberapa hari, sekali waktu kami berada jauh di luar desa yang terletak di tepi sungai, dan tidak bertemu seorang pun. Jalan yang kami lalui sempit, sunyi, dan terjal. Saat sampai di puncak gunung, kami berhenti lalu makan. Hari menjelang senja, matahari membiasi bayangan di dataran yang telah kami lalui. Deretan gunung di timur kini berwarna nila dan abu-abu.

“Itulah ibukota”, ujar Lord Otori, mengikuti pandanganku.

Aku mengira yang dia maksud adalah Inuyama, Sehingga aku menjadi bingung.

Melihat aku bingung, dia melanjutkan, “Bukan, itu adalah ibukota yang sebenarnya—tempat Kaisar memerintah. Tempatnya lebih jauh dari gunung yang paling jauh itu. Inuyama terletak di tenggara.” Dia menunjuk ke arah kami datang.

“Karena kita jauh dari ibukota dan kekuasaan Kaisar sangat lemah, sehingga bangsawan yang gemar berperang seperti Iida bisa berbuat sesuka hatinya.” Semangat Lord Otori lenyap lagi. “Dan di bawah kita adalah tempat kekalahan terburuk Otori yang menewaskan ayahku. Itu adalah Yaegahara. Otori dikhianati Noguchi yang membelot pada Iida. Lebih dari sepuluh ribu orang tewas.” Dia memandangku, “Aku tahu rasanya melihat orang-orang yang terdekat meninggal. Saat itu usiaku tidak lebih tua darimu.”

Aku menatap nanar dataran kosong itu. Tak bisa kubayangkan pertempuran macam apa yang terjadi. Terbayang darah sepuluh ribu orang menodai bumi Yaega-hara. Dalam kabut yang lembab, cahaya matahari berubah merah seolah membiaskan darah dari dataran. Seekor elang terbang berputar-putar di atas lembah, seakan memanggil dengan penuh duka.

“Aku tak ingin ke Yamagata,” kata Lord Otori saat kami menuruni jalan setapak.

“Karena di sana aku akan mudah dikenali, dan juga karena ada beberapa alasan lain. Kelak akan kukatakan padamu. Malam ini kita terpaksa tidur di luar, berbantalkan rumput karena tak ada kota di dekat sini. Esok kita akan menyeberangi perbatasan melalui rute rahasia, dan itu berarti kita sudah tiba di wilayah Otori, selamat dari jangkauan Sadamu.”

Aku tak ingin menginap di dataran yang sunyi ini. Aku takut saat membayangkan ada sepuluh ribu hantu dan monster serta peri yang menjadi penunggu hutan ini. Arus sungai terdengar seperti suara roh. Setiap kali ada lolongan serigala atau teriakan burung hantu, aku langsung terjaga, denyut nadiku berpacu. Terkadang terasa bergetar seperti ada gempa, pohon-pohon berdesir dan bebatuan berhamburan nun jauh di dataran ini. Aku seperti mendengar jerit kematian, teriakan pembalasan. Aku mencoba berdoa, namun yang kurasakan hanyalah kehampaan.

Tuhan kaum Hidden telah lenyap bersama keluargaku. Terpisah dari keluarga membuat hubunganku dengan tuhan terputus.

Di sampingku, Lord Otori tertidur dengan damai seakan-akan dia sedang tidur di kamar penginapan. Meskipun begitu aku tahu dia lebih waspada dariku. Aku ragu sekaligus takut tentang dunia yang kini aku masuki—dunia yang belum aku kenal, dunia para klan, dengan aturan yang ketat dan hukuman yang kejam. Aku masuk ke dunia ini hanya dengan berbekal orang ini, seorang bangsawan yang memenggal kepala orang di depan mataku, dan dialah yang kini memiliki diriku. Aku menggigil dalam kabut udara malam yang dingin.

Kami bangun sebelum fajar dan, ketika langit berubah menjadi keabuan, kami telah menyeberangi sungai yang menjadi batas wilayah Otori.

