• July 2010
    M T W T F S S
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

:¦ James Clavell – Shogun ¦:

James Clavell - Shogun - Book I - Bab 03

BAB III
Shogun

Yabu masih berendam dalam air mandi hangat itu dengan rasa percaya diri yang lebih besar dari yang pernah di milikinya selama hidup. Kapal itu telah mengungkapkan harga kekayaannya dan dengan demikian telah menjanjikan kekuasaan yang belum pernah diimpikannya.

“Aku mau semuanya dibawa ke darat besok,” ujarnya. “Simpan kembali bedil-bedil sundut itu ke dalam petinya. Tutupi dengan jala atau karung-karung supaya tersamar.”

Limaratus bedil sundut, pikirnya kegirangan. Dengan mesiu dan penembak yang lebih banyak daripada yang bisa dikumpulkan Toranaga dari propinsi kedelapannva. Ditambah dua puluh meriam dan lima ribu peluru serta amunisi yang berlimpah. Panah api dalam peti kayu. Semuanya dari kualitas Eropa terbaik. “Mura, kau yang menyediakan kuli-kuli pengangkut. Igurashi-san, aku menginginkan semua persenjataan ini, termasuk meriamnya, di istanaku di Mishima, secepatnya, secara rahasia. Kau yang bertanggung jawab.”

“Ya, Yang Mulia.” Mereka telah dijadikan penanggungjawab utama dari isi kapal itu dan setiap orang melihatnya dengan ternganga: Igurashi, si jangkung, luwes, lelaki bermata satu.

Kepala pelayannya, Zukimoto. Ajudannya, bersama-sama sepuluh penduduk desa yang bermandi keringat yang telah membuka peti kayu itu di bawah pengawasan Mura, dan pengawal pribadinya yang terdiri atas empat samurai. Yabu tahu mereka semua tak memahami keriangan hatinya apalagi keperluannya untuk menyembunyikan perasaan itu.

Bagus, pikirnya.

Ketika orang-orang Portugis pertama kali menemukan Jepang pada tahun 1542, mereka memperkenalkan bedil sundut dan mesiu. Dalam waktu delapan belas bulan orang-orang Jepang sudah bisa membuatnya diri. Kualitasnya saat itu belum sebagus kualitas buatan Eropa, namun itu tak menjadi soal karena senjata semacam itu selain dianggap barang baru, juga untuki waktu yang lama, hanya digunakan untuk berburu. Bahkan untuk maksud itu pun, anak panah dianggap lebih memadai. Lagipula, ini yang penting, bentuk peperangan bangsa Jepang hampir menyerupai ritual; orang lebih mengandalkan tangan kosong dalam perkelahian satu lawan satu, sedang pedang merupakan senjata yang paling terhormat.

Menggunakan pistol dianggap pengecut dan tidak terhormat dan sama sekali menyalahi etika samurai, bushido, yang mengharuskan samurai bertarung secara terhormat, hidup secara terhormat dan mati secara terhormat; memiliki kesetiaan abadi tanpa pamrih dan tak takut mati bahkan mencarinya dalam tugasnya; dan bangga pada namanya sendiri serta akan mempertahankannya mati-matian agar tetap tak tercela.

Selama bertahun-tahun Yabu merahasiakan pandangannya mengenai teori perang. pikirnya

kegirangan, kau dapat mengembangkannya, mengujinya dan

Akhirnya, memmbuktikan manfaatnya: limaratus samurai terpilih, dipersenjatai dengan bedil sundut, akan dilatih sebagai satu unit. Merekalah ujung tombak dari dua belas ribu pasukanmu yang konvensional, diikuti oleh dua puluh meriam yang akan digunakan pada saat-saat tertentu oleh pasukanmu yang konvensional. Juga dalam satu unit. Strategi baru bagi era baru! Pada peperangan mendatang, bedil sundut dan mesiu dapat menentukan! Bagaimana dengan bushido? Arwah-arwah nenek moyangnya selalu menanyakan hal itu kepadanya.

Bagaimana dengan bushido? Dia selalu menanyakannya kembali pada mereka.

Semua itu tak pernah terjawab.

Tak pernah terlintas dalam angan-angannya yang paling gila sekalipun bahwa dia akan sanggup membeli lima ratus bedil sundut sekaligus. Tapi kini dia memikinya tanpa membeli dan hanya dia sendiri yang dapat menggunakannya. Untuk siapa semua ini digunakan?

Untuk Toranaga atau Ishido? Atau haruskah dia menunggu sampai ada yang keluar sebagai pemenang?

“Igurashi-san. Kau harus bergerak pada malam hari dan jaga keamanan dengan ketat.”

“Ya, Tuanku.”

“Ini harus tetap dirahasiakan, Mura, atau desa yang akan dimusnahkan.”

“Tak akan ada yang dikatakan, Tuanku. Saya menjadi juru bicara bagi desa saya. Tapi saya tak dapat berbicara bagi perjalanan itu, juga bagi desa-desa lainnya. Siapa yang tahu ditempat-tempat mana saja mata-mata? Tapi tak akan ada yang keluar dari mulut kami.”

Kali berikutnya Yabu sudah melangkah ke ruang penyimpanan barang berharga.

Ruangan itu berisi apa yang diduganya hasil penjarahan para bajak laut piring-piring perak dan emas, mangkuk-mangkuk, lampu gantung hias dan hiasan-hiasan rumah lainnya. Sejumlah lukisan keagamaan dalam bingkai berhias dan sebuah peti kayu penuh berisi pakaian wanita, disulam dengan bagusnya dengan benang emas dan batu-batuan berwarna. “Akan kusuruh lebur perak dan emas itu dalam bentuk batangan dan menjadikannya milik negara,” ujar Zukimoto. Dia lelaki yang rapi, keilmiah-ilmiahan, berusia empat puluhan dan bukan seorang samurai. Beberapa tahun yang lalu, dia adalah prajurit yang merangkap pendeta Budha, namun Taiko, Sang Pelindung, telah menghancurkan biaranya dalam sebuah kampanye pembersihan negeri itu dari biara-biara dan sekte-sekte prajurit militan Budha yang tak mau mengakui kekuasaan mutlaknya. Zukimoto berhasil

menghindari kematian yang terlalu pagi bagi dirinya dengan jalan menyogok dan kemudian menjadi seorang pedagang keliling, dan akhimya menjadi saudagar beras kecil-kecilan.

Sepuluh tahun yang lalu dia bergabung dalam komisariat Yabu dan kini tak ada yang dapat menggantikannya. “Mengenai pakaian-pakaian itu, boleh jadi benang emasnya dan batu-batu permatanya cukup bernilai. Dengan izin Tuan, saya akan menyuruh mereka membungkusnya dan mengirimkannya ke Nagasaki”. Kota pelabuhan di pantai paling selatan dari selatan kepulauan Khushu, pelabuhan resmi dan pasar orang Portugis. “Orang-orang barbar itu mungkin mau membayar tinggi untuk barang-barang ini.”

“Bagus, tapi bagaimana dengan yang lainnya?

“Semuanya berisi pakaian dan berat. Amat tak bermanfaat bagi kita semua, Tuan. Tapi yang ini pasti akan membuat Tuan senang” Zukimoto membuka kotak.

Kotak itu berisi dua puluh ribu uang logam perak. Mata uang kuno Spanyol. Kualitas terbaik.

Yabu bergerak-gerak dalam air mandinya. Dihapusnya keringat dari wajah dan lehernya dengan handuk kecil putih dan membenamkan badannya lebih dalamlagi ke air hangat yang harum itu. Seandainya tiga hari yang lalu, dia berbicara pada dirinya sendiri, seorang tukang ramal meramalkan bahwa semua ini akan terjadi, aku pasti akan menyuruhnya menelan lidahnya sendiri karena berani mengatakan sesuatu yang tak mungkin terjadi.

Tiga hari yang lalu Yabu berada di Yedo, ibukota wilayah kekuasaan Toranaga. Berita Omi tiba pada senja hari. Jelas kapal itu harus diselidiki saat itu juga. Tapi Toranaga, yang sementara ini ada di Osaka untuk berunding terakhir kalinya dengan Jendral Ishido, dan sekalipun tak dapat hadir, telah mengundang Yabu dan semua daimyo di sekitar wilayahnya untuk menunggu kedatangan Toranaga kembali. Undangan semacam itu tak dapat ditolak tanpa akibat-akibat yang mengerikan. Yabu, tahu seperti juga daimyo-daimyo lainnya tahu, bahwa diri mereka masing-masing dan keluarganya hanyalah semata-mata sandera sampai kembalinya Toranaga dengan selamat dari benteng musuh di Osaka tempat pertemuan diadakan.

Toranaga adalah Ketua Dewan Bupati yang telah ditunjuk oleh Taiko pada saat-saat terakhirnya di tempat tidur, guna memerintah selama puteranya Yaemon, yang kini berusia tujuh tahun, belum dewasa. Ada lima bupati. Semuanya daimyo-daimyo terkemuka, namun hanya Toranaga dan Ishido yang memiliki kekuasaan yang nyata.

Yabu telah dengan amat hati-hati mempertimbangkan semua akibat untuk tidak pergi ke Anjiro, risiko-risiko yang terdapat di dalamnya dan alasan-alasan untuk tetap tinggal.

Kemudian dia memutuskan untuk mengirim isteri dan pendamping wanita kesayangan. Seorang pendamping adalah gundik resmi dan sah. Seorang pria dapat mempunyai pendamping wanita sebanyak yang disukainya, namun hanya boleh memiliki satu isteri.

“Keponakanku, Omi, baru saja mengirimkan pesan rahasia bahwa sebuah kapal barbar baru merapat di Anjiro.”

“Salah satu Kapal Hitam itu?” isterinya saat itu bertanya dengan penuh semangat. Yang dimaksud adalah kapal-kapal dagang besar yang mengangkut barang-barang berharga. Yang hilir-mudik setiap tahunnya mengikuti angin musim antara Nagasaki dengan koloni Portugis, Macao, yang terletak hampir seribu mil di sebelah selatan daratan Cina.

“Bukan. Tapi boleh jadi dia juga mengangkut banyak barang berharga. Aku akan segera berangkat. Kau harus mengatakan bahwa aku jatuh sakit dan tak dapat diganggu apa pun alasannya. Aku akan kembali dalam lima hari.”

“Itu amat berbahaya,” isterinya memperingatkan. “Daimyo Toranaga sudah memberikan perintah khusus, kita harus tetap tinggal. Saya yakin dia akan membuat persetujuan yang lain dengan Ishido karena dia terlalu kuat untuk diserang. Kita tak akan bisa menjamin rahasia. Tidak ada orang yang tidak bisa mencurigai kebenaran. Di mana-mana ada mata-mata. Seandainya Toranaga kembali dan menemukan kau tak ada, ketidakhadiranmu akan disalahtafsirkan. Musuh-musuh akan meracuni pikiran Toranaga untuk menyingkirkanmu.”

“Ya,” tambah gundiknya. “Maafkan saya, tapi anda harus mendengarkan Nyonya, isteri anda itu. Dia benar. Daimyo Toranaga tak akan percaya bahwa anda tidak mematuhi perintahnya hanya karena ingin melihat kapal barbar itu. Utuslah orang lain.”

“Tapi ini bukanlah kapal barbar yang biasa. D bukan milik orang Portugis. Dengarkan saya. Omi mengatakan kapal itu datang dari negeri lain. Orang-orangnya berbicara bahasa yang lain bunyinya antara mereka sendiri dan mereka memiliki mata biru dan rambut pirang.”

“Omi-san sudah gila. Mungkin dia minum sake te lalu banyak,” ujar isterinya.

“Ini terlalu penting untuk dijadikan kelakar, bagi di maupun bagimu.”

Isterinya membungkuk dan meminta maaf dan mengatakan bahwa suaminya benar sekali telah meralatnya, tapi mengatakan bahwa peringatan itu tak diartikan sebagai kelakar. Dia wanita yang berperawakan kecil, kurus, sepuluh tahun lebih tua dari suaminya, wanita yang telah menghadiahinya seorang anak setiap tahun selama delapan tahun berturut-turut hingga rahimnya mengering, dan di antaranya, lahir lima orang putera. Tiga orang menjadi prajurit dan mati secara perkasa dalam perang melawan Cina. Satu menjadi biksu dan yang terakhir, yang kini sembilan belas tahun umurnya, adalah yang paling dibencinya.

Isteri Yabu, Nyonya Yuriko, adalah satu-satunya wanita yang paling diseganinya, satu-satunya wanita yang paling dihargainya selain ibunya sendiri yang kini sudah meninggal dan isterinya memerintah rumah tangganya dengan cemeti sutera.

“Lagi, maafkan aku,” ujar isterinya. “Apakah Omi-san tahu secara terperinci muatan kapal itu?”

“Dia tidak memeriksanya, Yuriko-san. Katanya dia langsung menyegel kapal itu karena rasanya tidak biasa. Tak pernah ada kapal bukan Portugis sebelumnya, neh? Katanya kapal itu juga kapal tempur. Dengan duapuluh meriam digeladaknya.”

“Ah! Kalau begitu harus ada orang yang ke sana sekarang juga.”

“Aku akan pergi sendiri.”

“Pertimbangkanlah dulu. Utuslah Mizuno. Abangmu pintar dan bijak. Aku mohon dengan sangat kau jangan pergi.”

“Mizuno lemah dan tak bisa dipercaya.”

“Kalau begitu, perintahkan dia untuk menjalankan seppuku dan habisi saja dia,” ujar isterinya kasar. Seppuku, terkadang disebut harakiri, adalah upacara bunuh dengan mengeluarkan isi perut yang merupakan satu-satunya cara terhormat seorang samurai untuk menebus rasa malu, dosa atau suatu kesalahan, dan merupakan hak istimewa yang hanya dimiliki kasta samurai. semua anggota kasta samurai wanita maupun lelaki sudah dipersiapkan sejak kanak-kanak, untuk menghadapi tindakan itu sendiri maupun bertindak sebagai pembantu dalam upacaranya. Wanita melakukan seppuku hanya dengan sebilah pisau di leher.

“Nanti saja, jangan sekarang,” Yabu berkata pada isterinya.

“Kalau begitu utuslah Zukimoto. Dialah yang bisa dipercaya.”

“Seandainya Toranaga juga tidak memerintahkan para isteri dan para gundik untuk tetap tinggal, aku akan mengutusmu. Tapi itu akan terlalu berbahaya. Aku harus pergi.. Aku tak punya pilihan. Yuriko-san, tolong beritahukan peti uangku sedang kosong. Katakan juga aku sudah tak punya hutang lagi pada tukang-tukang kredit itu. Zukimoto mengatakan kita akan memperoleh pajak tinggi dari petani-petaniku. Aku harus punya lebih banyak kuda, amunisi, meriam, senjata dan samurai. Boleh jadi kapal itu membawa barang-barang itu.’ “Perintah Daimyo Toranaga amat jelas sekali, Tuanku. Kalau dia datang dan melihat”

“Ya. Kalau dia kembali, Yuriko. Sampai sekarang aku masih mengira dia sedang menjebak dirinya sendiri. Di dalam dan di sekeliling Istana Osaka saja Daimyo Ishido mempunyai delapan ribu samurai. Kehadiran Toranaga di sana dengan hanya sekian ratus orang adalah tindakan orang gila.”

“Dia terlalu pintar untuk mengorbankan dirinya sendiri kalau tak perlu,” ujar isterinya lagi dengan penu kepercayaan.

“Seandainya aku ini Ishido dan dia ada di dalam genggamanku, akan kubunuh dia dalam sekejap.”

Ujar Yuriko menimpali. “Tapi Ibu Pangeran masih jadi sandera di Yedo sampai Toranaga kembali. Daimyoill Jenderal Ishido tak berani menyentuh Toranaga sampai Ibu Pangeran tiba dengan selamat di Osaka.”

“Akan kubunuh dia. Apakah Ibu suri Ochiba akan hidup atau mati, tak jadi soal. Yang jelas Pengeran selamat di Osaka. Dengan matinya Toranaga, penggantinya sudah pasti. Toranaga adalah satu-satunya ancaman bagi ahli waris Kaisar, satu-satunya orang yang memiki kesempatan memanfaatkan Dewan Bupati untuk merebut kekuasaan Taiko, sekaligus membunuh si anak, ahli waris Kaisar.”

“Maafkan saya, Tuan, tapi apa mungkin Daimyo Jenderal Ishido dapat menyeret ketiga Bupati lain bersamanya untuk memanggil dan meminta pertanggungwaban Toranaga hingga itulah akhir Toranaga, neh?” hardiknya bertanya.

“Ya, Nyonya, seandainya Ishido dapat berbuat demikian, dia akan melakukannya, tapi aku yakin dia tidak bisa—juga—begitu pula Toranaga. Taiko memilih kelima Bupati dengan cerdik sekali. Semuanya saling membenci sampai tak mungkin mereka dapat menyetujui satu hal bersama-sama.” Sebelum memangku jabatannya, kelima daimyo terkemuka itu telah bersumpah setia sampai mati kepada Taiko yang sedang sekarat dihadapan orang banyak, di hadapan puteranya, kerabatnya dan keturunannya. Dan mereka semua juga sudah mengucapkan sumpah kepada masyarakat untuk menyetujui penguasa anonim dalam dewan dan sumpah untuk menghibahkan kekaisaran secara utuh kepada Yaemon apabila dia sudah dewasa, pada ulang tahunnya yang kelima belas. Penguasa anonim berarti tak ada yang dapat diganti sampai Yaemon mewaris kekaisaran.

“Tapi suatu hari nanti keempat bupati itu akan bergabung melawan satu orang lewat rasa iri, takut atau rasa ingin berkuasa neh? Keempatnya akan melanggar perintah Taiko dan dipandang sudah cukup untuk beperang, neh?”

“Ya, tapi hanya perang kecil, Nyonya, dan satu orang itulah yang akan selalu dihantam. Tanah-tanahnya akan dirampas dan dibagi-bagikan oleh para pemenang. Kemudian mereka mengangkat bupati kelima yang pada saatnya, akan terjadi lagi empat lawan satu dan kembali yang satu yang dihancurkan dan tanah-tanahnya semua disita—semuanya seperti sudah direncanakan Taiko. Masalah satu-satunya saat ini adalah mengambil keputusan siapa yang akan menjadi yang satu itu saat ini: Ishido atau Toranaga.”

“Toranaga akan menjadi orang yang terasing itu.”

“Mengapa?”

“Yang lainnya telalu takut padanya karena mereka semua tahu dia diam-diam ingin menjadi Shogun, betapa pun seringnya dia menyangkal.”

Shogun adalah kedudukan tertinggi yang dapat dicapai seorang manusia di Jepang.

Shogun berarti Diktator Militer Tertinggi. Hanya seorang daimyo yang pada suatu saat dapat memiliki gelar itu. Dan hanya Kaisar Tertinggi, Kaisar yang sedang memerintah, Putra Surga Yang Kudus, yang sekarang hidup dalam pengasingan bersama kerabat kekaisaran di Kyoto, yang berhak memberi gelar itu.

Dengan menjadi Shogun, kekuasaan mutlak di tangannya: Cap Kaisar dan mandatnya. Shogun memerintah atas nama kaisar. Semua kekuasaan diturunkan dari kaisar sebab beliau adalah keturunan langsung para dewa. Karenanya daimyo manapun yang menentang Shogun dengan sendirinya dianggap juga menentang Tahta Kaisar dan serta-merta dikucilkan oleh masyarakat dan seluruh tanahnya disita.

Kaisar yang tengah memerintah dipuja seperti seorang dewa karena dia adalah keturunan langsung Dewi Matahari, Amaterasu Omikami, salah seorang anak dari Dewa Izanagi dan Izanami yang menciptakan kepulauan Jepang di cakrawala. Dengan hak kedewaannya kaisar menguasai seluruh tanah dan kehidupan bangsa Jepang. Tapi dalam kenyataannya, selama lebih dari enam abad, kekuasaan sebenarnya berada di belakang Tahta Kaisar.

Enam abad yang lalu terjadilah perpecahan, ketika dua dari tiga keluarga samurai marga Minowara, Fujimoto dan Takashima yang saling bermusuhan dan dapat dikatakan setengah berkuasa mendukung kembalinya pada penuntut Tahta Kaisar sehingga melibatkan kekaisaran ke dalam perang saudara. Setelah enam puluh tahun marga Minowara berhasil mengungguli marga Takashima, sedang Fujimoto yang tidak memihak tampaknya menunggu saatnya tiba. Sejak saat itu rasa iri mewarnai pemerintahan mereka, para Shogun Minowara menguasai kekaisaran, menyatakan keshogunan mereka turun temurun dan mulai mengawinkan beberapa anak gadisnya dengan keturunan kaisar Kaisar sendiri dan seluruh kerabatnya disingkirkan dengan sempurna di dalam istana-istana bertembok dan berkebun di sebuah daerah kantung di Kyoto, umumnya dalam keadaan miskin dan kegiatan mereka terus menerus dikurangi sampai pada hanya menjalankan upacara-upacara keagamaan Shinto, agama Jepang kuno yang animistis, dan pada kepuasan intelektual seperti kaligrafi, melukis, filsafat dan puisi.

Kekuasaan kaisar mudah dikendalikan karena, mekipun dia memiliki seluruh tanah, namun hanya para daimyo dan samurai saja yang menguasai dan berhasil secara langsung menarik pajak kekaisaran. Dan sekali pun seluruh anggota keluarga istana, kaisar, lebih tinggi kedudukannya dari para samurai, namun mereka hidup dari santunan yang diputuskan oleh Kekaisaran atas kehendak Shogun, berupa jabatan Kwampaku—Kepala Penasihat Sipil atau penguasa junta militer waktu itu. Dan itu pun hanya sedikit yang dermawan. Sejumlah Kaisar malah harus menukarkan tanda tangan mereka dengan makanan. Seringkali tak ada cukup uang untuk upacara penobatan.

Akhirnya para Shogun Minowara dipaksa menyerahkan kekuasaannya pada Shogun-Shogun lainnya dari keturunan Takashima atau Fujimoto. Dan sementara perang-perang saudara tak juga berhasil dipadamkan sampai berabad-abad, Kaisar sendiri semakin lama semakin menjadi boneka daimyo yang sebenarnya cukup kuat untuk dapat merebut Kyoto secara fisik. Apabila seorang penguasa baru Kyoto sudah menyembelih seorang Shogun dan semua keturunannya yang tengah memerintah saat itu—apakah dia berasal dari marga Minowara, Takashima atau Fujimoto dia dengan kerendahan hati mengangkat sumpah setia kepada Tahta Kaisar dan dengan rendah hati pula mengundang Kaisar yang sudah tak bergigi itu untuk menganugerahinya gelar Shogun yang sedang kosong. Lalu, seperti juga para pendahulunya, dia akan mencoba untuk memperluas kekuasaannya keluar dari Kyoto sampai dia sendiri pada gilirannya akan ditelan oleh yang lain. Para Kaisar menikah, diturunkan atau dinobatkan berdasarkan kehendak Shogun. Namun selalu saja silsilah kaisar yang tengah memerintah tak pernah dapat diganggu gugat atau terputus.

Seorang Shogun memang amat berkuasa. Sampai dia sendiri digulingkan.

Banyak yang digeser kedudukannya selama abad-abad itu sementara kekaisaran sendiri menjadi terpecah ke dalam kubu-kubu yang lebih kecil. Selama satu abad terakhir tak satu pun daimyo yang cukup kuat untuk menjadi Shogun. Duabelas tahun yang lalu Jendral Nakamura memiliki kekuatan semacam itu dan dia berhasil mendapatkan mandat dari kaisar yang sekarang, Go-Nijo. Namun Nakamura tak dapat dianugerahi pangkat Shogun betapapun kuat keinginannya, karena dia keturunan petani. Dia harus cukup puas dengan gelar sipil yang lebih rendah, yaitu Kwampaku, Kepala Penasehat.Sipil, dan kemudian ketika dia menyerah gelar itu kepada anak laki- lakinya, Yaemon, sekalipun segala kekuasaannya masih dipertahankan seperti lazimnya terjadi, dia harus cukup puas dengan gelar Taiko. Berdasarkan tradisi hanya keturunan keluarga Minowara, Takashima dan Fujimoto-lah yang dianggap tertua dan setengah dewa yang berhak menjadi Shogun.

Toranaga adalah keturunan Minowara. Yabu sendiri masih dapat menyusuri garis keturunannya pada marga Takashima, meski tak begitu jelas garisnya. Namun pertalian darah ini cukup untuk menjadikannya unggul kalau dia mampu menjadikan dirinya seperti itu.

“Eeeee, Nyonya,” ujar Yabu, “tentu saja Torana ingin menjadi Shogun, tapi dia tak akan mencapainya. Bupati-bupati yang lain memandangnya sebelah mata meskipun takut kepadanya. Ini sesuai dengan yang d rencanakan Taiko.” Yabu mengajukan tubuhnya muka dan mengamati isterinya lekat-lekat. “Kau bilang Toranaga akan dipaksa menyerahkan kekuasaannya pada Ishido?

“Ya! Dia akan diasingkan. Tapi pada akhirnya kukira dia akan kalah. Aku mohon jangan sampai kau tak mematuhi Toranaga dan jangan meninggalkan Yedo hanya untuk memeriksa kapal orang barbar itu, tak peduli betapa luar biasanya pun dia seperti yang dikatakan Omi. Kirimkanlah Zukimoto ke Anjiro.”

“Bagaimana seandainya kapal itu memuat emas batangan? Perak atau emas? Bisakah kau mempercayai Zukimoto dan perwira-perwira kita yang lainnya?”

“Tidak, “jawab isterinya. Karenanya Yabu diam-diam telah menyelinap ke luar Yedo dengan hanya dikawal lima belas orang, dan kini, dia memiliki kekayaan dan kekuatan yang tak pernah diimpikannya berikut para tawanan yang unik, salah seorang di antaranya akan mati malam ini. Dia telah minta disediakan seorang perempuan dan seorang anak lelaki untuk istirahatnya nanti. Waktu fajar besok dia akan kembali ke Yedo. Menjelang senja besok senapan dan emas batangan akan memulai perjalanan rahasia mereka. Eeee, senapan! pikirnya kegirangan. Senapan dan rencanaku secara bersama-sama akan memberiku kekuasaan kuasaan untuk memenangkan Ishido atau Toranaga siapa pun yang kupilih. Kemudian aku akan menjadi bupati menggantikan pihak yang kalah, neh? Lalu bupati yang paling kuat. Mengapa tidak? Atau bahkan inenjadi Shogun? Ya. Semuanya jadi mungkin, sekarang.

Dia membiarkan dirinya melamun dengan nikmatnya. Bagaimana caranya menggunakan kedua puluh ribu keping perak itu? Aku bisa membangun kemh benteng istana. Dan membeli kuda-kuda istimewa buat menarik meriam. Dan memperluas jaringan mata-mata.

Bagaimana dengan Ikkawa Jikkyu? Apakah seribu keping perak cukup banyak buat menyuap para tukang masak Jikkyu guna meracuni tuannya? Lebih dari cukup! Limaratus, bahkan seratus saja di tangan-tangan yang pantas menerimanya, bagiku tak ada artinya. Tapi siapa? Mentari lepas tengah hari memancarkan sinarnya menembus jendela kecil yang bertengger di dalam tembok batu. Air mandinya amat panas dan terus menerus dipanaskan oleh kayu perapian yang dibangun dalam tembok sebelah luar. Itulah rumah Omi yang berdiri pada sebuah bukit kecil berhadapan dengan desa di pelabuhan. Kebun di pekarangan dalam rumahnya terlihat begitu rapi, tentram dan apik.

Pintu kamar tidur terbuka. Seorang lelaki buta membungkukan badannya. “Kasigi Omi mengirim saya ke mari, Tuan. Saya ini Suwo, tukang pijatnya.” Perawakannya tinggi, amat kurus dan sudah rapuh, wajahnya berkerut-merut.

“Bagus,” Yabu selalu merasa ngeri menjadi orang buta. Sejauh ingatannya, dia pernah bermimpi terbangun dalam kegelapan padahal dia tahu bahwasannya saat itu ada sinar mentari. Dia mampu merasakan kehangatannya tapi tidak melihatnya, dibukanya mulutnya ingin berteriak, disadarinya bahwa berteriak itu tidak pantas, tapi meskipun begitu dia berteriak juga. Kemudian alam nyata membangunkannya dan keringatnya pun mulai mengucur deras. Akan tetapi kengeriannya terhadap kebutaan nampaknya malah menambahkan kenikmatannya untuk dipijat oleh orang buta. Dia dapat melihat bekas luka yang tidak rata pada kening sebelah kanan orang itu dan sebuah goresan yang dalam pada batok kepala di bawahnya. Itu luka bekas pedang, ujar Yabu pada diri sendiri. Inikah yang menyebabkan kebutaannya? Apakah dulu dia juga samurai? Untuk siapa? Apakah dia ini mata-mata?