Setelah perang Yaegahara, klan Otori yang sebelumnya menguasai wilayah tengah dipaksa mundur oleh Tohan sehingga wilayah Otori menyempit hanya antara gugusan gunung dan laut di utara. Di pos utama perbatasan, para prajurit Iida selalu berjaga-jaga, tapi di daerah terpencil seperti ini ada banyak tempat untuk menyelinap. Sebagian besar petani dan buruh di daerah ini menganggap diri mereka anggota klan Otori. Mereka tidak menyukai Tohan. Lord Otori mengatakan ini ketika kami berjalan hari itu. Dia juga bercerita tentang daerahnya, menjelaskan berbagai metoda pertanian, cara membangun waduk untuk irigasi, cara membuat jaring ikan, dan cara mengekstrak garam dari laut. Dia tertarik pada segala hal dan tahu segalanya. Tak lama kemudian, kami melewati jalan besar yang penuh dengan kesibukan. Para petani membawa hasil panen berupa umbi-umbian, sayuran, telur, jamur, akar teratai, dan juga bambu untuk dijual ke desa tetangga. Kami berhenti di pasar untuk membeli sandal karena sandal yang kami pakai sudah hancur.

Ketika kami sampai di penginapan, semua orang mengenal Lord Otori. Mereka berlari menghampiri dan menyalaminya sambil berseru sukacita. Mereka menyembah pada Lord Otori. Kamar terbaik pun disiapkan, dan makan malam lezat disajikan.

Kini dia nampak seperti orang yang berbeda. Aku tahu kalau dia memiliki status yang tinggi, berasal dari klas ksatria, tapi tetap saja aku tidak tahu siapa dia atau apa posisinya dalam klan. Tapi sudah pasti posisinya tinggi. Ini membuatku malu. Aku merasa seakan-akan semua orang memandangku dari ujung rambut hingga ujung kuku sambil bertanya-tanya apa yang sedang aku lakukan, mereka seperti ingin mengusirku jauh-jauh.

Pagi itu, Lord Otori memakai pakaian yang sesuai dengan statusnya; kuda telah menanti, dan juga empat atau lima pelayan laki-laki. Mereka agak meringis saat mengetahui kalau aku tidak tahu sedikit pun soal kuda, dan mereka agak kaget ketika Lord Otori menyuruhku berjalan di belakang kudanya, walaupun mereka tidak berani membantah. Berkali-kali mereka mengajakku bicara—mereka menanyakan asal dan namaku—tapi karena aku selalu membisu, mereka lalu menganggapku idiot, dan juga tuli. Mereka lalu berbicara dengan suara kencang serta kata-kata yang sederhana sambil menggunakan bahasa tubuh.

Aku tidak terlalu peduli kalau harus berlari kecil mengikuti kuda Lord Otori. Satu-satunya kuda yang pernah dekat denganku adalah kuda Lord Iida dan kurasa semua kuda marah padaku karena aku pernah membuat teman mereka menderita. Aku terus bertanya-tanya, apa yang akan kulakukan di Hagi. Aku membayangkan akan dijadikan pelayan, tukang kebun atau bertugas mengurusi kuda. Namun ternyata Lord Otori inemiliki rencana lain.

Pada sore hari ketiga setelah kami bermalam di Yaegahara, kami tiba di ibukota Hagi, sebuah kota kecil tempat kastil Otori berada. Kastil itu dibangun di pulau yang dikelilingi laut dan dua sungai. Ada jembatan batu yang menghubungkan daratan dengan kastil. Jembatan yang sangat panjang, jembatan itu memiliki empat tiang penyangga dari batu yang tersusun rapi. Kurasa jembatan ini dibangun dengan sihir, dan saat kuda melangkah ke jembatan, aku memejamkan mata. Gemuruh sungai seperti bunyi guntur di telingaku, dan di kejauhan aku mendengar sesuatu yang berbeda—sesuatu yang membuatku gemetar.

Saat di tengah jembatan, Lord Otori memanggilku. Aku menyalip dari belakang kuda ke tempat dia berhenti. Ada batu besar yang disusun seperti dinding. Di batu itu terukir tulisan.

“Kau bisa baca, Takeo?”

Aku menggelengkan kepala.

“Sungguh malang nasibmu. Kau harus belajar!” Dia tertawa. “Dan kurasa gurumu akan membuatmu menderita! Kau pasti akan menyesal telah meninggalkan kehidupan liarmu di gunung.”

Dia membacakan tulisan itu dengan lantang, “Klan Otori menjunjung tinggi keadilan dan kesetiaan. Ketidakadilan dan pengkhianatan harus berhati-hati.” Di bawah tulisan itu tergambar lambang burung bangau.

Aku terus berjalan di samping kudanya hingga tiba di ujung jembatan. “Orang yang membangun jembatan ini dikubur hidup-hidup di bawah batu besar itu,” kata Lord Otori tanpa ekspresi, `Agar dia tidak bisa membuat jembatan yang seperti ini lagi, dan dia pun bisa menjaga jembatan ini selamanya. Kau dapat mendengar arwahnya berbicara dengan sungai di malam hari.”

Membayangkan ada hantu yang sedih terpenjara di bangunan indah yang dia bangun sendiri membuat aku merinding. Tapi begitu sampai di kota tempat kastil klan Otori, suara kematian berganti dengan hiruk-pikuk suara kehidupan.

Hagi adalah kota besar pertama yang pernah aku kunjungi. Bagiku kota ini tidak berujung dan sangat memusingkan. Kepalaku penuh dengan berbagai suara: teriakan para pedagang jalanan, bunyi mesin tenun dari dalam rumah yang sempit, tukang batu yang sedang mcnempa, geraman suara gergaji, dan banyak lagi bunyi yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Jalanan penuh dengan kuli. Bau tanah lempung dan tempat pembakaran menusuk hidung. Inilah pertama kali aku mcndengar bunyi gerobak atau gemuruh bunyi tungku iulcang besi. Sayup-sayup aku juga mendengar percaIwpan, caci-maki dan tawa, dan tidak ketinggalan, bau husuk sampah yang selalu hadir.

Di kejauhan terlihat kastil yang dibangun memhelakangi lautan. Aku mengira kastil itu yang menjadi tujuan kami, dan semangatku langsung lenyap melihat I:esuramannya. Tapi ternyata kami memutar ke arah timur, mengikuti sungai Nishigawa yang bermuara di Higashigawa. Di sebelah kiri kami terbentang wilayah yang ada jalan berliku serta kanal yang dikelilingi sejumlah rumah besar. Matahari bersembunyi di balik awan gelap dan kini mulai tercium bau hujan. Langkah kuda kian cepat, seakan tahu kalau kami hampir sampai di tujuan. Di ujung jalan, ada sebuah gerbang besar terbuka. Beberapa pengawal keluar dari pos jaga lalu berlutut, membungkuk saat kami lewat.

Kuda Lord Otori merendahkan kepala dan menggosok-gosokkan moncongnya padaku dengan kasar. Kemudian kuda itu meringkik dan kuda lain yang di ada istal membalasnya. Aku pegang tali kekang kuda itu, dan Lord Otori turun. Seorang pelayan laki-laki segera mengambil tali kekang semua kuda yang menyertai perjalanan kami lalu menggiring mereka. Lord Otori melangkah melewati taman ke arah sebuah rumah. Aku berdiri diam selama beberapa saat, ragu, tidak tahu harus mengikutinya atau mengikuti para pelayan, tapi ternyata dia berbalik dan memanggilku, melambaikan tangannya kepadaku.

Ada sebuah taman yang dipenuhi dengan pohon dan tanaman yang berdiri dengan tenang dan berderet rapi, berbeda sekali dengan pohon-pohon di gunung yang tumbuh padat dan sesak. Aku merasa seolah-olah sebuah gunung ditangkap dan dibawa ke tempat ini dalam bentuk miniatur.