Yabu tahu bahwasanya orang ini sudah digeledah dengan cermat oleh para pengawalnya sebelum diperkenankan masuk, jadi dia tak perlu takut terhadap kemungkinan adanya senjata yang tersembunyi. Pedang panjangnya yang amat berharga itu masih terjangkau, matanya yang kuno dibuat oleh seorang empu ternama. Muru-sama. Diawasinya orang tua itu menanggalkan kimono katunnya dan menggantungkannya tanpa mencari lagi letak kaitan baju. Rupanya masih ada lagi luka bekas pedang di dadanya. Kancutnya amat bersih.

Orang itu berlutut, menunggu dengan sabar.

Yabu keluar dari air mandinya dan berbaring pada sebuah bangku batu. Orang tua itu mengeringkan tubuhnya dengan hati-hati, menuang minyak wangi pada kedua belah tangannya dan mulai meremas otot-otot pada leher dan punggung si daimyo.

Rasa tegangnya mulai hilang begitu jari-jemari yang kuat itu menekan tubuhnya, menembus sampai ke dalam dengan ketrampilan yang mengagumkan. “Enal sekali,” ujar Yabu setelah sesaat.

“Terimakasih, Yabu-sama, “ujar Suwo. Sama berap ti “Tuan”—bentuk kehormatan yang wajib dipergunakan kalau menyapa orang yang lebih tinggi kedudukannya.

“Sudah lama bekerja pada Omi-san?”

“Tiga tahun, Tuan. Dia baik sekali terhadap orang tua.”

“Dan sebelumnya bekerja di mana?”

“Saya mengembara dari desa ke desa. Beberapa hari di sini, enam bulan di sana, seperti kupu-kupu di musim panas.” Suara Suwo terdengar sejuk bagai jari jemarinya. Lelaki buta itu cepat memutuskan bahwasannya daimyo menginginkan dia berbicara dan dia pun menunggu dengan sabar untuk pertanyaan berikutnya dan kemudian dia akan mulai.

Bahagian dari seni yang dimilikinya adalah untuk mengetahui apa yang dikehendaki dan bilamana. Terkadang telinganyalah yang memberitahukan dia hal ini, tapi umumnya jari-jemarinyalah yang nampaknya mampu membuka kunci rahasia pikiran seorang lelaki atau wanita. Jari jemarinya memberitahunya supaya berhati-hati terhadap lelaki ini, bahwa dia orang yang berbahaya dan mudah berubah pendirian, umurnya kurang lebih empatpuluh tahun, pengendara kuda yang jempolan dan seorang ahli pedang kelas wahid. Juga bahwa hatinya jelek dan karenanya dia akan mati dalam dua tahun ini. Sake atau mungkin perangsang nafsu birahi, yang akan membunuhnya.

“Anda tergolong kuat dalam umur anda ini. Yabu-sama.”

“Kau juga. Berapa umurmu, Suwo?”

Lelaki tua itu tertawa namun jari jemarinya tak berhenti bekerja.

“Saya ini orang tertua di dunia—di dunia saya. Setiap orang yang saya kenal sudah lama mati. Mestinya sudah lebih delapanpuluh tahun saya kurang tahu. Saya pernah bekerja pada Daimyo Yoshi Chikitada, kakek daimyo Toranaga, ketika wilayah marga itu masih tak lebih luas dari desa ini. Saya malah ada di kubunya waktu dia dibunuh.”

Sengaja Yabu membiarkan badannya beristirahat lewat usaha yang agak keras namun pikirannya dipertajam dan dia mulai mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

“Memang hari itu serba kelabu, Yabu-sama. Saya tak tahu berapa usia saya saat itu. Tapi suara saya belum pecah. Pembunuhnya adalah Obata Hiro, putera dari sekutunya yang paling kuat. Mungkin Tuan sendiri mengetahui ceritanya bagaimana anak muda itu menetak kepala Daimyo Chikitada sampai putus hanya dengan sekali tebas dengan pedangnya. Pedang itu pedang Murusama dan dari situlah dimulainya takhayul bahwa semua pedang Murusama membawa kesialan bagi seluruh marga Yoshi.”

Apakah dia mengatakan begitu padaku karena pedang Murusamaku? Yabu bertanya pada diri sendiri. Banyak orang yang tahu aku punya satu. Ataukah dia hanya orang tua biasa yang teringat pada suatu hari yang istimewa dalam kehidupan yang panjang ini. “Bagaimana tampang kakek Toranaga?” tanya Yabu, berpura-pura kurang berminat, menguji Suwo.

“Tinggi, Yabu-sama. Lebih tinggi dari Tuan dan lebih kurus waktu saya mengenalnya. Dia baru dua puluh lima waktu meninggal.” Suara Suwo terdengal mulai menghangat.

“Eeee, Yabu-sama, dia sudah jadi prajurit waktu duabelas tahun dan sudah jadi putra mahkota kita waktu baru limabelas, waktu ayahnya terbunuh dalam sebuah pertempuran kecil. Pads waktu itu, Daimyo Chikitada sudah kawin dan sudah punya putera satu. Sayang sekali dia harus mati. Obata Hiro itu temannya dan juga vassalnya, saat itu baru tujuhbelas tahun, tapi ada orang yang meracuni pikiran Obata muda, dengan mengatakan bahwa Chikitada merencanakan untuk membunuh ayahnya dengan jalan mengkhianatinya. Tentu saja semuanya itu bohong tapi itu tak mampu mengembalikan nyawa Chikitada untuk memimpin kita semua. Obata muda lebih dahulu berlutut di hadapan mayatnya dan membungkuk tiga kali. Katanya dia berbuat begitu terdorong oleh rasa bakti terhadap ayahnya dan kini dia ingin menebus penghinaan yang telah ditimpakannya pada kita semua dan marga kita dengan jalan melakukan seppuku. Dia diizinkan. Mula-mula dicucinya kepala Chikitada dengan tangannya sendiri dan menempatkannya di tempat yang terhormat.

Kemudian dirobeknya perutnya sendiri dan mati dengan jantan, diiringi upacara besar-besaran, salah seorang dari kita bertindak sebagai pembantunya dan memenggal kepalanya dengan hanya sekali tebas. Kemudian ayahnya datang untuk memungut kepala puteranya dan pedang Murusama itu. Segalanya kemudian menjadi sial bagi kita semua. Putera tunggal Chikitada dijadikan sandera di suatu tempat dan sebagian marga kita terkena sejumlah bencana. Itu waktu—”

“Kau bohong, orang tua. Kau tak pernah ke sana.” Yabu saat itu membalikkan badan dan langsung menatap lelaki tua itu, yang serta merta menjadi kaku ketakutan. “Pedang itu dipatahkan dan dihancurkan setelah kematian Obata.”

“Tidak, Yabu-sama. Ceritanya begitu. Saya melihat sendiri ayahnya datang, memungut kepalanya, juga pedang itu. Siapa yang ingin meremukkan hasil seni semacam itu? Itu tabu. Ayahnya memungutnya.”

“Apa yang dilakukan ayahnya dengan pedang itu?”

“Tak ada yang tahu. Beberapa orang mengatakan dia membuangnya ke laut karena dia menyukai dan mengormati Daimyo Chikitada seperti kakaknya sendiri. Yang lainnya mengatakan dia menguburnya dan pedang itu terus mengintai cucunya, Yoshi Toranaga”

“Menurut pendapatmu apa yang diperbuatnya dengan pedang itu?”

“Membuangnya ke laut.”

“Kau melihatnya?”

“Tidak.”

Yabu berbaring kembali dan jari jemari itu pun mulai bekerja. Pikiran bahwa orang lain tahu bahwasannya pedang itu tak dipatahkan telah menggetarkan hati Yabu secara aneh.

Kau harus membunuh Suwo, katanya pada diri sendiri. Mengapa? Bagaimana bisa orang buta mengenali pedang? Pedang itu serupa dengan pedang Murusama yang mana pun, lagi pedangnya dan sarungnya juga telah diganti berulang kali selama bertahun-tahun. Tak seorang pun tahu bahwa pedangmu adalah pedang yang telah berpindah tangan berikut kerahasiaan yang semakin bertambah selagi kekuasaan Toranaga berkembang. Mengapa harus membunuh Suwo? Bahwa dia masih hidup saja mampu mengubah semangat. Kau terangsang. Biarkan dia hidup, kau bisa membunuhnya kapan saja. Dengan pedang itu. Pikiran itu menyenangkan hati Yabu dan dibiarkannya dirinya sekali lagi terlena, kali ini dengan hati lega. Hari itu segera datang, ujarnya pada diri sendiri. Saat itu aku sudah cukup berkuasa untuk menyandang pedang Murusamaku di hadapan Toranaga. Suatu hari, mungkin, akan kuceritakan riwayat pedangku.

“Apa yang terjadi sesudahnya?” tanya Yabu lagi, ingin dibuai oleh suara lelaki tua itu.

“Kami tertimpa sial. Tahun itu kelaparan merajalela dan sekarang, setelah majikan saya mati, saya menjadi ronin.” Ronin adalah prajurit tani yang tak bertanah dan bertuan, atau samurai yang karena kehilangan kehormatan atau majikannya, terpaksa mengembara dari satu tempat ke tempat lain sampai bertemu majikan yang mau menggunakan jasa mereka.

Memang sukar bagi ronin untuk mencari pekerjaan baru. Makanan sangat langka, hampir setiap lelaki menjadi prajurit, sedang orang tak dikenal jarang dipercaya. Sebagian besar kawanan perampok yang mewabah saat itu adalah ronin. “Tahun itu keadaan jelek sekali dan tahun berikutnya sama saja. Saya berperang bagi siapa saja petempuran di sini, perkelahian di sana. Makanan adalah bayaran saya. Kemudian saya dengar masih banyak makanan diKyushu jadi saya mulai mengembara ke barat. Pada musim dingin itulah saya menemukan Sebuah biara Budha dan berhasil memperoleh pekerjaan sebagai pengawal. Saya berperang untuk mereka selama enam bulan, melindungi biara mereka dan sawah-sawahnya dari para penjahat. Biara itu terletak dekat Osaka dan saat itu jauh sebelum Taiko menghancurkan beberapa di antaranya—para penjahat itu jumlahnya sama banyaknya dengan nyamuk rawa.

Suatu hari, kami disergap dan saya ditinggal sendirian, dikira mati. Sejumlah rahib menemukan saya dan menyembuhkan luka saya. Tapi mereka tak mampu mengembalikan penglihatan saya.”

Jari jemarinya menembus lebih dalam dan lebi dalam lagi. “Mereka menempatkan saya bersama-sama seorang biksu buta yang mengajarkan saya bagaim cara memijat dan melihat kembali dengan jari jemari saya. Sekarang jari jemari saya dapat menceritakan lebih banyak daripada kedua mata saya ini, saya kira.”

“Hal terakhir yang saya ingat yang saya lihat dengan kedua mata saya adalah bibir seorang penjahat yan ternganga lebar dengan giginya yang busuk, kilat pedang berkelebat dalam sekejap dan jauh di seberang sana, setelah pukulan itu, tercium bau harum bunga.

Saya melihat wangi-wangian dengan semua warnanya yang beraneka ragam, Yabu-sama. Itu sudah lama sekali, jauh sebelum orang-orang barbar itu datang ke negeri kita—limapuluh, enampuluh tahun yang lalu tapi saya benar-benar menyaksikan warna-warni wangi-wangian itu. Saya melihat nirwana, saya kira, dan untuk sesaat, wajah sang Budha. Kebutaan itu tergolong kecil sekali dibanding dengan karunia semacam itu, neh?”

Tak ada jawaban. Suwo memang tak mengharapkan. Yabu sudah tidur, seperti yang direncanakan. Senangkah kau dengan ceritaku Yabu-sama? Suwo bertanya tanpa bersuara, terhibur seperti orang tua pada layaknya. Semua itu benar kecuali satu hal. Biara itu bukan di dekat Osaka tapi di seberang perbatasan wilayahmu. Nama biksu itu? Su, paman musuhmu, Ikkawa Jikkyu. Aku bisa saja mematahkan lehermu dengan gampang, pikirnya akan merupakan hadiah bagi Omi-san. Merupakan berkah bagi desa. Dan akan merupakan imbalan dariku, sungguh pun kecil, bagi pelindungku itu. Haruskah kukerjakan sekarang? Atau nanti?

Spillbergen mengangkat seikat batang padi, wajahnya menegang. “Siapa yang mau mencabut dulu?” Tak serorang pun menjawab. Blackthorne nampaknya mengantuk, bersandar pada sudutnya, tak beranjak sedikit pun. Sudah hampir senja.

“Harus ada yang mencabut dulu,” ujar Spillbergen serak. “Ayolah, tak banyak waktu lagi.”

Mereka telah diberi makanan dan sebuah tong air dan sebuah tong lagi untuk dijadikan kakus.Tapi tak ada yang diberikan untuk membersihkan sampah yang bau atau mencuci dari mereka sendiri. Dan lalat pun berdatangan. Udara berbau busuk, tanah berselaputkan lumpur. Umumnya kaum lelaki itu membuka bajunya hingga batas pinggang, bersimbah peluh karena hawa panas. Dan juga karena rasa takut.

Spillbergen berpaling dari satu wajah ke wajah yang hrin. Dia kembali memandang Blackthorne. “Mengapa—mengapa Anda disisihkan? Eh? Mengapa?”

Kedua kelopak mata itu membuka, pandangannya dingin bagai es.

“Untuk terakhir kali: Aku—tak—tahu”.

“Itu tak adil. Tak adil.”

Blackthorne kembali pada lamunannya. Harus ada cara untuk kabur dari tempat ini. Pasti ada cara untuk mendapatkan kapal itu. Anak jadah itu akan membunyikan kita semua pada akhirnya, sama pastinya dengan terbitnya bintang utara. Sudah tak banyak waktu lagi, dan aku disisihkan karena mereka memiliki rencana busuk bagi diriku.

Ketika pintu kolong itu tertutup lagi mereka semua berpaling kepadanya dan ada yang berkata, “Apa yang harus kita lakukan?”

“Aku tak tahu,” dia selalu menjawabnya demikian. “Mengapa bukan kau yang dipilih?”

“Aku tak tahu.”

“Tuhan Jesus tolong kami,” seseorang merengek.

“Bersihkan semua yang berantakan itu,” perintah Blackthorne.

“Tumpukkan kotoran itu. Di sebelah sana!”

“Kita tak punya kain pembersih atau—”

“Pakai kedua tanganmu!”

Mereka mengerjakan seperti yang diperintahkannya dan Blackthorne pun membantu mereka dan membersihkan tubuh si Kapten-Jenderal sebisanya.

“Anda sudah tidak apa-apa sekarang.”

“Bagaimana—bagaimana caranya kita memilih salah satu di antara kita?” Spillbergen bertanya.

“Kita tak memilih. Kita lawan mereka.”

“Dengan apa?”

“Kau akan ke sana seperti kambing menyerahkan dirinya ke tukang jagal? Kau mau?”

“Jangan mengada-ada—mereka tak menginginkan aku—lagi pula keliru kalau aku yang dijadikan satu orang itu.”

“Mengapa?” Vinck bertanya.

“Aku Kapten-Jenderal.”

“Dengan segaala hormat, Tuan,” ujar Vinck sinis, “Mungkin Anda harus merelakan diri.

Sudah pada tempatnya Anda merelakan diri.”

“Usul yang bagus sekali,” ujar Pieterzoon, “Akan kubantu gerakannya, demi Tuhan.”

Terdengar kata sepakat dan setiap orang berpikir. Jesus Kristus, biarkan orang lain, tapi jangan saya.

Spillbergen mulai menggertak dan memerintah, tapi dia cepat menangkap sinar mata Blackthorne yang tak mengenal ampun. Jadi dia berdiam diri dan menatap tanah, merasa muak. Lalu katanya, “Tidak. Tak benar kalau ada yang harus merelakan diri. Kita—kita akan menarik undian. Batang jerami yang satu lebih pendek dari lainnya. Kita akan menyerahkan diri kita ke tangan Tuhan. Pilot, Anda yang memegang batang jerami itu.”

“Aku tak mau. Aku tak punya urusan dengan itu. Kita lawan mereka.”

“Mereka akan membunuh kita semua. Anda dengar apa yang dikatakan samurai itu: nyawa kita semua diselamatkan—kecuali satu.” Spillbergen menghapus keringat dari wajahnya, sekawanan lalat terbang dari sana lalu hinggap lagi. “Berilah aku air seadanya. Leh baik satu orang mati daripada kita semua.”

Van Nekk membenamkan kendi ke dalam tong air dan memberikannya kepada Spillbergen “Kita bersepuluh, termasuk kau, Paulus,” ujarnya. “Taruhannya bagus.”

“Bagus sekali, kecuali kaulah yang satu itu.” Vinc berpaling ke Blackthorne. “Bisakah kita melawan pedang-pedang itu?”

“Bisakah kau menyerahkan diri dengan pasrah kepada penyiksamu kalau kau orang yang dipilih itu?”

“Aku tak tahu.”

Van Nekk berkata lagi, “Kita akan menarik undian. Kita serahkan kepada Tuhan untuk memutuskan.”

“Kasihan Tuhan,” ujar Blackthorne”. “Karena ketololanlah yang justru ditimpakan ke atas pundakNya!”

“Bagaimana lagi kita memilih?” seseorang berteriak.

“Kita tidak memilih!”

“Kita akan melakukan apa yang dikatakan Paulus. Dia Kapten-Jenderal,” ujar van Nekk.

“Kita akan mencabut batang jerami. Itu suara terbanyak. Mari ambil suara. Sepakat?”

Mereka semua mengatakan ya. Kecuali Vinc.

“Aku ikut Pilot. Persetan dengan batang jerami. Taik! Akhirnya Pieterzoon berhasil dibujuk. Jan Roper, penganut agama Calvin, memimpin doanya. Spillbegen mematah-matahkan kesepuluh batang jerami menjadi bagian yang sama panjang. Lalu dibaginya lagi semuanya menjadi dua. Van Nekk, Pieterzoon, Sonk, Maetsukker, Ginsel, Jan Roper, Salamon, Maximillian Croocq dan Vinck. Kembali dia berkata, “Siapa yang mencabut dulu?”

“Bagaimana kita tahu itu bahwa orang yang mencabut batang jerami yang salah, yang pendek itu yang akan pergi? Bagaimana kita tahu itu?” suara Maetsuker jelas terdengar ketakutan.

“Kita tak tahu. Pastinya tidak. Kita harus tahu buat memastikannya”, Croocq, bocah itu, berkata.

“Itu gampang,” ujar Jan Roper, “Mari bersumpah kita akan melakukannya atas nama Tuhan. Dalam namaNya. Untuk mati bagi yang lain dalam namaNya. Jadi tak ada kekhawatiran. Domba Tuhan yang diurapi akan langsung masuk ke dalam kejayaan yang langgen.”

Mereka semua sepakat.

“Teruskan, Vinck. Lakukan seperti yang dikatakan Roper.”

“Baiklah.” Bibir Vinck terlihat kering. “Seandainya—seandainya itu aku—aku bersumpah atas nama Tuhan Yang Maha Esa bahwa aku akan ikut bersama mereka seandainya—seandainya aku mencabut jerami yang salah. Dalam nama Tuhan.”

Maetsukker sedemikian takutnya hingga dia harus mendesak lebih dahulu sebelum dia terhenyak kembali ke dalam paya kehidupan yang mengerikan.

Sonk memilih pertama. Pieterzoon yang berikut. Lalu Jan Roper setelah itu Salamon dan Croocq. Spilbergen merasa dirinya semakin sekarat karena semua sudah menyepakati dia memilih namun dia akan memegang batang jerami terakhir dan sekarang undian tambah mengerikan. Ginsel selamat. Masih sisa empat.

Maetsukker menangis dengan terang-terangan, tapi didorongnya Vinck ke samping dan diambilnya sebatang jerami dan tak dapat mempercayai matanya bahwa itu bukan batang padi yang terpendek. Tinju Spillbergen terlihat gemetar dan Croocq membantunya memantapkan lengannya. Air kencingny mengalir deras tanpa diketahui ke bawah kedua kakinya. Yang mana yang kuambil? Van Nekk bertanya pada diri sendiri dengan putus asa. Oh, Tuhan, tolong aku. Dia hampir tak melihat batang jerami itu karena mata rabunnya. Seandainya aku bisa melihat, mungkin aku punya petunjuk yang mana yang harus diambil. Yang mana?

Diambilnya dan dibawanya batang jerami itu ke matanya untuk melihat vonis bagi dirinya dengan jelas. Tapi batang padi itu tidak pendek.

Vinck mengamati jari jarinya memilih batang jerami sebelum yang terakhir dan benda itu jatuh ke tanah tapi setiap orang melihat bahwa batang jerami itulah yang terpendek sejauh itu. Spillbergen membuka telapak tangannya yang mengepal erat dan setiap orang melihat bahwa batang jerami terakhir itu justru panjang.

Spillbergen jatuh pingsan.

Mereka semua memandangi Vinck. Tanpa daya dia membalas pandangan mereka, tak melihat mereka. Dia mengangkat bahu sedikit, setengah tersenyum dan mengusir lalat seenaknya. Lalu dia menelungkup. Mereka menepi untuk memberi ruangan baginya, menjauh darinya seakan dia itu penderita kusta.

Blackthorne berlutut dalam lubang berlumpur, di sisi Spillbergen.

“Apakah dia mati?” tanya van Nekk, suaranya hampir tak terdengar. Vinck tertawa histeris—membuat ngeri mereka semua dan tawanya mereda dengan tiba-tiba seperti pada waktu dia memulainya. “Aku—akuluh yang mati itu,” ujarnya. “Aku mati.”

“Jangan takut. Kaulah yang dipilih Tuhan. Kau sudah di tangan Tuhan,” ujar Jan Roper, suaranya terdengar meyakinkan.

“Ya,” ujar van Nekk menimpali. “Jangan takut.”

“Sekarang jadi gampang, ya tidak?” Mata Vinck berpindah dari wajah yang satu ke wajah yang lain, tapi tak ada yang berani menentang pandangannya. Hanya Blackthorne yang tidak memalingkan wajahnya.

“Ambilkan aku air, Vinck,” ujarnya dengan tenang. “Pergilah ke tong air di sana dan ambilkan aku air. Ayo.”

Vinck menatapnya. Lalu dia mengambil kendi mengisinya dengan air lalu diberikannya kepadanya. “Tuhan Jesus, Pilot,” gumamnya, “apa yang harus kuperbuat?”

“Pertama bantu aku dengan mengurus si Paulul Vinck! Kerjakan apa kataku! Apakah dia bisa sehat kembali?”

Vinck menyingkirkan penderitaannya jauh-jauh tertolong.oleh ketenangan Blackthorne.

Urat nadi Spillbergen melemah. Vinck mendengarkan detak jantungnya, membuka kelopak matanya, dan mengawasinya untuk sesaat. “Saya tak tahu, Pilot. Demi Tuhan, saya tak bisa berpikir dengan baik. Jantungnya tak apa-apa saya kira. Dia butuh pengobatan, tapi—tapi saya tak tahu caranya—saya—saya tak bisa memusatkan pikiran—beri saya…” Dia terdiam kepayahan, duduk terhenyak bersandar pada dinding. Tubuhnya yang gemetaran mulai menyiksanya.

Pintu kolong terbuka.

Omi berdiri menjulang hampir menyentuh langit, kimononya memerah darah oleh sinar mentari yan mulai meredup.

                                                                                                                                    
Copyright © 2009 niwaexia@hellokitty.co.id
All rights reserved.

:¦ James Clavell – Shogun ¦:

James Clavell - Shogun - Book I - Bab 02

BAB II
Shogun

“Daimyo Kasigi Yabu, Penguasa Izu, ingin tahu anda ini siapa, dari mana anda berasal, dengan apa anda sampai kemari dan penjarahan apa saja yang telah anda lakukan,” ujar Pater Sebastio.

“Sudah kukatakan padamu kami bukan bajak laut.” Pagi hari itu terlihat cerah dan hangat dan Blackthorne setengah berlutut di panggung di alun-alun desa, kepalanya masih terasa nyeri akibat pukulan. Tetaplah tenang dan paksakan otakmu bekerja, ujarnya pada diri sendiri. Kau sedang menghadapi ujian dalam hidupmu.

Kaulah juru bicaranya dan semuanya ada di sana. Pater Jesuit bersikap bermusuhan dan dia satu-satunya jurubahasa yang ada dan kau takkan tahu apa yang dikatakannya kecuali bahwa dia takkan menolongmu…!

“Kerahkan akalmu, nak!” dia seolah mendengar Alban Caradoc berkata. “Kalau ada badai paling buruk dan laut paling mengerikan, itulah saatnya kau membutuhnn akal istimewamu.

Itulah yang membuatmu dan kapalmu tetap hidup seandainya kaulah pilotnya. Kerahkan akal yang ada padamu dan peraslah isinya setiap hari, tak peduli apa pun hasilnya…

Hari ini isinya pahit, pikir Blackthorne dengan muram. Mengapa kudengar suara Alban begitu jelasnya?

“Pertama, katakan pada daimyo bahwa kita ini, kamu dan aku, sedang berperang, bahwa kita ini musuh,” ujar Blackthorne. “Katakan padanya, Inggris dan Belanda sedang berperang melawan Spanyol dan Portugis.”

“Sekali lagi kuperingatkan kau supaya bicara seadanya dan tidak memutar-balikkan fakta.

Belanda ata Holland atau Zeeland atau Serikat propinsi, atau apa saja kalian pemberontak Belanda mesum menamakannya, tetap sebuah propinsi pemberontak yang kecil dari kekaisaran Spanyol. Kau ini pemimpin para pengkhia nat yang sedang mengadakan pemberontakan melawa raja yang sah.”

“Inggris sedang berperang dan Belanda telah terpi—” Blackthorne tak jadi meneruskan karena imam itu tak lagi mendengarkannya. Ia sudah menerjemahkan.

Daimyo itu sudah di panggung, perawakannya pendek dia duduk bersila, dan terlihat begitu berwibawa. Dia berlutut dengan santai, tumitnya terlipat rapi di bawahnya, dan dia didampingi empat orang letnan di sisinya, salah seorang di antaranya adalah Kasigi Omi, vassal dan keponakannya. Mereka semua mengenakan kimono sutera dan di atasnya, jubah luar yang penuh hiasan dengan ikat pinggang lebar yang melilit pinggangnya. Pada bagian bahunya kimono itu membesar dan berkanji. Dan otomatis pedangnya.

Mura berlutut di tanah lapangan. Dia satu-satunya penduduk desa yang hadir sedang lainnya adalah kelima puluh samurai yang datang bersama daimyo. Semuanya duduk dalam barisan yang teratur rapi dan tak bersuara. Semua awak kapal ada di belakang Blackthorne dan seperti juga dia sendiri, tengah berlutut. Para pengawal ada di dekatnya. Merekaterpaksa menggotong si Kapten-Jenderal bersamanya karena sakitnya semakin parah. Dia diperbolehkan untuk berbaring saja di tanah, masih dalam keadaan setengah pingsan.

Blackthorne sebenarnya sudah membungkuk bersama awak kapal lainnya sewaktu mereka tiba di depan daimyo, tapi ini dianggap belum cukup. Para samurai menghempaskan mereka sampai berlutut dan mendorong kepalanya hingga menyentuh debu sebagaimana layaknya para petani. Blackthorne melawan, berteriak kepada si imam untuk menjelaskan bahwa ini bukanlah tradisi mereka, bahwa dia adalah pemimpin dan utusan dari negerinya dan harus diperlakukan sesuai dengan kedudukannya. Tapi pangkal sebilah tombak membuatnya kembali berlutut. Anak buahnya segera berkumpul dan mengambil sikap menyerang, namun Blackthorne meneriaki mereka untuk berhenti dan berlutut. Untunglah mereka menurut. Daimyo mengucapkan sesuatu dengan menggerutu dan si imam menafsirkan sebagai peringatan bagi Blackthorne agar menjawab pertanyaannya dengan benar dan cepat.

Blackthorne meminta sebuah kursi namun imam itu mengatakan orang Jepang tidak menggunakan kursi dan tak ada kursi di Jepang. Blackthorne memusatkan perhatiannya ke Imam itu waktu dia berbicara dengan daimyo, dia mencari-cari mencari jalan melewati batu karang ini.

Ada keangkuhan dan kekejaman pada wajah daimyo itu, pikirnya. Aku berani bertaruh dia benar-benar bangsat. Bahasa Jepang si imam juga tidak lancar. Ah Perhatikanlah baik-baik! Sabarlah! Apakah si daimyo meminta kata yang lain yang lebih jelas? Kukira begitu

Mengapa Jesuit itu memakai jubah jingga? Apakah si daimyo juga Katolik? Lihat, Jesuit itu kelihatan amat hormat dan banyak berkeringat. Aku berani bertaruh si daimyo bukan Katolik.

Belajarlah teliti! Mungkin dia bukan Katolik.

Bagaimanapun, jangan mengharapkan belas kasihannya. Tapi bagaimana kau bisa memanfaatkan setan haram itu?

Bagaimana caranya berbicara langsung dengannya? Bagaimana cara memanfaatkan imam itu? Bagaimana cara menurunkan martabatnya? Jatuhkan wibawanya! Tapi apa umpannya?

Ayo, pikir! Kau kan cukup tahu tentang Jesuit.