Taman ini penuh dengan bunyi-bunyian-riak air yang mengalir melalui bebatuan dan juga dari saluran air. Aku dan Lord Otori berhenti, mencuci tangan di pancuran. Gemericik air mengalir mirip bunyi lonceng yang mempesona.

Para pelayan rumah telah berdiri di beranda untuk menyambut. Aku kaget karena pelayan di rumah ini tidak banyak, namun kelak aku tahu bahwa Lord Otori memang hidup sederhana. Pelayannya hanya ada tiga orang wanita muda, seorang wanita agak tua, dan satu orang laki-laki yang umurnya sekitar lima puluh tahun. Setelah membungkuk hormat, ketiga pelayan itu langsung menarik diri, sedangkan kedua orang itu menatapku dengan takjub, hampir tidak bisa disembunyikan.

“Dia mirip sekali…” bisik wanita itu.

“Luar biasa!” ujar laki-laki tua itu sepakat sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Lord Otori tersenyum sambil melepas sandal lalu masuk ke rumah. “Aku bertemu dengannya saat hari telah gelap. Aku tidak menyadarinya hingga keesokan paginya. Ini hanyalah kebetulan.”

“Tidak, tapi lebih dari itu,” kata wanita tua itu sambil menuntunku masuk ke dalam rumah. “Dia mirip sekali,” sambungnya. Laki-laki yang menyambut di luar menatapku dengan bibir terkatup seolah-olah ldahnya tergigit saat mengunyah acar plum—dari tatapannya seolah-olah dia mengatakan kalau aku hanya akan membawa masalah.

“Oh ya, aku memanggilnya Takeo,” kata Lord dari balik pundak orang tua itu.

“Panaskan air untuk dia mandi dan carikan pakaian untuknya.” perintah Lord.

Orang tua itu menggerutu dalam kekagetannya.

“Takeo!” seru wanita itu. “Siapa nama aslimu?”

Melihat aku hanya mengangkat bahu dan tersenyum, laki-laki itu berkata tajam, “Dia dungu!”

“Tidak, dia bisa berbicara dengan sempurna,” balas Lord Otori dengan nada tidak sabar. “Dia pernah berbicara kepadaku. Tapi ada kejadian mengerikan yang membuat dia tidak bisa bicara. Kelak dia pasti bisa bicara lagi.”

“Tentu saja,” ujar wanita itu sambil tersenyum dan mengangguk ke arahku, “Ayo ikut denganku. Aku akan mengurusmu.”

“Maaf, Lord Shigeru,” ujar laki-laki tua dengan sikap yang keras kepala—kurasa kedua orang ini telah mengenal Lord Shigeru sejak kecil dan mereka yang telah merawatnya hingga besar—”Apa rencanamu pada anak ini? Dia akan bekerja di dapur atau di taman? Apa keahliannya?”

“Aku hendak mengangkatnya menjadi anakku,” balas Lord Otori. “Urus prosedurnya besok, Ichiro.”

Suasana hening. Ichiro keheranan. Chiyo berusaha untuk tidak tersenyum. Kemudian Chiyo dan Ichiro berbicara secara bersamaan. Chiyo lalu bersungut-sungut meminta maaf, dan membiarkan Ichiro berbicara lebih dulu.

“Sungguh tak terduga,” ucapnya gusar. “Kau telah merencanakan semua ini?”

“Tidak, ini hanya kebetulan. Kau tahu aku sangat berduka setelah kematian adikku dan aku berusaha menutupi kesedihanku dengan pergi mengembara. Kese-dihanku berkurang sejak bertemu anak ini.”

Chiyo melipat kedua tangannya di dada dan berkata, “Takdir telah mengirimnya untukmu. Begitu lihat, aku tahu kau telah berubah—ada sesuatu yang membuatmu sembuh. Namun, tentu saja, tak ada yang bisa menggantikan Lord Takeshi…”

Takeshi! Jadi Lord Otori memberiku nama mirip nama adiknya yang telah meninggal. Dan dia hendak mengangkatku menjadi anaknya, menjadikanku keluar-ganya. Kaum Hidden percaya kalau orang dapat terlahir kembali melalui air. Tapi aku terlahir kembali melalui sebilah pedang.

“Lord Shigeru, kau melakukan kesalahan fatal,” kata Ichiro. “Dia ini bukan siapa-siapa, hanya orang biasa… bagaimana tanggapan bangsawan Otori yang lain? Pamanmu tidak akan setuju. Bahkan memintanya saja sudah dianggap penghinaan.”

“Lihat dia,” kata Lord Otori. “Siapa pun orangtuanya, pastilah bukan dari orang biasa. Lagipula aku telah menyelamatkan dia dari Tohan. Iida hendak membunuh anak itu. Karena telah menyelamatkannya, maka dia menjadi tanggung jawabku, dan berarti aku harus mengangkatnya menjadi anakku. Agar selamat dari Tohan, dia harus dalam perlindungan klan. Aku telah membunuh satu orang, mungkin dua, demi dirinya.”

“Sungguh harga yang mahal. Semoga saja tidak menambah mahal.” Kata Ichiro tajam. “Apa yang dia lakukan sehingga Iida ingin menangkapnya?”

“Dia hanya berada di tempat dan pada waktu yang salah, itu saja. Tak perlu mengutak-atik lagi sejarahnya. Anggap saja dia saudara jauh ibuku. Karang saja sesukamu!”

“Ada kabar bahwa Tohan telah membantai kaum Hidden. Jangan kau katakan kalau dia salah seorang dari kaum itu.”

“Andaikan dia dulu orang Hidden, maka kini dia bukan bagian dari mereka,” balas Lord Otori seraya bernapas panjang. “Itu masa lalu. Jangan berdebat lagi, Ichiro. Aku telah berjanji untuk melindungi anak ini, dan tak akan ada yang bisa mengubahnya. Lagipula, aku suka padanya.”

“Tak ada untungnya mengangkat dia,” sahut Ichiro.

Mereka saling berpandangan. Tangan Lord Otori membuat gerakan tak sabar, dan Ichiro menurunkan pandangannya, membungkuk hormat dengan enggan. Sungguh beruntung menjadi bangsawan—mereka bisa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan.

Angin berhembus kencang, daun jendela berderit, dan suara-suara kehidupan terdengar seperti tak nyata. Seakan-akan ada yang berbicara di kepalaku: Inilah takdirmu di masa depan. Ingin sekali aku kembali ke hari sebelum aku pergi mencari jamur di gunung— kembali pada kehidupanku bersama ibu dan orang-orang di desaku. Namun aku tahu masa kecilku adalah masa lalu dan tak akan pernah kembali. Aku harus menjadi laki-laki dan menjalani takdirku. Dengan tekad itulah aku mengikuti Chiyo ke tempat permandian. Dia memperlakukan aku seperti anak kecil, membukakan bajuku lalu menggosok sekujur tubuhku sebelum membiarkanku berendam di air panas.

Tak lama kemudian dia datang membawa kimono dari bahan katun dan menyuruhku memakainya. Aku menuruti perintahnya. Apa lagi yang dapat kulakukan? Dia mengeringkan rambutku dengan sehelai kain, dan menyisir rambutku ke belakang, lalu dia ikat dengan gaya simpul di atas.

“Rambutmu perlu di potong,” sungutnya sambil menyentuh rambutku.

“Janggutmu belum tumbuh. Berapa umurmu? Enam belas tahun?”

Aku mengangguk. Dia menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas panjang. “Lord Shigeru ingin kau makan bersamanya,” ujarnya, “Kuharap kau tidak menambah kesedihannya.”

Ichiro pasti telah menyampaikan keraguannya pada Chiyo.