“Daimyo minta kau cepat menjawab pertanyaannya!”

“Oh tentu! Nama saya John Blackthorne. Saya orang Inggris, Pilot-Mayor armada Belanda. Berpangkalan di Amsterdam.”

“Armada? Armada apa? Kau bohong. Tak ada armada. Mengapa orang Inggris menakhodai kapal Belanda?”

“Semua ada waktunya. Terjemahkan dulu apa yang baru saja kukatakan.”

“Mengapa kau ini pilot kapal tempur Belanda? Ayo lekas!”

Blackthorne memutuskan untuk mencoba-coba. Suaranya tiba-tiba melengking keras dan memecah kesenyapan pagi. “Que va! [Que va!= Jahanam!, Brengsek!, Astaga!] Terjemahkan dulu apa yang telah kukatakan, Spanyol Jadah! Sekarang!”

Muka si imam memerah. “Aku orang Portugis. Sudah kukatakan padamu. Ayo, jawab pertanyaan itu.”

“Aku di sini buat berbicara dengan daimyo, bukan dengan kau! Terjemahkan apa yang kukatakan, kau sampah jadah!” Blackthorne melihat wajah si imam bertambah merah dan merasakan hal itu tidak luput dari perhatian si daimyo. Hati-hatilah, ujarnya memperingatkan diri sendiri. Anak jadah berkulit kuning itu akan mencincangmu sampai lumat lebih cepat dari sekawanan ikan hiu kalau kau bertindak terlalu berani.

“Katakan pada Tuanku daimyo!” Dengan hati-hati Blackthorne membungkuk dalam-dalam ke arah panggung dan terasa keringat dinginnya mulai menetes sebesar mutiara, tanpa dapat dicegahnya.

Pater Sebastio tahu bahwasanya latihan-latihan yang diperolehnya seharusnya membuat dirinya tahan oleh hinaan yang dilontarkan bajak laut itu yang tujuannya jelas-jelas untuk menjatuhkan martabatnya di hadapan daimyo. Tapi, untuk pertama kalinya dan ini tidak terjadi, imam itu merasa dirinya gagal. Ketika orang suruhan Mura membawa berita tentang kapal itu ke gerejanya, di propinsi yang berdekatan, dia sempat tergoncang oleh apa yang diberitakan. Tak bisa jadi itu kapal Belanda atau Inggris! Belum pernah ada kapal orang murtad di Samudra Pasifik kecuali kapal si pemimpin setan, si bajak laut Drake, dan itu pun belum pernah di sini, di Asia. Jalur jalurnya semua rahasia dijaga ketat. Saat itu juga dia segera bersiap-siap untuk berangkat dan mengirimkan burung dara pembawa berita kepada atasannya di Anjiro, berharap bahwa dia dapat berbicara lebih dulu dengannya, menyadari bahwa dirinya masih muda, belum berpengalaman dan orang baru di Jepang. Baru dua tahun, belum ditahbiskan dan belum terhitung cakap untuk urusan seperti itu. Dia telah bergegas menuju Anjiro, sambil tak hentinya berharap dan berdoa agar berita itu tidak benar. Tapi kapal itu ternyata kapal Belanda dan nakhodanya orang Inggris. Dengan rasa benci yang meluap Pater Sebastio bersumpah serapah terhadap tindakan murtad si iblis Luther, Calvin, Henry VIII, dan si pemimpin setan Elizabeth, puteri si haram jadah itu, yang membuatnya kewalahan. Dan sumpah serapah itu pun menurut penilaiannya sendiri, masih terasa kurang.

“Imam! Terjemahkan apa yang dikatakan si bajak laut itu,” didengarnya daimyo berkata.

Ya, Bunda Maria yang penuh rahmat, tolonglah anakmu melakukan kehendakmu.

Tolonglah aku supaya kuat di hadapan daimyo dan karuniailah bakol untuk berbicara, dan izinkanlah aku merubahnya agar dia percaya kepada Iman Yang Benar.

Pater Sebastio memusatkan pikirannya dan mulai berbicara dengan kepercayaan diri yang lebih besar. Blackthorne mendengarkan dengan cermat, mencobha untuk menemukan kata dan maknanya. Pater itu menggunakan kata ‘Inggris’ dan ‘Blackthone’ dan menunjuk ke kapal yang berlabuh dengan megahnya di pelabuhan.

“Bagaimana kau bisa sampai kemari?” Pater Sebastio bertanya.

“Lewat Selat Magelhaens. Ini hari yang keseratus tiga puluh enam dari sana. Katakan pada daimyo”

“Kau bohong. Selat Magelhaens itu rahasia. Kau pasti datang lewat Afrika dan India.

Akhirnya kau harus mengatakan yang sebenarnya juga. Mereka biasa menyiksa di sini.”

“Dulu jalan ke selat itu memang rahasia. Tapi ada orang Portugis yang menjual buku pedoman nakhodanya kepada kami. Salah seorang bangsamu telah menjual dirimu hanya untuk sekeping emas Judas. Kalian semua taik kuda! Pelacur! Kini semua kapal perang Inggris dan Belanda—tahu jalan untuk menerobos samudra Pasifik. Sudah ada armadanya—duapuluh kapal Inggris yang berlayar di jalur itu dan enam puluh kapal perang diperlengkapi meriam—sedang menyerang Manila saat ini juga. Kekaisaranmu sudah tamat.”

“Kau bohong!”

Ya, pikir Blackthorne yang tahu tak ada jalan lagi untuk membuktikan kebohongan itu kecuali pergi ke Manila. “Armada itu akan megganggu jalur pelayaranmu dan merampas koloni-kolonimu. Sudah ada armada Belanda lainnya yang akan tiba di sini minggu kapan saja. Babi-babi Spanyol-Portugis akan dipaksa kembali ke kandangnya dan pelir Jenderal Jesuitmu pasti menempel di pantatnya! Cuih!” Blackthorne berpaling dari imam itu dan membungkuk ke arah daimyo.

“Tuhan mengutuk kecabulan mulutmu!”

“Ano mono wa nani o moshite otu?” daimyo menghardik tak sabar.

Imam itu berbicara lebih cepat dan lebih keras. Dia berkata ‘Magelhaens’ dan ‘Manila’ namun Blackthorno melihat bahwa daimyo dan letnan-letnannya tak begitu paham.

Kasigi Yabu tengah mengkhawatirkan sidangnya ini. Dia melongok ke pelabuhan, kekapal yang telah menghantuinya semenjak dia menerima pesan rahasia Omi, dan dia bertanya-tanya lagi apakah itu merupakan hadiah dari dewa-dewa yang selalu diharapkannya?

“Sudah kauperiksa muatannya, Omi-san?” tanya Yabu pagi ini begitu dia kembali dengan baju penuh lumpur dan badan yang letih.

“Belum, Yang Mulia. Saya hanya menyegel kapal itu sampai Tuan datang sendiri, tapi palka penuh peti kayu dan bungkusan-bungkusan besar. Moga-moga saya mengerjakan yang betul. Ini kuncinya semua. Saya sudah menyitanya.”

“Bagus.” Yabu baru datang dari Yedo, ibukota wilayah Toranaga, lebih dari seratus mil jauhnya, amat tergesa-gesa, secara rahasia dan atas risiko pribadi yang besar. Karenanya sangat penting kalau dia pulang kembali dengan cepat. Perjalanan itu sendiri mengalami waktu dua hari melewati jalan jalan yang kotor dan sungai-sungai kecil bermata air.

Sebagian dengan menunggang kuda dan sebagian lagi dengan tandu. “Aku langsung ke kapal.”

“Tuan harus tahu awak kapalnya dulu, Yang Mulia.” Omi berkata sambil terkekeh.

“Orang-orang aneh. Rata-rata bermata biru seperti kucing Siam dan berambut pirang. Tapi kabar yang paling baik, mereka itu adalah bajak laut…”

Omi telah menceritakan padanya tentang si imam dan apa yang telah diceritakan si imam tentang perampuk-perampok itu. Apa yang dikatakan perompak-perampok itu dan apa yang terjadi. Lalu debaran jantung Yabu bertambah cepat tiga kali. Yabu berhasil menguasai rasa tidak sabarnya untuk menaiki kapal itu dan membuka segelnya. Sebagai gantinya dia mandi dan menitahkan si barbar dibawa ke hadapannya.

“Kau, Imam, ” ujarnya dengan suara ketus dan sinar mata sinis. “Mengapa dia begitu marah padamu?”

“Dia iblis. Bajak laut. Dia pemuja setan.”

Yabu mendekatkan badannya ke Omi yang berada di sisi kirinya. “Kau bisa mengerti apa yang dikatakannya, nak? Apakah dia berbohong? Bagaimana pendapatmu?”

“Saya tak tahu, Yang mulia. Siapa yang tahu apa yang sungguh-sungguh dipercayai orang barbar ini. Saya rasa imam itu mengira bajak laut ini seorang pemuja setan. Menurut saya itu tidak benar. Omong kosong.”

Yabu berpaling kembali ke imam itu dengan rasa benci. Dia berharap dia dapat menyalibkannya hari ini dan menghapuskan Kekristenan dari wilayahnya sekali dan untuk selamanya. Tapi dia tidak bisa. Sekalipun dia dan semua daimyo lainya memiliki kekuasaan mutlak di wilayah masing-masing, namun mereka masih harus tunduk kepada keunggulan kekuasaan Dewan Bupati sebuah Junta militer, kepada siapa Taiko telah mewariskan kekuasaannya secara sah selama puteranya belum dewasa. Dan dia serta daimyo-daimyo lainnya juga terikat dekrit yang dikeluarkan Taiko semasa hidupnya, yang semuanya masih berlaku secara sah. Salah satu diantaranya, yang diumumkan beberapa tahun yang lalu, berhubungan dengan orang-orang barbar Portugis. Taiko menitahkan supaya mereka dianggap sebagai orang yang harus dilindungi dan mengizinkan imam-imam mereka itu untuk menarik masuk dan merubah keyakinan orang ke dalam agamanya. “Kau, Imam! Apa lagi yang dikatakan bajak laut itu? Apa yang sedang dikatakannya padamu? Cepat! Apa kau sudah tak punya lidah?”

“Bajak laut mengatakan hal-hal yang jelek. Tentang kapal perompak yang berperang itu—ada banyak.”

“Apa maksudmu, ‘kapal yang berperang’?”

“Maaf, Yang Mulia. Saya tak mengerti.”

“Kapal yang berperang tak ada artinya, neh?”

“Ah! Bajak laut mengatakan kapal-kapal perang lainnya ada di Manila, di Philipina.”

“Omi-san, kau mengerti apa yang dikatakannya?”

“Tidak, Yang Mulia. Logatnya jelek, hampir tak bisa dipahami. Apakah dia mengatakan ada lebih banyak lagi kapal perompak di sebelah timur Jepang?”

“Kau, Imam! Apakah kapal-kapal perompak ini ada di pantai? Di Timur? Eh?”

“Ya, Yang Mulia. Tapi saya kira dia berbohong. Dia bilang ada di Manila.”

“Saya tidak mengerti! Di mana Manila?”

“Di Timur Pelayarannya berhari-hari.”

“Kalau ada kapal perompak apa saja yang datang kemari, akan kita ucapkan selamat datang yang menyenangkan, di mana pun Manila itu.”

“Maafkan saya, saya tak paham.”

“Tak apa,” sahut Yabu, kesabarannya sudah habis. Dia sudah memutuskan orang-orang asing itu harus mati dan dia senang mengingat hari yang akan datang itu. Jelas orang-orang ini tidak termasuk dalam dekrit Taiko yang melindungi ‘orang-orang barbar Portugis’.

Mereka itu bukan Portugis. Mereka perompak. Sejauh yang diingatnya, dia sendiri selalu membenci orang barbar. Bau busuk dan kejorokan mereka. Kebiasaan makan daging mereka yang menjijikkan, agama mereka yang dungu serta kesombongan dan tingkah laku mereka yang memalukan. Lebih daripada itu, dia merasa malu, seperti juga setiap daimyo, karena pengaruh mereka yang kuat terhadap Bumi Para Dewa ini. Pernyataan perang telah ada antara Cina dengan Jepang selama berabad-abad. Cina tak mengizinkan perdagangan.

Padahal kain sutera Cina amat penting untuk membuat musim panas Jepang yang panjang, lengas dan panas menjadi tertahankan. Dari generasi ke generasi hanya sejumlah kecil kain sutera seludupan dapat lolos pajak dan yang tersedia dapat dibeli dengan harga tinggi, Kemudian, lebih dari enampuluh tahun yang lewat, orang-orang barbar tiba untuk pertama kali di Cina. Kaisar Cina di Peking memberikan mereka pangkalan tetap yang kecil diMacao, di selatan Cina dan menyetujui untuk menukarkan sutera dengan perak. Jepang memiliki perak yang berlimpah. Segera perdagangan mulai berkembang. Kedua negeri itu menjadi makmur. Perantaranya bangsa Portugis, menjadi makmur dan kaum rohaniwan mereka, yang umumnya dari ordo Yesuit segera menjadi penghubung penting dalam tukar-menukar itu. Karena hanya merekalah yang berhasil menguasai bahasa Cina dan Jepang dengan baik, sehingga mampu bertindak sebagai penghubung dan juru bahasa. Dengan berkembangnya perdagangan, imam-imam itu menjadi semakin penting. Kini perdagangan tahunan sudah besar dan sudah menyentuh kehidupan setiap samurai. Jadi para imam itu harus dilindungi dan penyebaran agama mereka pun harus didiamkan atau orang-orang barbar itu akan berlayar pergi dan perdagangan pun akan terhenti.

Saat ini ada sejumlah daimyo Kristen yang penting dan ratusan ribu orang yang masuk keagama itu, kebanyakan tinggal di Kyushu, sebuah pulau di selatan. Pulau terdekat dengan Cina dan tempat kota pelabuhan Portugis, Nagasaki. Toh, pikir Yabu, kita hanya harus melindungi imam-imam dan orang Portugis, tapi bukannya orang-orang barbar ini yang berambut pirang dan bermata biru yang hampir tak bisa dipercaya. Sekejap rasa gembira mulai menghinggapi dirinya. Kini akhirnya dia dapat memuaskan rasa ingin tahunya tentang betapa nikmatnya melihat seorang barbar mati lewat siksaan. Dan dia memiliki sebelas anak buah, berarti sebelas kali siksaan yang berbeda, untuk dijadikan percobaan. Yabu tak pernah mempertanyakan dirinya mengapa penderitaan orang lain membuatnya senang. Dia hanya tahu bahwa memang demikianlah kenyataannya dan karenanya itu merupakan sesuatu yang harus dicari dan dinikmati.

Yabu berkata, “Kapal itu kapal asing dan bukan milik Portugis, kapal bajak laut, disita dengan seluruh rsinya. Semua bajak laut segera dijatuhi—” Mulutnya ternganga ketika dilihatnya pemimpin bajak laut itu tiba-tiba menerjang si imam dan merenggut salib kayunya dari ikat pinggangnya, mematahkannya hingga berkeping-keping dan melemparkan keping-keping itu ke tanah lalu meneriakkan sesuatu dengan keras. Perompak itu langsung berlutut dan membungkuk dalam-dalam ketika para pengawal melompat maju dengan pedang terhunus.

“Tahan! Jangan bunuh dia!” Yabu tercengang melihat ada orang yang demikian kurangajarnya—bertindak tanpa rasa sopan sama sekali di hadapannya. “Orang-orang barbar ini memang tak dapat dipercaya!”

“Ya,” ujar Omi, pikirannya dijejali dengan pertanyaan apa yang terkandung dalam tindakan seperti itu.

Si imam masih berlutut, sambil memandangi kepingan-kepingan salib itu dengan nanar.

Semua orang mengawasi ketika tangannya menjangkau dengan gemetar dan mulai memunguti kepingan-kepingan kayu yang berserakan itu. Dia mengatakan sesuatu kepada siperompak, suaranya rendah, terdengar lembut. Kedua matanya terkatup, jari jemarinya bertemu dan bibirnya mulai bergerak-gerak. Pemimpin bajak laut itu hanya memandangi saja semuanya tanpa perasaan, matanya yang biru tak berkedip, terlihat bagai kucing, dihadapan awak kapalnya yang lusuh.

Yabu berkata lagi, “Omi-san. Aku ingin naik kapal itu dulu. Lalu baru kita mulai.”

Suaranya mengeras ketika dia mulai merenungkan kesenangan yang dijanjikannya pada diri sendiri. “Aku ingin mulai dari si rambut merah di deretan paling ujung itu, yang perawakannya kecil.”

Omi memiringkan badannya lebih dekat dan merendahkan suaranya yang mulai terdengar bergetar. “Maafkan saya, Yang Mulia, tapi ini belum pernah terjadi. Belum pernah, sejak orang barbar Portugis datang kemari. Tidakkah salib itu lambang mereka yang kudus? Tidakkah salib-salib itu selalu merupakan bentuk penghormatan bagi imam-imam mereka? Tidakkah mereka selalu menyembahnya secara terang-terangan? Seperti orang Kristen bangsa kita? Tidakkah imam-imam itu menguasai batin mereka?”

“Apa maksudmu?”

“Kita semua membenci orang Portugis, Yang Mulia. Kecuali orang-orang Kristen di antara kita, neh? Mungkin orang-orang barbar ini lebih berharga bagi kita kalau mereka hidup daripada mati.”

“Kenapa?”

“Karena mereka unik. Mereka anti-Kristen! Mungkin orang yang bijak dapat menemukan cara untuk inemanfaatkan kebencian atau kekafiran mereka bagi keuntungan kita. Mereka itu milik Yang Mulia, dapat disuruh sesuka hati. Neh?”

Ya. Tapi aku menginginkan mereka disiksa, pikir Yabu. Ya, tapi kau bisa menikmati hal itu kapan saja. Dengarlah nasehat Omi. Dia itu penasehat yang baik. ‘I’api dapatkah dia dipercaya saat ini? Apakah dia tidak punya alasan tersembunyi dengan mengusulkan itu? Pikir! “Ikkawa Jikkyu juga Kristen,” didengarnya Omi berkata, menyebutkan musuh yang dibencinya salah seorang keluarga dekat dan sekutu Ishido yang menguasai wilayah diperbatasan sebelah barat. “Bukankah imam-imam mesum ini memiliki rumah di sana?

Mungkin orang-orang barbar ini dapat memberimu kunci untuk membuka seluruh propinsi Ikawa. Mungkin propinsi Ishido juga. Bahkan mungkin propinsinya Toranaga,” tambah Omi dengan lunak.

Yabu mengamati air muka Omi, mencoba untuk menjangkau apa yang ada di belakang kepalaya. Lalu matanya tertuju pada kapal itu. Dia tak lagi bimbang sekarang bahwa kapal itu dikirim oleh para dewa. Ya. Tapi apakah sebagai hadiah atau sebagai wabah pes? Disingkirkannya kesenangan dirinya untuk keamanan marganya. “Aku setuju. Tapi pertama urusi dulu bajak-bajak laut ini. Ajarlah mereka sopan-santun. Khususnya dia.” “Kematian Jesus yang manis!” Vinck bergumam. “Kita harus mengucapkan doa,” van Nekk menimpali.

“Kita baru saja berdoa”.

“Kalau begitu kita ucapkan yang lain. Tuhan Allah di Surga, kirimkan aku sekaleng brandy.”

Semuanya berada di gudang bawah tanah yang dalam, salah satu dari sekian gudang yang biasa digunakan para nelayan untuk menyimpan ikan asin. Samurai-samurai itu menggiring mereka menyeberangi lapangan menuruni tangga, dan kini mereka semua dikunci di gudang bawah tanah itu berukuran panjang lima langkah, dengan lebar lima dan kedalaman empat, berlantai dan berdinding tanah. Langit-langitnya terbuat dari papan dengan sedikit tanah diatasnya dan sebuah pintu kolong dipasangkan ke situ.

“Lepaskan kakiku, kau bajingan terkutuk!”

“Tutup mukamu, taik!” Pieterzoon berkata riang.

“Hei Vinck, geser sedikit! Dasar ompong! Tempatmu lebih luas dari siapa pun juga!

Demi Tuhan, supaya aku bisa minum bir dingin! Geser!”

“Tak bisa, Pieterzoon. Tak ada tempat lagi. Di sini lebih sempit dari pantat perawan.”

“Pasti si Kapten-Jenderal. Dia banyak mengambil tempat! Dorong dia. Bangunkan dia!” ujar Maetsukker.

“Eh? Ada apa? Biarkan aku. Apa yang terjadi? Aku sakit. Aku mesti berbaring. Di mana kita?”

“Biarkan dia. Dia sakit. Ayolah Maestukker, bangun, demi kasih Tuhan.” Dengan marah Vinck menarik Maetsukker ke atas dan mendorongnya ke tembok. Tak ada cukup ruang bagi mereka semua untuk berbaring atau bahkan untuk duduk dengan enak pada saat yang sama. Si Kapten-Jenderal, Paulus Spillbergen, tampak berbaring sepenuhnya di bawah pintu kolong tempat udara keluar-masuk. Kepalanya berada di luar mantelnya yang tebal.

Blackthorne tengah bersandar pada sebuah sudut, sambil menghadap ke pin kolong. Anak buahnya sengaja meninggalkannya sendirian dengan rasa tak enak, sedapat mungkin menjauh darinya, karena dari pengalaman lama mereka sudah mengenal betul tabiatnya apabila sedang terpekur. Kekasarannya yang meledak-ledak selalu mengintai di balik penampilan luarnya yang tenang.

Maetsukker naik darah dan menghujamkan tinjunya ke tungkai paha Vinck. “Biarkan aku sendirian atau kubunuh kau, haram jadah.”

Vinck balas menerjangnya, namun Blackthorne mencekal mereka berdua dan membenturkan kepalanya ke tembok.

“Tutup mulut, semuanya,” ujarnya lembut. Mereka melakukan seperti apa yang diperintahkan. “Kita membagi tugas jaga. Satu orang tidur, satu duduk dan satu berdiri.

Spillbergen berbaring sampai dia kuat. Sudut yang sama itu, kakus.” Blackthorne membagi-bagi tugas mereka. Waktu mereka selesai mengatur diri mereka sendiri, keadaannya menjadi lebih baik. Kita harus bisa kabur dalam sehari ini atau kita menjadi sangat lemah untuk kabur, pikir Blackthorne. Kesempatannya adalah pada saat mereka membawa tangga itu kembali untuk memberikan kita makanan atau minuman. Harus malam ini atau besok malam.

Mengapa mereka menempatkan kita di sini? Kita bukan ancaman. Kita bisa membantu si daimyo. Tapi bisakah dia memahami? Itulah satu-satunya caraku untuk memperlihatkan kepadanya bahwa imam itu adalah musuh kita yang sejati. Bisakah dia memahami? Si imam bisa.

“Mungkin Tuhan bisa mengampuni dosamu, tapi aku tidak.” Pater Sebastio pemah berkata. “Aku takkan beristirahat sampai kau dan setan iblismu itu dilenyapkan.”

Keringat menetes deras dari pipi dan dagunya. Blackthorne menyekanya. Kedua telinganya diselarasknn dengan bunyi di gudang bawah tanah seperti juga ketika dia tengah di kapal atau ketika dia tidur atau ketika sedang berjaga dan melamun; cukup untuk mendengar datangnya marabahaya sebelum itu terjadi.

Kita harus berhasil lolos dari sini dan merebut kembali kapal. Aku ingin tahu apa yang dikerjakan Felisitas sekarang. Dan anak-anak juga. Coba Tudor sudah tujuh tahun dan Lisbeth sudah …. Kita sudah setahun dan sebelas bulan dan enam hari dari Amsterdam, ditambah tiga puluh tujuh hari mengurus perlengkapan dan daang dari Chatham ke sanadan akhirnya sebelas hari bcrsama Felisitas sebelum kapal berangkat dari Chatham. Itulah tepatnya jumlah hari kita berpisah. Felisitas pasti memasak dan menjaga anak-anak. Mencuci pakaian dan mengobrol sementara anak-anak bertumbuh, sama kuat dan sama tak gentarnya seperti ibu mereka. Enak sekali berada di rumah lagi, berjalan bersama-saina sepanjang pantai dan mengarungi hutan dan menikinati keindahan negeri yang bernama Inggris.

Selama bertahun-tahun dia telah melatih dirinya untuk menganggap mereka sebagai pemain-pemain di panggung sandiwara memainkan peran sebagal orang-orang yang kita cintai dan untuk siapa kita rela berkorban. Sandiwara itu sendiri tak pernah berkesudahan.

Kalau tidak, rasa sakit berada jauh dari mereka, menjadi terlalu pedih. Dia hampir tak bisa menghitung hari-harinya tinggal di rumah selama sebelas tahun perkawinan mereka. Hariari itu amat sedikit, pikimya, terlalu sedikit. “Ini kehidupan yang sulit bagi seorang perempuan, Felisitas,” Blackthorne sebelumnya pernah berkata pada isterinya “Kehidupan apa pun sulit bagi perempuan.” Felisitas baru tujuhbelas tahun saat itu, berperawakan tinggi, berambut panjang dan kedua belah telinganya memberitahukan dia agar waspada.

Anak buahnya tengah duduk atau bersandar atau mencoba tidur. Vinck dan Pieterzoon, dua sahabat baik, tengah bercakap-cakap tanpa banyak ribut. Van Nekk tengah memandangi lantai bersama-sama yang lain. Spillbergen setengah terjaga dan Blackthorne menduga lelaki itu lebih kuat daripada yang diduga setiap orang.

Sekejap tercipta keheningan mendadak ketika mereka mendengar langkah-langkah kaki di atas kepala mereka. Langkah-langkah itu berhenti. Suara meredam di tengah bahasa yang bunyinya kasar dan aneh. Blackthorne mengira dia mengenali suara si samurai Omi-san? Ya, itulah namanya tapi dia tak yakin. Sesaat suara-suara itu terhenti dan langkah-langkah kaki itu berlalu.

“Apakah mereka akan memberi makan kita, Pilot?” tanya Sonk.

“Ya.”

“Kalau begitu, aku minta bir dingin, demi Tuhan,” ujar Pieterzoon.

“Tutup mulut,” ujar Vinck. “Kau sendiri sudah cukup membuat orang berkeringat.”

Blackthorne sadar pada bajunya yang basah. Dan bau apaknya. Demi Tuhan, aku bisa mandi, pikirnya. Dan tiba-tiba dia tersenyum, mengingat-ingat sesuatu.

Mura dan yang lainnya telah membawanya ke kasur yang hangat pada hari itu dan membaringkan diriny pada sebuah bangku batu, tungkai kakinya masih terasa mati-rasa dan geraknya pun amat lamban. Ketiga wunita itu, dipimpin oleh wanita tua yang kisut itu, mulai membuka bajunya dan Blackthorne telah mencoha untuk menghentikan mereka namun setiap kali dia bergerak, salah satu dari kaum prianya menekan syarafnya dan membuat tak bertenaga. Dan, tak peduli seberapa seringnya pun dia meracau dan menyumpah-nyumpah, mereka terus membuka bajunya hingga dia benar-benar telanjang bulat begitu di hadapan perempuan, tapi hanya karena membuka baju itu biasanya dilakukan secara pribadi dan memang itulah biasanya. Dan dia tak suka untuk ditelanjangi di hadapan siapa pun juga, apalagi oleh pribumi-pribumi tak beradab ini. Tapi di telanjangi di depan orang banyak seperti itu ditambah semua anggota badannya dicuci pula seperti seorang bayi, dengan air hangat yang bersabun dan berbau harum, sementara mereka mengobrol dan tersenyum ketika dia berbaring di atas perutnya, rasanya keterlaluan. Lalu terasa sesuatu dibagian bawah tubuhnya menjadi tegak dan lebih keras. Dia berusaha untuk menghentikannya, lebih buruk pula akibatnya, paling tidak dia mengira begitu, tapi wanita-wanita itu ternyata tidak dernikian. Mata mereka semakin membesar dna wajah Blackthorne mulai memerah. Jesus, tak mungkin wajahku memerah, tapi nyatanya dia demikian dan ini nampaknya membuat auratnya terasa membesar. Dan wanita tua itu bertepuk tangan terheran-heran sambil mengatakan sesuatu yang disertai anggukan kepala, sedang wanita-wanita lainnya dan si wanita tua menggelengkan kepalanya dengan tercengang dan mengatakan sesuatu lagi yang malah tambah mengundang anggukan kepala mereka dengan lebih banyak lagi.

Mura telah berkata dengan kesungguhan yang besar. “Kapten-san, mama-san berterima kasih, telah melihat yang terbaik dalam hidupnya, sekarang mama-san bisa mati dengan senang!” Mura dan semuanya membungkuk serentak dan dia, Blackthorne, telah menyaksikan betapa lucunya hal itu dan dia mulai tertawa Mereka semua terkejut, kemudian mereka juga ikut-ikutan tertawa dan tawa Blackthorne membuat tenaganya berkurang sehingga wanita tua itu menjadi agak sedih dan mengatakan apa yang diduganya itu, tapi ini menyebabkan Blackthorne tertawa lebih gencar lagi—demikian juga mereka. Kemudian mereka membaringkannya dengan hati-hati ke dalam air hangat yang nyaman dan seketika itu juga Blackthorne kembali tak dapat menahan semuanya dan mereka membiarkan dia terengah-engah sekali lagi di bangku panjang itu.

Wanita itu membaringkan tubuhnya dan sesudah itu seorang lelaki buta datang mendekat. Blackthorne tak pernah tahu apa itu seni memijat. Pada mulanya dia mencoba untuk mencegah rabaan jari-jemari itu tapi kemudian pesonanya telah berhasil membujuknya dan tak lama kemudian dia sudah hampir mendengkur bagai kucing begitu jari jemari itu menemukan dan membuka jalan darah yang tersembunyi di bawah kulit, otot dan syaraf.

Kemudian Blackthorne dipapah menuju tempat tidur, anehnya masih dalam keadaan lemah setengah bermimpi, dan gadis itu sudah di sana. Si gadis bersabar terhadapnya, dan setelah tidur, waktu Blackthome mulai bertenaga, dia menarik gadis itu ke dekatnya, dengan hati-hati sekali, meskipun makan waktu lama.

Blackthorne tak mempunyai nama si gadis dan begitu pagi datang, waktu Mura, yang terlihat tegang dan ketakutan, membangunkannya dari tidurnya, gadis itu telah pergi.

Blackthorne mendesah. Hidup ini mengagumkan, pikirnya.

Di gudang bawah tanah, Spillbergen bersungut-sungut lagi. Maetsukker tengah membelai-belai kepal nya dan mengerang, bukan karena merasa nyeri tapi karena ketakutan,

si bocah Croocq hampir menang dan Jan Roper berkata, “Apa yang perlu ditertawakan Pilot?”

“Taik !”

“Maaf, Pilot,” van Nekk berkata dengan hati-hati mengemukakan terus terang apa yang terpenting dala pikiran mereka, “Kau keliru sekali menyerang si imam di hadapan anak-anak jadah berkulit kuning itu.”

Terdengar suara-suara sepakat di antara mereka meski dikemukakan dengan hati-hati.

“Kalau saja kau tidak bersikap begitu, kukira kita tidak terperangkap dalam kemesuman ini.”

Van Nekk tak menyorongkan tubuhnya ke Blackthorne. “Yang perlu kau lakukan hanyalah menempelkan kepalamu ke tanah sewaktu daimyo anak-anak jadah itu kebetulan ada di situ dan mereka pasti akan menjadi selembek anak domba.”

Dia menunggu jawaban, tapi Blackthorne tak menanggapi. Dia melangkah kembali ke pintu kolong seakan-akan tak ada yang didengarnya. Keresahan mereka bertambah.

Paulus Spillbergen menopang tubuhnya pada sebelah siku dengan susah-payah. “Apa yang kau bicarakan Baccus?”

Van Nekk menghampirinya dan menerangkan padanya tentang si imam dengan salibnya dan apa yang telah tcrjadi dan mengapa mereka semua ada di situ. Kedua matanya hari ini terasa lebih nyeri daripada biasa.

“Ya, itu bahaya, Pilot-Mayor, “ujar Spillbergen. “Aku bilang itu salah—tolong ambilkan air. Sekarang Jesuit-Jesuit itu sama sekali takkan membuat kita tentram.”

“Mestinya anda patahkan lehernya, Pilot. Soalnya Jesuit takkan memberi kita rasa tentram,” ujar Jan Roper. “Mereka itu kutu busuk dan kita ada di lubang apak ini karena hukuman Tuhan.”

“Omong-kosong, Roper,” ujar Spillbergen. “Kita di sini karena—”

“Ini hukuman Tuhan! Mestinya kita sudah membakar habis semua gereja di Santa Magdalena—bukan cuma dua. Mestinya begitu. Haram jadah!”

Spillbergen menepuk lemah seekor lalat. “Pasukan Spanyol itu kembali bergabung dan kita kalah banyak dalam jumlah—limabelas lawan satu. Ambilkan aku air! Sebelum kita bisa merampok kota dan menjarahnya dan menggesekkan hidung mereka di tanah. Tapi sesudah itu kalau kita lebih lama lagi tinggal di sana, kita bisa dibunuh seandainya kita tak segera mun—”

“Apa soalnya kalau kita memang melakukan karya ‘I’uhan? Kita sudah mengecewakan Dia.”

“Mungkin kita ke sini buat melaksanakan karya Tuhan”, ujar van Nekk menentramkan temannya, sebab Roper adalah lelaki yang baik meskipun amat bersemangat, seorang pedagang yang pandai dan mitra anaknya. “Mungkin kita bisa menunjukkan pribumi di sini kekeliruan-kekeliruan kehidupan papis [Papis = panggilan sinis bagi pemeluk agama Katolik.] mereka. Mungkin kita bisa mengubah keyakinan mereka mengikuti Iman Yang Benar.”

“Benar sekali,” ujar Spillbergen. Dia masih merasa diri lemah, tapi tenaganya mulai pulih.

“Saya kira anda seharusnya musyawarah dulu dengan Baccus, Pilot-Mayor. Bagaimanapun, dia itu ketua para pedagang, Dia mahir sekali berunding dengan orang-orang biadab.

Tolong ambilkan air, kataku!”

“Tak ada, Paulus.” Kemurungan van Nekk bertambah.” Mereka tak memberi kita makan atau air. Kita malah tak punya pispot buat kencing.”

“Mintalah satu! Dan air juga! Tuhan di Surga, aku haus. Mintalah air! Kau!”

“Aku?” tanya Vinck.

“Ya. Kau!”

Vinck memandang Blackthorne, namun Blackthorne sudah berpaling dan hanya mengawasi pintu kolong, jadi Vinck berdiri di bawah lubang dan berteriak, “Hei! Bangsat! Beri kami air, keparat itu! Kami mau makanan dan air!” Tak ada jawaban. Dia berteriak lagi. Yang lainnya lambat-laun mulai ikut berteriak.

Semuanya, kecuali Blackthorne. Serta-merta kepanikan dan kemualan akibat terkurung itu mulai merasuki suara mereka dan semuanya mulai melolong bagai serigala.

Pintu kolong itu terbuka. Omi memandang ke bawah, kepada mereka. Di sisinya terlihat Mura dan si imam.

“Air! Dan makanan. Demi Tuhan! Keluarkan kami dari sini! “Segera mereka semua menjerit lagi.

Omi memberi isyarat pada Mura, yang mengangguk dun melangkah pergi. Sesaat kemudian Mura kembali dengan seorang nelayan yang membawa sebuah tong besar diantara mereka. Menuangkan seluruh isinya: remah-remah ikan busuk dan air laut ke atas kepala para tawanan itu.

Manusia-manusia di gudang bawah tanah itu menyebar ke sana-sini dan mencoba menghindar, namun tuk ada yang bisa. Spillbergen terdesak, hampir tenggelam. Beberapa di antaranya tergelincir dan terinjak. Blackthorne belum juga beranjak dari sudutnya. Dia hanya memandangi Omi, membencinya. Lalu Omi mulai berbicara. Kini hanya ada rasa takut bercampur kesunyian yang hanya terpecah oleh suara batuk dan muntah Spillbergen. Ketika Omi selesai, si imam dengan gugup menghampiri lubang di gudang bawah tanah itu.

“Ini sejumlah perintah Omi: Kalian harus mulai berlaku seperti manusia normal. Kalian tak boleh membuat ribut-ribut lagi. Kalau kalian berbuat begitu, lain kali lima tong akan dituang ke dalam gudang. Lalu sepuluh, kemudian duapuluh. Kalian akan diberi makanan dan air dua kali sehari. Kalau kalian sudah belajar bagaimana bersikap, kalian akan diperbolehkan ke atas, ke dunia manusia. Tuanku Yabu sudah berkenan menyelamatkan jiwa kalian dan akan terus melindungi kalian, asal saja kalian mengabdikan diri padanya dengan setia. Semuanya, kecuali seorang. Salah seorang dari kalian akan mati. Senja nanti. Kalian sendiri yang akan memilih siapa orangnya. Tapi kau—” dia menunjuk ke Blackthorne. “—kau takkan menjadi orang terpilih.” Dengan perasaan tak senang, si imam menghela napas dalam-dalam, setengah membungkuk kepada samurai itu dan mundur.

Omi mengintip ke bawah lewat lubang. Dia dapat melihat kedua mata Blackthorne dan merasakan rasa benci yang terpancar. Agak susah untuk meruntuhkan semangatnya, pikirannya. Tak apa. Cukup banyak waktu. Pintu kolong itu pun dibanting kembali ke tempatnya.

????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????
Copyright © 2009 niwaexia@hellokitty.co.id
All rights reserved.

:¦ James Clavell – Shogun ¦:

James Clavell - Shogun - Book I - Bab 01

BAB I
Shogun

Blackthorne mendadak bangun. Untuk sesaat ia mengira dirinya bermimpi karena tadi dia tahu masih di pesisir dan kamar ini tak masuk dalam pikirannya. Ukurannya kecil, bersih dan tertutup tikar empuk. Dia sendiri tengah berbaring di bawah selimut tebal, dan sehelai lainnya lagi menutupi tubuhnya. Langit-langitnya dari kayu cedar berkilat dan dindingnya terdiri atas pritongan-potongan cedar, segi empat, ditutupi kertas pram yang meredam cahaya dengan nyaman. Di sisinya, sebuah baki lembayung berisikan mangkuk- mangkuk kecil. Salah satunya berisi sayur-mayur matang yang sudah dingin. Blackthorne melahapnya dengan rakus, hampir tak menyadari rasanya yang pedas. Mungkuk lainnya berisi sup ikan yang juga dikurasnya sampai habis. Lainnya lagi berisi bubur kental dari gandum dan ini pun dihabiskannya dengan cepat, menggunakan tangannya. Air di dalam kendi yang bentuknya aneh, terasa hangat dan cita-rasanya membangkitkan rasa ingin tahu—agak pahit namun cukup nikmat.

Lalu dia mulai mengenali salib di relungnya.

Rumah ini pasti milik orang Spanyol atau Portugis, pikirnya dengan terkejut. Ataukah milik orang Jepang atau Cina?

Salah satu dinding papan itu terbuka. Seorang wanita setengah baya pendek—gemuk, berwajah bundar, tampak tengah berlutut di sisi pintu. Dia membungkuk dan tersenyum.

Kulitnya kuning keemasan, kedua matanya hitam dan sipit sedang rambutnya yang panjang dan hitam dikonde rapi. Dia mengenakan jubah sutera kelabu dan kaus kaki pendek putih dengan sol tebal dan ikat pinggang besar dari kain berwarna lembayung tua di sekeliling pinggangnya.

“Goshujinsama, gokibun wa ikaga desu ka?” [Goshujinsama gokibun wa ikaga desu ka? = Bagaimana keadaan Tuan?] tanyanya. Dia menunggu sementara Blackthome hanya menatapnya dengan pandangan kosong lalu diulanginya lagi pertanyaannya.

“Ini rumah orang Jepang?” Blackthorne bertanya. “Jepang atau Cina?”

Perempuan itu hanya menatapnya tak mengerti dan mengatakan sesuatu yang juga tak dipahaminya. Lalu Blackthorne baru menyadari dirinya dalam keadaan bugil. Bajunya tak nampak di mana-mana. Dengan bahasa isyarat ditunjukkannya bahwa dia ingin berpakaian.

Lalu dia menunjuk ke mangkuk-mangkuk makanan itu dan perempuan itu pun tahu dia masih lapar.

Dia tersenyum sambil membungkukkan badan dan menutup pintu luncur itu rapat-rapat.

Blackthome kembali berbaring, lantai sial yang membatu dan memualkan ini menjadikan kepalanya berputar. Dengan susah-payah dicobanya untuk menenangkan dirinya.

Aku masih ingat aku sedang membuang sauh, pikirnya. Bersama Vinck. Kurasa itu Vinck.

Kami sedang di teluk dan kapal itu mencium beting lalu berhenti. Kami dapat mendengar ombak memecah di pantai tapi semuanya aman. Ada cahaya di pawai dan saat itu aku sedang di kabin bersama kegelapan di sekitar. Aku tak ingat apa-apa lagi. Lalu ada cahaya menembus kegelapan dan suara-suara ganjil. Aku berbicara dalam bahasa Inggris, kemudian Portugis. Salah seorang penduduk dapat berbicara Portugis sedikit. Atau apakah dia orang Portugis? Tidak, kurasa dia pribumi. Adakah kutanya juga kita di mana? Aku tak ingat. Kemudian kami kembali ke batu karang lagi dan ombak raksasa itu datang lagi dan aku terhanyut di laut dan tenggelam—airnya dingin seperti es—tidak laut tetap hangat dan persis ranjang sutera yang tebalnya sedepa. Mestinya mereka telah membawaku ke pesisir dan menempatkanku di sini.

“Pastilah ranjang ini yang terasa begitu lembut dan hangat,” ujarnya keras-keras. “Aku tak pernah tidur di Atas sutera sebelumnya. “Tubuhnya yang lemah tak mampu menahannya dan dia tertidur tanpa mimpi.

Ketika terjaga, nampak lebih banyak makanan dalam mangkuk-mangkuk tembikar dan pakaiannya sudah di sisinya, terlipat rapi. Rupanya semuanya telah dicuci dan dilicinkan lalu ditisik lagi dengan sempurna.

Tapi pisaunya lenyap, demikian pula kunci-kuncinya.

Sebaiknya kucari sebuah pisau dan harus cepat, pikirnya. Atau pistol.

Matanya beralih ke salib. Rasa ngerinya hilang, malah debaran jantungnya tambah cepat. Sepanjang hidupnya dia telah mendengar legenda yang dipercaya para pilot dan pelaut tentang kekayaan dari kemaharajaan rahasia Portugis dibelahan dunia bagian timur.

Legenda tentang bagaimana mereka berhasil mengubah kepercayaan penduduk setempat menjadi pemeluk agama Katolik dan karenanya bisa mengikat mereka, di kemaharajaan Portugis. Tempat di mana emas semurah besi gubal, dan di mana zamrud, ruby, intan, dan batu nilam sama banyaknya dengan batu kerikil di pantai.

Seandainya bagian tentang agama Katolik itu benar, ujarnya pada diri sendiri, mungkin selebihnya juga benar. Tentang kekayaan itu. Ya. Tapi lebih cepat aku mendapat senjata dan kembali ke Erasmus dan berada di belakang meriamnya, lebih baik.

Dimakannya makanannya, lalu berpakaian dan berdiri dengan tubuh gemetar, merasa tidak nyaman, seperti yang selalu dirasakannya kalau berada di darat. Sepasang sepatu larsnya hilang. Dia melangkah ke pintu, agak terhuyung-huyung, dan merentangkan sebelah tangannya untuk menopang dirinya, namun potongan-potongan cedar bersegi empat yang ringan itu tak kuat menahan berat tubuhnya dan segera berantakan. Kertasnya robek-robek. Blackthorne berusaha menegakkan tubuhnya. Perempuan yang tengah berdiri di lorong itu terkejut dan hanya dapat memandangnya saja.

“Maaf,” ujarnya, merasa tak enak karena kecanggungannya. Kesucian kamar itu pokoknya telah tercemar.

“Di mana sepatu saya?”

Perempuan itu memandangnya tak mengerti. Karenanya, dengan sabar, Blackthorne bertanya lagi dengan bahasa isyarat dan perempuan itu bergegas-gegas menyusuri lorong, berlutut dan membuka pintu kayu cedar lainnya dan memberi isyarat kepadanya. Suara-suara terdengar di dekatnya, juga bunyi air mengalir. Dia melangkah melalui pintu masuk dan menemukan dirinya sendiri di kamar lain, yang juga hampir kosong. Kamar ini menghadap ke serambi dengan anak-anak tangga yang menuju ke sebuah kebun kecil yang dikelilingi tembok tinggi. Di sisi pintu masuk ini nampak dua perempuan yang sudah berumur, tiga anak kecil berjubah merah tua, seorang lelaki tua, tak pelak lagi si tukang kebun, dengan penggaruk di tangan. Serta-merta semuanya membungkuk dengan hormat-nya dan membenamkan kepalanya dalam-dalam.

Dengan heran, Blackthorne melihat bahwa lelaki tua tak berpakaian, kecuali sepotong kancut pendek yang sempit, hampir tak menutupi kemaluannya.

“Pagi,” sapanya kepada mereka, tak tahu apa lagi yang harus dikatakan.

Mereka tetap berdiri tak bergerak, masih terus membungkuk.

Masih tercengang-cengang, Blackthorne menatap mereka. Lalu dengan canggung membungkukkan badannya pula. Semuanya kembali tegak dan tersenyum kepadanya. Si lelaki tua membungkuk sekali lagi dan kembali bekerja di kebun. Anak-anak itu menatapnya, lalu, sambil tertawa, berlarian pergi. Perempuan yang sudah berumur itu menghilang masuk ke dalam rumah. Namun Blackthorne merasa mata mereka semua tertuju ke arahnya.

Dilihatnya sepatu larsnya sudah berada di bawah anak tangga. Sebelum dia mengambilnya, perempuan setengah baya tadi sudah di sana sambil berlutut, menyebabkan Blackthorne merasa malu dan perempuan itu membantu mengenakannya. “Terimakasih,” ujarnya. Dia berpikir sesaat lalu menunjuk kepada dirinya sendiri.

“Blackthorne,” ujarnya, hati-hati. “Blackthorne.” Lalu dia menunjuk kepada perempuan itu. “Siapa namamu?”

Dia hanya menatap Blackthorne, tak mengerti.

“Blackthorne” ulangnya hati-hati, menunjuk ke dirinya sendiri, dan kembali menunjuk kepadanya. “Siapa namamu?”

Perempuan itu mengernyitkan kening, lalu dengan pengertian yang datang lambat-lambat, dia menunjuk ke dirinya sendiri dan berkata, “Onna! Onna!” [Onna = Perempuan.]

“Onna!” ulang Blackthorne, bangga terhadap dirinya sendiri, sama seperti kebanggaan perempuan itu terhadap dirinya pula. “Onna. ”

Perempuan itu mengangguk senang. “Onna!”

Kebun itu samasekali berbeda dengan yang pernah dilihatnya seumur hidup: air terjun kecil dengan sungai kecil dan jembatan kecil, lalu lorong kerikil, batu-batuan, bunga dan semak-semak yang tertata rapi. Begitu bersih, pikirnya. Begitu rapi.

“Incredible” [Incredible = Sukar dipercaya.] ujarnya.

“Nkerriber?” ulang perempuan itu berharap bisa membantu.

“‘Tak apa-apa,” sahut Blackthorne. Kemudian karena tak tahu apa lagi yang harus dilakukan, dia menyuruh perempuan itu pergi dengan lambaian tangan Dengan patuh perempuan itu pun membungkuk dengan hormatnya dan melangkah pergi.

Blackthorne duduk di bawah hangatnya mentari, bersandar pada sebuah tonggak.

Merasakan badannya amat lemah. Blackthorne hanya mengawasi lelaki tua menyiangi kebun yang jelas tak lagi memiliki rumpt liar. Aku heran di mana gerangan yang lain.

Apakah mereka masih hidup? Apakah si Kapten-Jenderal masih hidup? Berapa hari sudah aku tertidur? Aku masih bisa mengingat saat aku terjaga, makan dan tidur lagi, dan makanannya tak memuaskan seperti mimpi saja.

Anak-anak berhamburan riang melewatinya, saling mengejar, dan dia merasa dirinya malu kepada mereka karena kebugilan si tukang kebun, sebab waktu lelaki itu memiringkan badannya atau membungkuk, bagian terlarang dari tubuhnya terlihat semua dan Blackthorne terkejut karena anak-anak itu nampaknya tak memperhatikan. Dilihatnya atap-atap genting dan rumbia milik bangunan-bangunan lain di sebelah tembok dan nun di kejauhan, gunung-gunung tinggi. Angin kering menyapu langit dan membiarkan awan kumulus beriringan. Lebah hilir mudik mencari makan dan. hari itu hari musim semi yang cantik. Tubuhnya menuntut istirahat lagi namun Blackthorne memaksakan dirinya berdiri dan melangkah ke pintu kebun. Si tukang kebun senyum dan membungkuk dan berlari untuk membuka pintu dan kembali membungkukkan badannya dan menutup pintu dibelakangnya.

Desa itu mengelilingi pelabuhan seperti bulan sabit, dan menghadap ke timur. Boleh jadi sekitar dua ratus rumah yang asing bentuknya bertengger di kaki gunung yang melandai sampai kepesisir. Di atasnya, petak-petak sawah dan jalan-jalan berlumpur yang menuju ke utara dan selatan. Di bawahnya, daerah pelabuhan berbatu-batu bulat dan sebuah jalur landai yang sebatu jaraknya dari pesisir ke laut. Sebuah pelabuhan yang baik dan aman dan sebuah dermaga batu dengan lelaki dan perempuan yang tengah membersihkan ikan dan membuat jala, sebuah perahu dengan pola unik tampak tengah dibuat di sisi sebelah utara. Tampak gugusan pulau samudera raya, disebelah Timur dan Utaranya. Batu-batu karangnya mungkin ada di sana atau di seberang cakrawala.

Di pelabuhan, tempat perahu yang bentuknya aneh, tertambat banyak perahu nelayan yang beberapa di antaranya mempunyai layar besar. Agak ke tengah laut tampak beberapa lagi yang tengah dikayuh pengayuh-pengayuhnya yang terlihat berdiri dan menolakkan dayungnya melawan air laut, bukan sambil duduk dan menarik dayung seperti yang biasa dilakukannya. Banyak perahu yang menuju ke laut, lainnya menghadapkan haluannya kegalangan kayu, dan Erasmus sudah dilobuhkan dengan rapi, lima puluh yard dari pesisir, diair yang tenang, dengan tiga tali tambang di haluan. Siapa yang melakukannya?

Blackthorne bertanya pada diri sendiri. Ada sejumlah perahu di sisi Erasmus dan Blackthorne dapat melihat beberapa pribumi di dalamnya. Tapi tak seorang pun anak buahnya terlihat di situ. Di mana mereka gerangan?

Blackthorne melihat ke sekeliling desa itu dan terkejut karena begitu banyak orang yang memperhatikannya. Ketika mereka tahu dia memperhatikan kembali, semuanya membungkuk dan, masih merasa tak enak, Blackthorne membungkuk pula. Sekali lagi terlihat kehidupan yang riang dan mereka berjalan hilir-mudik, berhenti menawar, saling membungkukkan badan, rupa-rupanya sudah lupa pada kehadirannya, mereka bagaikan kupu-kupu beraneka-warna. Tapi Blackthorne merasa mata-mata mereka mengawasi dirinya dari setiap jendela dan pintu masuk begitu dia melangkah menuju pesisir.

Apanya dalam diri mereka yang begitu ganjil? tanyanya pada diri sendiri. Bukan Cuma pakaian dan sikapnya saja. Mereka tak bersenjata, pikirnya dengan terkejut. Tak ada pedang! Tak ada pistol! Mengapa begitu?

Toko-toko yang buka, dipenuhi barang-barang dan bungkusan aneh, tampak berjejer di jalan kecil itu. Lantai tokonya dinaikkan. Para penjual dan pembelinytl berlutut atau berjongkok di lantai-lantai kayu yang bersih. Dilihatnya kebanyakan mengenakan bakiak atau sandal jepit, beberapa di antaranya mengenakan kaue kaki putih yang sama berikut sol tebalnya yang terbelah di antara jempol kaki dan jari kaki berikutnya untuk menahan tali kulitnya, tapi mereka sengaja meninggalkan bakiak dan sandalnya di luar, di tanah. Yang bertelanjang kaki mencuci kakinya dan mengenakan sandal rumah yang bersih yang sudah disediakan. Memang sangat masuk akal, kalau kita pikir, ujarnya pade diri sendiri, terpukau.

Lalu dilihatnya seorang lelaki gundul berjalan men, dekat dan rasa takut mulai membuatnya mual dari bawah sampai ke perutnya. Imam itu sudah jelas orang Portugis atau Spanyol dan sekalipun jubahnya yang melambai itu berwarna jingga, rosario dan salib di ikat pinggangnya tak dapat menipu. Demikian pula rasa benci yang dingin yang terpancar pada raut wajahnya. Jubahnya kotor karena sering dibawa bepergian, dan sepatu lars gaya Eropanya, penuh lumpur. Dia tengah melemparkan pandang ke pelabuhan, ke Erasmus, dan Blackthorne tahu pastilah imam itu mengenalinya sebagai kapal Belanda atau Inggris, sesuatu yang baru bagi kebanyakan perairan, lebih langsing, lebih cepat, sebuah kapal dagang merangkap kapal tempur, dijadikan model dan dimanfaatkan oleh kapal-kapal perusak Inggris yang begitu banyak mendatangkan bencana bagi daratan Spanyol.

Bersama Imam itu ikut pula sepuluh pribumi, berambut hitam dan bermata hitam, seorang di antaranya berpakaian seperti imam itu sendiri, bedanya, dia bersandal jepit. Lainnya mengenakan aneka warna jubah atau celana longgar atau hanya kancut. Tapi tak seorang pun bersenjata.

Blackthorne ingin sekali berlari sementara masih ada waktu tapi dia tahu dia tak lagi bertenaga dan tak ada tempat untuk bersembunyi. Tinggi badannya, besar perawakannya dan warna matanya menjadikannya merasa terasing di dunia ini. Diputarnya punggungnya membelakangi tembok.

“Siapa kau?” imam itu berucap dalam bahasa Portugis. Dia lelaki bertubuh gempal, berkulit hitam dan tampaknya terlalu banyak makan dalam usianya yang duapuluhan, dengan jenggot panjang.

“Kau siapa?” Blackthorne membalas tatapannya.

“Ini dia perompak Belanda. Kau Belanda murtad. Kau bajak laut. Semoga Tuhan mengampunimu!”

“Kami bukan bajak laut. Kami padagang baik-baik, kecuali terhadap musuh-musuh kami. Aku sendiri pilol kapal itu. Siapa kau?”

“Pater [Pater = Pastor.] Sebastio. Bagaimana kau bisa sampai ke sini? Bagaimana?”

“Kami terdampar ke darat. Tempat apa ini? Apa ini wilayah Jepang?”

“Ya, Jepang. Nippon,” imam itu menyambut tak sabar. Dia berpaling ke salah seorang yang mengiringinya, yang paling tua, berperawakan kecil kurus dengan lengan-lengan yang kuat dan tangan yang kasap, kepalanya dicukur gundul dan rambutnya yang disimpul tipis seperti ekor babi, terlihat sama kelabunya seperti alisnya. Imam itu berbicara terpatah-patah dengannya, dalam bahasa Jepang sambil menunjuk ke arah Blackthorne. Semuanya tampak terkejut dan salah seorang langsung membuat tanda salib bagai penangkal iblis.

“Orang Belanda itu pembelot, pemberontak dan bajak laut. Siapa namamu?”

“Apakah ini perkampungan Portugis?”

Mata imam itu terlihat keras dan merah karena letih. “Kepala desa ini mengatakan dia telah melaporkan dirimu kepada yang berwajib. Dosa-dosamu sudah ketahuan. Di mana sisa anak buahmu?”

“Kami kehilangan arah. Kami cuma perlu makanan, air dan waktu buat memperbaiki kapal kami. Lalu kami berangkat. Kami bisa membayar buat setiap—”

“Di mana sisa anak buahmu?”

“Aku tak tahu. Di kapal. Kukira mereka masih di kapal.”

Sekali lagi imam itu menanyai si kepala desa, yang dijawab sambil berbicara panjang lebar dan menunjuk ke ujung desa sebelah sana. Si imam berpaling kembali ke Blackthorne. “Mereka menyalib penjahat di sini, Pilot. Kau akan mati. Daimyo akan datang diiringi para samurai pengikutnya. Semoga Tuhan mengampunimu.”

“Apa itu daimyo?”

“Bangsawan feodal. Dia yang menguasai seluruh opinsi ini. Bagaimana kau bisa sampai kesini?”

“Dan samurai?”

“Ksatria—serdadu—anggota kasta ksatria,” imam itu menyahut dengan kejengkelan yang bertambah. Kau datang dari mana dan siapa kau?”

“Aku tak kenal pada logatmu,” Blackthorne menjawab, ingin menguji kepercayaan diri si imam. “Kau orang Spanyol?”

“Aku orang Portugis,” si imam menjawab sengit, menyambut umpan Blackthorne.

“Sudah kukatakan padamu. Aku ini Pater Sebastio dari Portugis. Di mana kau pelajari bahasa Portugis sebagus itu. Eh?”

“Tapi Portugis dan Spanyol sudah satu kerajaan sekarang,” Blackthorne berucap dengan nada mengejek. “Raja kalian sama.”