Aku mengikutinya ke rumah yang lain, sambil mengamati setiap bagian bangunan ini. Hari mulai gelap; lampu memancarkan cahaya jingga di sudut ruangan, tapi masih kurang terang untuk melihat lebih banyak lagi. Chiyo mengantarku hingga ke tangga di sudut ruang utama. Rumahku di Mino juga ada tangga, tapi tidak sebagus yang ini. Kayunya yang gelap dipelitur dengan halus—mungkin dari pohon oak—dan setiap anak tangganya mengeluarkan bunyi halus ketika aku melangkah di atasnya. Tangga ini seperti dibangun dengan sihir, dan rasanya dapat kudengar suara orang yangg membuatnya.

Ruangan kosong ini sangat indah, jendelanya yang menghadap ke taman terbuka lebar. Langit mendung, rintik hujan mulai turun. Chiyo membungkuk hormat padaku—dengan sungkan—lalu berbalik pergi. Aku mendengar langkah kaki dan suaranya saat dia berbicara dengan pelayan di dapur.

Setelah aku mulai tahu tentang kastil, istana dan rumah para bangsawan, masih saja semua itu tidak bisa dibandingkan dengan pemandangan dari ruang atas di rumah Lord Otori ini di saat hari semakin gelap dan bulan purnama bersinar diiringi tetesan hujan lembut di taman. Di belakang ruangan ada pilar besar dari pohon cedar, dipelitur sehingga terlihat corak dan serat kayu nya. Tiang-tiang di ruangan ini terbuat dari kayu cedar, warnanya coklat kemerahan sehingga kontras dengan warna dinding yang putih krem. Alas lantai yang terhampar berwarna keemasan, pinggirannya dijahit secarik bahan nila lebar yang dihiasi motif bangau putih, lambang klan Otori.

Sebuah gulungan kertas perkamen bergambar seekor burung kecil tergantung di ruangan kecil, masih dalam ruangan ini. Burung itu sedang mengepakkan sayapnya yang putih kehijauan, mirip burung yang pernah kulihat di hutan. Lukisan itu begitu hidup hingga burung itu seperti akan segera terbang tinggi. Sungguh menakjubkan bahwa pelukis yang begitu hebat dapat mengenal burung biasa yang ada di pedesaan.

Terdengar langkah kaki di ruangan bawah dan aku segera duduk bersila. Dari jendela yang terbuka lebar, aku melihat seekor bangau putih abu-abu besar berdiri di kolam di taman. Paruhnya berada di dalam air dan, saat muncul, ada seekor ikan kecil yang menggelepar di paruhnya. Lalu bangau itu terbang dengan anggun.

Lord Otori datang diikuti oleh dua gadis pelayan yang membawa makanan. Dia menoleh ke arahku lalu mengangguk. Aku membungkuk sebagai tanda hormat. Dia seperti burung bangau dan aku seperti ikan kecil yang menggelepar, diambil dari duniaku dan dibawa terbang ke dunianya.

Hujan semakin deras, rumah dan taman mulai bernyanyi bersama percikan air. Curahan air dari saluran air di atap rumah membentuk arus yang mengalir dari satu kolam ke kolam lain. Setiap tetesan air yang jatuh mengalunkan nada yang berbeda. Rumah ini bernyanyi untukku sehingga aku jatuh cinta dengan nyanyiannya. Ingin aku menjadi bagian dari rumah ini. Aku akan melakukan apa saja untuk rumah ini, apa pun keinginan pemilik rumah.

Setelah melahap semua makanan dan mangkuk telah dipindahkan, kami duduk di dekat jendela yang terbuka, mengiringi malam yang semakin larut. Dalam keremangan, Lord Otori menunjuk ke ujung taman. Aku melihat riak air di parit yang berasal dari atap rumah, alirannya bergerak ke sungai besar. Sungai itu bergemuruh dalam dan pasti, warna airnya yang hijau abu-abu memenuhi saluran air bagaikan sebuah layar yang terlukis.

“Senang rasanya berada di rumah,” dia berkata dengan tenang, “Namun, sebagaimana sungai itu selalu berada di luar pintu rumah, begitu pula dunia ini. Dunia tempat kita tinggal.”

????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????
Copyright © 2009 niwaexia@hellokitty.co.id
All rights reserved.