“Kita terpisah. Kita bangsa yang berlainan. Memang demikian selamanya. Kita saling mengibarkan bendera kita masing-masing. Harta kita di seberang lautan juga terpisah, ya, terpisah. Raja Philip sudah menyetujui waktu dia merampas negeriku.” Pater Sebastio mengendalikan amarahnya dengan susah-payah, jari jemarinya gemetar. “Dia merampas negeriku dengan kekerasan senjata duapuluh tahun yang lewat! Tentaranya dan si tiran Spanyol, anak setan itu. Duke of Alva, semuanya melumatkan raja kami yang sejati. Que va! [Que va!= Jahanam!, Brengsek!, Astaga!]. Sekarang putra Philip yang memerintah tapi dia juga bukan raja kami sendiri. Kami akan segera punya. Raja sendiri,” Kemudian tambahnya dengan sengit, “Kau tahu itulah yang benar. Apa yang dikerjakan si Alva setan itu terhadap negeriku.”

“Itu bohong. Alva memang wabah pes di Belanda, tapi dia tak pernah bisa menaklukkan bangsa Belanda. Mereka masih tetap bebas. Dan selalu bebas. Tapi di Portugis? Dia memukul habis tentaramu dan seluruh negeri pun menyerah. Tak ada keberanian. Kau mampu mengusir luar orang Spanyol kalau kau mau, tapi kau takkan melakukannya. Kalian tak punya kehormatan. Tak punya cojones [Cojones = Pelir.]. Kecuali menjadi abu tanpa dosa, atas nama Tuhan.”

“Moga-moga Tuhan membakarmu di neraka selamanya,” imam itu menimpali dengan sengit. “Setan yang bergentayangan di luar akan ditumpas. Pembelot akan ditumpas. Kau dikutuk di depan Tuhan!”

Blckthorne merasa batinnya tertekan oleh rejilius teror semacam itu. Darahnya mulai mendidih. Ia berkilah dengan sinis. “Imam tak punya telinga Tuhan, Imam tak berhak mewakili suaraNya. Kami sudah bebas dari penindasanmu yang biadab dan kami akan terus bebas!”

Blackthorne tahu baru empatpuluh tahun yang lalu Bloody Mary Tudor menjadi Ratu Inggris dan orang Spanyol itu, si jadah Philip II, Philip si Bengis, menjadi suaminya. Dan Sri Ratu, puteri Henry VIII yang amat relijius itu telah menyidangkan imam-imam Katolik para penyidik, dan orang-orang murtadnya serta mengesahkan kembali dominasi Paus di Inggris. Ia melepas kekangan ayahnya. Mengubah jalannya sejarah. Mengundang Gereja Roma ke Inggris, menentang kehendak orang banyak. Dia memerintah selama lima tahun dan kerajaan itu dirobek-robek oleh kebencian, ketakutan, dan pertumpahan darah.

Tapi dia kemudian mati dan Elisabeth menjadi ratu pada usia duapuluh empat. Blackthorne dipenuhi rasa kagum dan rasa bakti yang; mendalam waktu dia memikirkan Elizabeth. Empat puluh tahun lamanya Ratu itu berperang melawan dunia.

Mengakali dan mengalahkan sejumlah Paus, serta gabungan antara Kerajaan Kudus Roma, Prancis dan Spanyol, pernah dikucilkan, diludahi dan dicaci-maki di luar batas kerajaannya. Tapi dia berhasil memimpin kita ke pelabuhan yang aman, kuat dan mandiri.

“Kita bebas,” Blackthorne berkata pada imam itu. “Kalian yang terpecah-belah. Kalian tak punya sekolah sendiri. Kami punya. Buku-buku sendiri. Alkitab sendiri. Gereja sendiri. Kalian orang-orang Spanyol, semua sama. Sampah! Kalian, para rahib, juga sama semuanya, penyembah berhala!”

Imam itu mengangkat salibnya dan memeganginya di antara Blackthorne dan dirinya sendiri seolah perisai. “Oh, Tuhan, lindungilah kami dari setan ini! Aku juga bukan orang Spanyol. Sekali lagi kuberitahu! Aku ini orang Portugis. Dan aku bukan rahib. Aku anggota Serikat Jesus!”

“Ah, tetap seperindukan dengan mereka. Seorang Jesuit!”

“Ya. Moga-moga Tuhan mengampuni jiwamu!” Pater Sebastio mengatakan sesuatu dalam bahasa Jepang dengan nada menghardik dan orang-orang itu pun beranjak ke arah Blackthorne yang berbalik membelakangi tembok dan memukul kuat-kuat salah seorang disitu,, namun lainnya datang mengerumuni dan Blackthorne merasa dirinya sukar bernapas.

“Nanigoto da ” [Nanigoto da = ada apa?]

Sekonyong-konyong kegaduhan itu mereda.

Lelaki muda itu cuma sepuluh langkah dari situ. Dia mengenakan celana pantalon dari batas lutut ke bawah, kimono berwarna cerah dan dua pedang bersarung tampak melekat di ikat pinggangnya. Yang satu pedang pendeka mirip keris. Lainnya pedang bermata dua, terlihat panjang dan agak bergelombang. Tangan kanannya memegang pangkal pedangnya dengan gaya seenaknya. “Nanigoto da?” tanyanya dengan kasar dan ketika tak seorang pun menjawab saat itu juga, “NANIGOTO DA?”

Orang-orang Jepang itu segera berlutut, kepala mereka mcncium tanah. Hanya imam itu yang tetap berdiri. Dia membungkuk dan mulai menjelaskan dengan terputus-putus, namun lelaki muda itu memotong penjelasannya dengan pandangan menghina dan menunjuk ke si kepala desa, “Mura!”

Mura, si kepala desa, yang masih tetap membenamkan kepalanya, lalu mulai menjelaskan dengan cepat. Beberapa kali dia menunjuk ke arah Blackthorne, sekali ke arah kapal Erasmus dan dua kali ke arah si imam. Kini tak ada lagi gerak-gerakan di jalan.

Semua yang terlihat oleh mata sudah berlutut dan membungkukkan badannya dalam-dalam. Si kepala desa sudah selesai. Lelaki bersenjata tadi menanyainya dengan angkuh dan dijawab dengan hormat serta cepat. Kemudian lelaki muda itu mengatakan sesuatu kepada si kepala desa sambil melambai dengan penghinaan yang terang-terangan ke arah si imam, lalu ke arah Blackthorne, dan lelaki beruban itu pun menjelaskannya dengan lebih sederhana kepada si imam, yang mukanya langsung memerah.

Orang itu, yang sekepala lebih pendek dan jauh lebih muda daripada Blackthorne, dengan wajah tampan tapi agak bopeng, hanya memandang saja ke arah orang yang tak dikenalnya. “Onushi ittai doko kara kitanoda? Doko no kuni no monoda?”

Imam itu berkata gugup, “Kasigi Omi-san bertanya, dari mana anda datang dan apa kebangsaan anda?”

“Tuan Omisan itu, daimyo?” Blackthorne balik bertanya, ngeri pada pedangnya dan bukan pada dirinya.

“Bukan. Dia samurai, samurai yang ditugaskan di desa ini. Nama keluarganya Kasigi,

Omi namanya sendiri. Di sini mereka selalu menggunakan nama keluarganya dulu. ‘San’ berarti ‘yang terhormat’ dan kau harus membubuhkannya pada semua nama demi kesopanan. Sebaiknya kau belajar bersikap sopan dan mengenal tatakrama secepatnya. Di sini mereka tak dapat berdamai dengan kekurang-sopanan”. Suaranya meninggi. “Cepatlah, jawab!”

“Amsterdam. Saya orang Inggris.”

Rasa kaget Pater Sebastio terlihat jelas sekarang; Katanya, ‘Inggris. England,’ kepada samurai itu dan mulai lagi menjelaskan tapi Omi memotongnya tak sabar dan memberondongnya dengan serentetan kata yang membingungkan.

“Omi-san bertanya apakah kau ini pemimpinnya. Kepala desa mengatakan cuma ada beberapa orang murtad seperti kau yang masih hidup, dan kebanyakan sedang sakit.

Apakah ada Kapten-Jenderalnya?”

“Saya pemimpinnya,” Blackthorne menyahut meskipun sebetulnya, karena mereka kini sudah di darat, Kapten-Jenderallah yang memegang pimpinan, “Saya yang memimpin,” tambahnya lagi, menyadari bahwa Kapten-Jenderal Spillbergen tak dapat memimpin apa-apa, baik di darat maupun di laut, sekalipun dia dalam keadaan sehat.

Lagi terdengar serentetan kata dari si samurai. “Omi-san mengatakan, karena kau pemimpinnya kau diizinkan untuk berkeliling di desa dengan bebas, ke mana saja kau inginkan, sampai daimyo datang. Daimyo akan menentukan nasibmu. Sampai saat itu, kau diperbolehkan hidup sebagai tamu di rumah kepala desa. Kau boleh datang dan pergi sesukamu. Tapi kau tak boleh meninggalkan desa ini. Anak buahmu dikurung di dalam rumah mereka dan tak diperbolehkan pergi dari situ. Kau mengerti?”

“Ya. Di mana anak buahku?”

Pater Sebastio menunjuk samar-samar ke arah sekumpulan rumah di dekat dermaga, jelas dia kelihatan tak senang oleh putusan dan rasa tak sabar Omi.

“Nah! Nikmatilah kebebasanmu, bajak laut. Dosa-dosamu sudah—”

“Wakarimasu ka?” [Wakarimasu ka? = Mengerti?] Omi bertanya langsung pada Blackthorne.

Katanya, “Anda mengerti?”

“Bagaimana mengatakan ‘ya’ dalam bahasa Jepang?”

Pater Sebastio berkata pada si samurai. “Wakamasu.”

Seraya mencemooh Omi mengusir mereka pergi Semuanya membungkuk dalam-dalam. Kecuali seorang yang tegak dengan sengaja, tanpa membungkuk.

Dengan kecepatan luar biasa pedang maut itu berkelebat diiringi suara mendesis dan kepala orang itu terlepas dari bahunya dan darah pun memancar dengan derasnya menggenangi bumi. Tubuhnya menggelepar beberapa saat dan kemudian diam. Tanpa menyadari, imam itu mundur selangkah. Tak seorang pun di jalan berani bergerak. Kepala mereka tetap tertunduk dan tak bergerak. Blackthorne berdiri kaku, terkejut sangat. Omi menaruh sebelah kakinya pada mayat itu “Ikinasai!” [Ikinasai = pergi!] serunya, mengusir mereka semua.

Orang-orang di mukanya membungkuk lagi hingga ke tanah. Lalu mereka bangkit dan melangkah pergi tanpa ekspresi. Jalan mulai kosong. Dan juga toko-toko.

Pater Sebastio melihat ke bawah, ke mayat itu. Dengan wajah muram diberkatinya orang mati itu sambil berkata, “In nomine Patris et Filii et Spiritus Sancti!” [In nomine Patris et Filii et Spiritus Sancti = Atas nama Bapak, dan Putra, dan Roh Kudus] ia berpaling kembali ke samurai itu tanpa rasa takut sekarang.

“Ikinasai!” Ujung pedang yang berkilauan itu singgah di atas mayat tadi.

Setelah agak lama, imam itu membalikkan badan dan melangkah pergi. Dengan anggun Omi mengawasinya lalu memandang Blackthorne. Blackthorne mundur, dan kemudian, ketika jaraknya cukup jauh dia cepat membelok dan lenyap dari pandangan.

Omi mulai tertawa terbahak-bahak. Jalanan benar-benar lengang sekarang. Waktu tawanya terdengar sudah letih, dia menggenggam pedangnya dengan kedua tangannya dan mulai menetak mayat itu secara sistimatis menjadi potongan-potongan kecil.

Blackthorne saat itu berada dalam perahu kecil, tukang perahu mengayuh dengan riang ke arah Erasmus. Blackthorne samasekali tak mengalami kesukaran untuk mendekat kekapalnya dan dia sudah bisa melihat banyak orang di geladak utama. Semuanya samurai.

Beberapa di antaranya mengenakan pelindung dada baja tapi umumnya mengenakan kimono, begitulah nama jubah itu, dan dua bilah pedang. Semuanya mengatur rambutnya dengan cara yang sama: tengah-tengah kepalanya dicukur licin dan rambut yang di belakang dan kedua sisinya dijalin menjadi buntut, diminyaki, kernudian dinaikkan kembali ke tengah kepala membentuk konde yang diikat rapi. Hanya samurai yang diperbolehkan mengenakan gaya rambut seperti ini, dan bagi mereka malah diwajibkan.

Hanya samurai yang boleh menggunakan pedang selalu yang panjang, pedang maut bermata dua dan yang pendek yang mirip keris dan, bagi mereka, kedua pedang itu juga diwajibkan.

Para samurai telah berjejer di pinggir geladak atas Erasmus, menunggu kedatangannya.

Dengan resah Blackthorne menaiki tangga geladak dan tiba di atasnya. Seorang samurai yang berpakaian lebih bagus dari yang lainnya datang menghampirinya dan membungkuk. Blackthorne sudah belajar baik-baik dan dia membungkukkan badannya sejajar dengannya dan semua samurai di geladak terlihat riang dan ramah. Blackthorne masih merasa ngeri terhadap pembunuhan tiba-tiba di jalan itu dan senyum mereka tak mampu menghilangkan firasat buruknya. Dia melangkah ke arab tangga, ke kabin awak kapal dan tiba-tiba berhenti. Di seberang pintu masuk dia melihat pita sutera merah yang lebar dan di sisinya terlihat tanda kecil dengan tulisan yang aneh dan berlekuk-lekuk. Dia

ragu-ragu sejenak, memeriksa pintu satunya, namun pintu itu pun disegel dengan pita yang sama dan tanda yang serupa dipakukan pada dinding penyekat.

Blackthorne menjangkau untuk mencopot sutera itu.

“Hotte oke!” [Hotte oke = Biarkan saja!] Untuk memperjelas maksudnya, samurai yang sedang bertugas jaga menggelengkan kepalanya. Dia tak lagi tersenyum seperti tadi.

“Tapi ini kapal saya dan saya ingin …”

Blackthorne menekan rasa cemasnya, matanya tertuju pada pedang-pedang mereka. Aku harus ke bawah, pikirnya. Aku harus mendapatkan buku pedoman nakhoda itu, baik yang milikku sendiri maupun yang dirahasiakan itu. Jesus Kristus, kalau mereka sampai menemukannya dan memberikannya kepada para rahib itu atau kepada orang-orang Jepang, celakalah kita. Pengadilan mana pun di dunia ini di luar Inggris dan di Negeri Belanda akan mendakwa kita sebagai bajak laut dengan bukti itu. Buku pedomanku mencatat tanggal-tanggal, jumlah penjarahan yang dilakukan, jumlah owak yang mati selama tiga kali pendaratan di pulaupulau di Amerika dan satu di Afrika di koloni Spanyol.

Jumlah gereja yang dirampok dan bagaimana caranya kita membakar kota dan galangan kapal. Dan buku pedoman Portugis itu? Itulah surat perintah kematian, karena sudah tentu itu barang curian. Paling tidak buku pedoman nakhoda itu dibeli dari seorang pengkhianat Portugis, dan berdasarkan hukum mereka, orang asing mana pun yang tertangkap basah memiliki buku pedoman nakhoda mereka yang mana pun, apalagi yang membuka rahasia ke Selat Magelhaens, harus dihukum mati segera. Dan jika buku pedoman nakhoda itu ditemukan di sebuah kapal musuh, kapal itu harus dibakar dan semua awak di dalamnya dihukum mati tanpa ampun.

“Nan no yoda?” [Nan no yo da? = Ada urusan apa?] salah seorang samurai bertanya.

“Kau bisa bicara Portugis?” Blackthorne bertanya dalam bahasa itu.

Orang itu mengangkat bahu. “Wakarimasen.” [Wakarimasen = saya tak paham.]

Lainnya maju ke depan dan membungkuk dengan hormatnya kepada pemimpinnya, yang mengangguk; tanda setuju.

“Teman Portugeezu,” samurai ini berucap dalam logat Portugis yang kuat. Dibukanya leher kimononya dan ditunjukkannya salib kayu kecil yang menggantung di lehernya.

“Karis’en!” Ditunjuknya dirinya sendiri dan tersenyum. “Karis’en.”

Lalu ia menunjuk Blackthorne “Karis’en ka?”

Blackthorne ragu-ragu, lalu mengangguk. “Kristen.”

“Portugeezu?”

“Inggris.”

Orang itu berbicara sejenak dengan pemimpinnya, kemudian keduanya mengangkat bahu dan kembali memandangnya bersama-sama. “Portugeeze?”

Blackthorne menggelengkan kepalanya, tak menginginkan untuk tidak sependapat dengan mereka perihal apa pun juga. “Teman-teman saya di mana?”

Samurai itu menunjuk ke ujung sebelah timur desa. “Teman.”

“Ini kapal saya. Saya mau ke bawah.” Blackthome mengatakannya dengan berbagai macam cara dan isyarat. Akhirnya mereka mengerti.

“Ah so desu! Kinjiru,” [Ah so desu! Kinjiru = Oh begitu ! Dilarang !] ujar mereka menekankan, mnunjukkan peringatan yang telah ditempelkan dan tersenyum riang.

Sudah jelas bahwa Blackthorne tak diperbolehkan untuk pergi ke bawah. Kinjiru mestinya berarti dilarang, pikir Blackthorne jengkel. Baik, persetan dengan itu! Ditekannya pegangan pintu itu ke bawah dan dibukanya sedikit.

“KINJIRU!”

Blackthorne tersentak kaget, dan ketika membalikkan badan, para samurai itu sudah berhadapan dengannya. Pedang-pedang mereka terlihat setengah tercabut dari sarungnya.

Tanpa bergerak kedua orang itu menunggunya mengambil keputusan. Lainnya, yang digeladak, mengawasinya dengan wajah dingin tanpa perasaan.

Blackthorne menyadari ia tak punya pilihan lain kecuali mundur, jadi dia hanya mengangkat bahu dan meangkah pergi sambil memeriksa tali-tali tambang dan kapal itu sekaligus, sebisa-bisanya. Layar-layar yang koyak sudah ada di bawah dan diikat jadi satu.

Namun ikatannya berbeda dari yang pernah dilihatnya, tapi dia tahu orang-orang Jepang itu telah mengurus kapalnya dengan baik. Blackthorne mulai menuruni tangga geladak dan berhenti. Keringat dinginnya terasa menetes ketika dilihatnya orang-orang Jepang itu tengah menatapnya dengan pandangan menusuk dan dia berpikir, Jesus Kristus, bagaimana aku bisa begini tolol? Blackthorne membungkukkan badannya dengan hormat dan serta merta rasa benci itu pun lenyap dan mereka semua membungkuk lagi dan kembali tersenyum. Tapi dia masih merasakan keringatnya menetes hingga ke tulang punggungnya dan dia membenci segalanya tentang orang Jepang dan berdoa semoga dirinya dan seluruh anak buahnya dapat kembali lagi ke kapal laut lepas.

“Demi Tuhan, saya kira anda keliru, Pilot,” ujar Vinck. Gusinya yang tak lagi bergigi terlihat lebar dan menjijikkan. “Kalau tuan bisa tahan dengan remah-remah yang mereka sebut makanan, maka tempat ini tempat terbaik yang pernah kusinggahi. Saya sudah tidur dengan dua perempuan dalam tiga hari ini dan mereka seperti kelinci. Mereka akan berbuat apa saja kalau tuan menunjukkan mereka bagaimana caranya.”

“Itu betul. Tapi kau tak mampu berbuat apa-apa, tanpa daging atau brandy. Tidak dalam waktu lama. Aku sudah kecapaian dan aku cuma mampu melakukannya sekali,” ujar Maetsukker, wajahnya yang ciut tampak berkedut-kedut. “Bangsat-bangsat kulit kuning itu tak mengerti apa yang kita butuhkan. Daging, bir, dan roti. Dan brandy atau anggur.”

“Justru itu yang paling buruk! Coba bayangkan, kerajaan kami ditukar dengan sebotol bir!” Baccus van Nekk terlihat murung. Dia melangkah pergi dan berdiri dekat Blackthorne dan memicingkan mata ke arahnya. Dia hanya mampu melihat dari dekat dan dia telah kehilangan sepasang kacamatanya dalam badai. Meskipun berkacamata, dia akan selalu berdiri dekat-dekat. Dia inenjabat kepala para pedagang, bendahara, dan wakil Perserikatan Dagang Hindia Belanda yang telah membiayai perjalanan itu. “Kita sudah di darat dan selamat dan aku belum juga dapat minum. Setetes pun belum! Mengerikan. Kau sudah dapat, Pilot?”

“Belum.” Blackthorne tak senang didekati siapa pun, tapi Baccus ini temannya, lagi hampir buta, jadi Blackthorne tak beranjak dari tempatnya. “Cuma air hangat dengan ramuan di dalamnya.”

“Pokoknya Jepang-Jepang itu tak tahu apa itu bir. Tak ada yang bisa diminum kecuali air hangat dan ramuan—tapi Tuhan yang baik akan menolong kita! Bayangkan, seandainya tak ada minuman keras di negeri ini!” Alis van Nekk tampak kering. “Tolong aku sedikit, Pilot. Mintakan bir sedikit, mau kan?”

Blackthorne telah menemukan rumah yang ditunjukkan Pater Sebastio di ujung sebelah timur desa. Samurai penjaganya memperkenankannya lewat, namun anak buah Blackthorne sendiri sudah menyatakan bahwa mereka tak dapat keluar lebih jauh dari pintu kebun. Rumah itu berkamar banyak seperti rumahnya, namun lebih besar dan dihuni oleh sejumlah besar pelayan dari pelbagai umur, baik lelaki maupun perempuan.

Ada sebelas anak buahnya yang hidup. Yang mati telah dibawa pergi oleh orang-orang Jepang. Porsi sayur-mayur segar yang berlebihan rupanya berhasil mematikan penyakit kudis dan semua anak buahnya, kecuali dua orang, mulai berangsur sembuh. Usus besar kedua orang itu mengeluarkan darah dan terserang disentri. Vinck telah mengobati mereka, tapi ini pun mungkin tak menolong. Begitu malam datang dia menduga mereka sudah mati. Kapten-Jenderal ada di kamar lain, masih juga sakit parah.

Sonk, si tukang masak, lelaki kecil berpotongan gemuk-pendek, berkata sambil tertawa, “Di sini enak, seperti kata Johann, Pilot, kecuali sayangnya tak ada makanan dan bir. Lagipula tak ada kesulitan dengan bangsat-bangsat Jepang itu selama kita tak memakai sepatu di rumah. Bangsat-bangsat itu bisa mengamuk kalau kita tak menanggalkan sepatu.”

“Dengar,” ujar Blackthome. “Di sini ada imam. Seorang Jesuit.”

“Jesus Kristus!” Semua kelakar mereka hilang begitu Blackthorne menceritakan tentang imam itu kepada mereka dan tentang pemenggalan kepala itu.

“Mengapa dia memenggal kepalanya, Pilot?”

“Aku tak tahu.”

“Baiknya kita kembali ke kapal. Kalau kaum Papis [Papis = panggilan sinis bagi pemeluk agama Katolik.] itu tahu kita ada di darat ….”

Rasa takut menggerayangi ruangan itu sekarang. Salomon, si bisu, hanya mengawasi Blackthome. Bibirnya bergerak-gerak, gelembung air liur nampak di sudutnya.

“Tidak, Salomon, tidak salah dengar,” Blackthorne berkata ramah, menjawab pertanyaannya yang tak terdengar. “Dia bilang dia Jesuit.”

“Kristus, Jesuit atau Dominikan atau persetan apa pun namanya itu, tak ada bedanya,” ujar Vinck lagi. “Baiknya kita kembali ke kapal. Pilot, tolong tanyakan pada samurai itu, eh?”

“Kita ada di tangan Tuhan,” Jan Roper menimpali. Dia salah seorang saudara petualangan, lelaki muda bermata sipit dengan dahi tinggi dan hidung tipis. “Dia akan melindungi kita dari penyembah berhala.”

Vinck kembali berpaling ke Blackthorne. “Apa kabar dengan orang-orang Portugis itu, Pilot? Anda pernah melihatnya di dekat-dekat sini?”

“Tidak. Tak ada tanda-tanda mereka ada di desa ini.”

“Mereka akan berkerumun di sini begitu mereka tahu tentang kita.” Maetsukker mengatakannya untuk semua dan si bocah Croocq mulai mengerang.

“Ya, dan kalau sudah ada satu imam, mestinya ada yang lainnya.” Ginsel menjilat bibir keringnya. “Dan para penakluk mereka yang terkutuk itu pastilah tak jauh.”

“Itu benar,” Vinck menambahkan tak senang. “Mereka seperti kutu.”

“Jesus Kristus! Papis!” seseorang bergumam. “Dan para penakluk itu!”

“Tapi kita kan ada di wilayah Jepang, Pilot?” van Nekk bertanya. “Imam itu memberitahu ini kepadamu?”

“Ya. Mengapa?”

Van Nekk beranjak lebih dekat dan merendahkaty suaranya. “Kalau benar ada sejumlah imam di sini dan beberapa pribumi itu juga Katolik, mungkin bagian lain dari cerita itu juga betul tentang kekayaan itu, emasnya, peraknya dan batu-batu berharganya.”

Sesaat semuanya terdiam. “Anda pernah melihatnya, Pilot? Ada emas. Ada permata tulen yang dipakai pribuminya ataukah emas?”

“Tidak. Tak ada.” Blackthorne berpikir sesaat “Aku tak ingat aku melihatnya atau tidak. Tak ada kalung atau manik-manik atau gelang. Dengar, ada yang harus kuberitahukan pada kalian. Aku sudah ke Erasmus tapi disegel.” Blackthorne menceritakan apa yang terjadi dan kecemasan mereka bertambah.

“Jesus, seumpama kita tak bisa balik ke kapal dan imam-imam itu ada di darat dan papis-papis itu … Kita hatus enyah dari sini.” Suara Maetsukker mulai bergetar.”Pilot, apa yang akan kita perbuat? Mereka akan membakar kita hidup-hidup! Conquitadores [Conquitadores = penakluk.] itu bangsat-bangsat itu akan mengacungkan pedangnya ….”

“Kita ada di tangan Tuhan,” Jan Roper mengingatkan dengan penuh keyakinan. “Dia akan melindungi kita dari orang-orang anti Kristus. Itu janjiNya sendiri. Tak ada yang perlu ditakuti.”

Blackthorne berkata. “Kalau aku melihat caranya samurai Omi-san itu membentak si imam aku yakin dia membencinya. Justru bagus, eh? Yang ingin kuketahui, mengapa imam itu tak memakai jubah yang biasa. Mengapa mesti warna jingga? Aku tak pernah melihat sebelumnya.”

“Ya, itu membuat orang penasaran,” ujar van Nekk.

Blackthorne mengangkat kepala, menatapnya. “Boleh jadi pengaruh mereka tak begitu kuat. Itu bisa banyak membantu kita.”

“Apa yang mesti kita perbuat, Pilot?” Ginsel bertanya.

“Bersabarlah dan tunggulah sampai ketuanya, yang disebut daimyo, datang. Dia akan melepaskan kita. Mengapa tidak? Kita kan tak berbuat apa-apa terhadap mereka. Kita malah punya barang-barang yang akan diperdagangkan. Kita bukan bajak laut, kita tak perlu takut.”

“Benar sekali dan jangan lupa, Pilot mengatakan orang-orang biadab itu bukan semuanya papis,” ujar van Nekk, lebih untuk lebih membakar semangatnya semata sendiri daripada yang lain-lainnya. “Ya. Moga-moga samurai itu membenci si imam. Dan Cuma samurai yang bersenjata. Kan lumayan, eh? Tinggal mengawasi saja samurai-samurai itu dan merebut kembali senjata kita Akal bagus. Kita sudah di kapal kembali sebelum kau menyadarinya.”

“Apa yang terjadi kalau si daimyo ini juga papis?” Jan Roper bertanya.

Tak seorang pun menjawab pertanyaannya. Kemudian Ginsel berkata, “Pilot, eh, orang berpedang itu, eh dia mencincang orang tak dikenal itu setelah memenggal kepalanya?”

“Ya.”

“Kristus! Mereka barbar! Orang gila!” Ginsel bertubuh tinggi, anak muda yang tampan berlengan pendek dan berkaki bengkok. Penyakit kudis telah merontokkan semua giginya. “Sesudah mencincang kepalanya, yang lainnya cuma berlalu saja? Tanpa berkata apa-apa?”

“Ya.”

“Jesus Kristus, orang tak bersenjata dibunuh begitu mudahnya? Mengapa dia berbuat begitu? Mengapa dia membunuhnya?”

“Aku tak tahu, Ginsel. Tapi kau belum pernah melihat kecepatan yang seperti itu. Detik ini pedangnya disarungkan, detik berikutnya kepala orang itu bergelinding.” “Tuhan lindungi kami!”

“Jesus yang baik,” van Nekk bergumam. “Kalau kita bisa kembali ke kapal … Taik badai itu, aku merasa tak bcrdaya tanpa kacamataku!”

“Beberapa banyak samurai yang di kapal, Pilot?” Ginsei bertanya.

“Dua puluh dua di geladak. Tapi lebih banyak yang di darat.”

“Kutukan Tuhan akan menimpa orang kafir dan orang-orang berdosa dan mereka akan dibakar di neraka selama-lamanya.”

“Aku ingin memastikan itu, Jan Roper,” ujar Blacktorne lagi, suaranya meninggi begitu dia merasakan kengerian akan pembalasan Tuhan mulai melanda ruangan itu. Dia amat letih dan ingin tidur.

“Tuan boleh merasa yakin, Pilot, oh ya, saya pasti. Saya berdoa mata tuan sudah terbuka akan kebenaran Tuhan. Bahwa tuan akhirnya menyadari bahwa kami semua di sini karena tuan—apa yang tertinggal pada kami.”

“Apa?” Blackthorne balik bertanya, dengan geram.

“Mengapa anda benar-benar membujuk si Kapten-Jenderal untuk mencoba melayari daerah Jepang? Itu tak termasuk perintah. Kami diperintahkan menjarah Dunia Baru, memaklumkan perang ke daerah musuh, lalu pulang.”

“Ada kapal Spanyol di sebelah utara dan selatan kita dan tak ada jalan untuk lari. Apakah ingatanmu sudah hilang bersama-sama akalmu? Kita harus berlayar ke barat—itu satu-satunya kesempatan kita.”

“Saya belum pernah melihat kapal musuh, Pilot. Tak seorang pun dari kita pernah melihatnya.”

“Ayolah, Jan,” ujar van Nekk dengan suara letih. “Pilot sudah melakukan apa yang dipikirnya paling baik. Sudah tentu orang-orang Spanyol itu ada di sini.”

“Ya, itulah kenyataannya, dan kita berada ribuan mil dari rumah dan sedang di perairan musuh, demi Tuhan!” Vinck meludah. “Itulah kebenaran Tuhan dan kebenaran Tuhan itulah yang kita pilih. Kita semua mengatakan ya.”

“Aku tidak.”

Sonk berkata, “Tak ada yang menanyai aku.”

“Oh, Jesus Kristus!”

“Tenanglah, Johann,” ujar van Nekk, mencoba untuk meredakan ketegangan. “Kita akan menjadi orang orang pertama yang mencapai wilayah Jepang. Masih ingat cerita-cerita itu, eh? Kita bisa kaya kalau kita pakai otak kita. Kita bisa berdagang barang-barang dan pasti ada emas di sana—mesti ada. Di mana lagi ki bisa menjual muatan kita? Bukan di sana, di Duni Baru. Di sana kita diburu dan diganggu! Mereka semu memburu kita dan orang-orang Spanyol tahu kita sudah jauh dari Santa Maria. Kita harus meninggalkan Chile dan ada jalan keluar untuk kembali lewat selat itu—sudah tentu mereka tengah menunggu kita di sana. Pasti! Di sinilah satu-satunya kesempatan kita dan kita punya akal.

Muatan kita bisa ditukar dengan rempah-rempah, emas dan perak. Pikir keuntungannya ribuan kali lipat, seperti biasanya. Kita sudah di kepulauan rempah-rempah. Kau pasti sudah tahu kekayaan pulau-pulau Jepang dan Cina, dan kau akan selalu mendengar tentang mereka bukan? Kita semua sudah. Kalau begitu, buat apa lagi kita menandatangani kontrak ini? Kita akan kaya-raya, lihatlah sendiri!”

“Kita sudah jadi orang mati, seperti juga yang lain. Kita ada di tanah setan.”

Vinck berteriak dengan marah, “Tutup mulutmu, Roper! Pilot sudah berbuat yang benar. Bukan salahnya jika ada yang mati—bukan salahnya. Selalu ada orang mati dalam pelayaran.”

Mata Jan Roper sudah berbintik-bintik, orang-orangannya mulai mengecil. “Ya, moga-moga Tuhan menentramkan arwah mereka. Salah satunya, kakakku sendiri.”

Blackthorne melongok ke dalam sepasang mata yang fanatik itu dan dia mulai membenci Jan Roper. Dalam hati dia bertanya pada diri sendiri apakah dia sungguh-sungguh berlayar ke Barat untuk mengelakkan kapal-kapal musuh? Ataukah itu disebabkan karena dia ingin menjadi nakhoda Inggris pertama yang melewati selat itu, pertama dalam kedudukan itu, yang sudah siap dan sanggup menuju Barat dan karenanya orang pertama pula yang memiliki kesempatan untuk mengelilingi dunia?

Jan Roper berbisik, “Bukankah yang lainnya mati karena ambisimu, Pilot? Tuhan akan menghukummu!”

“Sekarang jaga mulutmu,” kata-kata Blackthorn terdengar lembut tapi menentukan. Jan Roper balas memandangnya dengan muka tikusnya yang tetap dingin, tapi dikuncinya mulutnya rapat rapat.

“Bagus.” Blackthorne duduk dengan letih dilantai dan beristirahat di salah satu bagiannya yang tegak lurus.

“Apa yang harus kita perbuat, Pilot?”

“Tunggu dan beristirahat. Pemimpinnya segera datang—lalu kita akan menyelesaikan semuanya.”

Vinck melongok ke kebun, ke samurai yang sedang duduk tak bergerak-gerak di sisi pintu gerbang. “Lihat bangsat itu. Sudah berjam-jam di situ, tak bergerak, tak berkata apa-apa. Menggaruk hidungnya pun tidak.”

“Tapi dia kan tak menimbulkan kesulitan, Johan Betul tidak?” ujar van Nekk.

“Ya, tapi yang kita perbuat cuma tidur, meniduri perempuan dan menelan remah- remah.”

“Pilot, dia cuma sendiri. Kita bersepuluh,” Ginsela berkata tenang.

“Sudah kupikirkan itu. Tapi badan kita belum cukup kuat. Untuk menyembuhkan kudis saja perlu seminggu,” sahut Blackthorne resah. “Mereka yang di atas kapal terlalu banyak. Aku tak ingin menghadapi mereka meskipun seorang saja tanpa tombak atau pistol. Kalian dijaga pada malam hari?”

“Ya. Mereka mengganti penjaganya tiga atau empat kali Apa ada yang pernah melihat tukang ronda tertidur?” van Nekk bertanya. Semuanya menggeleng.

“Kita bisa naik ke kapal malam ini,” ujar Jan Roper. “Dengan bantuan Tuhan kita akan mengalahkan orang-orang kafir itu dan merebut kapal.”

“Keluarkan tahi kupingmu! Pilot sudah cukup memperingatkanmu! Tidakkah kau dengar?” Vinck meludah dengan jijik.

“Benar,” Pieterzoon, si penembak meriam, sepaham. “Berhenti meludahi Vinck tua!”

Mata Jan Roper bahkan tambah mengecil. “Sucikan jiwamu Johann Vinck. Dan kau juga, Jan Pieterzoon. Kiamat sudah mendekat.” Dia melangkah pergi dan duduk di serambi.

Van Nekk memecah keheningan. “Segalanya akan menjadi beres. Kau lihat nanti.”

“Roper benar. Ketamakanlah yang membawa kita kemari,” Croocq, si bocah, berkata dengan suara gemetar. “Sudah hukuman Tuhan bahwa—”

“Diam!”

Bocah itu tersentak kaget. “Ya, Pilot. Maaf tapi—yaah….” Maximilian Croocq anggota yang termuda di antara mereka, baru enam belas, dan dia melamar untuk ikut berlayar karena ayahnya salah satu dari kapten kapal armada itu dan keduanya akan bersama-sama mengadu untung. Tapi bocah itu melihat ayahnya mati secara mengerikan waktu mereka menjarah sebuah kota Spanyol, Santa Magdalena, di Argentina.

Perampokan itu sendiri berjalan dengan lancar dan dia telah menyaksikan apa itu perkosaan, ikut mencobanya, dan kemudian membenci dirinya sendiri. Kenyang oleh bau amis darah dan pembunuhan. Sesudahnya dia melihat lebih banyak lagi kawan-kawannya yang mati dan dari kelima kapal armada itu hanya tinggal satu yang selamat, sehingga sekarang dia merasa bahwa dialah yang tertua di antara semuanya. “Maaf, maafkan saya.”

“Sudah berapa lama kita di darat, Baccus?” Blackthorne bertanya. “Ini hari yang ketiga.” van Nekk beringsut lebih dekat lagi lalu berjongkok. “Tak ingat lagi dengan jelas kapan pendaratannya, tapi begitu aku bangun, orang-orang biadab itu sudah berkerumun di atas kapal. Tapi ternyata amat sopan dan ramah. Mereka menyodorkan makanan dan air hangat. Mengangkati yang mati dan membongkar sauh.

Tak ingat banyak, tapi kupikir mereka menarik kapal dan menambatkannya dengan baik. Kau sendiri sedang mengigau waktu mereka menyeretmu ke darat. Kita ingin menahanmu untuk tetap bersama-sama, tapi mereka tak mengizinkan. Salah seorang di antaranya berbicara bahasa Portugis beberapa patah. Tampaknya dialah kepala desanya, rambutnya sudah beruban. Dia tak tahu apa itu ‘Pilot-Mayor’ tapi tahu ‘Kapten’. Jelas dia menginginkan ‘Kapten’ kita berbeda tempat dengan kita, tapi dia berkata lagi bahwa kita semua tak perlu khawatir karena kau akan dirawat baik-baik. Kita pun demikian pula.

Kemudian dia dan lainnya mengantarkan ke sini, kebanyakan dengan mengotong kita, dan mengatakan untuk tetap diam di dalam rumah sampai Kaptennya datang. Kita tak mau membiarkan mereka mengambilmu tapi tak ada yang bisa dilakukan. Mau kau tanyakan sikepala desa itu tentang anggur dan brandy kita, Pilot?” van Nekk menjilat bibimya dengan rakus lalu menambahkan. “Sekarang setelah kupikir, rasanya dia ada menyebutkan daimyo.

Apa yang akan terjadi kalau si daimyo tiba?”

“Ada yang punya pisau atau pistol?”

“Tidak,” ujar van Nekk sambil menggaruk kutu dirambutnya tanpa sadar. “Mereka mengambil semua baju buat dicuci dan menyimpan semua senjata. Aku tak berpikir apa-apa tentang itu saat itu Mereka juga mengambil kunci-kunciku, begitu juga pistolku.

Semua kunci kusatukan di sebuah cincin. Kunci ruang simpan barang penumpang, kunci peti besi dan kunci gudang peuru.”

“Semuanya terkunci rapat. Tak perlu dikuatirkan.”

“Aku tak senang kalau kunciku tak ada padaku. Itu membuatku gugup. Keparat mataku ini, aku perlu brandy seckarang ini, atau sepoci arak.”

“Jesus! Sameree itu mencincangnya, ya, tidak?” Sonk berkata pada siapa saja.

“Demi Tuhan, tutup mulutmu. “Samurai” bukan ‘Sameree’. Kau sendiri cukup buat

membuat orang terberak-berak,” ujar Ginsel.

“Kuharap imam jadah itu tidak datang ke sini,” ujar Vinck.

“Kita akan selamat di tangan Tuhan.” Van Nekk masih mencoba bersuara. Mengatur suaranya seperti penuh percaya diri. “Begitu si daimyo datang, kita akan dilepaskan. Kita akan mendapat kapal kita kembali den senjata kita. Lihat saja. Kita akan menjual bawaan kita den kita akan kembali ke Holland sebagai orang kaya dan selamat, setelah berlayar mengelilingi dunia, orang Belanda pertama. Orang-orang Katolik itu masuk ke neraka dan itulah akhir semuanya.”

“Tidak, tidak begitu,” ujar Vinck. “Papis-papis itu membuatku ngeri. Taik! Mereka dan pikiranku tentang para penakluk itu. Cuih! Anda rasa mereka akan kuat di sini, Pilot?”

“Aku tak tahu. Kukira ya! Aku mengharap semua kawan-kawan kita akan di sini.”

“Anak jadah,” ujar Vinck. “Paling tidak kita masih hidup.”

Maetsukker berkata. “Boleh jadi mereka sudah pulang. Boleh jadi mereka kembali ke Selat Magelhaens waktu badai mencerai-beraikan kita.”

“Moga-moga kau benar,”sahut Blackthorne. “Tapi kukira mereka semua hilang.”

Ginsel gemetaran. “Paling tidak kita masih hidup.”

“Dengan papis-papis di sini dan orang-orang kafir yang bau itu tak bakal aku menukarkan kelakar pelacur tua dengan nyawa kita.”

“Terkutuklah saat aku meninggalkan Holland,” ujar Pieterzoon. “Taik semua arak!

Kalau saja aku tak lebih gila minum daripada belaian pelacur, aku masih tidur dengan biniku.”

“Persetan dengan apa yang kausukai, Pieterzoon. Tapi jangan menyumpahi minuman keras. Itu sumber hidup!”

“Menurutku kita sekarang berkubang taik sampai ke dagu dan air pasang akan segera datang.”

“Tak pernah kupikir kita akan mencapai daratan,” ujar Maetsukker. Dia terlihat mirip musang, bedanya dia tak punya gigi. “Tak bakal. Paling tidak cuma sampai di pulau-pulau Jepang. Papis bangsat. Taik, pelacur! Kita takkan pergi hidup-hidup dari sini! Kuharap kita punya pistol. Benar-benar pendaratan sial! Aku tak bermaksud apa-apa, Pilot,” ujarnya cepat, begitu Blackthorne berpaling kepadanya. “Cuma nasib sial, itu saja.”

Kemudian para pelayan membawakan mereka makanan lagi. Selalu yang sama: sayur-mayur matang dan mentah dengan cuka sedikit, sup ikan, dan bubur gandum. Mereka semua menampik potongan-potongan kecil ikan mentah itu dan minta daging atau arak.

Tapi mereka mengerti, dan lalu, waktu mentari hampir terbenam, Blackthorne pergi. Dia sudah letih akan rasa takut, rasa benci dan omongan-omongan jorok mereka Dikatakannya pada mereka dia akan kembali setelah subuh.

Toko-toko nampak sibuk di jalanan sempit itu. Blackthorne menemukan jalannya dan pintu gerbang ke rumahnya. Noda-noda darah di tanah telah disapu bersih dan mayat itu pun sudah tak ada. Pintu gerbang kebun sudah dibuka orang sebelum dia sempat menyentuhnya.

Si tukang kebun tua, masih dengan kancutnya, meskipun angin bertiup dingin, mengejapkan matanya dan membungkuk, “Konbanwa.” [Konbanwa = Selamat Malam.]

“Halo,” ujar Blackthorne tanpa berpikir. Dia melangkahi beberapa anak tangga, berhenti, mengingat ingat sepatu larsnya. Ditanggalkannya sepatunya dan melangkah dengan kaki telanjang ke serambi dan memasuki ruangan. Diseberanginya ruangan itu dan berjalan sampai ujung lorong namun tak dapat menemukan kamarnya.

“Onna.” teriaknya.

Seorang wanita tua muncul. “Hai?” [Hai = Ya.]

“Di mana Onna?”

Wanita tua itu mengernyitkan kening dan menunju pada dirinya sendiri. “Onna!”

“Oh, demi Tuhan.” Blackthorne berucap jengkel. “Di mana kamarku? Di mana Onna?” Dibukanya pintu kayu cedar berlapiskan kertas segi empat itu. Empat orang Jepang tengah duduk dilantai mengelilingi sebuah meja rendah, sedang asyik makan.

Dikenalinya salah satu dari mereka adalah lelaki beruban itu, si kepala desa yang tadi bersama-sama dengan si imam. Mereka semua membungkuk. “Oh, maaf,” ujarnya, dan kembali menutup pintu itu.

“Onna!” dia berteriak.

Si wanita tua berpikir sesaat lalu memberi isyarat. Blackthorne mengikutinya memasuki lorong lainnya. Wanita itu meluncurkan pintunya ke samping. Blackthorne langsung mengenali kamarnya dari salib di situ. Selimut-selimutnya sudah terlipat rapi.

“Terimakasih,” ujarnya, “Sekarang jemputlah, Onna!”

Wanita tua itu melangkah pergi. Blackthorne duduk, kepala dan tubuhnya terasa nyeri, dan dia berdoa moga-moga ada kursi, sambil bertanya-tanya pada diri sendiri di mana kursi-kursi itu disimpan. Bagaimana caranya naik ke kapal? Bagaimana caranya mendapatkan pistol? Mesti ada caranya. Kaki-kaki berdatangan kembali, dan sudah ada tiga perempuan sekarang, si wanita tua, seorang gadis kecil berwajah bundar dan wanita setengah baya itu.

Wanita tua itu menunjuk ke si gadis yang nampak agak ketakutan. “Onna.”

“Bukan”. Blackthome bangun dengan marah dan menuding ke wanita setengah baya itu. “Ini dia Onna, demi Tuhan! Kau tak tahu namamu? Onna! Saya lapar. Bisa dapat makanan sedikit?” Digosok-gosoknya perutnya, menirukan orang kelaparan. Mereka saling berpandangan. Lalu wanita setengah baya itu mengangkat bahu, mengatakan sesuatu yang menjadikan yang lainnya tertawa, melangkah ke tempat tidur dan mulai membuka bajunya.

Dua yang lainnya berjongkok dengan mata melebar dan penuh harap.

Blackthorne terkejut. “Apa yang kalian lakukan?”

“Ishimasho!” [Ishimasho = Mari.] ujar wanita itu sambil menyingkirkan pengikat pinggangnya yang lebar dan membuka kimononya. Dadanya rata, air susunya sudah kering dan perutnya besar.

Sudah jelas wanita itu ingin naik ke tempat tidur Blackthorne menggeleng, menyuruhnya berpakaian sambil memegang lengannya dan kedua wanita yang lainnya mulai bercakap-cakap dan memberi isyarat dan wanita setengah baya itu mulai marah. Dia menanggalkan baju dalamnya dan, dalam keadaan bugil, mencoba untuk kembali ke atas tempat tidur.

Obrolan mereka berhenti dan wanita-wanita itu membungkuk begitu si kepala desa datang tanpa bersuara ke lorong. “Nanda? Nanda?” [Nanda? = Ada apa?] tanyanya.

Si wanita tua menerangkan apa yang terjadi. “Tuan mau perempuan ini?” tanyanya tak masuk akal dengan logat Portugis yang hampir tak dapat dimengerti, sambil menunjuk kepada wanita yang sudah dalam keadaan bugi1 itu. “Tidak, tidak, tentu tidak. Saya Cuma mau onna mengambilkan makanan,” Blackthorne menunjuk tak sabar kepadanya. “Onna!”

“Onna berarti perempuan.” Orang Jepang itu menunjuk ke semua wanita itu. “Onna—onna—onna. Tuan mau onna?”

Blackthorne menggeleng dengan letih. “Tidak, tidak, terima kasih. Saya berbuat kesalahan. Maaf. Siapa namanya?”

“Bagaimana?”

“Siapa namanya?”

“Namanya Haku,” ujar orang itu.

“Haku?”

“Hai. Haku!”

“Maafkan saya, Haku-san. Saya kira Onna itu namamu.”

Orang itu menerangkan pada Haku dan tampaknya wanita itu kurang senang. Tapi orang itu mengatakan sesuatu dan semua wanita itu memandang Blackthorne, terkekeh di belakang tangannya dan pergi. Haku melangkah pergi dalam keadaan bugil, mengepit kimononya di lengannya, dengan keanggunan tiada tara.

“Terimakasih,” ujar Blackthorne, marah karena ketololannya sendiri.

“Ini rumah saya. Nama saya Mura.”

“Mura-san. Nama saya Blackthorne.”

“Bagaimana?”

“Nama saya Blackthorne—”

“Ah! Berr-rakk-fon.” Mura mencoba mengatakannya berkali-kali tapi tak sanggup.

Akhirnya dia menyerah dan meneruskan pengamatannya pada raksasa yang kini di hadapannya. Ini adalah orang barbar pertama yang pernah dilihatnya selain Pater Sebastio, dan imam satunya, beberapa tahun yang lewat. Tapi, imam-imam itu berambut hitam, bermata hitam dan berperawakan sedang. Lelaki ini: tinggi, berambut pirang, berjenggot pirang dengan mata biru dan berkulit pucatl jika berpakaian tapi juga merah kalau telanjang. Mengagumkan! Kupikir semua orang berambut hitam dan bermata hitam. Kita semua begitu. Orang Cina begitu, dan tidakkah Cina itu mencakup seluruh dunia kecuali negeri orang barbar di selatan Portugis itu? Dan mengapa Pater Sebastio amat membenci orang ini? Karena dia ini pemuja setan? Kukira tidak begitu, sebab Pater Sebastio mampu

mengusir setan kalau dia mau. Dan tak pernah kulihat Pater yang baik itu begitu marah.

Tak pernah. Mengejutkan!

Apakah mata biru dan rambut pirang itu ciri setan?

Mura menengadah, menatap Blackthorne dan teringat betapa dia telah mencoba menanyai di atas kapal dan kemudian, sewaktu kapten ini sudah siuman kembali, dia memutuskan untuk membawanya ke rumahnya karena dia pemimpinnya dan harus diberi perhatia khusus. Mereka telah membaringkannya di selimut dan telah menelanjanginya lebih dari sekedar ingin tahu.

“Besar betuul, neh?” Ibu Mura, Saiko, berucap. “Aku ingin tahu berapa besarnya kalau sedang tegak?”

“Besar,” Mura menjawab dan semua yang ada di situ tertawa. Ibu Mura, istrinya, teman-temannya dan pelayan-pelayannya, juga tabibnya.

“Kukira perempuannya mestilah-mestilah dikarunia hal yang sama,” isterinya, Niji, berkomentar.

“Tak mungkin, nak,” ujar ibu Mura lagi. “Pelacur yang mana pun pasti dengan senang hati akan memberikan bantuan yang diperlukan.”

Dia menggelengkan kepalanya, terheran-heran. “Tak pernah kulihat orang seperti ini selama hidupku. Aneh sekali ya?”

Mereka telah mencuci badannya tapi dia belum juga siuman. Tabibnya berpikir tidak bijaksana untuk memandikannya sampai dia terbangun. “Mungkin kita harus ingat, Mura-san, bahwa kita tak tahu bagaimana sebenarnya orang barbar ini”, katanya dengan kearifan yang cukup berhati-hati. “Maaf sekali, tapi salah-salah kita bisa membunuhnya. Jelas dia sudah dalam batas tenaganya. Kita harus melatih kesabaran.

“Tapi bagaimana dengan kutu di rambutnya itu?” Mura bertanya.

“Untuk sementara ini biarkan saja. Aku tahu semua orang barbar memilikinya. Maaf sekali. Kuanjurkan kita tetap bersabar.”

“Bagaimana kalau kits mengeramasi dia?” istrinya bertanya. “Kami akan berhati-hati.

Aku yakin gundikmu akan mengawasi usaha kita yang tak seberapa ini. Ini akan membantu si barbar dan sekaligus membuat rumah kita tetap bersih.”

“Aku setuju. Kau bisa keramasi dia,” ibu Mura akhirnya berkata. “Tapi aku sebenarnya hanya ingin melihat berapa besar miliknya kalau sedang tegak.”

Kini Mura memandangi Blackthorne tanpa sengaja. Kemudian dia teringat apa yang telah diceritakan imam itu tentang setan-setan dan tentara bajak-bajak laut in. Bapak kami di Surga melindungi kami dari setan ini, pikirnya. Kalau aku tahu dia begini mengerikan, tak pernah kubawa dia ke rumahku. Tidak, katanya pada diri sendiri. Kau harus memperlakukannya sebagai tamu agung sampai Omi-san mengatakan yang sebalikya. Tapi kau cukup bijak dengan mengirimkan berita pada imam itu dan juga kepada Omi-san dengan segera. Amat bijak. Kau ini kepala desa, kau sudah melindung desa ini dan kau sendiri yang bertanggungjawab.

Ya. Dan Omi-san akan menganggapmu bertanggung jawab atas kematian di pagi ini dan atas kekurangajaran orang yang mati itu dan memang sudah sepantasnya.

“Jangan tolol, Tamazaki! Kau ikut mempertaruhkan nama baik desa ini, neh,” Mura mengingatkan kawannya, si nelayan, hingga belasan kali. “Hentikan sikap mau tahumu itu!

Omi-san tak punya pilihan lain kecuali mencemoohkan orang Kristen. Tidakkah daimyo juga membenci orang Kristen? Apa lagi yang bisa dilakukan Omi-san?”

“Tak ada, aku setuju, Mura-san, maafkan aku.” Tamazaki selalu menjawab dengan hormat. “Tapi penganut Budha harus punya lebih banyak toleransi, neh? Bukankah kedua-duanya penganut Zen Budha?”

Zen Budhisme adalah pendisiplinan diri yang sepenuhnya menggantungkan bantuan pada diri sendiri dan meditasi untuk menemukan pencerahan. Sebagian besar samurai tergolong ke dalam sekte Zen Budha, karena sekte itu tampaknya dirancang untuk membangun jiwa orangorang yang punya harga diri tinggi dan tidak takut mati.

“Ya, Budhisme mengajarkan toleransi. Tapi berapa kalikah kau harus diingatkan bahwa mereka itu samurai, dan bahwa ini Izu, bukannya Kyushu, dan sekalipun ini umpamanya Kyushu, kau masih tetap salah. Selalu. Neh?”

“Ya. Maafkan aku, aku tahu aku salah. Tapi terkadang aku merasa aku tak mampu hidup dengan rasa malu dibatinku kalau Omi-san begitu menghina Iman Yang Benar.”

Dan kini, Tamazaki, kau akan mati karena pilihanmu sendiri, karena kau telah menghina Omi-san karena kau tak mau membungkukkan badan, karena dia berkata….

“imam bau dengan agama asing.” Sekalipun begitu, imam itu memang bau dan Iman Yang Benar itu memang asing. Temanku yang malang. Keyakinan itu tak dapat memberi makan keluargamu sekarang atau membersihkan noda itu dari desaku.

Oh, Bunda Maria berkatilah sobat lamaku ini dan karuniailah dia kegembiraan Surgawi. Harapkanlah segudang kesulitan dari Omi-san, Mura berkata pada diri sendiri. Dan kalaupun itu belum cukup pahit, sekarang daimyo kami akan datang.

Kecemasan selalu menjalar menghinggapi dirinya seketika dia mulai teringat, Kasigi Yabu, Daimyo Izu paman Omi—kekejamannya dan kekurang sopansantunnya, cara dia menipu penduduk desa dalam membagi basil bumi dan tanaman mereka serta cara-cara pemerintahannya yang menindas rakyat. Kalau perang pecah, Mura bertanya pada diri sendiri, di pihak mana : Yabu menyatakan dirinya, pada Daimyo Ishido atau pada Daimyo Toranaga? Kita terjebak di antara dua raksasa dan tergadai bagi keduanya.

Di sebelah utara, pada propinsi kedelapan, berdiam Toranaga. Bangsawan Kwanto, jenderal terbesar yang masih hidup. Kepala Angkatan Perang wilayah timur dan Daimyo terkuat di situ; di sebelah barat adalah wilayah Ishido, wilayah kekuasaan Daimyo Puri Osaka, penakluk Korea, Pelindung Pangeran, Kepala Angkatan Perang di barat. Dan lebih ke utara, tigaratus mil ke sebelah barat, adalah Tokaido, Jalur Pantai Utama yang menghubungkan Yedo, ibukota daerah kekuasaan Toranaga, dengan Osaka, ibukota daerah kekuasaan Ishido tiga ratus mil ke sebelah barat—ke arah mana pasukan harus berbaris.

Siapa yang akan memenangkan perang? Tak satu pun.

Karena perang diantara mereka akan melumatkan kekaisaran. Persekutuan akan terpecah-belah, propinsi akan bertarung melawan propinsi hingga desa melawan desa seperti yang pernah terjadi. Kecuali untuk sepuluh tahun belakangan. Sepuluh tahun belakangan ini, hampir-hampir tak dapat dipercaya, kekaisaran untuk pertama kalinya dalam sejarah berada dalam keadaan damai.

Aku mulai menyukai perdamaian, pikir Mura.

Tapi orang yang menciptakan perdamaian itu sudah mati. Si tentara petani yang kemudian menjadi samurai dan belakangan jadi jenderal dan kemudian lagi jadi jenderal terbesar dan akhirnya menjadi Taiko. Pelindung Mutlak Kekaisaran, sudah meninggal setahun dan puteranya yang baru berusia tujuh tahun masih terlalu muda untuk mewarisi kekuasaan yang maha besar itu. Jadi bocah itu, seperti juga kita, sedang tergadai. Di untara dua raksasa. Dan perang sudah tak terelakan. Kini bahkan Taiko sendiri pun tak mampu melindungi puteranya yang tercinta, dinastinya, warisannya atau pun kekaisarannya.

Mungkin suratan nasib sudah begitu. Taiko menyatukan negeri ini, menciptakan perdamaian, memaksa segenap daimyo menyembah seperti petani di hadapannya, membagi kembali-wilayah kekuasaan untuk memenuhi kehendaknya mereka menaikkan pangkat beberapa di antaranya, memecat sejumlah lainnya dan kemudian dia mati. Dia itu raksasa di antara orang cebol. Tapi barangkali benar juga bahwa seluruh hasil karyanya dan kebesaraannya harus mati juga bersamanya. Tidakkah manusia itu bagai bunga mekar yang ditiup angin dan hanya gunung, laut, binatang dan bumi, hasil ciptaan Tuhan yang nyata-nyata tahan lama?

Kita semua terperangkap dan ini kenyataan. Perang akan segera datang dan itu adalah kenyataan. Yabu sendiri akan memutuskan di pihak mana kita berdiri dan ini juga kenyataan. Desa ini akan selalu menjadi desa karena sawahnya subur dan isi lautnya berlimpah-limpah dan itulah kenyataan yang terakhir.

Mura mengembalikan lagi ingatannya kuat-kuat pada bajak laut barbar di hadapannya.

Kau ini setan yang dikirim untuk menyebarkan wabah pes di antara kami, pikirnya, dan kau hanya menimbulkan kesulitan bagi kami sejak kau datang. Mengapa tak kau pilih desa lain saja?

“Kapten-san mau onna?” tanyanya ingin membantu. Atas usulnya, penasehat desa mengatur barbar-barbar lainnya, baik atas nama keramah-tamahan maupun sebagai cara sederhana untuk membuat mereka sibuk sampai yang berwajib datang. Dan penduduk desa lebih terhibur oleh cerita-cerita berikutnya dari para penghubung daripada mengeluarkan uang yang harus ditanamkan untuk itu.

“Onna!” ulang Mura, yang secara wajar menduga bahwa begitu perompak itu mampu berdiri di atas kakinya, dia juga pasti akan senang untuk bersanggama dan semua persiapan telah dibuat.

“Tidak!” Blackhorne hanya ingin tidur. Tapi karena dia tahu bahwa dia membutuhkan orang ini di sampingnya, dia memaksa untuk tersenyum sambil menunjuk ke salib. “Kau orang Kristen?”

Mura mengangguk. “Kristen.”

“Saya Kristen.”

“Pater bilang bukan. Bukan Kristen.”

“Saya orang Kristen. Tapi bukan Katolik. Tapi saya masih tetap orang Kristen.”

Namun Mura tak mengerti. Juga tak ada cara lain Blackhorne dapat menjelaskan, betapa kerasnya pun dia mencoba.

“Mau Onna?”

“Si—si dimyo—kapan datang?”

“Dimyo? Tak paham.”

“Dimyo—ah, maksud saya daimyo.”

“Ah, daimyo. Hai Daimyo!” Mura mengangkat baliu. “Daimyo datang begitu datang.

Tidur. Harus bersih. Silahkan.”

“Apa?”

“Bersih. Mandi, silahkan.”

“Saya tak mengerti.”

Mura datang lebih dekat dan mengerutkan hidungnya secara menjijikan.

“Bau. Jelek. Seperti orang Portugis. Mandi. Ini membersihkan rumah.”

“Saya akan mandi kapan saya mau dan saya tidak bau!” Blackhorne mengomel. “Setiap orang tahu kalau saya mandi sekarang itu berbahaya. Kau mau masuk angin? Kau pikir saya ini orang goblok terkutuk? Kau angkat kaki dari sini dan biarkan saya tidur!”

“Mandi!” Mura memerintah, terkejut oleh amarah si barbar yang terang-terangan puncak dari tingkah laku yang jelek. Dan bukan hanya karena orang barbar itu menyebarkan bau, yang memang demikian, tapi dia belum mandi dengan sempuma dalam tiga hari ini sepanjang pengetahuannya, dan sudah selayaknya pelacur itu akan menolak untuk bersanggama dengannya, berapa banyaknya pun bayarannya. Mengerikan memang orang-orang asing ini, pikirnya. Mengherankan! Betapa mengejutkan dan betapa kotornya kebiasaan mereka! Tak apa. Aku bertanggungjawab atas dirinya. Kau akan diajarkan cara bersikap. Kau akan mandi sebagaimana layaknya manusia dan ibuku akan tahu apa yang ingin diketahuinya.” Mandi!”

“Sekarang keluar dari sini sebelum kuhancurkan badanmu!” Blackhome menyalak kepadanya sambil mengisyaratkan Mura agar pergi.

Hening sejenak dan ketiga orang Jepang tadi muncul disertai ketiga wanita itu. Mura menjelaskan dengan singkat apa yang telah terjadi lalu berkata dengan nada pasti kepada Blackhorne, “Mandi. Ayo.”

“Keluar!”

Mura maju mendekat seorang diri, memasuki kiimar. Blackhorne menangkis lengannya, tanpa bermaksud untuk menyakiti orang itu, hanya untuk mendorongnya pergi. Tiba-tiba Blackhorne mengerang kesakitan. Entah bagaimana temyata Mura telah menetak sikunya dengan sisi telapak tangannya dan kini sebelah tangan Blackhorne terkulai lemah, sesaat seperti lumpuh. Dengan marah, dia menuduh. Tapi ruangan itu terlihat berputar dan Blackhorne terjatuh dengan muka ke lantai, dan menyusul lagi hunjaman yang lain, terasa nyeri yang melumpuhkan pada punggungnya dan dia tak mampu bergerak. Demi Tuhan….”

Blackhrone mencoba bangun tapi kedua kakinya gemetaran. Lalu dengan tenang Mura menetakan jari tangannya yang kecil tapi keras seperti besi itu dan menyentuh pusat syaraf di leher Blackhrone. Nyeri bukan main.

“Jesus yang manis….”

“Mandi? Ya?”

“Ya ya,” Blackhrone terengah-engah dalam pendentaannya, terpesona bahwa dirinya telah dikalahkan sedemikian mudahnya oleh lelaki sekecil itu dan kini dengan berbaring tak berdaya bagai anak kecil, siap untuk dipotong lehernya.

Bertahun-tahun lalu Mura telah mempelajari seni Yudo dan Karate di samping bagaimana caranya bertarung dengan pedang dan tombak. Ini ketika dia masih seorang prajurit dan bertempur bagi Nakamura, si jenderal petani itu, si Taiko—jauh sebelum dia menjadi Taiko—waktu petani dapat menjadi samurai dan samurai dapat menjadi petani atau menjadi pengrajin atau bahkan menjadi saudagar kelas bawah, dan kemudian kembali menjadi prajurit. Aneh, pikir Mura sadar, sambil menatap ke bawah ke raksasa yang kalah, bahwa hal pertama yang dikerjakan Taiko ketika dia sudah benar-benar berkuasa adalah memerintahkan semua petani untuk secara berangsur-angsur tak lagi menjadi serdadu dan segera menyerahkan semua senjata. Taiko telah melarang mereka memiliki senjata untuk selamanya dan menetapkan sistim kasta yang kekal yang kini mengatur dan mengawasi seluruh kehidupan perorangan dan segenap pelosok kekaisaran: samurai di atas semuanya di bawah mereka, petani, lalu pengrajin, kemudian para pedagang, diikuti seniman, pelanggar hukum dan orang-orang buangan, sampai akhirnya pada derajat yang terbawah,

Kaum eta, yang tidak dianggap manusia, yang biasa berhubungan dengan mayat orang, penyamakan kulit dan mengurus binatang-binatang mati, yang juga merangkap algojo, binatang kriminal bertato dan pemotong kaki orang. Tentu saja, kaum barbar dianggap lebih rendah daripada derajat ini.

“Maafkan saya, Kapten-san,” ujar Mura, sambil membungkuk dalam-dalam, ikut merasakan perasaan si barbar yang kehilangan muka waktu dia terbaring sambil mengerang begitu bagai bayi yang masih menyusu. Ya, minta maaf yang sebesar-besarnya, pikir Mura, tapi harus dikerjakan. Kau membuatku gusar, terlepas dari apa yang masih tergolong layak, sekalipun bagi seorang barbar sepertimu. Kau berteriak seperti orang gila. Membuat bingung ibuku, mengganggu ketentraman rumahku, mengganggu pelayan-pelayanku dan membuat istriku terpaksa mengganti shoji. [shoji: Pintu dorong Jepang.] Aku tak mungkin mengizinkan tingkah lakumu yang jelas kurang sopan tanpa diprotes orang. Atau membiarkan kau menentang kehendakku di rumahku seridiri. Ini sungguh-sungguh demi kepentinganmu sendiri.

Sesudahnya, juga ini tidak terlalu buruk karena kalian orang-orang barbar memang tak punya malu. Kecuali imam-imam itu mereka berbeda. Mereka memang masih bau, tapi mereka itu umat yang dirapikan oleh Tuhan sendiri, jadi mereka masih punya muka. Tapi kau—kau ini pembohong dan sekaligus bajak laut. Tak ada kehormatan sedikit pun.

Betapa mengherankan! Minta diakui sebagai orang Kristen! Celakanya itu takkan menolongmu sama sekali. Daimyo-daimyo kami membenci Iman Benar itu dan orang-orang barbar, meskipun mereka menghargai keyakinan kalian karena mereka diajarkan harus begitu. Tapi kau ini bukan orang Portugis atau orang Kristen, karenanya tidak di-lidungi hukum, neh? Jadi sekalipun kau ini sudah tergolong orang mati atau paling tidak yang kakinya sudah dipotong sudah kewajibanku untuk membuatmu nampak bersih.

“Mandilah baik-baik!”

Mura membantu orang-orang lainya menggotong Blackhorne yang masih kebingungan, menyusuri rumah, keluar, ke kebun, melangkah sepanjang tempat beratap yang amat dibanggakan Mura dan menuju tempat mandi. Yang wanita mengikuti di belakang.

Hal ini tergolong salah satu pengalaman yang mengagumkan dalam hidup Mura. Dia menyadari saat itu bahwasanya dia akan bercerita dan menceritakan kembali kisah ini pada teman-temannya yang tak percaya sambil menghadapi bertong-tong sake; [sake: arak Jepang.] juga pada teman-temannya yang lebih tua, para nelayan, penduduk desa, pada anak-anaknya yang mula-mula pasti takkan mempercayainya.

Tapi mereka, pada gilirannya, akan juga menghibur anak-anaknya dengan cerita-cerita itu dan nama Mura, si nelayan, akan tetap hidup selamanya di desa Anjiro yang terletak di propinsi Izu di pantai tenggara daratan utama kepulauan Honshu. Mura, si nelayan, beruntung sekali dapat menjabat kepala desa pada tahun pertama setelah kematian Taiko dan karenanya untuk sementara ini bertanggung jawab atas diri pemimpin orang-orang barbar yang ganjil ini, yang muncul dengan tiba-tiba dari laut sebelah timur.

                                                                                                                                    
Copyright © 2009 niwaexia@hellokitty.co.id
All rights reserved.

:¦ James Clavell – Shogun ¦:

James Clavell - Shogun - Book I - Prolog

PROLOG
Shogun I

Badai terus menerpa dan terasa begitu menusuk. Dia tahu, kalau tidak mendarat dalam tiga hari ini, mereka semua akan mati. Terlalu banyak kematian dalam pelayaran ini, pikirnya, aku nakhoda dari armada orangorang mati. Tinggal satu dari lima kapal—dua puluh delapan awak dari seratus tujuh dan sekarang hanya sepuluh yang masih mampu berjalan sementara yang lain sudah sekarat, termasuk Kapten-Jenderal. Tidak ada makanan, hampir tidak ada air, yang ada cuma air basi yang berbau busuk. Namanya John Blackthorne dan dia sendirian di atas geladak selain si Panjarwala [Panjarwala: petugas yang mengamati keadaan laut.] —Salamon si bisu—yang merunduk di keteduhan, meng-amati laut di depan.

Kapal tiba-tiba miring oleh hujan badai yang datang mendadak dan Blackthorne berpegang kuat pada salah satu lengan kursi kapal yang ikut terhempas ke dekat kemudi di geladak hingga kapal itu mantap kembali, diiringi bunyi kayu-kayu berderik. Itulah Erasmus. Kapal perang merangkap kapal dagang berbobot mati dua ratus enam puluh ton.

Bertolak dari Rotterdam dengan dua puluh meriam dan satu-satunya kapal yang selamat dari armada ekspedisi pertama yang dikirim kerajaan Belanda untuk memporak-porandakan musuh di Dunia Baru (sekarang benua Amerika). Kapal Belanda pertama yang pernah menerobos rahasia-rahasia Selat Magelhaens. Empat ratus sembilan puluh enam awak. Semuanya sukarelawan. Semuanya orang Belanda kecuali tiga dari Inggris—dua nakhoda, satu perwira. Tugasnya: merampas dan membakar harta orang Spanyol dan Portugis di Dunia Baru, membuka jalan bagi konsesi-konsesi dagang, menemukan pulau- pulau baru di Samudra Pasifik untuk dijadikan pangkalan dan menuntut daerah itu bagi kerajaan Belanda dan diharapkan dalam waktu tiga tahun tugas selesai.

Orang-orang Belanda pemeluk agama Protestan ini telah berperang selama lebih dari empat dasawarsa, berjuang keras melepaskan diri dari penindasan majikan-majikan Spanyol yang mereka benci. Kerajaan Belanda, yang terkadang disebut juga Holland, Nederland atau negeri Tanah Rendah, masih tergolong bagian sah dari kerajaan Spanyol. Inggris, kerajaan pertama yang menolak kedaulatan Paus di Roma dan kemudian menjadi Protestan lebih dari tujuh dasawarsa yang lalu, juga telah berperang melawan Spanyol sejak dua puluh tahun belakangan ini dan secara terang-terangan bersekutu dengan kerajaan Belanda selama satu dasawarsa.

Angin meniup lebih dahsyat dan kapal tiba-tiba bergerak maju. Ia melaju dengan tiang-tiang yang sebagian telanjang kecuali tiang penangkal badai teratas. Dan sekalipun air pasang dan badai membuatnya terombang-ambing namun ia tetap tegar melaju ke arah cakrawala yang mulai menghitam.

Pasti lebih banyak badai di sana, Blackthorne bergumam sendiri. Juga batu karang. Juga pasir. Laut tak dikenal. Bagus. Aku telah menggumuli laut sepanjang hayat dan menang. Akan selalu menang. Sekarang pun pasti menang. Mengapa tidak?

Aku ini nakhoda Inggris pertama yang berhasil melayari Selat Magelhaens. Ya, yang pertama dan nakhoda pertama pula yang pernah melayari perairan Asia, di samping sejumlah kecil bangsat-bangsat Portugis dan anak-anak jadah Spanyol yang masih mengira bahwa merekalah yang empunya dunia ini. Orang Inggris pertama di perairan ini.

Begitu banyak yang pertama, sebelumnya. Ya, begitu banyak. Dan begitu banyak pula kematian untuk memperolehnya. Sekali lagi ia mengendus mencium angin, namun tetap tak ada petunjuk adanya daratan. Diamat-amatinya laut lepas, namun warnanya tetap kelabu dan suram. Tak satu pun tumbuhan ganggang atau bercak warna pemberi petunjuk adanya gundukan pasir. Dilihatnya ujung-ujung runcing batu karang lain nun jauh di sebelah kanan geladak, namun itu tak berarti apa-apa baginya. Selama sebulan ini gugusan batu karang di sana-sini memang sempat menakutkan mereka, namun sama sekali belum tampak daratan. Lautan ini benar-benar tak berkesudahan, pikirnya. Bagus. Untuk itulah kita dilatih—untuk mengurangi lautan yang tak dikenal, untuk mempetakannya dan kembali pulang. Sudah berapa lama meninggalkan rumah? Setahun tambah sebelas bulan tambah dua hari. Tempat pendaratan terakhir adalah Chili, seratus tiga puluh dua hari yang lalu, di seberang samudera yang pertama kali dilayari Magelhaens delapan puluh tahun yang lewat, Samudera Pasifik.

Blackthorne dilanda rasa lapar yang amat sangat dan bibir serta tubuhnya terasa nyeri oleh kudis. Dipaksanya kedua belah matanya memperhatikan arah kompas dan dipaksanya otaknya memperkirakan posisi. Sekali saja alur kisah telah tercatat dalam buku pedoman nakhoda pedoman lautnya—dia boleh merasa aman dalam bintik kecil di lautan luas ini.

Dan kalau dia aman, kapalnya pun akan aman dan bersama-sama, mereka mungkin akan bertemu Jepang-Jepang itu atau bahkan Raja Kristen si Prester John dengan Kekaisaran Emasnya yang menurut legenda terletak di Utara Cina, di mana pun letak Cina itu. Dan dengan bagian kekayaan yang kudapat, aku akan berlayar lagi ke sebelah barat ke arah rumah. Aku, nakhoda Inggris pertama yang mengelilingi dunia dan aku takkan meninggalkan rumah lagi. Tak akan. Demi kepala anakku!

Sentuhan angin membuyarkan lamunannya yang sedang menerawang dan membuat-nya terjaga. Tidur sekarang adalah tolol. Kau takkan pernah terjaga lagi dari tidur itu, pikirnya, lalu dibentangkannya kedua belah tangannya untuk melenturkan otot-otot yang kaku di punggungnya dan dililitkannya jubahnya lebih erat lagi ke sekujur tubuhnya.

Dilihatnya sebagian layar-layar terkembang seimbang dan kemudian terikat aman. Sipanjarwala, Salamon si bisu masih berjaga. Begitu sabarnya dia duduk mendekam dan berdoa supaya daratan cepat terlihat.

“Pergilah ke bawah, Nakhoda. Saya yang akan berjaga kalau Tuan suka.” Mualim Tiga, Hendrik Specz, tampak memaksa dirinya menaiki tangga kapal, wajahnya kelabu tanda lelah, sepasang matanya cekung, kulitnya penuh bisul dan kekuning-kekuningan.

Dia bersandar kuat-kuat pada kompas untuk menjaga keseimbangan diri sambil muntah sedikit. “Jesus, terkutuklah hari aku meninggalkan Holland.”

“Di mana si mualim, Hendrik?” Di tempat tidurnya. Dia tak bakal ke luar dari tempat keparatnya itu. Tak akan, pokoknya tidak sekitar hari kiamat ini.”

“Dan Kapten?”

“Sedang mengerang, minta makan dan minum.” Hendrik meludah. “Saya katakan padanya akan saya panggangkan ayam kebiri dan menghidangkannya di atas sepiring perak dengan sebotol brandy buat cuci sekalian Scheit-Huis! Coot!” [Scheit-Huis! Coot!: Rumah bordil! Sundal!]

“Jaga mulutmu!”

“Baik, Pilot. Tapi dia tak lebih dari bangsat pelahap belatung dan kita semua akan mati karena dia.” Lelaki muda itu kembali muntah dan mengeluarkan lendir berwarna.

“Jesus yang baik, tolonglah anakMu.”

“Kembali ke bawah sana! Balik lagi nanti! Subuh-subuh!”

Hendrik mendudukkan dirinya pelan-pelan sambil menahan nyeri di atas kursi kapal yang satunya.

“Bau mayat di bawah. Saya akan berjaga kalau Tuan suka. Ke mana arahnya?”

“Ke mana saja angin membawa kita.”

“Di mana daratan yang Tuan janjikan? Di mana Jepang jepang itu? Di mana coba, saya tanya?”

“Di depan.”

“Selalu di depan! Gottimhimmel [Gottimhimmel: Tuhan di Surga!]. Pelayaran ini tidak termasuk tugas kita. Taik!

Seharusnya saat ini kita sudah di rumah. Aman. Perut kenyang, tidak mengejar-ngejar api gunung St. Elmo lagi.”

“Turun ke bawah atau jaga mulutmu!”

Dengan wajah memberengut Hendrik memalingkan mukanya dari lelaki ber-perawakan tinggi dan berjenggot itu. Di mana kita sekarang? Ia ingin bertanya, Mengapa aku tak boleh melihat buku pedoman nakhoda yang dirahasiakan itu? Namun dia juga tahu kita tak boleh menanyakan hal itu pada Nakhoda, khususnya yang satu ini. Sekalipun begitu, pikirnya, aku berharap aku akan tetap kuat dan sehat seperti waktu meninggalkan Holland. Jadi aku tak perlu menunggu lagi. Akan kuhantam matamu yang kelabu itu sekarang juga dan kuhentikan senyummu yang memabukkan itu dari mukamu dan mengirimmu langsung ke tempatmu yang pantas di neraka. Kemudian aku yang akan menjadi Kapten Pilot dan kami akan menjadi orang Belanda pertama yang memimpin kapal bukan milik orang asing dan semua rahasia akan aman di tangan kita, karena tak lama lagi kami akan berperang melawanmu, Inggris. Kami juga menginginkan hal yang sama: menguasai lautan, mengawasi lalulintas kapal dagang, menguasai Amerika dan mencekik Spanyol.

“Mungkin Jepang-Jepang itu sebenarnya tak ada,” gerutu Hendrik tiba-tiba, wajahnya murung. “Gottbewonden legend. Itu mungkin hanya legenda Tuhan di surga.”

“Itu benar ada. Di antara garis lintang tiga puluh dan empat puluh di utara. Sekarang jaga mulutmu atau pergi ke bawah.”

“Ada orang mati di bawah, Pilot,” Hendrik menggerutu lalu menatap ke depan, membiarkan pikirannya menerawang.

Blackthorne beringsut dari kursi nakhodanya, tubuhnya terasa kian nyeri hari ini. Kau masih lebih mujur, mereka semuanya lebih mujur dari Hendrik. Bukan, bukan lebih mujur.

Lebih hati-hati. Kau masih menghemat buahmu sementara yang lain menghabiskannya tanpa pikir panjang. Mengabaikan peringatan yang kaukeluarkan. Karenanya sekarang kudismu itu masih tetap lunak, sedang kudis mereka terus-menerus berdarah. Perut mereka sudah mulai terkuras. Mata mereka mulai merah dan berair dan gigi-gigi mereka sudah mulai rontok atau emailnya rusak hingga kepala. Mengapa manusia tak pernah mau belajar?

Dia tahu bahwa mereka semua takut kepadanya, bahkan Kapten-Pilot pun demikian pula dan itulah yang paling dibencinya. Tapi itu biasa, sebab nakhodalah yang memerintah di lautan; memang dialah yang menentukan arah kapal dan menakhodainya. Dialah yang membawanya dari pelabuhan yang satu ke pelabuhan yang lain.

Pelayaran hari ini berbahaya karena peta-peta navigasi yang sedikit dan tidak jelas itu boleh dikatakan tak ada gunanya. Dan sudah jelas tak bakal mampu menetapkan garis bujur yang dikehendaki.

“Cari bagaimana menetapkan garis bujur dan kau akan menjadi orang terkaya di dunia begitu, Bayangkan! Sri Ratu akan memberimu sepuluh ribu pound berikut gelar bangsawan dengan segala kemudahannya atas jawaban teka-teki itu. Orang-orang Portugis pemakan taik itu malah akan memberimu lebih banyak lagi—kapal dagang emasnya. Dan anak-anak jadah Spanyol itu akan memberimu dua puluh kapal! Kalau jauh dari daratan, kau akan selalu kehilangan pegangan, nak.” Blackthorne teringat saat itu. Caradoc berhenti sesaat dan menggelengkan kepalanya dengan sedih. “Kau akan terhilang, nak. Akan terhilang! Kecuali…”

“Kecuali kita memiliki buku pedoman nakhoda!” Blackthorne akan selalu berseru dengan gembira, karena mengetahui dirinya telah berhasil memahami pelajaran dengan baik. Ketika itu dia masih tigabelas tahun tapi sudah setahun menjadi murid Alban Caradoc, nakhoda dan pembuat kapal yang ulung. Orang tua ini sudah seperti ayahnya sendiri yang sudah tiada. Dan dia tak pernah memukulnya, malah mengajar dirinya dan nnak-anak lelaki sebayanya segala rahasia pembuatan kapal dan cara menggumuli laut dengan akrab.

Buku pedoman nakhoda adalah buku kecil berisi catatan terperinci milik seorang nakhoda yang dahulu pernah ke sana. Buku itu mencatat arah magnit kompas di antara pelabuhan dan tanjung, semenanjung dan selat. Buku itu juga mencatat bunyi, kedalaman serta warna air dan sifat-sifat dasar laut. Juga memaparkan bagaimana caranya sampai disana dan bagaimana kita kembali; berapa hari kita berlayar pada jalur laut yang khusus, pola angin, kapan angin berhembus dan dari mana; arus jenis apa yang akan kita hadapi, dan dari mana datangnya; saat-saat ada badai dan saat-saat angin bagus bertiup; di mana kapal dimiringkan dan di mana dia diisi air, di mana ada kawan dan di mana ada lawan, beting [Beting (timbunan pasir atau lumpur laut) yang panjang (di muara atau di laut)] batu karang, air pasang, tempat singgah, pokoknya segala sesuatu yang diperlukan pada sebuah pelayaran.

Bangsa Inggris, Belanda dan Prancis selalu memiliki buku pedoman nakhoda bagi perairannya, namun sisa perairan dunia hanya pernah dilayari oleh nakhoda-nakhoda Portugis dan Spanyol, dan kedua negeri ini menganggap semua buku pedoman nakhoda itu rahasia. Buku pedoman nakhoda yang sanggup mengungkapkan jalur laut menuju Dunia Baru atau menyibak Selat Magelhaens dan Tanjung Harapan adalah milik dan penemuan bangsa Portugis. Sejak saat itu jalur laut yang menuju ke Asia dijaga ketat dan dianggap sebagai harta nasional oleh bangsa Portugis dan Spanyol, lalu dengan upaya yang sama kerasnya jalur itu dicari oleh lawan-lawan mereka, bangsa Belanda dan Inggris.

Namun buku pedoman nakhoda yang baik tergantung dari nakhoda yang menulisnya. Kemudian tergantung dari ahli menulis halus yang mengutipnya serapi barang cetakan yang saat itu masih jarang didapat dan akhirnya tergantung dari seorang ilmuwan yang menerjemahkannya. Buku pedoman nakhoda karenanya, dapat mencetak kekeliruan.

Bahkan juga yang disengaja. Seorang nakhoda takkan pernah mengetahui hal itu sampai dia sendiri pernah berada di tempat itu. Paling tidak sekali. Di laut, nakhoda adalah pemimpin, pedoman, dan wasit satu-satunya bagi anak buahnya. Dia adalah Dewa. Penguasa tunggal. Dan dia seorang diri memerintah dari geladak belakang.

Ah, anggur yang memabukkan itu, ujar Blackthome pada dirinya sendiri. Sekali diteguk, ia tak akan pernah terlupakan. Selalu dicari. Selalu dibutuhkan. Dia termasuk kekuatan yang mampu membuatmu tetap hidup sementara yang lainnya mati.

“Kau bisa terus berjaga, Hendrik?”

“Ya, ya, aku rasa begitu.”

“Akan kukirimkan pengganti si panjarwala. Jaga supaya dia berdiri di angin dan bukannya di keteduhan. Itu akan membuatnya peka dan awas.” Untuk sesaat, Blackthorne bertanya pada diri sendiri apakah dia akan memutar jalan kapal searah dengan angin lalu memhuang jauh semalam atau tidak. Tapi sesaat kemudian dia memutuskan untuk mengurungkan niat itu, lalu menuruni tangga geladak dan membuka pintu kabin muka.

Tangga itu menuju ke tempat tinggal awak kapal. Kabin itu mengambil lebar badan kapal, dengan tempat tidur dan tempat tidur gantung bagi seratus duapuluh orang. Udara hangat mengelilinginya dan Blackthome diam-diam memanjatkan syukur. Ia mengabaikan bau amis yang datang dari lambung kapal di bawah. Di antara dua puluh awak itu, tak seorang pun terlihat bergerak di tempat tidurnya.

“Ke atas kau, Maetsukker,” ujar Blackthome dalam bahasa Belanda, salah satu bahasa pergaulan di negaranegara Tanah Rendah yang dikuasainya dengan sempurna, di samping bahasa Portugis, Spanyol dan Latin.

“Saya hampir mati,” ujar lelaki berperawakan kecil dan berprofil tajam itu sambil meringkuk lebih dalam lagi di tempat tidumya. “Saya sakit, lihat, kudis ini sudah menanggalkan gigiku. Oh Jesus! Tolonglah, kita semua akan mampus! Kalau tidak karena kau, kita semua sudah sampai di rumah, Aman! Saya ini pedagang. Saya bukan pelaut. Saya tidak tahu apa-apa coal. Taut. Lainnya saja!. Itu Johann di sana …” Dia berteriak begitu Blackthome menariknya keluar tempat tidurnya dan mendorong tubuhnya ke pinto.

Darah memenuhi mulutnya dan dia tertegun. Tendangan yang kasar pada rusuknya menyadarkannya dari nanamya.

“Bawa pantatmu ke atas dan diam di sana sampai kau mampus atau kita mendarat.”

Lelaki itu membuka pinto dan melangkah dengan perasaan tersiksa. Blackthome memandangi anak buahnya satu persatu. Mereka membalas pandangannya. “Bagaimana keadaanmu, Johann?”

“Cukup baik, Pilot. Mungkin saya bisa bertahan.”

Johann Vinck berusia empatpuluhtiga tahun, kepala penembak meriam dan orang tertua di kapal. Dia botak dan ompong. Kulitnya bagai warna pohon oak tua, tapi masih kuat.

Enam tahun yang lewat, dia ikut Blackthorne berlayar dalam ekspedisi yang sial ke arah timur laut dan karena itu mampu mengukur kemampuan masing-masing.

“Orang-orang seumurmu kebanyakan sudah mati, jadi kau melebihi kami semua disini.” Blackthorne baru tiga puluh enam.

Vinck tersenyum ceria. “Itu karena brandy, Nakhoda. Juga karena tidak berzina dan aku menjalani kehulupan suci seperti Santo.”

Tak seorang pun tertawa. Lalu ada yang menunjuk ke tempat tidur. “Pilot, si serang [Serang : (Lihat The Dictionary of Nautical Terms (kamus istilah pelayaran) oleh John La Dage Terbitan AIR, Tanpa tahun penerbitan)] mati.”

“Kalau begitu, bawa mayatnya ke atas! Mandikan dan tutup kelopak matanya! Kau, kau dan kau!”

Anak buahnya cepat-cepat melompat dari pembaringannya kali ini dan bersama-sama mereka setengah menyeret dan setengah menggotong mayat itu dari kabin.

“Kau berjaga sampai subuh, Vinck. Dan Ginsel, kau panjarwala.”

“Siap, Pak.”

Blackthome kembali ke geladak. Dilihatnya Hendrik masih berjaga dan kapal masih dalam keadaan baik. Si panjarwala yang baru digantikan, Salamon, tersandung-sandung lewat di depannya. Ia seperti orang sekarat. Matanya bengkak dan merah karena pukulan angin. Blackthome menyeberangi pintu yang satu lagi dan pergi ke bawah. Lorongnya menuju ke kabin besar di buritan, kamar Nakhoda kepala sekaligus gudang amunisi. Kabinnya sendiri di sebelah kanan dan yang lain, yang di samping, biasanya untuk ketiga mualim. Saat ini, Baccus van Nekk, sipemimpin para pedagang, Hendrik, mualim tiga dan si pesuruh, Croocq, menempatinya bersama-sama. Semuanya sakit.

Blackthorne melangkah ke kabin besar. Si Kapten-Jenderal, Paulus Spillbergen, tengah berbaring setengah sadar di tempat tidurnya. Dia berperawakan pendek, berkulit kemerahan. Biasanya amat tambun, namun sekarang kurus kering, lipatan-lipatan perut buncitnya kini terlihat kempes. Blackthorne menarik kendi air dari sebuah laci yang tak kelihatan dan membantu rekannya mereguknya sedikit.

“Terimakasih,” ujar Spillbergen lemah. “Mana daratan—mana daratan?”

“Di depan,” bisik Blackthome, seperti tak lagi mempercayai jawabannya sendiri. Ia lalu meletakkan kendi air itu jauh-jauh dan cepat-cepat menutupi kedua telinganya dari erangan rekannya. Blackthome melangkah pergi dengan kebencian yang semakin bertambah terhadapnya.

Hampir setahun yang lalu keduanya berhasil mencapai Tierra del Fuego, tiupan angin saat itu cukup baik bagi upaya melayari Selat Magelhaens yang tak dikenal sebelumnya.

Tapi Nakhoda kepala memerintahkan pendaratan untuk mencari emas dan harta karun.

“Demi Kristus, lihat pantainya, Kapten-Jenderal! pasti tak ada harta karun di lautan sampah itu.”

“Legenda mengatakan tempat itu kaya emas dan kita dapat menuntut daratan itu bagi kejayaan Nederland!”

“Orang-orang Spanyol pernah berkuasa di sini selama limabelas tahun.”

“Mungkin! Tapi mungkin juga tak sampai ke selatan ini,” Pilot Mayor.

“Di sini musim-musim berbeda, Pilot-Mayor. Bulan Mei, Juni, Juli, Agustus adalah musim dingin yang mematikan. Buku pedoman nakhoda mencatat kalau kita terlambat, kita mengalami saat genting menembus selat itu, angin berganti arah lagi dalam beberapa minggu, lalu kita terpaku di sini, musim dingin di sini biasanya berbulan-bulan.”

“Berapa minggu, Pilot?”

“Buku pedoman nakhoda mengatakan delapan. Tapi musim-musim itu tak selalu sama.”

“Kalau begitu kita jelajahi saja selama satu-dua minggu. Itu sudah cukup dan kemudian kalau perlu kita ke utara lagi. Menjarah kota-kota lebih banyak lagi. Bagaimana tuan-tuan?”

“Kita harus mencobanya sekarang, Kapten-Jenderal. Spanyol hanya punya sedikit kapal dagang di Pasifik. Tapi di sini lautan-lautannya dijejali mereka. Dan mereka mencari kita. Sebaiknya kita pergi saja. Sekarang juga.”

Namun Kapten-Jendral mengunggulinya dan berhasil memenangkan suara dari ketiga kapten yang lain—tapi bukan ketiga Pilot yang lain, satu orang Inggris dan tiga orang Belanda—dan memimpin penjarahan yang sia-sia di pesisir.

Angin berubah arah agak dini tahun itu dan mereka harus mengalami musim dingin disana, si Kapten-Jenderal takut pergi ke utara karena armada Spanyol. Saat itu sudah empat bulan mereka di sana dan seratus lima puluh enam orang dalam kapal itu meninggal karena lapar, dingin dan disentri, sebagian dari mereka malah sudah menggigiti kulit anak sapi yang menutupi tali-tali tambang. Badai dahsyat di selat itu telah memporakporandakan armada Belanda. Erasmus adalah satu-satunya kapal yang berlabuh di Chile. Mereka menunggu kedatangan kapal lainnya selama berbulan-bulan, dan kemudian, ketika armada Spanyol mulai mendekat, mereka pun memutuskan untuk berlayar kembali. Buku pedoman nakhoda yang dirahasiakan itu hanya mencatat keterangan sampai di Chile.

Blackthorne kembali ke lorong, membuka pintu kabinnya sendiri dengan anak kunci, kemudian menguncinya kembali. Kabinnya bertiang rendah, kecil dan rapi, dan dia harus merunduk waktu tubuhnya memasuki kabin dan mencari kursi untuk duduk. Dibukanya sebuah laci dengan anak kunci dan dengan hati-hati dibukanya bungkus buah apel terakhir yang telah dimakannya sedikit demi sedikit sepanjang perjalanan dari kepulauan Santa Maria, di lepas pantai Chili. Buah itu sudah lembek, dan berjamur di bagian yang busuk.

Dipotongnya seperempat dan tampak beberapa ekor beIatung di dalamnya. Tanpa pikir panjang dikunyahnya, sambil mengingat-ingat legenda laut kuno bahwa belaiung apel berkhasiat untuk melawan kudis, sama berkhasiatnya dengan buahnya sendiri dan lagi, kalau rligosokkan ke gusi, binatang itu malah sanggup mencegah gigi rontok. Pelan-pelan saja ia mengunyah karena gigi-giginya terasa ngilu dan gusinya terasa nyeri dan lembek, lalu diteguknya air dari kantong kulit.Rasanya anyir. Lalu dibungkusnya kembali sisa apelnya dan dikuncinya di dalam laci.

Seekor tikus menyelinap cepat-cepat di bawah cahaaya yang terbias dari lentera di atas kepalanya. Kayukayu berderik nyaring. Lipas merayap di lantai. Aku letih. Aku begini letih. Blackthorne menatap sekilas ke arah tempat tidur. Panjang dan sempit, tikar pandannya serasa mengundang. Aku begini letih. Pergilah tidur sejam ini saja, setan di dirinya mendesak. Atau sepuluh menit saja dan kau akan segar kembali buat seminggu. Kau cuma bisa punya waktu sekian jam dari sekian hari sekarang ini, dan kebanyakan di antaranya hanya berdiri di atas, di udara dingin. Kau harus tidur. Tidur. Anak buahmu menggantungkan diri padamu.

“Tidak, besok saja aku tidur,” ujarnya keras-keras dan dipaksanya tangannya membuka petinya dengan anak kunci dan menarik keluar buku pedoman nakhodanya. Dilihatnya buku pedoman satunya, milik Portugis, masih selamat dan belum tersentuh dan ini membuatnya senang. Cepat-cepat diambilnya pena bulu ayamnya lalu mulai menulis: 21 April, 1600. Jam kelima. Senjakala. Hari ke 133 dari kepulauan Santa Maria, Chili, 32 derajat di garis lintang utara. Laut berombak, angin kencang dan kapal memasang layar penuh seperti biasa. Warna laut kelabu kehijauan dan tanpa dasar. Kami masih terus berlayar mengikuti angin searah 270 derajat, dan dengan sigap membelok ke utara barat laut, kira-kira dua mil darat, masing-masing tiga mil pada jam irii. Batu-batu karang besar berbentuk segitiga mulai terlihat dalam setengah jam belakangan ini, di sebelah utara timur laut, berjarak setengah mil darat’.

‘Tiga awak meninggal pada malam hari karena kudis, Joris, si pembuat layar, Reiss si penembak meriam, dan Mualim Dua, de Haan. Setelah mendoakan arwah mereka pada Tuhan, dan didampingi oleh si Kapten-Jenderal yang masih juga sakit, kulemparkan mayat-mayat ke laut tanpa selubung apa pun, sebab tak ada yang mampu membuatnya. Hari ini serang kapal, Rijckloff meninggal’.

‘Aku tak sanggup menafsirkan posisi matahari pada tengah hari ini, lagi-lagi karena cuaca mendung. Tapi aku menduga kapal kita masih terus berlayar menurut kompas dan pendaratan di Jepang itu akan segera terlaksana…’

“Tapi seberapa cepat” tanyanya pada lentera laut yiing tergantung di atas kepalanya, terayun-ayun bersama olengnya kapal. “Bagaimana cara membuat peta? Mesti ada caranya, ujarnya pada diri sendiri seperti y,ing telah dilakukannya berjuta-juta kali. Bagaimana tnenentukan garis bujur? Mesti ada caranya. Bagaimanii caranya mengawetkan sayuran?

Apa itu kudis? ”

“Orang bilang itu wabah dari laut, nak,” Alban Caradoc selalu berkata. Dia lelaki berperut gendut, berhati lembut dan jenggotnya yang kelabu selalu kusut.

“Tapi apakah kita bisa merebus sayuran dan meiigawetkan air kaldu?”

“Semuanya akan layu, nak. Belum ada orang yang menemukan bagaimana cara mengawetkannya.”

“Orang bilang Francis Drake akan segera berlayar.”

“Tidak. Kau tak boleh pergi, nak.”

“Saya hampir empatbelas. Tim dan Watt sudah di Mitu dan Drake membutuhkan siswa.”

“Mereka sudah enambelas. Kau baru tigabelas ”

“Orang bilang Drake akan mencoba melayari Selat Magelhaens, lalu ke atas, ke pesisir menuju daerah yang belum dijelajahi orang ke pantai-pantai California untuk menemukan Selat Anian yang menghubungkan Numudra Pasifik dan Atlantik. Dari pantai-pantai California terus berlayar menuju New Foundland, ke Terusan Barat Laut, sampai akhimya….”

“Apa yang disebut. Terusan Barat Laut, nak. Belum ada yang dapat membuktikan kebenaran legenda itu.”

“Drake akan membuktikannya. Dia sudah Laksamana sekarang dan kita akan merupakan kapal Inggris pertama yang melayari Selat Magelhaens, yang pertama di Samudra Pasifik, yang pertama dan saya takkan punya kesempatan seperti ini lagi.”

“Oh ada, Drake takkan mampu menyibakkan rahasia-rahasia ke Selat Magelhaens kecuali dia mencuri buku pedoman nakhoda atau menawan seorang pilot Portugis untuk memimpinnya kesana. Belajarlah bersabar, nak. Kau masih harus banyak belajar.”

“Saya mohon!”

“Tidak.”

“Mengapa?”

“Karena dia akan pergi berlayar dua atau tiga tahun atau mungkin lebih. Yang lemah dan yang muda-muda. Hanya diberi makanan yang paling enak dan air yang paling sedikit. Dan di antara kelima kapal yang berangkat, hanya kapalnya yang akan kembali. Kau takkan hidup, nak.”

“Kalau begitu saya hanya akan magang di kapalnya. Saya kuat. Dia pasti akan mengambil saya!”

“Dengar, nak. Aku kenal Drake. Aku pernah bersamanya di Judith, kapalnya yang berbobot mati lima puluh ton, di San Juan de Ulua waktu kita berdua bersama Laksamana Hawkins—dia di Minion—berjuang mati-matian mencari jalan keluar dari pelabuhan untuk melewati orang-orang Spanyol pemakan taik itu. Kits berdagang budak-belian dari Guinea ke daratan Spanyol, tapi kita tak punya izin Spanyol buat perdagangan ini dan mereka menipu Hawkins dan menjebak armada kita. Mereka punya tiga belas kapal, yang besar-besar kita cuma enam. Kita berhasil menenggelamkan tiga dan mereka menenggelamkan empat Swallow, Angel, Caravell dan Jesus of Lubeck, Drake memang berhasil menyelamatkan kami, dan menghantar kita pulang, dan hanya sebelas yang mampu menuturkan itu semua sisa awak kapal Hawkins hanya limabelas orang, dari empatratus delapan pelaut gila. Itu saja yang selamat, tidak termasuk kami-kami ini!. Drake tak mengenal ampun, nak. Dia menginginkan kejayaan dan emas, tapi hanya buat dirinya sendiri dan sudah terlalu banyak orang mati karena itu.”

“Tapi saya takkan mati. Saya akan menjadi salah seorang—”

“Tidak. Masa belajarmu duabelas tahun. Jadi masih sepuluh tahun lagi baru kau bisa bebas. Tapi sampai saat itu, sampai tahun 1588, kau hanya akan belajar bagaimana caranya membuat kapal dan bagaimana mengepalai anak buahmu. Kau akan mematuhi Alban Caradoc, pakar membuat kapal, Pilot dan Anggota Trinity House, atau kau takkan pernah punya surat izin nakhoda. Dan kalau kau tak punya surat itu, kau takkan pernah mengepalai kapal mana pun diperairan Inggris. Kau takkan pernah berdiri di geladak belakang kapal Inggris mana pun dan di perairan mana pun karena itu adalah hukum Raja Harry yang baik. Moga-moga Tuhan menerima arwahnya. Itulah hukum Ratu Mary Tudor, si Ratu melacur. Moga-moga arwahnya tersiksa di neraka. Itulah hukum Sri Ratu.

Moga-moga dia memerintah selamanya. Itulah Hukum Inggris hukum laut terbaik yang pernah.ada.”

Blackthorne masih ingat betapa bencinya dia pada gurunya saat itu, dan juga pada Trinity House yang diciptakan Henry VIII pada tahun 1514. Lembaga yang menentukan pelatihan dan pemberian surat izin untuk semua nakhoda Inggris dan para pakarnya.

Kemudian dia membenci dirinya sendiri yang setengah terikat selama dua belas tahun berikutnya, tapi yang disadarinya bahwa tanpa hal itu dia takkan memperoleh sesuatu yang diinginkannya di dunia ini. Dan kebenciannya terhadap Alban Caradox bertambah ketika Drake dan kapalnya yang berbobot mati seratus ton, Golden Hind, secara ajaib kembali keInggris setelah menghilang selama tiga tahun. Kapal Inggris pertama yang mengelilingi dunia, yang membawa serta bersamanya hasil jarahan terbanyak yang pernah diangkut kembali ke pantai-pantai ini: sejumlah satu setengah juta pound sterling dalam wujud emas, perak, rempah-rempah dan piring.

Bahwa kemudian empat dari lima kapal telah hilang dan delapan dari setiap sepuluh awak kapal hilang dan bahwa Tim dan Watt juga hilang dan bahwa justru pilot Portugislah yang ditawan yang telah memimpin ekspedisi itu bagi Drake lewat Selat Magelhaens menuju ke Samudra Pasifik, tak juga mampu meredakan kebencian di dadanya; bahwa Drake terbukti menggantung seorang perwira, mengucilkan pendeta Fletcher, dan gagal untuk menemukan Terusan Barat Laut itu, tidak juga mengurangi kekaguman bangsa Inggris terhadapnya. Sri Ratu mengambil limapuluh persen dari harta karun itu dan memberinya gelar bangsawan. Kaum aristokrat dan para pedagang yang telah ikut mempertaruhkan uangnya bagi ekspedisi itu, menerima keuntungan tigaratus persen dan bahkan memohon untuk dapat mendukung pembiayaan pembajakannya yang berikut. Dan semua pelaut memohon untuk berlayar dengannya, karena walaupun Drake sendiri pernah dijarah, ia masih mampu kembali ke rumah, dan dengan pembagian jarahan secara merata, awak kapalnya yang masih bertahan, menjadi kaya seumur hidup.

Aku pasti akan hidup, Blackthome berkata pada diri sendiri. Aku bisa. Dan bagianku dari harta rampasan itu nanti akan cukup untuk “Rotz vooruiiiiiiit” Karang di depan! Teriakan itu lebih mengenai perasaannya daripada pendengarannya semata. Kemudian, bercampur dengan amukan badai, kembali didengarnya lolongan itu.

Saat itu ia tengah berada di kabin, di bawah tangga geladak belakang. Jantungnya berdetak keras, tenggorokannya terasa kering. Malam sudah mulai pekat sekarang dan hujan. Hal itu membuat hatinya riang sedikit karena ia tahu kain terpal penampung air hujan, yang dibuat sekian minggu yang lalu, akan cepat penuh bahkan bisa kebanjiran.

Dibukanya mulutnya untuk menyambut curah hujan panas, dicicipinya rasa manisnya, lalu dibalikkannya tubuhnya membelakangi badai.

Dilihatnya Hendrik tak mampu bergerak karena ketakutan. Si panjarwala, Maetsukker, yang gemetar di dekat haluan, tengah berteriak tak keruan, telunjuknya menunjuk ke depan. Kemudian dia sendiri melemparkan pandang ke seberang kapal. Batu karang itu kira-kira berjarak 200 meter di depan, kumpulan batu karang hitam raksasa yang diterpa ombak laut yang lapar. Rentetan buih dari terpaan ombak melebar ke kiri dan kanan kapal, dan memecah sesekali. Badai mengangkat seonggokan busa dan melemparkannya di kegelapan malam. Tali bendera depan ikut terhempas dan tiangg kapal teratas patah. Layarnya bergetar pada porosnya namun masih tetap tegak, dan laut menerpa kapal itu tanpa ampun menuju kehancurannya.

“Semua ke geladak!” Blackthome berseru, dan membunyikan lonceng seperti orang gila.

Suara gaduh itu menyadarkan Hendrik dari nanarnya. “Kita tersesat!” teriaknya dalam bahasa Belanda. “Oh Jesus, tolonglah!”

“Kumpul semua di geladak! Kalian bangsat! Kalian tidur rupanya! Kalian ketiduran!” Blackthorne mendorong tubuh Hendrik ke arah tangga geladak, lalu berpegang pada kemudi, melepaskan ikatan pelindung dari jari jerujinya, menabahkan hatinya sendiri, dan mulai membanting kemudi kapal dengan keras ke kiri. Dikerahkannya seluruh kekuatannya ketika kemudi kapal terkena semburan air.

Seluruh badan kapal terasa bergetar. Lalu haluannya mulai terayun dengan kecepatan yang semakin bertambah bersamaan dengan hembusan angin yang semakin kencang dan tak lama sesudahnya kapal mereka pun sudah kembali berada di laut lepas. Layar penangkal badai pun mengembang dan dengan perkasa mencoba menyeret seisi kapal sendirian.

Seluruh tali-temalinya menegang, menderu dihembus angin. Ombak berikutnya terlihat meninggi di atas kepala mereka, dan kapal saat itu tengah berlayar sejajar dengan batu karang, ketika dilihatnya gelombang besar itu datang bergulung mendekat. Ia berteriak memberi peringatan pada semua anak buahnya yang tengah berhamburan datang dari anjungan, haluan sementara dia sendiri bergelantungan, menyelamatkan nyawanya.

Gelombang raksasa itu menerpa kapal dan Erasmus menjadi miring. Blackthorne mengira kapalnya menggelepar tapi dia berhasil mengiraikan hempasan gelomhang itu dari tubuhnya bagai anjing basah yang mengiraikan bulunya dari air, lalu meluncur keluar dari lembah gelombang. Air mengucur bagai air terjun melewati lubang pembuang dan Blackthorne terengah-engah mencari udara untuk bernapas. Dilihatnya mayat seorang anak buahnya yang telah diletakkan di atas geladak dan yang akan dikuburkan besok hilang terbawa gelombang. Dan gelombang berikut yang datang menyambangi terlihat lebih kuat.

Hendrik ditangkap dan dilemparkannya ke atas. Dalam keadaan megap-megap dan meronta-rota mencuri napas, ia sampai di sisi kapal lalu terlempar ke samudra luas.

Gelombang berikut datang menyapu di seberang geladak dan Blackthorne membanting kemudi kapal dengan sebelah lengannya dan cipratan air melewatinya. Kini tubuh Hendrik hanya 50 yard di kiri. Hembusan gelombang berikut menggulung dan menyeretnya kembali ke sisi lainnya, lalu gelombang panjang raksasa kembali datang melemparkannya tinggi-tinggi atas kapal, menahannya di sana sebentar diiringi jerit keputusasaannya kemudian membawanya pergi dan melumatkan tubuhnya pada punggung karang, lalu menelannya sekalian untuk terakhir kali.

Buritan kapal menghadap ke laut, mencoba melaju. Satu lagi tiang layar putus dan blok serta takalnya berayun hebat sampai semuanya kusut bercampur dengan tali-temali.

Vinck dan seorang awak kapal lainnya menyeret dirinya sendiri ke geladak belakang dan bersandaran ke kemudi untuk membantu. Blackthorne dapat melihat . karang raksasa di sebelah kanannya tambah mendekat sekarang. Di depan dan di sebelah kirinya tampak semakin banyak jejeran batu karang, namun masih dilihatnya celah yang kosong di sana sini.

“Naik ke atas; Vinck. Layar utama!” Setapak demi setapak Vinck dan dua pelaut lainnya menarik kembali tali-temali tiang-tiang utama kapal sementara yang lainnya dibawah, bersandaran pada tali-temali untuk memberi bantuan.

“Awas di depan,” Blackthorne. berteriak. Ombak menyapu sepanjang geladak dan membawa seorang awak lainnya serta menghempaskan mayat si serang yang hilang kembali ke atas kapal.

Haluan kapal mengayun tinggi menembus air dan kembali memukul gelombang, menghantarkan air lebih bniiyak lagi ke dalam. Vinck dan beberapa pelaut mengutuki layar lewat tali-temalinya. Tiba-tiba layar itu terkembang, menderu bagai meriam begitu angin menerpanya, dan kapal pun bergerak melaju.

Vinck dan awak pembantunya terangkat di sana, mengayun di atas laut, lalu melanjutkan kembali kutukannya.

“Karang! Karang di depan!” Vinck menjerit.

Blackthorne dan awak kapal satunya membanting krrnudi ke kanan. Sejenak kapal terasa kehilangan keseimbangan, kemudian berbalik dan berdebum keras ketika sekumpulan batu karang membentur sisi kapal. ‘I’upi benturan itu rupanya miring dan hidung karang pun remuk. Kayu-kayu kapal tetap selamat dan para awaknya mulai bernapas lega sekali lagi.

Blackthorne melihat sesuatu di tengah karang di depan dan memutuskan untuk membawa kapalnya ke sana. Angin berhembus lebih keras sekarang, laut terlihat lebih ganas. Kapal pun membelok disertai hembusan angin keras dan kemudi terlepas dari genggaman tangan-tangan mereka. Bersama-sama, mereka menggenggamnya kembali dan memutarnya ke arah semula, sampai dia timbul-tenggelam dan menggeliat-geliat sekarat.

Air laut membanjiri kapal dan menerobos masuk hingga ke akil, menghempaskan seorang awaknya mengenai sekat kedap air, seluruh geladak tergenang air.

“Pompa!” Blackthorne berteriak. Dilihatnya dua awak kapal pergi ke bawah.

Curah hujan menerpa wajahnya dan dikerjapkannya matanya menahan perih. Lentera kompas dan buritan sudah lama padam. Kemudian bersamaan dengan hembusan angin kencang yang semakin menjauhkan kapal itu dari arahnya, pelaut itu tergelincir dan kembali kemudi terlepas dari genggaman Blackthorne. Pelaut tadi menjerit ketika jari-jari jeruji kemudi yang berputar cepat menghantam sisi kepalanya dan dia langsung tergeletak di tempat. Air laut menyapunya dengan belas kasihan. Lalu Blackthorne menariknya dan memeganginya hingga ombak panjang itu lewat. Ketika dilihatnya orang itu sudah mati dibiarkannya saja tubuhnya menelungkup di kursi kapalnya sampai gelombang berikutnya menyapunya dari geladak kemudi itu.

Ceruk terjal yang melewati batu karang itu masih 75 derajat mengikuti arah angin dan meskipun telah berusaha sebaik-baiknya, Blackthorne tetap tak mampu membuat kapalnya melaju. Dengan putus asa dicarinya terusan yang lain tapi dia menyadari bahwasanya itu tak ada, jadi dibiarkannya saja Erasmus tanpa hembusan angin untuk sementara sampai ia memperoleh kecepatan yang diinginkan. Baru kemudian Blackthorne mulai lagi membanting kemudi keras-keras searah dengan angin. Kapal itu berhasil malaju sedikit dan mendapatkan arah.

Terdengar getaran yang mengilukan dan menyiksa perasaan ketika lunasnya menggesek batu karang di bawah dan semua awak kapal membayangkan mereka akan menyaksikan kayu-kayu pohon oak itu terbelah dan air laut membanjir masuk. Sekarang kapal melesat maju tanpa terkendali.

Blackthorne berteriak-teriak minta tolong namun tidak ada yang mendengarnya. Jadi dipegangnya kemudi seorang diri menghadapi samudera luas. Sekali Blackthorne terlempar ke sisi namun dia berhasil menggenggam kemudi kembali dan memegangnya kuat-kuat, sambil berpikir dengan otaknya yang mulai terasa tumpul, bagaimana kemudi itu bisa bertahan hingga demikian lama.

Ketika hampir mendekati terusan, laut berubah menjadi pusaran air, didorong oleh badai dan terkepung oleh batu karang. Gelombang raksasa memukul batu karang lalu meluncur balik menghantam arus yang baru, masuk hingga gelombang itu saling menghantam di antara mereka sendiri dan menggempur seluruh geladak kompas. Kapal itu tersedot masuk ke pusaran air, berikut seluruh isinya dan sama sekali tidak berdaya.

“Taik kau, badai!” Blackthome naik darah. “Lepaskan tangan pemakan taikmu dari kapalku!”

Kemudi kapal berputar lagi dan kembali Blackthorne terhempas dan geladaknya pun miring, memualkan orang. Haluan kapal menghantam batu karang dan membuatnya robek, bersama tali-temalinya sekalian namun dia mampu membuat dirinya tegak kembali.

Tiang muka meliuk bagai haluan dan terpukul habis. Awak kapal di geladak menetak tali- temali itu dengan kapak supaya menegang ketika kapal menggelepar menyusuri bawah terusan. Mereka mengapaknya sampai tiang itu lepas dan jatuh ke sisi berikut seorang awak. Seluruh isi kapak terjebak dalam kekacauan yang semakin membelit itu. Orang itu menjerit, namun tak ada yang dapat dikerjakan oleh lainnya dan mereka hanya dapat melihat saja sewaktu dia dan tiang kapal timbul tenggelam di sisi sampai hilang ditelan gelombang.

Vinck dan sejumlah awak lainnya yang masih tersisa, kembali berpaling ke geladak belakang dan menyaksikan Blackthorne tengah menentang badai bagaii orang gila.

Masing-masing membuat tanda salib dan melipat-gandakan doa mereka, beberapa di antaranya tersedu-sedu menangis ketakutan dan bertekad untuk hidup.

Terusan itu sekejap melebar dan kapal pun menjadi perlahan, namun di depan, terusan itu kembali mengancam akan menyempit dan gugusan batu karang nampaknya semakin bertumbuh, mengangkangi mereka bagai menara. Arus laut memantul dari salah satu sisi, menyeret kapal itu membalikkannya lagi ke rusuknya dan melemparkannya menuju kehancuran. Blackthorne berhenti mengutuki badai dan berjuang mati-matian membelokkan kemudi ke kanan dan bergelayutan di situ, otot-ototnya mengejang menahan tegang. Namun kapal itu tak lagi mengenal kemudinya dan laut pun demikian pula.

“Belok, kau, pelacur neraka,” dia tersengal, tenaganya menyusut cepat, “Tolong aku!”

Laju air laut terasa semakin cepat dan dirasanya janutungnya hampir meledak namun masih juga ia bertahan melawan tekanan laut. Dicobanya memusatkan perhatian namun pandangannya berputar, warna-warna bercampur-baur dan kusam. Kapal itu tengah dihukum dan sudah mendekati ajal namun saat itu lunasnya menggores beting berlumut. Goncangan itu memutar kepalanya. Kemudinya terlepas. Dan sesudahnya angin dan laut bergabung untuk membantu dan bersama-sama menyerahkannya ke hadapan angin dan kapal itu pun melaju cepat melewati terusan dengan selamat. Menuju teluk di seberang.

                                                                                                                                    
Copyright © 2009 niwaexia@hellokitty.co.id
All rights reserved.